Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Restu Orangtua


__ADS_3

Umaiza setelah merasa badannya relax dan segar beranjak dari bathtub lalu mengeringkan tubuhnya menggunakan handuk dan memakai pakaiannya dan menutup rambutnya dengan menggunakan handuk. Di dalam kamar tidak ada siapa-siapa, Umaiza keluar dan mengunci kamarnya.


Umaiza berniat mengeringkan rambutnya, Lalu Umaiza menyalakan tv nya, setelah rambutnya terasa kering Umaiza menggunakan bergo dan turun ke bawah untuk mengambil air ke teko dan gelas yang di bantu oleh bi Marni.


Ayah dan Ibu sudah tidak ada di ruang keluarga, Umaiza naik kembali ke atas dan tidak lupa membawa sedikit buah-buahan karena takut lapar nanti malam.


Umaiza kembali menutup pintu lalu menguncinya.


Adzan Isya sudah berkumandang, Umaiza segera mengambil mukena dan menggelar sajadah. Adzan selesai, Umaiza segera shalat isya.


Setelah selesai shalat Umaiza merebahkan tubuhnya di atas kasur yang ukuran 200x200.


Kasur yang empuk dengan merk terkenal.


Umaiza mencoba memejamkan matanya dan terlelap tidur.


*****


POV Rahman


Rahman berlalu dari rumah Umaiza. Selama perjalanan hati Rahman sangat senang dan bahagia, karena Umaiza memiliki perasaan yang sama. Di tambah dengan restu dari Pak Baskoro dan Ibu Rahma menjadi sangat terasa lengkap.


Kalau untuk bunda sudah tidak di ragukan kembali, saat pertama ketemu dengan Umaiza Bunda sudah sangat suka.


Rahman sampai di depan gerbang rumahnya, bunda sudah berada di depan pintu. Terlihat wajahnya sangat cemas.


Rahman turun dan segera berjalan mendekati bundanya.


"Bunda lagi apa?"


"Bunda sedang menunggu anaknya yang bernama Rahman,"


"Bunda, Rahman sudah dewasa sebentar lagi mau menikah masih saja Bunda khawatirkan."


"Bagaimana bunda tidak khawatir, belum menikah sudah sering ketemu dua-duaan dengan gadis pujaannya. Nanti ke sambet syetan baru tahu rasa."


"Astahfirullah, Bunda. Rahman tidak pergi berdua, Rahman juga pergi bersama orangtuanya Umaiza, Bun,"


"Sudah ketemu, siapa orangtuanya?"


"Masuk dulu, anaknya baru datang langsung dimarahin, harusnya bunda tanya dulu dengan benar,"


"Iya, maaf, Bunda tidak tahu. Kamu kalau pergi tidak pernah pamit,"


"Iya, Rahman minta maaf. Rahman tadi buru-buru,"


"Iya, Iya, bagaimana ceritanya Umaiza ketemu dengan orangtuanya."


"Rahman ingin minum dulu, Bun. Haus,"


"Banyak iklannya,"


"Sabar toh, Bun." Rahman mengambil minuman botol dari kulkas Bunda.


Rahman kembali duduk sambil meneguk minuman yang ada di tangannya.


Rahman menceritakan awal bertemunya Umaiza dengan Ibunya, lalu Ibunya pergi ke kantor untuk menceritakan kepada suaminya. Dan setelah melihat alamat yang Umaiza kasih, suaminya memanggil Rahman dan meminta antar ke panti untuk ketemu Umaiza lalu tes DNA. Tadi Rahman mengantar Umaiza untuk ambil tes DNA, hasilnya cocok.


Lalu balik ke panti mengambil barang-barang Umaiza dan mengantar Umaiza dan orangtuanya ke rumahhya.


"Jadi orangtuanya bos kamu, Rah?"


"Iya, Bu. Umaiza anaknya Pak Baskoro. Yang saat usia 3 bulan di ambil oleh sahabat Pak Baskoro dan di buang ke panti yang terpencil supaya pak Baskoro tidak bisa menemukannya,"

__ADS_1


"Innalillahi, memang kenapa?"


"Karena merasa dikhianati, sahabatnya itu sama-sama suka kepada Ibu Rahma,"


"Karena cinta?"


"Iya, Bun."


"Terhadap perasaanmu kepada Umaiza, tanggapan mereka bagaimana?"


"Setuju, Bun. Alhamdulillah, mereka menyuruh Rahman segera melamar Umaiza,"


"Alhamdulillah, Bunda tenang mendengarnya. Dalam sebuah hubungan itu yang terpenting restu orangtua. Tidak seperti ayah dan bunda menikah tanpa restu dari kedua orangtua ayah karena bunda orang yang gak punya," cerita Bunda sambil meneteskan air mata.


Rahman segera memeluk Bunda.


"Kapan Rahman akan melamar Umaiza?"


"Do'akan semuanya lancar. Jika Umaiza hasil skripsinya lancar In Syaa Allah minggu depan sudah lamaran dan sebelum Umaiza wisuda sudah menikah," jelas Rahman.


"Bagus seperti itu, gak baik lama-lama dekat-dekatan dengan yang bukan mahrom. Meski tidak melakukan apa-apa tapi bisa menjadi fitnah,"


"Iya, Bun. Tapi...." terpotong nampak ragu takut mengecewakan bundanya.


"Tapi apa?"


