Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Kantin Perusahaan


__ADS_3

Umaiza mengupas 5 buah mangga, 2 untuk ayah dan 3 lagi untuk Umaiza dan Rahman. Setelah selasai mengupas. Umaiza menyimpan di atas meja dekat telepon.


"Ayah, ini buahnya dimakan ya?" ucap Umaiza dekat ayah, "makan ya, jangan kerja terus nanti kecapean, sakit,"


"Baik, Nak. Terimakasih,"


"Sama-sama, Yah. Ibu kalau tidur suka lama, Yah?"


"Iya, Ibu, suka lama. Apalagi kalau dikamar itu," ucap ayah.


"Oooo, Yah, Umaiza ke ruangan ka Rahman ya,"


"Iya-iya dech, yang gak mau jauh sama calon suami."


"Ih, Ayah. Kerja saja bisa godain Umaiza," Umaiza cemberut.


"Iya, Ayah, gak apa-apa, Nak. Senang saja, itu tandanya jika kalian sudah menikah nanti tidak ingin jauh-jauh. Sama kayak ayah dan Ibu."


"Aaaah, ayah. Ini Umaiza senang dengarnya, Umaiza mau ke ruangan kak Rahman juga mau ngasih ini,"


"Kok Rahman jatahnya banyak?" Pak baskoro melirik ke piring yang di pegang Umaiza,"


"Kan berdua sama Umaiza," sambil nyengir.


Dan meninggalkan ruangan Pak Baskoro, Umaiza berhenti di meja sekretaris ayah, Mbak Alifa dan memberikan piring kecil yang berisi buah.


"Buat mengganjal perut, Mbak Alifa," sambil tersenyum.


"Terimakasih, Umaiza,"


"Sama-sama," Sambil berjalan menuju ruangan Rahman.


"Assalamu'alaikum, Kakak," dengan membawa piring besar berisi buah mangga.


"Waalaikummussalaam, apaan itu?" tanya Rahman sambil melihat ke arah Umaiza.


"Buah mangga, Kak. Mari makan dulu, buat mengganjal perut,"


"Pantesan lama, kirain tidur bersama Ibu Rahma,"


"Ya, gak mungkinlah masa tidur, Za gak terbiasa tidur siang," menyimpan di atas meja sofa dan Umaiza duduk di sofa.


Kak Rahman masih fokus bekerja.


"Gak, lelah itu mata, Kak, dari tadi terus melihat leptop."


"Suapin, Kakaknya. Kakak ingin beres pekerjaannya sekarang, supaya kakak tidak harus balik kantor besok, setelah Za beres sidang,"


"Idih, manja banget ingin di suapin, belum halal,"


"Belajar dulu, Za, biar nanti terbiasa, hehehe," goda Rahman.


"Kalau masalah itu tidak ada belajarnya, Kak. Kalau dengan istilah belajar, nanti kebablasan," ucap Umaiza tegas.


"Iya, deh. Calon istri kakak ini, emang serius terus bawaannya. Gak bisa di ajak becanda sedikit,"


"Ih, sebal gak ayah gak kakak, godain terus Za."


"Abis Za, kalau di becandain suka cemberut, bibir yang mungil itu jadi kelihatan manyunnya," canda Rahman lagi sambil berdiri dan berhenti sejenak bekerja dan duduk di kursi sofa yang single.


Rahman mencoba makan satu-satu buah dari piring begitu pun dengan Umaiza.


"Za, kurang," ucap Rahman dengan manja.


"Iya, ya, gak kerasa sudah habis lagi, hehehe," Ucap Umaiza dengan menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Banyak kutu ya, kok garuk-garuk?" lirik Rahman.

__ADS_1


"Apaan kutu, kalau ketombe, Iya," kata Umaiza polos.


"Ya, karena di kerudung terus ya?"


"Mungkin juga, nanti In Syaa Allah akan perawatan,"


"Ya, malas nanti kalau udah nikah kakak gak ingin meluk-meluk. Habis istrinya jorok."


"Ya, baguslah. Jadi Za bisa tidur bebas,"


"Biarin kakak saja nanti yang memberikan perawatannya," ucap Rahman dengan sedikit kesal dan tersenyum lebar.


Kami tertawa bersama.


"Za, mau makan siang sekarang?"


"Memang sudah istirahat ya, Kak?"


"Belum, sih. Tapi takutnya, Za, sudah lapar,"


"Nanti saja, nunggu dulu Dzuhur biar kakak shalat dulu. Dan makannya tenang."


"Baik, deh. Calon istri kakak yang satu ini memang sholehah, shalat di utamakan."


"Ih, Kakak. Memang calon istri kakak ada berapa sampai bilang yang satu ini?"


"Tuh, kan. Za ini memang ambekan ih, orangnya. Nyesal...," ucap Rahman terpotong sambil melirik dan mengangkat alisnya sebelah.


"Nyesal melamar, Za," cemberut dan memalingkan mukanya.


"Nyesal gak dari dulu ketemunya, mungkin sekarang kita sudah halal. Gemes sedikit bisa langsung meluk," canda Rahman.


"Iiiiih, kakak jahilnya minta ampun." menahan kesal, marah dan malu campur menjadi satu, Umaiza memukul-mukul lengan Rahman dengan pelan.


