
Umaiza, Rahman dan Farid masuk lift secara bersamaan. Dan begitu juga saat keluar. Mereka bertiga melangkahkan kakinya menuju lobby dengan harapan Rara sudah ada di sana.
"Belum ada, ya?" ucap Umaiza
"Coba telepon lagi Kak!" Farid merasa khawatir.
"Sudah tidak usah di telepon Rara sedang melangkah menuju sini," ucap Rahman sambil menunjuk ke arah Rara.
Mereka langsung masuk ke dalam mobil Rahman.
Rahman dengan segera melajukan mobilnya ke tempat makan yang tidak terlalu jauh dari Perusahaan.
"Umaiza hampir lupa, Rara menemukan ini di meja," dengan memberikan sesuatu kepada Umaiza.
"Apa ini?" Tanya Umaiza sambil menerima dari tangan Rara
"Coba buka saja!"
"Iya," sambil membuka barang pemberian Rara.
Umaiza membuka dengan hati-hati, sebuah kotak, saat di buka ternyata ada beberapa lembar notes kecil yang masih kosong. Seperti yang pernah Rama berikan kepada Umaiza.
Umaiza terus memeriksa dengan penuh hati-hati, dengan harapan ada satu lembar notes terisi yang bisa di jadikan bukti.
Rara membantu Umaiza untuk membukanya.
"Apa yang sedang Kakak dan Rara lakukan?" tanya Farid heran
"Kakak sedang mencari sesuatu siapa tahu bisa dijadikan alat bukti atas kejahatan yang di lakukan oleh Rama dan Alifa," jelas Umaiza.
"Ada apa Za?" sambung Rahman khawatir.
"Ini Kak, Rara menemukan kotak yang berisi beberapa lembar notes kosong di meja Rama," jawab Umaiza.
"Bentar lagi sampai, nanti saja lanjut di restoran!" perintah Rahman.
"Iya, Kak, nanti saja di kantor supaya tenang mencarinya,"
" Tunggu!" ucap Rara, "Ini ada tulisan, sepertinya kiriman dari seseorang, 'Ini waktunya'," Sambung Rara dengan memberikannya kepada Umaiza.
Umaiza mengambil buku agenda milik Alifa untuk menyamakan tulisannya ternyata sama.
"Iya, sama," celetuk Umaiza.
"Iya, benar sama," ucap Rara
"Jadi siapa yang memanfaatkan siapa?" tanya Umaiza dengan suara pelan.
"Ya, sudah kalau begitu pulang makan kita langsung ke polisi untuk menyerahkan barang bukti ini," kata Rahman
"Tapi Kak, kita tidak tahu siapa Alifa dan Rama ini,"
Rahman memarkirkan mobilnya di pelataran parkiran yang telah di sediakan oleh restorang tersebut.
Rahman meminta photo yang ada di buku agenda milik Alifa lalu memphotonya menggunakan hp.
"Ini kita perlihatkan kepada Ibu," ucap Rahman
Umaiza tersenyum melihat Rahman yang masih tenang di saat istrinya sedang panik.
"Terima kasih,"
"Untuk apa?"
"Untuk tetap tenang di saat, Za, sedang bingung dan panik,"
"Iya, sama-sama," jawab Rahman sambil senyum.
Umaiza menyimpan kembali buku agenda dan menyimpan kotak dengan aman. Lalu mereka pun turun untuk menuju ke restoran.
Rahman membawa ke restoran cepat saji. Jadi semuanya membeli paket fire wing level dua.
Pelayan pun datang mengantarkan makanan. Umaiza dan lainnya melahap makanan. Semuanya kepedasan jadi kali ini makan sedikit ramai dengan suara "hah, hah, hah," kecuali Umaiza yang masih tenang.
"Pedas Kak?" tanya Umaiza ketika melihat Rahman keringatan.
"Iya, Za, mana cuacanya panas lagi," sambil mengusap keringat yang ada di keningnya.
