
Umaiza mandi lalu sholat maghrib setelah selesai segera ke dapur untuk membantu Ibu.
Ibu sudah memotong sayurannya sekarang tinggal memasak ayam betutu dan tumis sayuran.
Umaiza membuat jus mangga dan menyiapkan buah pisang lalu di simpan di atas meja makan.
Rahman datang dan membantu membawakan piring serta gelas.
"Wangi sekali, Bu, masak apa?"
"Ibu masak ayam betutu semoga cocok di lidah Nak Rahman,"
"In Syaa Allah, Bu, harus olahraga lebih rajin nih, supaya ini perut tidak buncit,"
Umaiza tersenyum lebar ketika mendengar ucapan Rahman.
β"Kenapa tersenyum?" tanya Rahman sambil memegang hidungnya Umaiza
"Tidak apa-apa, Za, hanya bahagia saja mendengar Kakak berkata seperti itu. Itu tandanya Kakak memang menyukai masakan Za, Ibu apalagi Bunda,"
"Iya, pasti suka. Salah siapa masakannya enak-enak,"
"Iya, deh, Umaiza mau bantu Ibu mencuci piring dulu,"
"Iya,"
"Nak, Ibu lupa,"
"Apa Bu?"
"Tadi Ibu membuat puding dan Bunda mengirim bolu,"
"Oh, iya, nanti Za, keluarin. Ibu menyimpannya dimana?"
"Kalau puding di kulkas kalau bolu Ibu simpan di atas di tempat makanan," tunjuk Ibu.
"Iya, Bu, Umaiza bereskan dulu cuci piringnya,"
"Oh, iya, Nak,"
Umaiza membuka kulkas untuk mengambil puding dan pintu lemari tempat makanan untuk mengambil bolu. Lalu menyimpannya di meja makan.
Piring dan sendok kecil, di siapkan juga oleh Umaiza.
Ibu menuangkan ayam betutu ke dalam piring, di tata dengan rapi supaya terlihat bersih begitu juga dengan tumis sayurannya.
Ayam betutu dan tumis sayurannya Umaiza bawa ke atas meja makan.
Rahman sudah menunggu
Setelah siap semua Ibu dan Umaiza pun ikut duduk.
Umaiza menaruh nasi dan lauknya di piring Rahman, Ibu dan dirinya.
"Bismillah," ucap mereka bertiga dan segera makan secara bersamaan. Sunyi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka.
"Alhamdulillah," ucap Rahman setelah selesai makan. Hampir semua kalau makan selalu laki-laki yang pertama beres. Coba tanyakan mengapa?
Di lanjut oleh Ibu dan yang terakhir beres makan adalah Umaiza. Umaiza sangat teratur, kalau makan kunyahannya di hitung sebanyak 32 kali. Ibu Aisyah memang di didik oleh Ibu Aisyah dengan disiplin begitu juga Umaiza mengajarkan adik-adik panti.
"Alhamdulillah," ucap Umaiza.
Rahman lanjut makan puding buatan Ibu. Ibu lanjut minum jus sedangkan Umaiza hanya minum air putih saja.
Setelah semuanya selesai makan Umaiza membereskan meja makan, Rahman dan Ibu pergi ke ruang keluarga.
Selesai membereskan meja makan dan mencuci piring Umaiza bergabung dengan Rahman dan Ibu.
"Kak, Ibu sudah menceritakan kepada Za, apa yang sesungguhnya terjadi pada Ayah,"
"Oh, jadi sekarang apa yang akan kita lakukan,"
"Pagi kita menyerahkan hp, rompi ke kantor polisi dan pulang kerja kita ke rumah lama Ibu untuk mencari buku harian milik Ayah,"
__ADS_1
"Iya, baik, Kakak akan antar,"
"Terima kasih,"
"Sudah keharusan Kakak menjaga Za,"
Umaiza tersenyum bahagia.
Ibu sibuk memainkan hp nya, Umaiza penasaran dan duduk disamping Ibu.
"Ibu sedang apa?"
"Sedang melihat-melihat photo Ayah,"
"Umaiza boleh lihat?"
"Tentu boleh, Nak,"
Umaiza melihat photo Ayah dan Ibu, jujur ada perasaan iri. Banyak photo keduanya sedangkan dirinya tidak ada.
"Bu, bolehkan satu saja Umaiza photo!"
"Ya, boleh dong,"
Umaiza mengambil hp Ibu dan menekan aplikasi kamera lalu selfi.
Rahman tersenyum melihat Umaiza sedang lenggak lenggok sambil tersenyum di depan kamera.
"Za, Kakak nanti minta photonya ya,"
"Memang buat apa?"