"Rahman minta pengertian, Bunda. Karena Umaiza baru ketemu dengan kedua orangtuanya, setelah menikah nanti. Rahman akan diam dulu di rumah Umaiza. Rahman tidak tega langsung membawa Umaiza ke sini,"


"Oh, itu. Kirain kenapa, ya bunda tidak apa-apa. Tapi Rahman dan Umaiza sering-sering nengok Bunda dan adikmu kesini,"


"Iya, Bunda. Rahman Janji, sekalian bersih-bersih rumah Rahman juga,"


Bunda mengangguk sambil tersenyum. "Untuk persiapan lamaran Bunda yang belanja ya,"


"Iya, Nanti kita ke mall ya, Bun. Rahman pamit dulu mau ke rumah. Mau mandi sudah bau kecut, stelan pun seperti ini, hehehe, tidak sadar bun," melihat memakai kaos dan celana di bawah lutut.


Rahman masuk ke rumah lalu masuk ke kemarnya dan ke kamar mandi. Rahman mandi di bawah shower.


Kehidupan itu penuh misteri.


Jodoh yang belum pernah terpikirkan


Datang dengan secara tiba-tiba.


Mengetuk pintu hati yang hampa


Dengan senyuman dan tingkahnya


Yang lembut, sabar, tulus dan penuh perhatian.


Tubuhnya tertutup oleh keimanan dan keteguhannya.


Maafkan Aku jika merasakan cinta yang belum waktunya.


Selesai mandi mengganti baju dan shalat isya. Lalu mengambil Hp untuk memberikan kabar kepada Umaiza.


πŸ“¨ Umaiza, calon istriku. Kakak sudah sampai dari tadi. Maaf, baru kasih kabar. Selamat istirahat dan sampai ketemu nanti di kampus.


Rahman merebahkan tubuhnya lalu memejamkan mata dan tertidur.


Jam 03.45 hp Rahman berdering saat dilihat dari Umaiza.


πŸ“© maaf baru balas, Umaiza ketiduranπŸ˜„ ayo bangun kak kita shalat malam.πŸ’ͺuntuk bangun.

__ADS_1


πŸ“¨ Maaf yang dikirim pesan sedang πŸ’€


πŸ“© masa tidur bisa balas chat Umaiza, ayo bangun nanti keburu subuh, 😑


πŸ“¨ marahnya bikin takut. Iya Kakak bangun. Makasih calon istriku sudah membangunkan Calon suamimu.


πŸ“©πŸ‘ŒπŸ‘


Rahman bangun dan ke kamar mandi untuk wudhu, lalu shalat malam. Sebelumnya Rahman mengganti dengan pakaian shalatnya.


11 rakaat sudah Rahman dirikan dan tidak lupa untuk berdo'a. lalu mengambil Al-Qur'an untuk tadarusan sambil menunggu subuh.


Adzan subuh berkumandang, Rahman mendirikan shalat rawatib lalu shalat subuh.


Rahman olahraga sebentar di depan rumahnya, setelah berkeringat Rahman masak nasi di magiccom kecilnya lalu menggoreng ayam dan pergi ke kamar mandi untuk mandi dan siap-siap ke kantor.


Setelah Rapi, Sarapan dan pergi ke mobil menyimpan tas kerjanya lalu pamit ke bunda.


"Bunda Rahman pamit mau pergi kerja dulu,"


"Iya, Nak. Hati-hati di jalan. Titip salam kepada Umaiza,"


"Baik, Bun," Rahman mencium tangan Bundanya.


Dan segera masuk ke dalam mobil dan keluar dari gerbang. Segera berlalu ke kantor. Karena hari senin adalah hari awal orang-orang mengerjakan aktivitasnya setelah libur sabtu minggu membuat jalanan macet, padat dengan kendaraan roda dua dan roda empat.


Saat melewati stopan lampu merah yang pertama kali melihat Umaiza, hati Rahman menjadi berdegup kencang saat mengingat hal itu.


Stopan yang memberikan sebuah kenangan manis untuk Rahman, yang bisa mempertemukan Umaiza dengan dirinya.


"Stopan lampu merah, penjual bunga, gadis berkerudung pink, kafe tempat favorit keduanya." itulah moment-moment indah bagi Rahman, "dan perjalanan pulang, selama itu tidak berhenti mengobrol dan kecelakaan bunda yang membuat Rahman lebih mengenal Umaiza," sambung Rahman.


Dan lampu sudah hijau, Rahman segera melajukan mobilnya untuk menuju kantornya.


Dengan perjalanan selama satu jam, Rahman sudah sampai di kantor dan segera memarkirkan mobilnya. Dan masuk ke dalam kantor.


"Pagi semuanya," sapa Rahman


"Pagi, Pak," jawab serempak hampir semua karyawan.


Rahman naik ke lift, lalu memijit angka 7. Saat di lantai 7, lift terbuka dan Rahman segera keluar.


"Rahman," Panggil Pak Baskoro.


Rahman segera membalikkan badannya dan menuju ruangan Pak Baskoro, "Iya, Pak,".


"Rahman nanti saat jam istirahat selesai, bawa Umaiza ke kantor ya?"


"Baik, Pak, dengan senang hati saya akan membawa Umaiza ke kantor,"


"Iya, senang lah. Mau jemput calon istrinya, nanti di kantor bisa berduaan kan?"


"Ah, Bapak tahu saja. hehehe,"


"Iya, tahu lah. Kan saya juga pernah muda. Pernah merasakan jatuh cinta,"


"Alhamdulillah, saya senang kalau punya calon ayah mertua yang pengertian seperti Bapak,"


"Iya, dong. Sekarang kamu sudah bisa kembali lagi ke ruangan untuk mulai bekerja,"


"Baik, Pak. Sebelum istirahat pekerjaan sudah selesai semua,"


"Itu yang saya suka dari kamu, cekatan,"

__ADS_1


"Sudah, Pak. Saya bekerja dulu."


Rahman kembali ke ruangannya. Dan mulai bekerja. Untuk menyelesaikan semua pekerjaannya, sebelum menjemput Umaiza.


__ADS_2