"Kalau memang gak suka makanan pedas kenapa harus memaksakan diri, harusnya tadi Kakak pesan level 0 saja," ucap Umaiza sambil mengambil tisu dan membantu mengusap keringat Rahman.
"Iya, kirain Kakak akan kuat," keluh Rahman.
"Perut gimana?"
"Aman,"
__ADS_1
"Alhamdulillah,"
Farid dan Rara hanya memperhatikan mereka.
Umaiza memesan kembali satu gelas minuman lemontea untuk Rahman.
Rahman meminumnya langsung.
"Farid nanti yang bawa mobil ya!" ucap Umaiza.
"Baik, Kak," tidak membantah
"Kok, Farid?, Kakak juga masih bisa,"
"Tidak ah, takut nanti Kakak bawa mobilnya gak fokus karena menahan pedas," ucap Umaiza
"Benar, Kakak Iparnya aku sangat pengertian sekali," puji Farid
"Iya, makanya Kakak makin jatuh cinta setelah menikah, tiap kali menghadapi masalah sangat bijaksana, pengertian lagi," sambung Rahman.
"Sudah, kalau memuji kalian jangan berlebihan. Rara juga lebih pengertian dari Umaiza, pasti Farid gak akan menyesal," elak Umaiza dan mengalihkan pembicaraan kepada Rara
"Apa sih, Rara kok di bawa-bawa," Wajah Rara memerah.
"Farid, Rara itu paket komplit, sayang orangtua, sayang teman apalagi kalau nanti kepada suami," ucap Umaiza lagi
"Seperti Kakak dong?" jawab Farid kepada Umaiza.
"Lebih dari Kakak,"
"Sudah ah, yuk, bukannya mau ke kantor polisi dulu. Nanti telat masuk kantor," potong Rara.
"Iya, benar dengan yang dikatakan oleh Rara," kata Rahman sambil berdiri
Rahman jalan duluan
Rara dan umaiza jalan bersamaan
Farid jalan di belakang
Mereka langsung masuk ke dalam mobil, kali ini Rara dan Farid duduk di depan. Umaiza dan Rahman duduk di belakang.
Rahman memeriksa kembali apa yang ada di dalam kotak.
"Kak, boleh Za, tanya?"
"Alifa dan Rama sudah berapa lama kerja di perusahaan Ayah?:
"Alifa sudah hampir lima tahun, kalau Rama baru dua tahun sekarang,"
"Gerak geriknya bagaimana?"
"Biasa saja, mereka berdua bekerja secara profesional, bahkan Alifa sangat loyal kepada Pak Baskoro "
"Hati manusia sungguh tidak bisa di tebak," kata Umaiza dengan nada sedih
"Kalau hati Kakak bagaimana?"
"Semoga Allah senantiasa menetapkan hati Kakak hanya untuk Za, tidak ada niatan apa-apa terhadap diri Za,"
"Aamiin, In Syaa Allah, Kakak akan menyayangi Za karena Allah,"
"Syukron Habiebie,"
"Waiyyaki habbibati,"
Kami sudah sampai ke kantor polisi dimana Alifa dan Rama di tahan.
"Siang ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu petugas polisi.
"Saya ingin ketemu dengan bagian penyidik yang menangani kasus kematian Pak Baskoro," jawab Rahman
"Yang boleh masuk hanya dua orang saja,"
"Iya, baik, hanya saya dan istri saya putri dari Pak Baskoro," jawab Rahman dengan menggandeng tangan Umaiza.
"Baik, mari ikut saya,"
Rahman dan Umaiza mengikuti petugas tersebut, Farid dan Rara menunggu di ruang tunggu.
"Ini ruangannya," tunjuk petugas polisi.
"Baik, terima kasih,"
"Lapor komandan, ada yang mau ketemu dengan komandan," ucap petugas polisi ke bagian penyidik setelah pintu terbuka.
