
Rahman membawa Baju pengantin dan memasukkannya kedalam bagasi mobil. Semua tersimpan dengan rapi di dalam kotak dan di bagi menjadi dua bagian. Rahman duduk di depan di temani dengan Umaiza. Ibu Rahma duduk di belakang sendirian.
Nampak wajah lelah Ibu Rahma, saat di perjalanan Ibu Rahma tertidur.
Umaiza melihat ke samping jendela dan Rahman fokus mengendarai mobil.
"Za, untuk seserahannya apakah sudah cukup?" Tanya Rahman memecahkan keheningan dalam mobil.
"In Syaa Allah, Kak," sambil melihat ke arah Rahman
"Baju pengantin yang Za, langsung simpan ya,"
"Iya, Kak. Yang lainnya kakak bawa, tapi hati-hati itu ********** jangan dibuka-buka ya, Za, malu,"
"Ya, tidak lah, Za. Semua akan Kakak simpan di kamar yang kosong. Nanti di buka kalau mau di hias,"
"Siap, kalau begitu. Hehehe,"
"Za, kalau maharnya bagaimana?"
"Sudah, Kak. Za, setuju dengan yang sudah ada di bingkai itu. Gak usah di tambah lagi,"
"Alhamdulillah,"
Jalanan sangat macet, tidak seperti biasanya. Umaiza memandang ke depan.
"Ada, apa, Kak?"
"Entahlah, Kakak, juga kurang tau," tersenyum ke arah Umaiza.
"Kak, jangan tersenyum terus nanti itu gigi kakak kering,"
"Aaaahhh, Za, bisa saja,"
Rahman kembali lagi melihat ke depan. Mobil jalannya sedikit-sedikit. Ibu Rahma masih terrtidur.
Umaiza sudah mulai mengantuk, mencoba memejamkan mata dan tertidur. Rahman tidak menyadari kalau Umaiza tertidur karena fokus melihat ke depan.
Namun lama-lama, kepala Umaiza terus bergerak sampai jatuh ke bahu Rahman.
Rahman dengan seketika kaget, lalu melihat ke bahunya, wajah Umaiza dan Rahman sangat begitu dekat. Hidungnya berada di bawah dagu Rahman. Secara spontan Rahman melihat wajah Umaiza dengan begitu dekat, wajah yang cantik, polos.
Rahman mencoba bergerak dan memindahkan kepala Umaiza ke kursi dan merendahkan kursinya supaya sedikit lebih nyaman.
Jika seandainya Kau
Sudah menjadi mahramku
Mungkin saat tadi
kecupanku sudah mendarat di keningmu
Aaaaah kenapa dengan rasa ini
Sabar tinggal selangkah lagi
Kau akan menjadi mahramku.
Jalanan sudah lancar kembali, mobil terus menelusuri jalanan menuju ke rumah Ibu Rahma.
Mobil sudah sampai di depan gerbang rumah Ibu Rahma, satpam segera membuka gerbang. Dan Rahman memasukkan mobilnya ke dalam halaman rumah.
Rahman membangunkan Umaiza.
"Za, Za, Za, bangun,"
Umaiza masih tertidur.
"Za, Za, Za, bangun. sudah sampai" Ucap Rahman sambil menggoyang-goyang badan Umaiza.
"Hmmmm," jawab Umaiza sambil tetap menutup matanya.
"Bangun, sudah sampai," ucap Rahman lagi.
Umaiza mencoba membuka matanya sedikit demi sedikit. Dan benar sudah berada di depan rumah.
Rahman turun mengeluarkan barang-barang belanjaannya dan memasukkan kedalam rumah. Umaiza mencoba mengumpulkan nyawanya.
"Za, sudah bangun?"
"Sudah, Kak,"
"Ibu, bangunin,"
"Baik, Kak,"
Umaiza turun dan membuka pintu mobil belakang. "Bu, Bangun, sudah sampai," Ucap Umaiza pelan.
Ibu Rahma membuka matanya lalu mengangguk ke arah Umaiza. Dan turun dari mobil Rahman.
__ADS_1
Umaiza berjalan di samping Ibu Rahma.
