Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Meeting Pertama


__ADS_3

Umaiza bangun tidur pukul 04.30.


Shalat subuh


Menyiapkan sarapan


Mandi


Siap-siap ke kantor


Sarapan bersama Ibu dan Rahman.


"Za, sekarang ke kantor polisi dulu?"


"Iya, Kak,"


"Jangan lupa bawa iphone, hp ayah dan rompi yang ada darahnya,"


"Iya, Kak,"


"Sudah siap pergi sekarang?"


"Iya, Kak, Za, sudah siap," sudah beres merapikan meja makan dan mencuci piring bekas makan.


Beres-beres rumah Umaiza dan Rahman menjadwalkan setiap hari sabtu atau hari minggu.


Umaiza dan Rahman pamit kepada Ibu, lalu pergi ke rumah Bunda.


Mereka masuk ke mobil.


Rahman segera melajukannya ke jalan raya.


"Za, malam mimpi apa?"


"Memang kenapa Kak?"


"Za, awalnya keringatan, Kakak menyalakan AC lalu kedinginan, Kakak lalu mengecilkan AC nya, tak lama dari itu tersenyum terakhir bilang Ayah terimakasih atas semuanya,"


"Iya, Za, mimpi Ayah, Kak,"


"Owh,"


"Allah memberikan ujian kepada Za melalui masalah ini, Kak,"


"Iya, ini memang ujian untuk kita semua,"


"Iya, yang harus terpecahkan oleh kita, Kak,"


"Iya, benar, supaya tidak ada dendam yang berkelanjutan,"


"Iya, Kak, nanti bisa-bisa kepada anak cucu kita," sambil tersenyum.


Rahman pun ikut tersenyum.


Rahman dan Umaiza sudah sampai di kantor polisi.


Rahman menghentikan mobil dan parkir tepat di depan kantor polisi. Rahman dan Umaiza segera turun dari mobil.


"Ada yang bisa di bantu?" tanya petugas yang berada di meja depan.


"Mau ke bagian penyidik yang menangani kasus kecelakaan Pak Baskoro, apakah beliau sudah ada?" jawab Rahman


"Sudah, Pak, mari ikut saya,"


Petugas tersebut mengantarkan Rahman dan Umaiza ke ruangan penyidik.


"Pagi, Pak!" Sapa penyidik


"Pagi, Pak!" jawab Rahman lagi


Petugas yang mengantarkan Rahman dan Umaiza kembali lagi ke meja kerjanya.


"Bagaimana apakah sudah ada bukti baru lagi?" Tanya Penyidik yang sudah mengenali wajah Umaiza dan Rahman.


"Betul Pak, saya mau menyerahkan ini," ucap Rahman dengan memberikan shopping bag kepada penyidik.


Bapak Penyidik mengambil dari tangan Rahman dan segera mengeluarkan barang tersebut dari dalam shopping bag


"Apa ini?" saat melihat rompi yang penuh akan darah.


"Itu rompi Pak, sebagai bukti kalau Ayah membantu seseorang korban kecelakaan lima tahun yang lalu,"


"Oke, adakah bukti lain untuk menguatkan ini semua?"


"In Syaa Allah, sepulang kerja akan ke rumah Ayah, kami akan mencari buku harian. Karena menurut cerita Ibu, Ayah menuangkan semua setiap moment di buku hariannya," jelas Umaiza


"Baik, kalau ini?" dengan mengangkat iphone


"Di dalamnya kami menemukan chat antara Ayah dan peneror sebuah ancaman, kalau di sana terdapat sambungan telepon di hari dan waktu sebelum kejadian dengan nomor yang sama yang memberikan ancaman kepada Ayah," sambung Umaiza lagi.

__ADS_1


"Terima kasih atas bantuannya, untuk bagian penyidikan ini sangat membantu,"


"Sama-sama, Pak, kalau begitu saya izin undur diri, In Syaa Allah besok pagi saya akan mengantarkan buku harian milik Ayah," sambung Rahman.


