
Umaiza siap-siap untuk pergi ke kantor.
Mandi
Ganti baju
Berhias
Keluar kamar.
Semua makanan sudah siap untuk di santap, semuanya tertata rapi di atas meja, membuat selera makan bertambah.
Nasi goreng spesial seafood, telor ceplok, acar dan kerupuk.
Ibu pun membuatkan beberapa potong sandwich untuk bekal ke kantor.
"Ibu membuat sandwich juga?"
"Iya, Nak, buat mengganjal perut di sela-sela sedang kerja. Siapa tahu keroncongan sebelum waktu istirahat tiba,"
"Ibu sungguh pengertian, makasih ya, Bu,"
"Sama-sama, sayang,"
Rahman yang baru pulang dari rumah Bunda langsung bergabung di meja makan.
Umaiza mengambilkan nasi beserta lauknya untuk Rahman.
Mereka pun sarapan bersama tidak lupa membaca do'a.
"Umaiza untuk membereskan semua ini sama Ibu saja," ucap Ibu setelah selesai makan.
"Ibu tidak repot?"
"Tidak, Umaiza dan Rahman siap-siap saja, bawa semua alat yang akan di jadikan bukti kejahatan Alifa,"
"Iya, Ibu, kalau begitu Umaiza dan Rahman pergi sekarang ke kantor polisi, supaya ke kantor tidak terlalu terlambat masuknya,"
"Iya, Nak,"
"Pulang dari kantor polisi, Kak Rahman akan melihat perkembangan proyek cabang baru Bu,"
"Kalau begitu hati-hati ya, semoga semuanya di lancarkan,"
"Aamiin, Bu, terimakasih,"
Rahman dan Umaiza pamit, mencium tangan Ibu,"
Tiba di kantor polisi.
Rahman dan Umaiza segera masuk ke ruangan penyidik.
Farid menunggu di mobil.
Umaiza memberikan buku harian Pak Baskoro dan rekaman suara milik Ibu nya Alifa.
"Pak, kami serahkan semua bukti ini. Apakah kami bisa bertemu dengan Alifa sekarang?"
"Sebenarnya Alifa belum bisa di temui,"
Wajah Umaiza berubah langsung lesu.
"Pak, kami ada yang mau di tanyakan terhadap Alifa, hal yang sangat pribadi,"
"Baik, kalau begitu, kalian akan di antar oleh petugas ya?"
"Baik, Pak, terima kasih,"
Seorang polisi datang ke ruangan dan segera mengantar Rahman dan Umaiza ke ruang tunggu.
Alifa di panggil.
Umaiza dan Rahman sudah duduk.
Alifa datang.
"Hai, bagaimana kabarnya mbak?" tanya Umaiza
__ADS_1
Alifa tidak menjawab hanya memperlihatkan wajah marah dan kecewanya.
"Apakah betah?"
Alifa hanya menatap tajam ke arah Umaiza.
"Saya sudah tahu semuanya, siapa yang memanfaatkan siapa,"
"Jangan berbelit langsung ke intinya saja," dengan nada marah
"Mbak kan yang sudah merencanakan semuanya, bukan Rama?"
"Tahu apa kamu tentang itu?"
"Kami ada penawaran menarik untuk kamu, Mbak,"
"Apa?" nada suaranya masih meninggi.
"Akui semuanya di depan kami dan petugas, nanti kami akan memaafkan dan mencabut perkara ini,"
"Maksudnya?" masih dengan nada tegas.
Umaiza masih tetap lembut.
"Kalian menyangka saya yang merencanakan ini semua?"
"Iya, karena salah faham yang sudah berkarat dan menjadi dendam,"
"Kalian tidak tahu apa-apa,"
"Semua bukti sudah mengarah padamu, Mbak," tetap lembut dan sopan.
Rahman melihat Alifa penuh dengan amarah.
"Saya hanya ingin semuanya selesai, Mbak,"
"Iya, saya memang yang merencanakan ini semua, Rama yang membantu saya, namun bukan hanya itu alasan saya...," perkataan Alifa terhenti seperti sedang berfikir.
Umaiza langsung mengangkat kepalanya melihat ke arah Alifa, "kenapa terhenti?"
"Pak Baskoro sering mengajak saya untuk tiduuuurrr,"
"Iya, sering, kalau tidak mau saya suka di pukul," dengan menyeringai
"Kalau ini hanya karanganmu saja, bisa jadi fitnah dan di kenakan pasal,"
"Benar, saya sering melayaninya. Seminggu bisa tiga kali, kalau tidak mau, Pak Baskoro marah dan memukul saya," dengan nada sedih terkadang tersenyum.
"Dimana Ayah mengajak melakukannya?"
"Dikamar rahasia, di kantor," tersenyum puas.
Rahman sudah mengepalkan kepalanya.
"Fitnah kamu,"
"Terserah mau percaya atau tidak," seperti nada meledek.