"Za, Kakak boleh langsung pulang?,"
"Boleh, Kak, tapi tidak shalat ashar dulu, nanti ke buru habis waktunya,"
Rahman melihat jam sudah menunjukkan jam 16.00.
"Di rumah saja, sekalian kakak ingin bersih-bersih dulu,"
"Baik, kalau begitu, Kak, hati-hati di jalan,"
"Za, juga bersih-bersih lalu istirahat ya,"
"Iya, Kak,"
"Baju pengantin dan belanjaan Ibu Rahma sudah kakak masukin ke dalam, yang punya kakak di bawa dengan belanjaan yang lain,"
"Iya, Kak,"
"Kakak, kesini lagi nanti sama Bunda ya. Kakak takut khilaf kalau sering-sering ketemu Za," sambil membisikkan ke telinga Umaiza dan tersenyum geli.
"Iya, Kak, besok Za, mau istirahat saja. Kecuali kalau Ibu mengajak ke WO,"
"Iya, kabari kalau mau ke WO,"
"Iya, Kak,"
Rahman naik ke mobil, namun lama sekali menyalakan mobilnya. Ada perasaan enggan untuk berpisah dari Umaiza, masih ingin berada di dekatnya.
Umaiza masih tetap setia menunggu di depan rumahnya sambil melihat ke arah Rahman. Umaiza melambaikan tangannya kepada Rahman dan Rahman tetap tidak bergeming.
Umaiza melangkah mendekat ke arah mobil Rahman. Rahman membuka jendela mobil.
"Masih belum mau berpisah sama Za, ya?" tersenyum menggoda.
"Iya, bagaimana ini," balas menggoda.
"Sabar, nanti kalau sudah menikah. Za, akan selalu berada di samping kakak,"
"Nikahnya besok saja, Yuk,"
"Idih, gitu ya. Kalau laki-laki, sudah ada maunya gak sabaran,"
"Tahu saja, Za,"
"Do'ain KTP dan KK, Za, cepat selesai. Supaya bisa segera halal,"
"Hati-hati,"
"Kakak akan sabar menunggu Za, kalau dalam waktu 1 minggu lagi," sambil mengedipkan matanya.
Umaiza menunduk.
Rahman menyalakan mobilnya dan langsung meninggalkan Umaiza dan halaman rumahnya. Umaiza masuk ke rumah dan membawa baju pengantin serta baju yang di beli Ibu Rahma untuk dirinya.
Umaiza tersenyum bahagia. Sambil melangkahkan kakinya ke atas tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
Terdengar suara bel berbunyi. Umaiza segera ke bawah dan membuka pintu ternyata pak RT yang datang. Ibu Rahma sedang di kamar.
"Ada yang bisa di bantu?"
"Nak Umaiza ya?"
"Iya, Pak."
"Saya Pak RT, Ibu Atau ayahnya ada?"
"Ibu sedang di kamar, ayah belum pulang, mari Bapak masuk,"
"Disini saja, Nak Umaiza,"
"Oh, Iya, Pak, silahkan duduk," di kursi depan rumah.
Umaiza ke dalam sebentar, mau mengambil air dan cemilan untuk Pak RT.
"Pak, Ini kopinya,"
"Terimakasih, Nak Umaiza,"
"Sama-sama, Pak. Bagaimana, Pak?"
"Ini KTP Nak Umaiza dan KK Pak Baskoro alhamdulillah, sudah selesai,"
"Alhamdulillah, Bapak tunggu sebentar saya masuk dulu"
"Ya, silahkan, Nak,"
Umaiza memasukkan 3 lembar uang yang merah ke dalam amplop.
__ADS_1
Umaiza ke depan kembali untuk menemui Pak RT dan memeriksa KTP dan KK nya takutnya ada kesalahan dalam ketikan. Sementara Pak RT sedang minum Kopi yang di suguhkan Umaiza.
"Bapak alhamdulillah, semuanya sudah benar. Saya ucapkan terimakasih. Ini buat Bapak, tidak seberapa,"
"Nak, apa ini?, Pak Baskoro kemarin sudah memberi lebih untuk Bapak."
