Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
WO


__ADS_3

Ibu Rahma mengetuk pintu ruangan Ibu Windi.


"Silahkan masuk," teriak dari dalam.


Pintu di buka, "Permisi," ucap Ibu Rahma sambil tersenyum sambil masuk ke dalam.


Bunda mengikuti Ibu Rahma dari belakang.


"Assalamu'alaikum," ucap Ibu Rahma


"Wa'alaikummussalaam, bagaimana kabarnya?"


"Baik, Alhamdulillah,"


"Silahkan duduk,"


"Terima kasih," Ibu Rahma pun duduk.


Bunda juga sama duduk di samping Ibu Rahma dan Ibu Windi tersenyum ke arah Bunda.


"Turut berduka cita ya, atas meninggalnya suamimu,"


"Terimakasih, say,"


"Ada angin apa nih, yang membawa kamu kesini?"


"Saya mau mengadakan walimatul urs, untuk anakku, bisa kan?"


"Untuk kapan nih?"


"3-4 mingguan lagi, deh,"


"Diusahakan deh, tempatnya dimana nih, hotel A kah?"


"Bukan, anakku ingin di panti asuhan dimana dia dibesarkan,"


"Ya Allah, iya, baru ingat saya. Anakmu bukannya hilang ya, Rahma?"


"Iya, betul,"


"Bagaimana ceritanya bisa ketemu lagi?"


"Ceritanya panjang, kalau di ceritakan sekarang nanti kamu gak bisa kerja," ucap Ibu Rahma.


Bunda hanya diam.


"Oh, iya, kenalkan ini Ibu Aminah, Besan saya,"


(kalian penasaran tidak dengan nama Bundanya Rahman? Sekarang semoga sudah tidak penasaran lagi ya!. Namanya siapa ayo?)


"Maa Syaa Allah, akrab sekali. Kemana calon pengantinnya?"


"Bukan calon lagi, mereka sudah menikah. Sebelum Baskoro meninggal,"


"Ooooh, begitu. Acara yang mau di gelar sekarang hanya syukurannya saja?"


Ibu Rahma mengangguk.


"Acara yang di inginkan seperti apa?"


"Anaknya pingin yang sederhana dan santai saja, baju, menu dam dekor juga,"


"Oke, nanti kita survei panti asuhannya, mau indoor atau outdoornya. Saya akan memberikan pelayanan terbaik untuk syukuran putri sahabat saya ini,"


"Saya percaya, kapan mau survei?"


"Boleh, sabtu atau minggu ini," jawab windi.


"Menu nya ingin yang modern ya, saya ingin mereka anak-anak panti bisa menikmati makanan yang tak biasa mereka makan,"


"Siaap, menu western dan nasional ya?"


Ibu Rahma mengangguk.


"Siaap, gaunnya mau beli sendiri atau dari sini?"


"Masalah itu nanti saja bicarakan dengan putra putri kami sekaligus dengan budgetnya,"


"Untuk masalah budget nanti dikasih harga spesial deh,"


"Makasih loh ya,"


"Mau minum apa?"


"Tidak usah, urusan sudah selesai. Kami pamit pulang,"


"Buru-buru amat, kita jarang-jarang loh bisa ketemu, bagaimana kalau kita makan siang dulu,"

__ADS_1


"Memang tidak sibuk?"


"Tidak, ayo," Ibu Windi berdiri dan mengambil tas di atas meja.


Bunda dan Ibu Rahma pun ikut berdiri dan berjalan bersama Ibu Windi.


Ibu Rahma mengobrol asyik dengan Ibu Windi, Bunda sesekali ditanya untuk dimintai pendapat.


"Anak kamu sekolah dimana, Win?"


"Anakku kuliah di Australia,"


"Jauh, amat, ambil jurusan apa?"


"Ya, Alhamdulillah, dapat beasiswa, sekarang tingkat akhir sedang skripsi,"


"Seumuran ya?"


"Iya, seumuran kalau tidak salah,"


"Kalau tidak salah, kamu ditinggal suami juga kan ya?"


"Iya, saya kan ngurus anak-anak sendirian,"


"Gak nikah lagi?"


"Gak, ah, takut gak bisa melayani suami dengan baik, nanti malah jd tambah dosa bukan ibadah lagi. Fokus saja yang ada di depan mata, anak-anak dan bisnis,"


Bunda mengangguk ketika mendengar jawaban dari Ibu Windi.


Ibu Rahma hanya bisa berkata, "Oooo,"


"Ada niatan nikah lagi, Rahma?"


"Tidak lah, dah berumur juga, sekarang fokus ke anak, in Syaa Allah cucu dan menunggu giliran di jemput sama Allah," celetuk Ibu Rahma.


"Iya, saya setuju, benarkan Ibu Aminah,"


"Iya," jawab Bunda singkat.


Mereka sampai di parkiran. Langsung masuk ke mobil Ibu Windi.


Ibu Windi membawa mobilnya ke jalan raya.


"Anakmu sekarang lagi sibuk gak, Rahma?" tanya Ibu Windi.


"Sepertinya, saya tidak mau mengganggu, mereka kan yang di amanahkan untuk mengelola perusahaan belum lagi, meninggalnya Baskoro meninggalkan misteri yang harus di ungkap,"


"Suamimu kan satu komunitas ya, sama Baskoro?"


