Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Senyum Umaiza


__ADS_3

Rahman sampai di rumah, lalu mengambil lap untuk mengelap jok belakang bekas darah Umaiza.


"Kenapa Rahman?"


"Tidak apa-apa, Bunda,"


"Tidak biasanya di lap jok belakang, bekas apa?"


"Ini, bun. Umaiza terkena musibah, perutnya terbentur dan langsung haid darah yang keluar begitu banyak sampai tembus ke jok mobil,"


"Innalillahi, kok bisa?"


"Biasalah karena cinta, Bun. Umaiza tolak eh, malah nekad,"


"Siapa Kak yang berani-berani mencelakakan calon kakak ipar?" tanya Farid yang mendengar cerita Rahman.


"Roni si mahasiswa abadi di kampus Umaiza,"


"Ooo, Roni yang belagu, sok ganteng dan kayak itu?"


"Farid kenal?"


"Kenal Kak, dia kan banyak mengincar perempuan-perempuan cantik dan lugu di kampus Farid,"


"Hati-hati kamu kalau sama dia,"


"Iya, Kak, malas juga berurusan dengan orang seperti itu, sekarang keadaan Umaiza bagaimana?


"Alhamdulillah, tadi kakak pulang sudah tidur,"


"Syukur Alhamdulillah, semoga baik-baik saja,"


"Iya, Bun, Aamiin. Umaiza sehat terus, hari kamis Umaiza akan sidang, Bun,"


"Ya Allah, semoga Allah sembuhkan, dan di berikan kelancaran semuanya,"


"Aamiin, Aamiin, Aamiin ya Allah,"


Rahman pamit ke rumah, untuk istirahat. Perut lapar namun tidak selera.


Ibu membawakan buah-buahan dan jus untuk Rahman. Dan segera Rahman makan buah-buahan itu untuk mengganjal perutnya. Dan segera ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Wudhu lalu shalat.


Rahman menangis mengingat keadaan Umaiza tadi, ada perasaan sedih, nangis dan tidak tega.


Rahman mencoba memejamkan mata untuk menenangkan pikirannya, namun tidak bisa tidur. Lalu mengambil hp untuk mendengarkan murrotal. Pada akhirnya Rahman tertidur juga.


Alarm berbunyi pada jam 03.30 Rahman segera bangun untuk shalat tahajud. Rahman ke kamar mandi wudhu dan shalat. Rahman shalat dengan khusyuk, tak lupa mendo'akan kesembuhan Umaiza di akhir do'anya.


Menunggu subuh Rahman mengaji. Dan beres-beres rumah. Adzan subuh berkumandang Rahman segera mendirikan shalat subuh, sebelumnya shalat rawatib terlebih dahulu.


Rahman membuat sarapan dan segera ke kamar mandi untuk mandi dan siap-siap ke rumah Pak Baskoro sebelum ke kantor. Untuk melihat keadaan Umaiza dan mengambil berkas yang kemarin di bawa oleh Pak Baskoro.


Jam 06.00 Rahman sudah siap untuk pergi. Lalu pamit kepada bunda dan pergi meninggalkan rumah.


Rahman sudah masuk ke jalan raya yang sudah mulai di padati oleh kendaraan bermotor dan kendaraan roda empat. Namun udara masih terasa sejuk dan segar.


Rahman sudah sampai ke komplek dimana rumah Pak Baskoro berada, komplek yang elit. Kebanyakan penghuninya pengusaha, pejabat dan artis-artis ternama.


Sampai di depan gerbang rumah Pak Baskoro, satpam yang menjaga gerbang segera membukanya.


"Pagi, Pak," sapa Rahman lembut.


"Pagi," jawab satpam.


Bi Marni segera membuka pintu, ketika mengetahui Rahman sudah ada di depan pintu.


"Pagi, Pak," sapa Rahman kepada Pak Baskoro yang sudah di ruang keluarga,"


"Pagi, Rahman. Ini berkas yang harus di bawa ke kantor. Saya tidak akan ke kantor hari ini. Kalau ada apa-apa segera hubungi saya,"


"Baik, Pak. Bagaimana keadaan Umaiza sekarang?"

__ADS_1


"Alhamdulillah, sudah baikan. Darahnya sudah tidak sebanyak kemarin,"


"Alhamdulillah, apakah boleh saya melihat dulu Umaiza?"


"Boleh, tentu boleh. Umaiza sudah menunggu dari tadi,"


"Dimana Umaiza sekarang?"


"Di kamarnya masih bedrest,"


"Baik, saya izin ke atas dulu,"


"Silahkan,"


Rahman ke atas ke kamar Umaiza.


"Assalamu'alaikum," ucap Rahman di depan pintu kamar Umaiza


"Wa'alaikumsalaam, masuk kak gak di kunci kok,"


Rahman membuka pintu dan masuk.


Umaiza sudah memasang senyuman khasnya dengan memperlihatkan lesung pipi. Dengan senyuman itu membuat hati Rahman bahagia.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?"


"Alhamdulillah, baik, Kak."


"Jalannya bagaimana apakah masih sakit?"


"Sedikit agak berkurang, mudah-mudahan waktu sidang sehat."


"Aamiin,"


"Kakak mau ke kantor?"


"Iya, Kakak kesini dulu mau melihat keadaan Umaiza dan mengambil berkas,"


"Za, sudah sarapan?"


"Sudah, Kak. Tadi bi Marni bawakan roti dan susu untuk Umaiza,"


"Obatnya sudah di minum?"