"Mau di jadikan walpaper di hp Kakak,"
"Siaaap, biar nanti tidak ada perempuan yang menggoda Kakak,"
Rahman tertawa mendengar celotehan Umaiza
Ibu pun ikut tersenyum.
"Oh, Iya, Nak. Nanti Ibu jadikan photo profil di wa,"
"Iya, Bu,"
Ibu melihat photo Umaiza hasil jepretan barusan, "Semua cantik-cantik," kata Ibu
"Pasti ada yang terbaik, Bu," ucap Umaiza sambil berdiri dan pergi ke kamar.
Ibu mengirimkan photo Umaiza kepada Rahman.
Rahman membukanya dan memandang photo itu dengan seksama, "Maa Syaa Allah, cantik banget,"
"Alhamdulillah," teriak Umaiza ketika mendengar ucapan Rahman.
Rahman kaget ketika mendengar jawaban Umaiza, segera mengangkat wajahnya dan melihat ke sumber suara.
"Umaiza kemana, Bu?"
"Ke kamar,"
Rahman berdiri dan mengikuti Umaiza ke kamar, Ibu masih di ruang tamu sedang mengedit photo Umaiza.
"Perasaan Kakak, berkata pelan kenapa bisa sampai ke telinga Za?" tanya Rahman heran.
"Pelan menurut Kakak, orang suaranya keras banget,"
"Masa?"
"Iya," jawab Umaiza sambil menyolek pipi Rahman dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Rahman berbaring di atas tempat tidur untuk meregangkan otot.
"Kak, sholat dulu," ucap Umaiza sambil menutup pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Iya, Za, nanti Kakak ingin meregangkan dulu sendi-sendi,"
"Za, sholat duluan ya?" sambil memakai mukena
"Iya, Za,"
Umaiza mendirikan sholat.
Rahman tertidur
Umaiza selesai sholat
Melipat mukena lalu pergi ke dapur untuk mengambil minum.
Ibu masih berada di ruang keluarga.
"Bu, belum ke kamar?"
"Belum Nak, bentar lagi,"
"Kalau begitu Umaiza duluan ya, Umaiza merasa sudah mengantuk lagi,"
"Iya, Nak,"
Umaiza mendekat dan mencium Ibu, "Tidak tidur malam-malam, ya?"
"Iya, Sayang,"
"Za, juga sayang Ibu,"
Umaiza berjalan menuju kamar dan meninggalkan Ibu yang masih asyik bermain hp.
Rahman semakin terlelap.
Umaiza menyimpan dua gelas air minum tidak lupa menutupinya. Dan tidur di samping Rahman.
Umaiza mengambil hp dan membuka aplikasi al-qur'an lalu membacanya. Setelah merasa cukup, Umaiza menggantinya dengan murrotal. Dan akhirnya tertidur.
Umaiza pergi ke suatu tempat, di padang pasir yang luas. Umaiza kebingungan apa yang harus dia lakukan, di daerah yang tandus dan gersang. Serta tidak ada satu orang pun disana.
"Kemana aku harus pergi?" tanya Umaiza dalam hati.
Datang seseorang dengan badan tegap dan tinggi besar.
"Siapa kamu?" tanya Umaiza lembut
"Aku adalah orang yang akan membantumu,"
"Terima kasih, sudah datang. Saya bingung kemana harus pergi?"
"Kamu akan menemukan jalan keluarnya dengan sebuah kesabaran dan keikhlasan dalam menghadapi masalah ini,"
"Apakah saya bisa segera keluar dan menemukan jalannya?"
"In Syaa Allah, bisa,"
"Alhamdulillah," ucap Umaiza merasa tenang.
Rahman terbangun, "Astagfirullah, ketiduran, jam berapa ini?" tanya Rahman dalam hati.
Umaiza masih tertidur
Rahman melihat hp Umaiza dan mematikan murotal. Dan melihat ke arah Umaiza.
Umaiza keringatan, Rahman segera menyalakan AC nya. Dan turun dari tempat tidur untuk mengambil wudhu.
Umaiza terlihat kedinginan saat Rahman keluar dari kamar mandi. Dan Rahman segera mengecilkan ACnya. Umaiza tersenyum bahagia.
Rahman pun tanpa sadar ikut tersenyum, "Astagfirullah," ucap Rahman. Dan segera mendirikan sholat isya.
"Ayah, terimakasih atas semuanya," ucap Umaiza dalam tidurnya.
Rahman kaget mendengarnya, "Jadi keringatan, kedinginan serta senyuman tadi, Za, sedang mimpi?" tanya Rahman dalam hatinya saat setelah selesai sholat,"
__ADS_1
Rahman mencium kening Umaiza dan meninggalkan Umaiza yang sedang tidur.
Ibu sudah tidak ada lagi di ruang keluarga.