
Umaiza, Ibu dan Rahman sedang asyik berbincang-bincang di ruang keluarga.
Ibu sudah benar-benar lepas dari kesedihan atas meninggalnya ayah.
"Bu, Alhamdulillah, sudah tidak sedih lagi," celetuk Umaiza di sela-sela obrolan kami.
"Alhamdulillah, Ibu mendapatkan masukan dan semangat dari Bunda, Umaiza begitu juga Rahman," sambil tersenyum renyah.
"Alhamdulillah, ayah in Syaa Allah sudah senang di alam kubur sana," jawab Umaiza.
"Iya, Bu, sekarang tugas kita hanya mendo'akan," sambung Rahman
Ibu mengangguk dengan tegas.
Terdengar ada suara mobil parkir tepat di depan rumah Rahman.
Umaiza, Ibu dan Rahman segera berdiri dan membuka pintu. Ternyata Bapak Pengacara yang datang.
"Selamat siang, Pak!" sambut Rahman dengan ramah dan mendekatinya.
Umaiza dan Ibu mengangguk sambil tersenyum.
"Siang," sambil berjalan menuju rumah.
Ibu menjabat tangan Bapak pengacara, "Siang, Pak!"
"Siang, bagaimana kabar Ibu sekarang?" jawab Bapak Pengacara.
"Alhamdulillah, Pak, seperti yang Bapak lihat," jawab Ibu sambil tersenyum.
"Silahkan masuk," ucap Umaiza sambil menapukkan tangannya di depan dada.
"Terima kasih," jawab Pak pengacara dengan membalas menapukkan tangannya di depan dada.
Umaiza dan Ibu jalan duluan, di ikuti oleh Rahman dan Bapak Pengacara.
"Mari Pak, duduk," Umaiza mempersilahkan untuk duduk.
"Terima kasih," sambil duduk.
Ibu duduk di samping Umaiza.
Rahman duduk di samping Pak Pengacara.
"Bapak mau minum apa?" tanya Umaiza
"Air kopi saja," jawab Pak Pengacara.
"Baik, Pak," Umaiza sambil meninggalkan mereka di ruang tamu.
Umaiza membuat satu cangkir kopi, tiga cangkir teh manis, tidak lupa dengan cemilan dan kue basahnya yang di beli tadi pagi di pasar.
"Silahkan, Pak, seada-ada," ucap Umaiza sambil menaruk makanan dan minuman di atas meja.
"Terima kasih, Nak,"
"Sama-sama, Pak,"
Umaiza kembali duduk dan menaruh nampan di bawah meja.
"Saya kesini mau menyampaikan amanat dari Pak Baskoro untuk Ibu, Umaiza dan Pak Rahman," kalimat pembuka dari Pak Pengacara sambil membuka tas kerja yang berisi berkas.
Rahman kaget ketika mendengar namanya di sebut, "Saya juga mendapatkan amanat?" tanya Rahman dengan nada gugup.
"Iya," jawab Pak Pengacara dengan mengambil tiga amplop, "Ini Semua ada tulisannya, Ibu," dengan memberikan amplop pertama kepada Ibu, "Umaiza," dengan memberikan amplop kedua kepada Umaiza "dan ini yang terakhir untuk Pak Rahman," dengan memberikan amplop terakhirnya kepada Rahman.
Mereka membuka amplop masing-masing ternyata isinya adalah surat dari Pak Baskoro dengan menggunakan tulisannya sendiri.
Surat untuk Ibu.
Assalamu'alaikum istriku,
Saat Ibu baca surat ini, pasti Ayah sudah tidak ada di samping Ibu. Mudah-mudahan Ibu tidak sedih yang berlarut-larut. Ibu harus ikhlas dan tegar ya?.
"Wa'alaikummussalaam, Maa Syaa Allah, Ayah," jawab Ibu dalam hati, "In Syaa Allah, Ibu Ikhlas dan tegar," ucap Ibu lagi
Ayah mau minta maaf, jika selama jadi suami belum bisa membahagiakan Ibu. Apalagi atas sikap dan perilaku Ayah yang tidak berkenan di hati Ibu. Maafkan dengan Ikhlas ya?.
"Ibu sudah memaafkan jauh sebelum Ayah memintanya," Sambung Ibu dalam hati
Oh ya Ibu, pasti Ibu tidak mau tinggal di rumah yang sekarang. Karena pasti setiap sudut dari rumah itu akan mengingatkan Ibu tentang Ayah, benarkan?