"Sudah, Kak, Kakak kayak wartawan saja, hehehe," sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan.


Rahman tertawa lalu mengusap kepala Umaiza. Meski dalam keadaan sakit Umaiza tidak pernah lepas dari kerudungnya, itu yang membuat Rahman tambah yakin untuk menjadikan istrinya.


Kemarin pun sebagaimana Roni sudah menghinanya Umaiza tetap tenang namun sudah terdesak dan fisiknya sudah akan ternoda baru Umaiza melawan.


Salut sungguh salut dengan Umaiza.


"Kakak, ke kantor dulu ya. Nanti sore setelah pulang kerja kakak kesini lagi."


"Baik, Kak. Umaiza tunggu,"


Rahman balik kanan untuk meninggalkan kamar Umaiza, lalu turun tangga dan mengambil berkas lalu pamit kepada Pak Baskoro dan Bu Rahma yang sedang sarapan di meja makan.


"Gak, ikut sarapan dulu Rahman?" tanya Ibu Rahma.


"Terima kasih, Ibu, tadi saya sudah sarapan di rumah sebelum kesini,"


"Baik, kalau begitu. Hati-hati di jalan,"


"In Syaa Allah, Bu,"


Rahman pergi meninggalkan Ibu Rahma dan Pak Baskoro untuk segera pergi ke kantor.


Rahman membuka pintu mobil dan segera masuk ke dalam dan menyalakan mobilnya lalu memarkirkan mobil dan segera masuk ke jalan raya menuju kantornya.


Rahman sudah sampai ke Kantornya dan memarkirkan mobilnya. Dan masuk ke dalam kantor. Semua karyawan menyapa Rahman, dan di balas dengan ramah.

__ADS_1


Pak Bima dan Dewa pun ada.


Rahman masuk lift. Sampai di lantai 7, Rahman masuk ke ruangannya. Dan tak lama kemudian Pak Bima dan dewa mengetuk ruangan Rahman.


Rahman mempersilahkan masuk, ada perasaan heran dan kaget mengapa mereka ingin menemui Rahman.


"Maaf, ada keperluan apa ya?"


"Ini tentang Roni,"


"Oooh, Maaf ini kantor. Itu urusan di luar kantor, silahkan Pak Bima dan Dewa menyelesaikannya di luar kantor saja,"


"Maaf, Saya bingung dan mau meminta maaf atas anak saya,"


"Sebaiknya Bapak temui dulu Rektor bersama Roni, apa keputusan Rektor, ya terima. Bapak seharusnya bersyukur, Pak Baskoro menyerahkannya ke pihak Rektor tidak ke pihak berwajib. Karena apa yang sudah Roni lakukan itu sudah salah besar apalagi mengakibatkan Umaiza cedera," jelas Rahman


Pak Bima diam, nampak wajahnya sangat bingung.


"Saya tidak akan bisa banyak membantu, saya baru menjadi calon suami Umaiza. Silahkan temui Rektor dan kalau memang perlu ada yang ingin di bahas, silahkan temui Pak Baskoro saja. Beliau yang lebih berhak dan bertanggung jawab atas Umaiza,"


Pak Bima pasrah lalu pamit dan izin tidak masuk mau ke kampus.


Rahman mengizinkannya dan tugas Pak Bima dan Dewa hari ini harap di berikan kepada stafnya. Mereka mengiyakannya.


Rahman lalu mengerjakan berkas yang di berikan oleh Pak Baskoro.


Sampai waktu istirahat Rahman berkutat dengan kerjaannya. Rahman beranjak untuk shalat dzuhur dan memesan makanan ke kantin kantor.


Setelah shalat selesai, Rahman kembali ke ruangan dan makanan baru di antar. Rahman lalu makan dan melahapnya sampai habis. Diam sejenak dan melanjutkan pekerjaannya.


πŸ“² dari pak Baskoro.


Langsung Rahman terima panggilannya.


"Assalamu'alaikum,"


"Waalaikummussalaam,"


"Bagaimana di kantor?"


"Baik-baik saja, Pak,"


"Kalau pekerjaan sudah selesai cepat kesini, ya!"


"Baik, Pak,"


"Saya tunggu, Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikummussalam,"


Sambungan telepon di tutup.


Rahman segera menyelesaikan pekerjaannya, setelah selesai Rahman segera meninggalkan ruangannya.


"Saya pulang duluan, kalau ada apa-apa di kantor segera hubungi saya dan Pak Baskoro ya," ucap Rahman kepada sekretaris Pak Baskoro.


"Baik, Pak."


"Ada berkas yang harus Pak Baskoro tanda tangani biar sekalian saya bawa,"


"Ada, Pak, ini," menyerahkan beberapa map.


"Baik, terima kasih,"


Rahman segera mendekat pintu lift, pintu lift terbuka lalu masuk dan memijit angka 1. Lift terbuka Rahman keluar dan menuju parkiran dimana mobil Rahman berada.


Rahman segera membawa mobilnya ke jalan dan dengan kecepatan tinggi. 20 menit dari kantor menuju rumah pak Baskoro.


Rahman segera masuk ke halaman rumah Pak Baskoro setelah pintu gerbang di buka oleh satpam. Disana sudah nampak mobil Pak Bima.


Rahman masuk ke rumah karena pintu sudah terbuka. Rahman kaget ketika Pak Bima berniat menikahkan Roni dengan Umaiza.

__ADS_1


__ADS_2