"Terima kasih, semoga segera ketemu dan kami tunggu kabar baiknya. Supaya semua berkas bisa segera masuk ke pengadilan,"


"Iya, Pak, aamiin, In Syaa Allah,"


Rahman dan Umaiza keluar dari ruangan penyidik.


Petugas mengangguk ketika melihat Umaiza dan Rahman sedang berjalan menuju pintu.


Rahman dan Umaiza balas tersenyum dan mengangguk.


Rahman dan Umaiza kembali ke mobil dan Rahman segera melajukan mobilnya ke jalan raya dan segera pergi ke kantor.


Tiba di kantor Rahman dan Umaiza segera masuk, Rara sudah berada di meja kerjanya.


"Pagi, Pak, Bu," sapa karyawan ketika Rahman dan Umaiza melewati mereka.


"Pagi semuanya, selamat bekerja," Jawab Umaiza dengan lembut.


Rahman hanya tersenyum dan mengangguk.


Umaiza dan Rahman masuk lift.


Keluar lift dan mereka berdua segera masuk ke dalam ruangannya masing.


Rahman sedikit santai belum ada berkas di atas meja.


Umaiza mengerjakan pekerjaan yang kemarin sore belum di kerjakan.


Farid mengetuk pintu.


"Masuk, Farid!" perintah Umaiza yang tetap fokus bekerjs


"Assalamu'alaikum, Kak,"


"Wa'alaikummussalaam," jawab Umaiza dengan melihat Farid


"Ini, Kak, Farid mau mengantarkan berkas,"


"Oh, Iya, Baik, simpan di atas meja saja. Terima kasih ya," mengangguk dan tersenyum


"Sama-sama, Kak,"


Umaiza membereskan pekerjaan yang kemarin. Tidak lama dari itu, pekerjaan selesai. Umaiza segera menyerahkan kepada Rahman.


"Assalamu'alaikum, Kak,"


"Wa'alaikummussalaam,"


"Santai ya, Kak?"


"Iya, nih, menunggu kerjaan yang diserahkan oleh istri tercinta,"


"Melayang, Kak, jadinya mendengar ucapan Kakak itu,"


Rahman tersenyum.


Umaiza menyimpan berkas di atas meja.


"Za, tadi Kakak di hubungi oleh klien. Satu jam lagi ada meeting di hotel A, Za, ikut ya?"


"Iya, Kak, sekarang Za, bereskan dulu kerjaan yang di serahkan oleh Farid barusan,"


"Iya, Za, nanti setengah jam dari sekarang kita pergi,"


Setelah Alifa di berhentikan dan mempertanggung jawabkan atas kecelakaan Pak Baskoro, klien semua menghubungi Rahman. Karena Rahman selalu di ikut sertakan setiap kali meeting.


Umaiza bekerja dengan fokus.


Tidak lama kemudian kerjaan pun beres, Umaiza siap-siap lalu pergi ke ruangan Rahman dengan membawa berkas.


"Sudah, beres?"


"Sudah, Kak, ini," menyimpannya di atas meja.


Rahman pun sudah rapi dan siap pergi.


"Pergi sekarang?" tanya Umaiza


"Iya, ayo, takutnya macet,"


"Iya, Kak,"


Rahman dan Umaiza masuk ke dalam lift, tidak membutuhkan waktu lama sudah sampai di lantai satu, Rahman dan Umaiza keluar dari lift.


Rahman seperti biasanya ke mobil duluan dan Umaiza menunggu di lobby.

__ADS_1


Rahman berhenti di depan Umaiza dan Umaiza segera naik ke dalam mobil.


"Kak, meeting kali ini karena ada proyek baru atau apa?"


"Iya, ada yang mengajak kerja sama dalam mensuplai barang,"


"Owh, oke, kenapa Kakak tidak mempersiapkan proposalnya terlebih dahulu?"


"Proposal, pihak klien yang mengajukan. Keputusan ada pada perusahaan kita," ucap Rahman.


"Apakah ini perusahaan baru?"