"Iya, kalau tidak salah,"


"Pernah bercerita tidak, kalau Baskoro dituduh menabrak seseorang saat sedang konvoi MoGe, 5 tahun yang lalu?"


Ibu Windi mencoba mengingat, "Iya, pernah,"


"Nah, kesalahfahaman itu sampai sekarang, yang menjadikan anak korban memiliki dendam terhadap Baskoro, makanya dibalas dengan menabraknya,"


"Innalillahi,"


"Masalah itu yang sedang di ungkap, Umaiza dan Rahman sedang sibuk mengumpulkan bukti juga,"


"Maa Syaa Allah, semuda itu?"


"Iya, habis bagaimana lagi, kami hanya memiliki anak satu, perempuan lagi. Dan Alhamdulillaahnya, memiliki suami yang baik, setia,"


"Alhamdulillaah, semoga segera selesai masalahnya,"


"Aamiin,"


"Baskoro meninggalkan banyak harta ya?"


"Alhamdulillaah, meninggalkan amanah yang sangat besar dan berat,"


Mereka sampai di tempat tujuan. Ibu Windi membawa Ibu Rahma dan Bunda ke restoran yang menyediakan makanan nusantara.


Ibu Windi mencari tempat duduk, Ibu Rahma dan Bunda mengikuti dari belakang.


Ibu Windi sengaja memilih dekat jendela.


"Silahkan duduk,"


Mereka pun duduk.


"Mau pesan apa?"


"Saya ikut saja, Bunda mau apa?"

__ADS_1


"Iya, sama ikut saja,"


"Baik, kalau begitu,"


Ibu Windi melihat menu.


"Pelayan," panggil Ibu Windi.


Pelayan datang, "Mau pesan apa?"


"Saya pesan nasi 3, ayam bakar 3, sambal bawang, sambal tomat, sambal matah (masing-masing 1), karedok, cah kangkung, cumi asam manis, udang krispy dan lalapannya kol goreng, timun," ucap Ibu Windi, "Mau pete atau jengkolnya tidak?" tanya ke Ibu Rahma dan Bunda.


Bunda dan Ibu Rahma menggelengkan kepalanya secara bersamaan.


"Minumannya air putih 3 sama jus jeruk 3 ya," sambung Ibu Windi.


"Windi lapar atau gimana nih, banyak banget,"


"Tidak tiap hari ini ya, Bun, hari ini kita habiskan dengan mengobrol dan jalan-jalan,"


"Iya, betul, kali-kali membahagiakan diri sendiri tidak salah," ucap Bunda.


"Bunda tidak ada yang marah kan?"


"In Syaa Allah, tidak, suami saya juga sudah lama meninggal,"


"Waduh, kita ini trio janda dong," canda Ibu Windi


Ibu Rahma dan Bunda tersenyum.


"Bunda tidak ingin menikah lagi?"


"In Syaa Allah, tidak, saya fokus membesarkan anak-anak dan mungkin ke depannya mengurus baby bareng dengan Ibu Rahma,"


"Semoga saya mendapatkan besan seperti kalian, dekat. Menganggap menantu sebagai anak sendiri,"


"Aamiin, In Syaa Allah,"


Pelayan datang dengan membawakan pesanan.


Semua sudah terhidang di atas meja.


"Terima kasih," ucap Bunda kepada pelayan


"Silahkan makan," ucap Ibu Windi


"Terima kasih," ucap Ibu Rahma dan Bunda secara bersamaan.


Bunda, Ibu Rahma dan Ibu Windi makan.


Bunda makan dengan Ayam bakar, Karedok dan lalapan kol goreng tidak lupa sambal bawangnya.


Ibu Rahma makan dengan Ayam bakar, cah kangkung, lalapan timun dan sambal tomat.


Ibu Windi makan dengan Cumi asam manis, cah kangkung.


Semua makan dengan lahap.


"Ayo, Bunda, Rahma tambah lagi," ketika melihat di piring Bunda dan Ibu Rahma tinggal sedikit lagi.


"Tidak terima kasih, sudah kenyang," ucap Bunda.


"Saya mau nyoba cumi asam manisnya," kata Ibu Rahma.


"Iya, silahkan,"


Bunda meminum air putih.


Ibu Rahma selesai makan dan segera meminum air putih.


Begitu juga dengan Ibu Windi.


Makanan yang tersisa karedok, cah kangkung, udang krispy.


Air jeruk diminum terakhir sebelum meja di tinggalkan.


Semua makanan dibayar oleh Ibu Windi.


"Terima kasih traktirannya ya, Win,"


"Iya, sama-sama. Jika kalian ada waktu kita bisa janjian ya, kita liburan bersama,"


"Kami selalu ada waktu, dirimu yang wanita karir,"


"Tenang, saya juga kan ada sekretaris, bisa di kasih ke dia semua proyek, saya hanya memantau saja,"


"Siaap deh, Ibu bos,"

__ADS_1


Bunda dan Ibu Windi tersenyum mendengar ucapan Ibu Rahma.


Mereka pun terpisah, Ibu Rahma dan Bunda memesan taxi online. Ibu Windi kembali ke kantor dengan mengendarai mobil sendiri.


__ADS_2