
Rahman kembali melirik ke arah Umaiza dan kembali lagi fokus ke depan. Umaiza sudah biasa lagi tidak seaneh sebelumnya.
"Kak, jauh ya?"
"Iya, nih susah. Ga ada yang buka."
"Coba ingat-ingat sama kakak, dimana yang buka sampai malam,"
Rahman mencoba berpikir dan mengingat-ingat dimana yang buka sampai malam.
"Ada dekat kampus dan dekat rumah kakak,"
"Ya, sudah tempat kakak saja. Sekalian silaturahim dengan Bunda," jawab Umaiza.
"Baik, boleh. Kakak setuju,"
Rahman melajukan mobilnya ke arah rumahnya. Umaiza merasa kangen. dengan jalanan ini. Rahman fokus melihat jalan.
"Kak, yang bayar skripsi nanti Za ya,"
"Tidak, kakak yang bayar,"
"Ih, kakak, Za kan sudah di kasih sama ayah dan Ibu,"
"Simpan saja, untuk cover biar kakak yang bayar."
"Terserah kakak saja, Za, males berdebat,"
"Nah, gitu dong, kali-kali nurut sama calon suami,"
"Iya, iya, gimana kakak saja. Za takut saja memanfaatkan kakak, belum juga jadi istri,"
"Siapa yang bilang seperti itu?"
"Za,"
"Za, buang pikiran itu jauh-jauh,"
Umaiza tersenyum mendengar ucapan Rahman. Kadang tegas, kadang konyol, kadang becanda, kadang tersenyum.
Kami sudah sampai ke tempat untuk mengcover skripsi. Umaiza turun dan setelah mobil dimatikan, Rahman pun ikut turun dengan membawa bahan skripsi.
"Pak, saya mau mengcover skripsi."
"Mau warna apa?"
"Kuning saja, Pak,"
"Kuning atau hijau?"
Umaiza mencoba telepon dosen pembimbing. Tidak lama sudah di angkat.
"Pak, maaf, Umaiza mengganggu. Umaiza mau tanya untuk covernya warna apa ya, kalau kelas akuntansi,"
"Kuning saja,"
"Baik, Pak. Terimakasih infonya,"
Sambungan telepon di tutup.
"Kuning, Pak,"
Rahman datang dan memberikan bahan Skripsinya.
"Buat berapa?"
"5 Pak, yang rapi ya,"
"Baik, ini kursinya untuk menunggu supaya tidak pegal," memberikan 2 kursi.
"Baik, Pak. Terimakasih," Mengambil kursi dan kami duduk.
"Kak, Za, masuk dulu ke minimarket ya, Za, haus,"
"Kakak juga, kita sama-sama saja."
"Ayo," dengan nada lemas. Tadinya Umaiza mau belanja buat bunda, tidak jadi karena Rahman ikut.
"Za, mau beli apa?"
"Minuman sama cemilan saja,"
"Boleh, ayo,"
Umaiza mengambil minuman teh manis yang rasa madu cemilannya snack yang ukuran besar. Umaiza berniat membeli sendiri namun Rahman mengambilnya dari tangan Umaiza.
"Ih, Kakak,"
"Biar sekalian," ucap Rahman.
"Iya, deh, Kak,"
Umaiza keluar duluan dan kembali lagi duduk ke tempat yang tadi lagi.
Rahman ikuti dari belakang setelah membayar makanan dan minuman.
"Mana, Kak, yang punya Za?"
"Ini, Za,"
"Makasih, Kak," Umaiza mengambil minumannya dari kantong plastik dan sisanya diberikan kepada Rahman.
Rahman membuka minumannya dan segera diteguk, begitu juga dengan Umaiza.
"Alhamdulillah," ucap Umaiza saat selesai meminumnya.
"Cemilannya tidak dibuka, Za?"
__ADS_1
"Nanti saja, Kak,"
"Sudah sini buka, kakak juga mau dong,"
"Ini Kak,"
Rahman mengambil lalu membuka makanan itu, mengambil sedikit lalu memberikan kepada Umaiza.
Umaiza mengambil makanan dari Rahman dan mencoba memakannya.
"Kak, sedikit lagi,"
"Sudah, habiskan saja,"
"Kakak sudah tidak mau?"
"Tidak, Kakak tidak terlalu suka. Kakak juga jarang mengemil,"
"Oooo, Za, juga gak suka ngemil, apalagi saat di panti, bisa makan dah alhamdulillah, mungkin sekarang, pembalasannya."
"Iya, nanti kalau sudah nikah apa yang Za mau In Syaa Allah kakak akan selalu penuhi,"
"Kakak jangan merasa kesal atau marah jika tiba-tiba, Za, ingin dimanja. Ya, Kakak tau lah mungkin selama ini Za, selalu memenuhi kebutuhan Za, sendiri," Ucap Umaiza kepada Rahman dengan sedikit berkaca-kaca.