"Astagfirullah, innalillahi," umaiza mengusap dada, "ada bukti?" tanya Umaiza
Alifa menggelengkan kepalanya
"Baik, kami akan mencari bukti sendiri,"
"Silahkan," masih nada meledek.
"Selamat mendekam di penjara dalam waktu yang lama, apalagi jika yang kamu katakan tentang Ayah bohong dan fitnah,"
"Tidak saya tidak fitnah, saya siap di visum, kalau saya sudah tidak perawan," jelas Alifa sambil menggebrak meja.
"Tenang, semuanya harap tenang," petugas memperingatkan.
"Tidak menjadi jaminan, bisa saja kamu tidur dengan siapa, meminta pertanggung jawaban sama siapa," ucap Umaiza yang masih tenang
"Gila kamu," tangan Alifa sudah melayang ke arah wajah Umaiza seperti ingin menamparnya.
Rahman segera menahan tangan Alifa.
__ADS_1
"Pak, silahkan sudah bisa di bawa, kembalikan dia ke sel," pinta Umaiza kepada petugas
"Awas ya kamu," tunjuk Alifa
"Kamu sungguh tidak kasihan melihat ibumu," ucap Umaiza pelan.
Alifa di bawa ke dalam sel kembali.
Umaiza meneteskan air mata.
Rahman menenangkannya.
"Kak, apakah cctv di ruangan Ayah masih berfungsi?"
"Tentu saja, Za,"
"Alhamdulillaah, kalau begitu, Za, akan cek ke ruangan monitoring,"
Rahman menganggukan kepalanya.
Rahman dan Umaiza keluar dari kantor polisi.
Ibunya Alifa baru turun dari mobil, sepertinya dari taxi online.
Umaiza segera mendekat ke arah Ibunya Alifa dan mencium tangannya.
"Kalian?" tanya ibunya Alifa kaget
"Iya, Bu, kami sudah memberikan bukti ke bagian penyidik,"
"Boleh Ibu bertanya apakah penawaran kemarin masih berlaku?"
"Penawaran tentang apa?"
"Jika Alifa kooperatif dia akan dibebaskan,"
"Maaf, penawaran itu sudah tidak berlaku, karena Alifa sudah memfitnah Ayah, dengan sering mengajaknya tidur,"
"Astagfirullah," ucap Ibunya Alifa kaget sambil memegang dadanya mendengar penjelasan Umaiza.
"Ibu yang sabar ya?" ucap Umaiza menenangkan.
"Ibu yang salah Nak, Ibu yang mendidiknya untuk memiliki hati yang keras dan menjadikannya pendemdam. Yang patut di salahkan dalam masalah ini adalah Ibu," tangis Ibunya Alifa dengan sangat histeris hingga memukul kepalanya sendiri.
Umaiza menahan tangannya supaya tidak memukul diri sendiri lagi dan segera memeluk Ibunya Alifa.
"Sudah, Bu, jangan seperti ini, nanti Ibu sakit lagi, sekarang tugas kita do'akan saja Alifa supaya di berikan hidayah sama Allah SWT," setelah Ibunya Alifa sedikit tenang Umaiza lepaskan pelukannya.
"Ibu yang salah, seharusnya Ibu yang ada disana,"
Umaiza memapah Ibunya Alifa untuk duduk di kursi.
"Ibu, tenangkan diri dulu, Alifa di dalam sana pun baik-baik saja. Kami juga merasa iba terhadap Alifa, namun kami sangat menyesal sekali tidak bisa membantu banyak, karena Alifa bukannya merasa bersalah dan minta maaf yang ada dia memfitnah Pak Baskoro jadi maafkan kami jika kasusnya terus di lanjut,"
Ibunya Alifa menangis, air matanya keluar sangat deras, "Bagaimana nasib kami sekarang?"
"Ibu, In Syaa Allah, kami tidak akan lepas tangan. Apa yang sudah Pak Baskoro lakukan untuk keluarga Ibu, In Syaa Allah akan kami lanjutkan," terang Rahman
"Kami malu, Nak,"
"Ibu tidak usah malu, anggap saja kami bagian dari keluarga Ibu," ucap Umaiza
Ibunya Alifa memeluk Umaiza dengan erat, "maafkan putri Ibu ya Nak, sungguh Ibu malu tentang apa yang sudah dilakukan oleh Alifa, bantu do'a semoga Allah membalikkan hatinya,"
"Pasti, Bu, kami akan selalu mendo'akan Ibu dan anak-anak,"
"Terimakasih, sungguh hati kalian begitu lapang,"
Umaiza tersenyum.
"Ibu mau ketemu sama Alifa?"
"Iya, Nak,"
"Baik, kalau begitu kami pamit pulang,"
"Iya, Nak, Ibu masuk dulu,"
__ADS_1
Mereka pun berpisah.