__ADS_1
"Baik, silahkan masuk," jawab penyidik.
Rahman dan Umaiza masuk ke dalam.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya penyidik sambil mempersilahkan duduk kepada Umaiza dan Rahman.
"Saya mau menyerahkan bukti baru kasus kecelakaan Pak Baskoro,"
Dengan memberikan kotak milik Rama dan buku agenda milik Alifa.
"Baik, terima kasih nanti akan saya pelajari. Jika ada bukti lain segera infokan kepada kami,"
"Pasti Pak, namun sampai saat ini, penyidikan kasus tersebut sudah sampai mana ya?"
"Para tersangka sangat sulit dimintai keterangan, keduanya memberikan keterangan sangat berbelit-belit. Jadi kami masih kesulitan untuk menyimpulkan motif dari kejahatan yang mereka lakukan ini,"
"Apa karena cinta bertepuk sebelah tangan?" tanya Umaiza
"Bukan, ini lebih dari itu,"
"Apa balas dendam?" tanya Umaiza lagi
"Sepertinya bukan, oleh karena itu kami sangat membutuhkan barang bukti,"
"Mobil korban apakah sudah di serahkan kepada kepolisian, Pak?"
"Sudah, namun tidak menemukan apa-apa,"
"CCTV?"
"Akibat kecelakaan CCTV menjadi rusak, hp korban apakah masih ada?"
"Ada, kebetulan di pegang oleh Ibu," jawab Umaiza.
"Bagus, kalau begitu. Siapa tahu di dalam hp ada chat atau sambungan telepon antara korban dan tersangka,"
"Baik, Pak, kalau begitu besok saya dan istri saya akan menyerahkan hp milik korban,"
"Iya, kami tunggu,"
"Bisa saya ketemu dengan mereka?"
"Untuk saat ini mereka belum bisa di besuk karena mereka sedang di isolasi,"
"Kalau begitu, baik tidak apa-apa. Kalau Bapak membutuhkan kami, jangan sungkan untuk menghubungi kami," ucap Rahman.
"Iya, baik,"
"Ini kartu nama saya," dengan menyerahkan kartu nama Rahman kepada penyidik.
Rahman dan Umaiza pamit pulang dan meninggalkan ruangan.
"Kak, sepertinya kita harus ke rumah. Siapa tahu ada bukti apa di brangkasnya Ayah," kata Umaiza sambil jalan menuju Farid dan Rara berada.
"Iya, Kakak setuju. Nanti besok saja, kita izin dulu kepada Ibu,"
"Iya, Kak,"
"Sudah, Kak?" tanya Farid
"Sudah, ayo pulang ke kantor!" ajak Rahman
Kami melangkah menuju mobil dan segera masuk ke dalam mobil. Farid berada di balik kemudi.
"Kak, kita akan menjadi detektif nih," celetuk Umaiza sambil tersenyum.
"Iya, supaya Ayah mendapatkan keadilan. Namun jangan lupa urusan lainnya. Kantor, kuliah dan syukuran pernikahan kita," Ucap Rahman mengingatkan Umaiza.
"In Syaa Allah Kak, semoga kita bisa membagi waktu,"
"Kapan Umaiza syukuran pernikahan akan di gelar?" potong Rara
"Inginnya setelah selesai wisuda,"
"Dimana?" tanyanya lagi dengan antusias
"Rencana di panti,"
"Butuh bantuan gak?"
"Ya, pasti dong. Pokoknya Rara dan Farid akan kami libatkan dalam setiap urusan," canda Umaiza.
"Siaaap, Kak, asal nanti kalau Farid nikah. Donatur terbesarnya Kakak dan Kak Rahman,"
"Idih, jangan mau Ra, di lamar Farid. Apa mengandalkan donatur," balik menggoda Farid.
__ADS_1
Rahman hanya tersenyum ketika melihat Umaiza dan Farid sedang bercanda begitu, karena dirinya tidak sedekat itu dengan Farid.