Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Lift


__ADS_3

Umaiza mengobrol panjang lebar dengan Alifa, kesana kemari. Tiba-tiba Umaiza kaget teringat sesuatu. "Astagfirullah," Ucap Umaiza pergi ke ruangan Rahman. Alifa yang melihat Umaiza kaget dan setengah lari itu merasa heran.


"Kak, Za pulang duluan ya?" sambil membuka pintu dan masuk ruangan.


"Kok dadakan?" Tanya Rahman heran.


"Za, lupa, Kak. Skripsi Za belum di apa-apain. Baru yang sama kakak saja,"


"Aduh, karena sakit ya dan hari ini khawatir sama kakak,"


"Iya, Kak. Za, pulang duluan gak apa-apa?"


"Naik apa?"


"Taxi online saja,"


"Tidak, tunggu kakak saja. Sebentar lagi kakak beres,"


"Ada yang bisa, Za, bantu. Biar cepat selesai."


"Sudah selesai sebentar lagi,"


"Ya, sudah, Za, bilang dulu sama ayah ya,"


"Iya, mobil kakak sudah beres di servis belum ya?"


"Tidak, tahu, coba Za telepon dulu,"


Saat sudah selesai urusan dengan Pak Bima dan Kak Dewa Umaiza memperlihatkan semua yang terjadi pada Rahman. Melalui leptop milik Rahman. Dengan sigapnya Umaiza menelepon bengkel, dengan arahan Rahman.


Umaiza mengambil hp dan mencari nomor bengkel yang memperbaiki mobil Rahman. Setelah ketemu Umaiza segera menekan nomor tersebut.


"Siang,".


" Siang, saya mau menanyakan mobil yang di perbaiki atas na Umaiza apakah sudah selesai?"


"Sudah, Bu, sebentar lagi,"


"Baik, bisa di antar kembali ke perusahaan D,"


"Sepertinya tidak, Bu. Karena kami semua sedang sibuk,"


"Kalau begitu, ya sudah nanti kami yang ambil kesana."


"Baik, Bu, terimakasih atas pengertiannya, kami tunggu,"


Sambungan telepon ditutup.


"Sebentar lagi beres, Kak. Tapi tidak bisa di antar kesini, mereka semua pada sibuk,"


"Ya, sudah nanti kita ambil kesana,"


"Baik, Kak, Za sekarang ke ayah dulu ya, sekalian mau bilang, pulang duluan."


"Flazhdisknya di bawa?"


"Tidak, Kak, hehehe,"


"Iya, sudah nanti kita pulang dulu ke rumah ya,"


"Ya, Kak,"


Umaiza keluar ruangan dan kembali ke ruangan ayah.


"Ayah, kerjanya masih banyak?"


"Lumayan, Nak. Memang kenapa, sudah bosan ya?"


"Tidak ayah, tapi Umaiza lupa. Umaiza belum print dan mengcover skripsi, Hehehe."


"Flashdisk dibawa?"


"Tidak, Yah,"


"Ya, sudah nanti pulang duluan sama Rahman. Print di rumah, baru mencari tempat untuk pasang cover skripsinya,"


"Iya, Yah, tidak apa-apa Za, pulang duluan?"


"Tidak apa-apa, asal dengan Rahman ya,"


"Baik, Ayah, Kak Rahman lagi membereskan pekerjaannya."


Adzan ashar berkumandang.


Setelah pekerjaannya beres, Rahman membereskan semua berkasnya lalu ke kamar mandi wudhu, kembali ke ruangan lalu shalat ashar.


Setelah semuanya beres, Rahman keluar ruangan dengan membawa tas kerjanya.


"Alifa, saya besok tidak akan masuk kerja. Semua berkas untuk saya tolong simpankan dulu ya, sekarang saya sudah mau pulang,"


"Baik, Pak,"


Rahman masuk ke ruangan Pak Baskoro untuk menjemput Umaiza dan pamit sama Pak Baskoro untuk pulang duluan.


"Ayah, Umaiza pulang duluan," ucap Umaiza sambil mencium tangan ayahnya.


"Iya, hati-hati di jalan. Rahman titip anak semata wayang saya, Ya," kata Pak Baskoro kepada Rahman.

__ADS_1


"Baik, Pak. Saya akan menjaga anak Bapak yang satu ini, kalau nakal nanti saya pijit saja hidungnya," canda Rahman.


"Hati-hati saja, jangan berani macem-macem," Umaiza menatap tajam kepada Rahman.


"Pak, tenang saja. Umaiza belum apa-apa sudah memasang wajah garang seperti itu,"


Pak Baskoro tertawa melihat Umaiza dengan wajah galak seperti itu.


