Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Istirahat


__ADS_3

Kami semua berhenti di rest area, untuk istirahat, makan dan sholat.


Ibu Rahma di gandeng oleh Ibu Aisyah.


"Za, bangun," Rahman membangunkan Umaiza dengan mengelus-elus pipinya.


Umaiza membuka mata sedikit demi sedikit sambil tersenyum.


"Sudah sampai Kak, kita?"


"Belum, Za, kita istirahat dulu. Kita makan lalu shalat,"


"Oh, Iya, Kak, kebetulan Za, sangat lapar dua hari ini kita semua tidak makan dengan benar"


"Iya, ayo turun. Ayah sekarang tenang, Rama pun sudah di tempat yang semestinya. Kita harus kuat demi Ibu,"


"Iya, Kak,"


Umaiza dan Rahman turun begitu juga dengan sopir dan perawat.


"Nak, kita makan dimana?" tanya Ibu Rahma.


"Di tempat yang nyaman saja, Bu," jawab Umaiza.


Rahman membawa semuanya ke tempat makan yang menyediakan masakan sunda.


Rahman memesan 4 paket makanan dengan menu lengkap, yang lainnya duduk di tempat yang di sediakan.


Umaiza duduk dekat Rara sambil memperhatikan satu-satu.


Farid tidak banyak bicara namun sesekali curi-curi pandang ke Rara.


Rara tidak menyadarinya.


"Ra, sepertinya Farid menyukaimu," goda Umaiza.sambil membisikkan ke telinga Rara


"Ah, itu hanya perasaan Umaiza saja," elak Rara tidak mau kegeeran


"Kalau tebakan Umaiza benar, Rara mau kasih apa?"


"Umaiza mau nya, apa?"


"Tidak mau apa-apa, Umaiza hanya mau Rara bantu Umaiza di perusahaan,"


"Siap, tapi nanti kalau sudah lulus,"


"Gak, mau. Ingin sekarang, istilahnya magang lah,"


Rara belum memberikan jawaban.


"Farid juga akan kami libatkan kok," lanjut Umaiza.


"Rara, diskusikan dulu dengan ayah dan Ibu,"


"Ok, deal. Umaiza dan Kak Rahman tunggu ya jawabannya,"


"Iya, pasti,"


Ibu Rahma, Bunda, Ibunya Rara, Ibu Aisyah saling berbincang-bincang. Begitu juga dengan Pak Rudi Antara, Pak Doris dan pengacara. Farid diam sendirian.


"Farid, gabung sini," ajak Umaiza


"Disini saja, Kak," jawab Farid


"Sendirian makan mana enak, mending disini makannya biar ada teman. Nanti juga Kak Rahman kesini," lanjut Umaiza.


Farid memperhatikan sekelilingnya, ternyata dirinya memang sendirian. Akhirnya Farid bergabung dengan Umaiza dan Rara.


"Kalian sudah kenalan belum?" tanya Umaiza


"Kita sudah sama-sama tahu namanya, tanpa harus kenalan. Iya kan?" tanya Rara kepada Farid


"Iya, Kak, apa perlu kita kenalan lagi?" ucap Farid malu-malu.


"Iya, biar afdhol, silahkan kalian kenalan,"


Rahman datang.


"Kak, sepertinya Farid suka sama Rara. Di restui tidak?" tanya Umaiza tanpa basa-basi.


Farid dan Rara menunduk karena malu mendengar Umaiza yang terus terang.


"Iya, Kakak, tidak akan menghalangi. Rasa suka itu normal, namun harus tetap di jalur yang benar," nasihat Rahman dengan lembut

__ADS_1


Farid dan Rara menoleh ke arah Rahman.


"Ra, kita akan jadi saudara," ucap Umaiza sambil memegang tangan Rara.


"Umaiza heboh sendiri, Faridnya saja tidak bicara apa-apa,"


"Kalau apa yang dikatakan oleh Kak Umaiza benar, bagaimana?" ucap Farid dengan nada pelan.


Rahman tersenyum bisa menyaksikan sendiri adiknya menyatakan cinta terhadap seorang perempuan.


Rara tidak menjawab, karena Rara masih trauma dengan yang namanya laki-laki. Semua ini di sebabkan oleh perlakuan Rama terhadapnya. Baru ketemu sekali, kencan lalu sudah membawa Rara ke hotel untuk tidur dengannya. Namun Rara bisa melawan dan menyelamatkan diri dari Rama.


"Sepertinya Rara belum siap, Farid. Beri Rara waktu," pinta Umaiza.


Umaiza memang paling tahu karakter dan sifat Rara.


"Iya, Kak, Farid mengerti. Farid akan menunggu,"


"Kita serahkan semuanya kepada Allah, sekalian kita selesaikan kuliah kita masing-masing," jawab Rara.


"Alhamdulillah, sahabatnya Umaiza tambah sholehah nih," peluk Umaiza


Rara tersenyum, " Semua ini berkat bantuanmu, Umaiza,"


"Umaiza tidak melakukan apa-apa, semua yang menggerakkan hatinya Rara untuk hijrah adalah Allah,"


Farid dan Rahman hanya tersenyum melihat 2 sahabat saling berpelukkan.


"Farid jika memang suka sama Rara, terus berusaha untuk meyakinkannya. Seperti halnya Kak Rahman," goda Umaiza.


"Kakak tidak melakukan apa-apa, semuanya mengalir dengan sendirinya," bela Rahman.