"Tuh, kan, dah gak nahan tuh, ingin meluk," canda Rahman lagi sambil menunjuk ke tangan Umaiza yang sedang memukul-mukul.


Rahman tersenyum lebar mendengar ucapan dari Umaiza.


Adzan di hp sudah berbunyi, itu tandanya shalat dzuhur sudah tiba.


Rahman membereskan berkas yang ada di atas meja. Lalu keluar ruangan dan pergi ke kamar mandi untuk wudhu, dan balik lagi ke ruangan untuk mendirikan shalat dzuhur.


Umaiza melihat-lihat buku yang ada di ruangan ayah, semua buku-buku itu tentang bisnis semua.


"Ayah, kapan-kapan Umaiza ingin dengar cerita bagaimana perjuangan ayah untuk mendirikan perusahaan ini, dan bisa bertahan bahkan berkembang sampai saat ini,"


"Boleh, Umaiza nanti kalau ada waktu senggang ayah ceritakan,"


Ibu keluar dari ruangan khusus ayah.


"Umaiza mau pulang jam berapa?"


"Gak, tahu, Bu. Tadi Umaiza sudah izin sama kak Rahman, tapi Kak Rahman minta Umaiza pulang sore bareng sama dia,"


"Oooo, Oke. Ibu pulang duluan gak apa-apa?" tanya Ibu sambil duduk di sofa


"Ibu tidak akan makan siang dulu?" Umaiza balik tanya dan duduk di samping Ibu Rahma


"Mau, Ibu lapar. Yah, pesankan ke kantin ya, sekalian ayah juga," ucap Ibu Rahma.


"Umaiza mau makan apa?" tanya Pak Baskoro.


"Umaiza mau makan di kantin saja bareng Kak Rahman, Yah. Gak apa-apa kan?"


"Tidak apa-apa, sekalian adaptasi dengan karyawan-karyawan dan lingkungan perusahaan ayah," jawab ayah dengan tersenyum bahagia.


Kak Rahman datang ke ruang kerja Pak Baskoro.

__ADS_1


"Rahman nitip putri saya, hati-hati kalau nanti karyawan-karyawan pada marah melihat Umaiza dekat-dekat dengan kamu,"


"Memang kenapa, Yah?" tanya Umaiza heran.


"Nanti banyak yang patah hati, Nak," ucap Ibu Rahma sambil menyeringai.


"Tenang, Bu, Pak. Mereka sudah jinak, tidak liar lagi seperti sebelum-sebelumnya," jawab Rahman tersenyum balik.


"Jinak, liar, memang hewan. Tenang saja, Yah, kalau ada yang godain kak Rahman akan langsung Umaiza panggil penghulu dan nikahkan mereka," ucap Umaiza sambil melirik ke arah Rahman.


Umaiza dan Rahman pamit, Umaiza menarik lengan Rahman sampai masuk lift.


"Lama sekali, sudah tau, Za sudah lapar,"


"Maaf-maaf, masa kakak langsung keluar begitu saja, kan gak sopan,"


Lift terbuka Umaiza dan Rahman keluar. Semua karyawan melihat dengan pandangan sinis. Umaiza hanya tersenyum melihat pandangan mereka.


Rahman sesekali menoleh ke belakang ke arah Umaiza.


"Sudah, Kak. Lihat ke depan saja, Za, baik-baik saja,"


Kami pun masuk ke kantin, ada kursi kosong segera Umaiza tempati.


"Za, penuh. Mau makan apa?"


"Apa saja, Kak. Kakak pesan apa, In Syaa Allah akan Umaiza makan. Asal jangan jengkol atau pete saja, Umaiza gak suka."


"Minumnya?"


"Teh manis saja, Kak,"


Rahman memesan makanan dengan 2 porsi makanan dan dua teh manis dingin.


"Kamu siapanya, Pak Rahman?" tanya salah satu karyawan Pak Baskoro.


"Hi Umaiza," sapa Mbak Alifa.


"Hi, Mbak,"


"Makan siang disini juga?"


"Iya, Mbak. Ingin tahu suasana kantin disini dan karyawan-karyawan ayah,"


"Oh, Iya. Saya duluan ya Umaiza, selamat menikmati," ucap Alifa.


"Kamu kenal siapa dia?"


"Sssst, Umaiza itu anaknya Pak Baskoro dan calon istrinya Pak Rahman," ucap Alifa pelan.


"Maaf, ya Mbak. Saya tidak tahu,"


"Gak apa-apa. Saya Umaiza," memberikan tangannya.


"Saya Sari," menyambut tangan Umaiza dengan tersenyum.


Rahman datang dan duduk di hadapan Umaiza menunggu makanan datang.


"Ada apa dengan Sari?"


"Tidak apa-apa, Kak. Dia mengajak kenalan sama Za,"


"Oooo, kirain kenapa,"


"Sari itu yang suka sama kakak ya?"


Rahman diam tidak menjawab. Karena tidak mengetahui apa perasaan Sari. Selama ini Rahman adalah laki-laki yang dingin tidak pernah suka kepada perempuan atau menanggapi perasaan mereka terhadapnya.

__ADS_1


__ADS_2