"Ayo, Kak. Za sudah tidak banyak waktu, ini becanda terus," Rahman di dorong oleh Umaiza sampai ke depan Lift.


Alifa tersenyum melihat tingkah Umaiza dan Rahman diam saja. Pintu lift terbuka Rahman dan Umaiza masuk ke dalam.


"Jangan macam-macam," ucap Umaiza sambil menunjuk wajah Rahman yang teringat kejadian di lift setelah istirahat.


"Ini mah kura-kura dalam perahu," goda Rahman sambil mendekat kembali kepada Umaiza.


"Kakak, apa sih," dorong Umaiza.


"Satu kali saja, Za," pinta Rahman sambil mendekat kembali ke Umaiza.


Umaiza langsung membalikkan badannya.


Rahman tersenyum melihat tingkah Umaiza. "Ayo kita keluar, Za," ucap Rahman ketika sudah sampai di lantai dasar dan lift terbuka.


Umaiza segera keluar, berjalan sambil menunduk menutup wajahnya yang memerah.


Lift


Sebuah tempat


yang bisa mengantarkan orang


untuk mencapai tujuan.


Namun


Bagiku Lift itu


bagaikan jurang yang akan menjatuhkan


dan merobohkan keimanan seseorang.


"Za, Kakak memesan dulu taxi onlinenya,"


"Iya," Jawab Umaiza singkat dengan sedikit gemetar dan terus menunduk tidak berani memandang Rahman.


Rahman yang melihat keadaan itu merasa bersalah, Rahman berbisik dengan mulut Rahman berada di dekat telinga Umaiza "Maafkan kakak, sudah menggoda Za dengan keterlaluan,"


Umaiza terdiam.


Rahman mencoba melhat wajah Umaiza dari bawah. Wajah Umaiza begitu merah dan sedikit berkaca-kaca.


"Za, malu sama Allah, Kak,"


"Kenapa?"


Taxi online yang Rahman pesan sudah datang. Rahman dan Umaiza segera masuk ke dalam. Umaiza duduk di samping Rahman, ini adalah pertama kalinya.


"Hari ini Za berduaan terus sama kakak, prinsip dan pertahanan Za hampir roboh. Bagaimana kalau dua minggu lagi kita nikah, apakah kakak siap?"


"Minggu sekarang juga kakak, siap?"


"Za, ingin kita cepat halal. kalau seperti ini terus takut Za atau kakak kalah imannya,"


"Nanti besok kita bicarakan lagi, siapkan saja berkasnya. KTP dan Kk serta pasphotonya. Untuk resepsi dan lain-lain kita pakai WO saja. Sebelumnya minta izin kepada Ibu Panti,"


"Iya, Kak,"


Umaiza dan Rahman setelah itu diam sampai ke bengkel. Mereka turun dan tidak lupa membayar. Rahman mengeluarkan beberapa lembar uang kertas.


Setelah sampai bengkel Mobil Rahman sudah selesai. Dan Rahman segera membayar, Umaiza langsung naik ke dalam mobil. Rahman menyusul.


Rahman menyalakan mobil dan membawanya ke jalan raya.


"Za, kenapa diam saja, masih marah sama kakak?"


"Tidak, Kak,"


"Alhamdulillah,"


Rahman kembali fokus mengendarai mobil. Umaiza melihat ke samping jendela.


"Kalau mau tidur, tidur saja Za,"


"Iya, Kak, Za sedikit mengantuk,"


Rahman menepikan mobilnya. Dan membuka jasnya.


"Mau apa, jasnya dibuka, jangan macam-macam,"


"Za, su'udzon terus sama kakak. Kakak melakukan apa yang Za sangkakan, Za nya marah," ucap Rahman dengan lembut.


Umaiza diam.


Jok mobil di ke bawahkan supaya Umaiza enakan untuk tidur dan jasnya untuk menutup tubuh Umaiza.


Umaiza pun tersenyum dan merasa malu karena sudah su'udzon terus sama Rahman. Umaiza mulai memejamkan matanya dan tak lama tertidur.

__ADS_1


Kak Rahman melanjutkan perjalanannya menuju rumah Pak Baskoro. Dan sesekali melirik ke arah Umaiza.


"Za, Za, cinta kakak tidak sedangkal itu. Karena nafsu dan ingin tubuhmu," ucap Rahman dalam hati, "Kakak In Syaa Allah siap jika harus menunggu Za dua tahun lagi, tapi apakah Za mau?" sambung Rahman. "Dan kakak juga tidak percaya sama yang namanya syetan, yang bisa mengganggu manusia dari segala arah," Ucap Rahman juga sambil terkekeh, mengingat kejadian di lift tadi. "Untung saja iman Za kuat juga," tambahnya.