Oleh karena itu ayah sudah membeli rumah di dekat rumah Rahman. Supaya Ibu tidak merasa sedih dan sendiri. Nanti kan dekat dengan besan, Bunda nya Rahman. Namun rumahnya lebih kecil di banding rumah yang itu. Soalnya Umaiza juga orangnya sangat sederhana. Gak apa-apa ya?
"Ya Allah, Ayah. Sudah benar-benar menyiapkannya?" lanjut Ibu dalam benaknya tidak terasa air mata menetes melewati pipi.
Ingin sekali Ayah menemani Ibu pergi umroh. Namun sepertinya tidak bisa, Ibu pergi bareng Umaiza, Rahman, Ibu Aisyah & suami, juga Bunda nya Rahman. Tiketnya sudah Ayah titipkan kepada Pengacara.
__ADS_1
"Ayah," lagi-lagi Ibu di buat kaget.
Ibu pasti kangen, Ayah hanya minta jika Ibu sedang kangen do'akan Ayah ya, supaya kelak bisa berkumpul lagi di surganya Allah. Ayah tunggu.
Jangan lupa untuk tetap bahagia๐๐๐
Di akhir suratnya.
Ibu meletakkan suratnya di depan dada dan air mata terus mengalir membasahi pipi.
Umaiza membuka suratnya.
Assalamu'alaikum, putri Ayah yang cantik.
Saat Umaiza baca surat ini pasti, sudah menjadi istrinya Rahman. Benarkan?
"Ayah," seru Umaiza
Harus jadi istri yang sholehah ya, bahagiakan Rahman. Semoga bisa segera memberikan cucu kepada Ibu, supaya Ibu tidak kesepian, nanti sedikit-sedikit Ibu nangis ingat Ayah.
"Ayah, tau saja, sebegitu besarnya ya, cinta ayah kepada Ibu," gumam Umaiza.
Jaga Ibu ya, meski Ibu tidak bisa menjaga dan merawat Umaiza dari kecil hingga dewasa, namun rasa cinta dan sayang Ibu amatlah besar untuk Umaiza. Begitu juga Ayah.
"Pasti Yah, Umaiza akan jaga Ibu," jawab Umaiza.
Ayah juga titip perusahaan, jangan sampai hancur. Karena banyak orang yang bergantung pada perusahaan, Semoga saja di tangan Rahman dan Umaiza sayang perusahaan akan lebih maju dengan pesat.
"Aamiin, In Syaa Allah, Yah,"
Umaiza, Ayah juga sudah membelikan rumah baru, karena Ayah merasa yakin, Ibu pasti tidak mau tinggal di rumah yang sekarang. Karena takut mengingat kenangan tentang Ayah. Anggap saja sebagai hadiah pernikahan dari Ayah, di dalam sertifikatpun ditulis atas nama Umaiza. Rumahnya sengaja Ayah pilih dekat Rahman karena supaya dekat juga dengan Bundanya Rahman.
"Maa Syaa Allah, Ayah. Sejauh itu persiapannya,"
Untuk rumah yang itu, Ayah kembalikan kepada Umaiza dan Ibu. Saran Ayah di jual saja, uang penjualannya di gunakan untuk merenovasi panti
"Baik, Ayah. Saran Ayah juga bagus, nanti Umaiza bicarakan dengan Ibu,"
Satu lagi pinta ayah, temani Ibu untuk pergi Umroh, tiketnya sudah Ayah titipkan di Pengacaranya Ayah. Sekalian memenuhi janji Ayah kepada Umaiza, untuk memberangkatkan Ibu panti dan suaminya.
"Ayah, tidak lupa,"
Sebenarnya ada satu keinginan besar dalam hati Ayah, yaitu menyambungkan kembali tali silaturahim keluarga Ayah dan Ibu. Umaiza mau kan memenuhi keinginan ayah itu?
"In Syaa Allah, Yah,"
Maafkan Ayah, memberikan banyak amanah ke pundak Umaiza. Semoga Allah memberikan kemudahan untuk Umaiza menjalankannya.
Jangan lupa untuk tetap bahagia dan membahagiakan orang lain.
"Iya, Yah, pasti. In Syaa Allah,"
Dari Ayah yang senantiasa menyayangi dan berdo'a dimanapun bidadari kecilnya ayah berada.
"Umaiza sayang Ayah," ucap Umaiza dengan wajah sendu ketika membaca kalimat terakhir.
Kini saatnya Rahman untuk membuka surat dari Pak Baskoro.
Rahman
"Iya, Pak,"
Saat baca surat dari Bapak, pasti Bapak sudah tidak ada. Dan Rahman sudah menjadi menantu Bapak.