"Dikatakan baru, tidak. Namun ini perusahaan yang bisa dikatakan sedang mengembangkan bisnisnya ke perusahaan multinasional,"


"Wow, Za, kayaknya harus banyak belajar,"


"Iya, makanya, Za, Kakak bawa, supaya Za bisa belajar,"


"Sebenarnya ini semua bukan fasionnya Za, Za inginnya jadi akuntan publik,"


"Iya, supaya kelak Za gak di bohongi oleh karyawan lebih baik belajar dulu tentang perusahaan yang Ayah tinggalkan, kalau sudah faham, jika kelak mau membangun bisnis lain ya tidak apa-apa,"


"Iya, Kak, Za, juga mengerti. Nasib karyawan sekarang berada di pundak kita,"


"Iya, Za, Ayah meninggalkan tanggung jawab yang begitu besar,"


"Iya, untung ada Kakak,"


"Iya, Za, gak bisa terlalu bergantung kepada Kakak. Bagaimana kalau Kakak, Allah jemput lebih dulu?"


"Sssst, jangan bilang begitu," kata Umaiza sambil telunjuknya menutup mulut Rahman.


Rahman tersenyum.


Rahman dan Umaiza sudah sampai di tempat tujuan. Lalu turun dan segera masuk.


Klien sudah menunggu di dalam.


"Siang, maaf sudah menunggu lama," Sapa Rahman sambil berjabat tangan.


"Siang, tidak apa-apa, kami pun baru sampai," jawab klien,


"Oh, iya, kenalkan Umaiza ini istri saya sekaligus sekretaris dan assisten pribadi saya. Beliau juga putri dari Pak Baskoro," ucap Rahman, "Za, ini Pak Candra klien kita. Beliau mempunyai banyak anak perusahaan, salah satunya yang sekarang akan kita bahas," jelas Rahman kepada Umaiza.


"Saya Candra," dengan menjulurkan tangannya, "Pak Rahmam terlalu berlebihan," menarik tangannya kembali sambil tersenyum.


"Umaiza," jawab Umaiza sambil menakupkan tangannya di depan dada.


"Senang kenalan dengan Anda,"


Umaiza tersenyum.


"Silahkan duduk!"


Umaiza dan Rahman pun duduk.


Begitu pun dengan Candra.


Rahman mengeluarkan leptop.


Sekretaris Candra mengeluarkan proposal dan memberikannya kepada Candra dan Rahman.


"Saya turut berbela sungkawa atas meninggalnya Pak Baskoro," yang sudah mengetahui kabar duka tentang meninggalnya Pak Baskoro.


"Terima kasih, Pak," jawab Umaiza.


"Izinkan saya mempresentasikan proposalnya," ucap Candra.


"Silahkan," jawab Rahmam


Candra mempresentasikan proposalnya dengan jelas sehingga Rahman maupun Umaiza tidak perlu membaca proposalnya. Namun untuk lebih lanjutnya sebagai bukti ke depannya, takut ada kesalahan, Rahman meminta waktu beberapa hari dalam mengambil keputusan.


Klien pun menyetujui permintaan Rahman.


Mereka makan bersama dan setelah semuanya selesai, Rahman dan Umaiza pamit untuk pulang lebih dulu.


"Kak, tidak sesulit yang di perkirakan," ucap Umaiza.


"Meeting pasti kan sering kita jumpai, jika nanti Za, mendirikan perusahaan di bidang jasa akuntan publik, pasti akan meeting terlebih dahulu dengan pemilik perusahaan, dalam masalah harga dan lain-lain," jelas Rahman.


"Benar juga ya, Kak, Za tidak berpikir sejauh itu,"


"Za, Za, masa iya cuma mengerjakan laporan keuangan lalu terima bayaran saja gitu?"


"Xixixix, iya, Kak," sambil menutup mulut.


Rahman mengusap kepala Umaiza.


Umaiza jika di dalam mobil hanya mengobrol kalau tidak tidur, jarang memperhatikan jalan. Karena merasa bosan, jalan yang sama yang sering Umaiza lewati tiap harinya. Sedangkan Rahman hanya fokus di balik kemudi.

__ADS_1


__ADS_2