Mobil Rahman sudah sampai di halaman rumah Pak Baskoro, dan Rahman segera membangunkan Umaiza dengan lembutnya.


Umaiza menggeliat dan membuka matanya sedikit-sedikit.


"Sudah sampai, Kak?"


"Sudah, ayo turun."


"Iya, Kak."


Jasnya Umaiza di simpan di balik kursi.


"Sudah gitu saja, Kak. Supaya nampak muda, pakai jas terlihat sudah berumur," ucap Umaiza tersenyum ke arah Rahman.


"Iya, calon istriku,"


Umaiza dan Rahman turun dari mobil dan masuk langsung ke lantai atas. Rahman masuk ke ruang kerja, Umaiza ke kamar untuk mengambil flashdisk. Lalu ke ruang kerja Pak Baskoro.


"Ini Kak, flashdisknya,"


"Iya, sini. Print 5 atau 3?"


"3 saja, Kak. Itu yang 2 juga masih bersih."


"Siap, Za,"


"Kak, Za, tinggal dulu boleh. Za ingin ke air, badan Za sudah tidak nyaman,"


"Iya, Za, biar sama kakak ini di print,"


"Makasih calon imamnya, Za,"


"Sama-sama, calon makmumnya Kakak,"


Umaiza pergi ke kamar lalu mengunci pintu kamar. Dan Umaiza mengambil baju salin lalu masuk ke kamar mandi. Umaiza berendam sebentar di bathtub. Setelah merasa segar dan bersih Umaiza segera naik dan mengelap seluruh tubuh pakai handuk lalu memakai baju ganti.


Dan tidak lupa memakai bergo panjang. Umaiza dandan seperlunya, membuka kunci pintu dan pergi ke ruang kerja Pak Baskoro.


"Za," panggil Rahman yang membelakangi Umaiza.


"Kok tahu, Za datang?"


"Wangi yang khas dari tubuh Za,"


"Masa sih, kakak menciumnya gitu?"


"Iya,"


"Padahal Za gak pakai minyak wangi, dalam hadis kan perempuan gak boleh pakai minyak wangi,"


"Iya, itu mungkin wanginya bidadari," goda Rahman


"Idih, bidadari. Masih jauh kali Kak, Za, kalau disamakan dengan bidadari."


"Bidadari di hati nya Khairul Rahman,"


"Ah, Kakak bisa saja," wajahnya yang putih terlihat jelas merah seperti khumairah.


"Khumairah," sebut Rahman.


"Apalagi itu?"


"Pipi yang ke merah-merahan seperti Siti Aisyah istri baginda rasul,"


Umaiza tersipu malu lalu menunduk.


"Kakak,"


"Apa Za?"


"Sudah beres?" yang wajahnya masih merah.


"Sudah, sebentar lagi. Kakak lagi membukukannya. Mana yang kemarin?"


"Ini Kak, tunggu ya,"


"Ya, Za, khumairahnya kakak"


Wajah Umaiza tambah memerah.


Umaiza anak gadis yang rapi, jadi menyimpan sesuatu sangat mudah untuk menemukannya. Dan kembali lagi ke ruangan dimana Kak Rahman berada.


"Ini, Kak,"


"Siap, simpan di situ saja, Za,"


"Baik, Kak,"


"Ini, yang kakak sudah rapi. Ayo kita cari toko fotocopy yang bisa bantu untuk mengcover skripsinya,"


"Ayo, Kak, Za ambil tasnya dulu,"


Umaiza pergi mengambil tas dan turun dari tangga secara bersama-sama. Ibu entah ada dimana dari saat datang tidak terlihat keberadaannya.

__ADS_1


Rahman dan Umaiza naik ke mobil. Dan Rahman segera menyalakan mobilnya, segera membawa ke jalan raya. Umaiza tersenyum melihat Rahman yang begitu setia menemaninya untuk mengurus skripsi. Dan terus menatapnya penuh dengan kekaguman. Tiba-tiba hatinya berdegup kencang. "Astagfirullah kenapa hati ini," ucap Umaiza pelan sambil memegang dadanya.


Kejadian dua kali di lift, terlintas tiba-tiba di pikiran Umaiza, lagi-lagi hatinya menjadi tambah tak karuan. Umaiza menutup wajahnya dan mengangkat bahu beberapa kali. Rahman hanya melirik dan lalu tersenyum tanpa bertanya ada apa yang terjadi kepada Umaiza.


__ADS_2