"Iya, Za, Kakak mengerti." lagi-lagi ingin rasanya memeluk Umaiza. Tapi apalah daya kami belum halal.
Umaiza membuang sampah lalu duduk kembali untuk menunggu dan menghabiskan minumannya juga.
"Ini sudah, Pak,"
Rahman segera berdiri dan mendekat kepada bapak yang mengerjakan cover Skripsi. Diperiksa dengan teliti, kerapihan dan kebersihannya. Setelah semuanya oke.
"Berapa semuanya Pak?"
"300, Pak,"
"Baik, Ini Pak, terimakasih," dengan memberikan uang pas kepada Bapak tersebut. Setelah selesai, Umaiza dan Rahman segera menuju mobil untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah Rahman.
"Terimakasih ya, calon imamnya aku,"
"Sama-sama, calon makmumku,"
Rahman segera menyalakan mobilnya dan membawa Umaiza ke rumahnya.
"Kak, Za menelepon dulu Ibu ya,"
"Ya, Za,"
Umaiza, mengambil hp dan menelepon Ibu.
"Assalamu'alaikum, Umaiza dimana?"
"Waalaikummussalaam, Umaiza baru beres pasang cover skripsi sekarang Za mau mampir dulu ke rumah bundanya Kak Rahman,"
"Oh, Iya, hati-hati di jalan. Gak pulang malam-malam,"
"Iya, Bu, Assalamu'alaikum,"
Sambungan telepon terputus.
"Za, mau ke rumah kakak dulu atau langsung ke rumah bunda?"
"Gimana baiknya saja, Kak. Langsung ke rumah bunda saja. Kalau ke rumah Kakak, Za, takut."
"Takut kenapa, emang kakak hantu apa?"
"Iya, lebih dari itu kalau berduaan,"
Rahman terkekeh, "Siapa tahu Za, mau masak buat kakak,"
"Memang kakak lapar?"
"Iya, Za, kakak lapar banget,"
"Ya, sudah Za, ke rumah kakak dulu,"
Rahman tersenyum penuh kemenangan.
Rahman membunyikan klakson, Satpam segera membukanya.
Umaiza dan Rahman turun, buku skripsinya sudah Rahman simpan di jok belakang.
Bunda keluar setelah mendengar suara mobil keluar. Umaiza segera berjalan mendekati Bunda dan mencium tangannya, Bunda mengusap kepala Umaiza.
"Bagaimana kabar calon mantunya, Bunda,"
"Alhamdulillah, Bunda bagaimana?"
"Bunda, Alhamdulillah baik,"
"Mari masuk," ajak bunda.
"Bunda, Maaf. Anak bunda sedang manja, katanya lagi lapar, minta dimasakin oleh Umaiza,"
"Oooo, begitu, ya sudah. Nanti kalau sudah beres makan Umaiza mampir dulu ke rumah Bunda ya,"
"Iya, Bunda. Umaiza kangen sama, Bunda,"
Tiba-tiba Farid keluar, "Kalau sama Farid gimana Kak?"
"Iya, ke Farid juga. Calon adik ipar kakak ini selalu saja manis,"
Rahman cemberut mendengar Umaiza memuji adiknya.
"Idih, Kakak, sama adiknya sendiri cemburu," goda Farid.
"Itu cemberut karena lapar, Farid," jelas Umaiza.
__ADS_1
"Sudah tahu, masih saja lama," ucap Rahman ketus.
"Bunda, Umaiza ke rumah Kak Rahman dulu ya,"
Rahman sudah duluan jalan menuju rumahnya.
"Iya, Umaiza," ucap Bunda sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak sulungnya.
Umaiza mengejar Rahman dengan sedikit berlari, lalu Rahman menoleh dan segera berhenti.
"Kenapa berlari, cedera bekas benturan, Za, belum sembuh betul," kata Rahman khawatir.
"Habis Kakak, jalannya cepat sekali. Za tadi mau mengejar," Ucap Umaiza manja.
"Maaf, Kakak sudah ingin mandi. Badan kakak sudah lengket,"
"Iya, Kak, do'akan saja Za, gak kenapa-kenapa."
"Iya, aamiin. Do'a kakak selalu menyertai langkah Za," lagi-lagi hanya bisa mengusap kepala Umaiza.
Rahman membuka kunci lalu membuka pintu rumahnya. Rahman menyimpan tas kerjanya di meja dan segera masuk ke kamar untuk mandi. Umaiza segera membuka kulkas dan mencari makanan yang bisa di olahnya.
Umaiza yang sudah cekatan segera mengolah lauk dan sayuran menjadi makanan sederhana, namun untuk rasa tidak perlu d ragukan lagi, harum masakannya tercium ke kamar Rahman melalui ventilasi udara. Setelah selesai mengganti pakaian, Rahman segera keluar. Dan tak lupa Umaiza memasak nasi.