"Ini buat jajan saja, Pak," ucap Umaiza sambil memberikan ke tangan Pak RT.
"Terimakasih ya, Nak. Kalau begitu bapak tinggal dulu,"
"Iya, Pak. Sama-sama."
Umaiza masuk setelah Pak RT pergi meninggalkan rumah.
Umaiza mengetuk pintu kamar Ibu.
Ibu Rahma membuka pintu, "Iya, Umaiza," ucap Ibu Rahma.
"Ibu ini Pak RT ke rumah memberikan KK dan KTP sudah selesai,"
"Alhamdulillah, KTP Umaiza di pegang saja, KK nya di simpan Ibu. Umaiza tinggal di photo buat persyaratan kepada KUA,"
"Iya, Bu, kalau begitu Umaiza ke kamar dulu ya,"
"Iya, Nak,"
Umaiza pergi ke atas dan masuk kamar. Ibu Rahma kembali lagi ke kamar.
Umaiza ambil hp untuk memberi kabar kepada Rahman.
π¨ Bismillah, Kak, Alhamdulillah KTP dan KK sudah selesai.
chatnya belum di balas.
Umaiza kembali ke kamar mandi untuk mandi dan mengganti pakaian dengan baju tidur. Umaiza berendam sejenak supaya lebih segar. Setelah benar-benar terasa relax, Umaiza segera beranjak dari bathtub dan mengganti pakaian.
Haidnya sudah bersih, Umaiza memang tidak pernah lama. Umaiza mendirikan shalat ashar lalu dzikir dan berdo'a untuk memohon kemudahan dan kelancaran dalam mengurus segala keperluan pernikahan.
Suara hp berdering dan di lihat video call dari Rahman.
Umaiza menerimanya.
"Assalamu'alaikum, calon suamiku."
"Wa'alaikummussalaam, bidadariku." jawab Rahman yang melihat wajah Umaiza lebih bercahaya ketika menggunakan mukena.
"Ada, apa, Kak?"
"Jadi siap ya, satu minggu lagi?"
"Bismillah," lirih Umaiza dengan senyum, "Iya, Kak, Za, siap," dengan suara pelan.
"Maa Syaa Allah, Alhamdulillah, Ya Allah,"
"Besok pulang kerja kakak ke rumah kita ke panti, ya?"
"Iya, Kak,"
"Ya, sudah kakak tutup ya Vc nya,"
"Kok sebentar?"
"Kakak mau bicara sama, Bunda,"
"Oh, Iya, baik, Kalau begitu ke panti nya nanti saja sabtu. Kalau Bunda sudah kesini. Kesininya pagi saja,"
"Baik, kalau begitu. Bagaimana baiknya,"
"Iya, supaya kita bisa pergi bersama-sama ke panti nya,"
"Ide yang bagus,"
"Ya, sudah, Za juga mau mengobrol sama ayah dan Ibu,"
"Iya, Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikummussalaam,"
Sambungan VC terputus. Umaiza membereskan mukena dan sajadah ke tempat semula. Umaiza mengambil bergo dan memakainya. Lalu ke bawah menuju dapur. Mengambil air minum dan buah-buahan yang ada di dalam kulkas. Dan duduk di taman sambil melihat kolam ikan.
Ikan yang ada di dalam terlihat begitu tenang, mencari makan dengan caranya sendiri-sendiri. Sungguh membuat yang melihatnya senang, tenang dan damai.
Umaiza masuk ke mushola lalu membaca Qur'an dengan suara sangat nyaring dan merdu. Suaranya sampai terdengar oleh bi Marni.
Terkadang Umaiza di waktu senggangnya suka di isi dengan membaca Qur'an, Buku, Novel supaya tidak bosan.
Hafalannya pun sudah banyak, Umaiza suka muraja'ah, tajwidnya tidak tertinggal dan tahu dimana harus berhenti dan lanjut.
"Non, di cari sama Ibu," kata Bi Marni yang sudah mengetahui keberadaan Umaiza.
__ADS_1
"Oh, Iya, makasih bi,"
Umaiza menutup al-qur'annya dan beranjak dari duduknya dan keluar dari mushola.