"Benar Pak,"
Bapak titip Ibu, anggaplah Ibu sebagai Ibu sendiri jangan pernah menganggap Ibu mertua.
"Pasti, Pak,"
Titip juga Umaiza, sayangi, jaga dan lindungilah dia. Rahman harus bisa menjadi suami yang sholeh.
"In Syaa Allah, Pak,"
Bapak juga titip perusahaan, Bapak yakin akan berkembang pesat di tangan Umaiza dan Rahman.
"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak,"
Bapak yakin, Ibu tidak mau di rumah yang sekarang. Jadi Bapak sudah membelikan rumah tepat di sebrang rumah Rahman. Jika berkenan tinggal bersama Ibu di sana ya.
"Jadi rumah yang seberang itu, di beli Bapak?"
Bantu Umaiza untuk memenuhi keinginan Bapak. Rahman mau kan?
"Apa Pak?"
Menyambungkan tali silaturahim keluarga Bapak dan Ibu.
__ADS_1
"In Syaa Allah, Pak. Kondisinya sama dengan keluarga Rahman,"
Bapak juga sudah membelikan tiket umroh, untuk Bunda juga. Pergi semuanya bersama ya, tiketnya Bapak titipkan kepada Pengacara.
"Maa Syaa Allah, Bapak, kapan persiapannya?"
Maafkan Bapak sudah memberikan banyak amanat kepada Rahman semoga Allah mempermudah Rahman untuk menjalaninya.
"Aamiin, In Syaa Allah,"
Jangan lupa untuk bahagia dan membahagiakan orang lain.
Dari Pemilik Perusahaan sekaligus Mertua yang senantiasa kagum terhadap menantunya.
"Terima kasih," memperlihatkan wajah terharunya.
Semuanya melipat surat secara bersamaan.
"Sudah selesai semuanya?" tanya Bapak Pengacara
"Sudah," jawab Ibu.
"Sekarang kita bacakan tentang harta dan hutang Pak Baskoro,"
"Iya, Pak, silahkan"
Pak Pengacara membuka file nya. Dan memberikan laporan kepada Umaiza dan Ibu.
Harta Pak Baskoro
- 1 buah Mobil Pajero
- 1 Mobil BMW
- 1 Mobil Ayla
- 1 Rumah (Tempat tinggal)
- 1 Rumah (Baru)
- 1 Villa di Puncak
- 1 buah sepeda motor NMAX
- 1 Buah sepeda motor gede
- 1 Buah Motor listrik
- Tanah 5 ha di Kabupaten Bandung
- Tabungan di beberapa bank berupa deposito, giro dan saham
Hutang
- Kosong
Kecuali hutang perusahaan.
Umaiza dan Ibu tercengang melihat laporan harta dan hutang Pak Baskoro.
"Ibu, Ayah sebegitu banyak hartanya,"
"Ibu juga hanya tahu beberapa saja, yang lainnya tidak tahu. Seperti tanah dan villa,"
Rahman pun sama tercengangnya saat membaca laporan harta Pak Baskoro.
Semua Surat-suratnya di simpan rapi oleh Pak Pengacara kecuali kalau BPKB mobil BMW yang biasa di jadikan mobilisasi, ayla, motor NMAX dan Motor gede ada di tangan Ibu beserta sertifikat rumah yang disana.
"Ini surat-suratnya saya berikan kepada Ibu atau Umaiza,"
"Kepada Umaiza saja,"
Pak Pengacara menyerahkan kepada Umaiza.
"Terima Kasih, Pak,"
"Ini juga tiket untuk umroh,"
"Oh, Iya, terima kasih lagi,"
"Sama-sama, semuanya sudah selesai. Izinkan saya untuk pamit pulang," Sambil meneguk air kopi yang sudah di sediakan oleh Umaiza.
"Bapak, apakah Bapak masih berkenan menjadi pengacara keluarga kami," pinta Umaiza.
"Jika Nak Umaiza dan Ibu membutuhkan bantuan Bapak, In Syaa Allah Bapak akan siap membantu,"
"Alhamdulillah, baik Pak. Kalau ada apa-apa saya akan segera menghubungi Bapak. Terima kasih atas semuanya,"
__ADS_1
"Sama-Sama, Nak," sambil berjabat tangan kepada Ibu dan Rahman. Kepada Umaiza hanya salam dari kejauhan.
Rahman mengantar Bapak Pengacara sampai naik mobil dan meninggalkan halaman rumahnya.