"Za, kakak jadi tambah lapar mencium masakannya,"
"Iya, Kak, sebentar lagi matang nasinya."
Lauknya Umaiza pindahkan ke piring lalu menyimpannya di meja makan. Untuk sambalnya Umaiza simpan di mangkok. Dan lalapannya di piring yang datar.
Tidak lupa menyiapkan air putih hangat dan air jeruk dingin.
"Ingin makan spesial, Za,"
"Kalau spesial itu di restoran mahal ini kan masakan rumahan."
"Bagi kakak masakan Bunda dan sekarang Za yang akan menjadi makanan istimewa. Kalau sudah nikah bisa-bisa perut Kakak buncit, karena makannya menjadi banyak"
Umaiza tersenyum mendengar ocehan Rahman.
"Nasinya sudah matang, Kak,"
"Baik, sama Kakak saja untuk mengangkatnya."
Nasi di masukkan ke dalam mangkok besar dan Rahman menyimpannya di meja makan.
Umaiza dan Rahman duduk di meja makan. Umaiza mengalaskan nasi dan lauknya ke piring Rahman. Lalu Umaiza.
"Nasinya dikit sekali, Za?"
"Iya, Kak, Za masih sedikit kenyang sudah ngemil tadi. Kalau nasinya banyak takut tidak habis,"
"Oh, iya,"
Umaiza dan Rahman makan tanpa ada suara. Umaiza melihat ke arah Rahman, melihatnya menyantap makanan yang di masak dirinya, Umaiza sangat bahagia. Sedikitnya kelak kalau sudah menjadi istrinya Rahman, Umaiza tidak ada kesulitan dalam menyiapkan makanan untuknya.
"Alhamdulillah," ucap Rahman setelah selesai makan dan mengusap perutnya.
"Kak, ini," tunjuk Umaiza ke mulutnya.
"Apa?"
"Nasi,"
Rahman mencoba mengusapnya namun tetap nasi itu menempel di mulutnya.
Umaiza mengambil tisu, "Maaf, ya, Kak," ucap Umaiza sambil mengusap mulut Rahman yang ada nasinya dengan menggunakan tisu.
Rahman salah tingkah karena sedikitnya wajah Umaiza begitu dekat dengannya. Hatinya berdegup sangat kencang. "Astagfirullah," ucap Rahman dengan menundukkan pandangannya.
Umaiza berdiri dan membereskan piring bekas makan dan mencucinya dengan bekas masak tadi.
Rahman berdiri untuk wudhu dan shalat.
Sisa makanan di tutup karena Umaiza lupa menanyakan.
Dan Umaiza duduk di ruang tamu. Menunggu Rahman selesai shalat. Tas kerja yang disimpan di atas meja, Umaiza akan simpan ke kamar Rahman.
Dinding kamarnya dipenuhi oleh beberapa bingkai. Disana Umaiza melihat-lihat photo Rahman saat remaja, masa-masa kuliah dan disana terdapat bingkai uang dollar dan beberapa keping logam mulia yang membuat Umaiza penasaran lalu mendekat. Dibawahnya tertulis, "Maharnya sudah siap nih, dimanakah sesungguhnya bidadariku kini berada,"
Deg...
Jantung Umaiza langsung tidak karuan saat membaca tulisan dibawah bingkai itu. Sudah sesiap itukah Rahman untuk menikah. Dan Rahman tiba-tiba sudah berada di belakang Umaiza.
"Bidadari yang selama ini ditunggu sudah ada dihadapanku," ucap Rahman.
Spontan Umaiza menoleh ke belakang dan wajah Rahman tepat berada diatas wajah Umaiza.
"Sejak kapan kakak disini?"
"Barusan,"
Kak Rahman mundur dan ke sofa. Umaiza pun jalan keluar dari kamar.
"Sudah lama kakak menyiapkan mahar itu?"
"Sudah, dari lulus kuliah S2,"
"Memang saat itu, kakak sudah siap untuk menikah?"
"Sudah, dong. Setelah kakak membangun rumah dan membeli mobil. Kakak sudah mulai kepikiran untuk menikah."
"Katanya sudah siap tapi kok dingin, bagaimana mendapatkannya?"
"Iya, dingin sama mereka tapi kan sama Za gak. Hati yang membawa kakak ke Za, Allah memberikan petunjuk kalau Za adalah bidadari yang kakak tunggu,"
"Idih, gombal," Sambil mencubit tangan Rahman.
__ADS_1
"Aaaau," teriak Rahman karena kesakitan
Umaiza tersenyum lebar dan diikuti dengan Rahman. Dan Kami pun ke rumah Bunda. Sebelumnya menutup Rumah dan menguncinya.