Umaiza tersenyum sambil mencolek dagu Rahman, "Iya, deh,"


Rara dan Farid saling pandang dan bicara secara bersamaan, "jadi obat nyamuk nih,"


"Wah, kayaknya jodoh nih," goda Umaiza lagi.


"Gak apa-apa, lagi. Kita kan sudah halal," sambung Rahman.


"Iya, deh, yang sudah sah jadi suami istri, pamer kemesraan," goda balik Farid.


"Iya, kita hanya di anggap obat nyamuk," sambung Rara.


Rara dan Farid sudah kembali ke sifat aslinya yang kocak dan periang.


Semua sudah mulai menyantap makanan.


Karena semuanya sudah mengenal Umaiza, makanya semua mengikuti cara Umaiza makan. Pakai tangan dan tanpa suara kecuali pengacara makan menggunakan sendok.


Selesai makan semuanya pergi ke mushola untuk sholat maghrib dan isya, di jama' takdim.


15 menit berlalu, mereka keluar secara bersamaan. Dan langsung masuk ke mobil masing-masing sama seperti dari pemakaman.


Umaiza masuk ke ambulance bersama Rahman.


"Kak, 2 hari ini sesuatu ya?"


"Kenapa, Za, lelah?"


"Sedikit, Kak,"


"Besok hari minggu, kita istirahat seharian,"


"Iya, Kak, gak apa-apa kan, kalau kita beluuu....," ucapan Umaiza terpotong karena jari telunjuk Rahman mendarat di mulut Umaiza.


"Sssst, cinta Kakak tidak sedangkal itu,"


Umaiza bengong, "Maksud Kakak apa?" tanya Umaiza, "Maksud Za, itu, Za belum bisa fokus ke kakak,"


Rahman tersenyum yang sudah salah sangka.


"Idih, pikiran Kakak, ngeres," ledek Umaiza sambil mengangkat bahu.


Rahman mengusap-usap kepala Umaiza, karena gemes melihat tingkahnya. Dan ada perasaan bahagia, karena sudah bisa melihat Umaiza tersenyum setelah 2 hari di liputi kesedihan.


"Kak, kakak ingin punya anak berapa?"


"2 saja cukup,"


"Sedikit amat,"


"Emang, Za, ingin berapa?"

__ADS_1


"3 atau 4, biar rame,"


"Aamiin, semoga Za, sehat,"


"Aamiin,"


"Rahim sudah tidak sakit lagi?" tanya Rahman khawatir


"Alhamdulillah, tidak, Kak," jawab Umaiza heran.


"Syukurlah, namun untuk kesehatan Za, kita check up ke dokter ya!"


"Memangnya kenapa?" masih penasaran


"Kakak, masih khawatir ada efek samping akibat benturan saat ada masalah dengan Roni,"


"Oh, itu. Baik, Za, ikut saja,"


"Itu yang membuat Kakak tambah jatuh cinta sama Za, penurut,"


"Selama itu buat kebaikan Za, kenapa tidak,"


"Iya, buat kebaikan Kakak juga,"


"Hubungannya dengan Kakak, apa?"


"Kalau ada masalah di rahim Za, bagaimana Kakak bisa melakukan kewajiban Kakak sebagai suami,"


Umaiza bengong karena belum mengerti.


"Memang Za, tidak ingin Kakak memenuhi kewajiban Kakak sebagai suami?"


"Maksud buat batinnya gitu?" jawab Umaiza spontan


"Iya,"


"Iya, Za, mengerti. Nanti Kakak antar, Za, untuk check up ya,"


"Iya, semoga Za, sudah tidak apa-apa. Kan, Za, ingin punya anak 3 atau 4," bisik Rahman.


Umaiza tersenyum.


Rahman mencubit hidung Umaiza yang mancung.


Umaiza menyandarkan kepalanya di dada bidang Rahman.


Umaiza memeluknya dari belakang.


Seperti dunia milik berdua, yang lainnya hanya mengontrak🤭🤭🤭


Umaiza dan Rahman menikmati kebersamaan mereka.


Tidak terasa sudah sampai di rumah sakit.


Umaiza dan Rahman memberikan tip kepada perawat dan sopir.


Kami menunggu Farid menjemput di kantin rumah sakit.


Ternyata Farid menjemput kami bareng Rara.


Umaiza dan Rahman tersenyum.


"Sepertinya selangkah lebih maju, nih," ledek Umaiza.


Rara dan Farid hanya pasrah, diam tidak menjawab.


Umaiza dan Rahman segera naik ke mobil, mereka duduk di belakang.


"Jangan iri ya, kalau kami bermesraan," terang Umaiza.


"Iya, deh, yang udah nikah," jawab Rara.


"Gak apa-apa, Kak, bebas dengan kita mah. Anggap saja Saya dan Rara ngontrak," kata Farid


Rahman tersenyum


"Biar Kak, kita panas-panasin. Biar mereka cepat menyusul," terang Umaiza kepada Rahman


Rara menoleh ke belakang, "Bebas Umaiza, mau ngapain juga. Kita akan tutup mata," sambung Rara


Rahman lagi-lagi tersenyum.


Umaiza mencium pipi Rahman, "Halal kan, Kak, ibadah lagi," tanya kepada Rahman.

__ADS_1


Rahman mengangguk


Rara dan Farid menutup mata.


__ADS_2