
Sudah selesai mengoles, Umaiza membalut lengannya Bunda menggunakan pembalut gulung. Sangat hati-hati.
"Kalau Umaiza jadi dokter, kakak adalah pasien pertamanya,"
Umaiza menoleh ke arah Kak Rahman tersenyum, karena tahu ucapannya itu untuk menggoda Umaiza.
"Tidak shalat dulu?" tanya Kak Rahman lagi
"Kalau boleh, Umaiza akan ikut sholat. Apakah boleh, Bu?" membalut tangan Ibu sudah selesai.
Umaiza berdiri dan izin ke kamar mandi, Rahman mengikutinya dengan niat mau mengantar Umaiza.
"Mau apa mengkutiku?" tanya Umaiza heran.
"Mau mengantarkan kamu,"
"Tidak usah, Umaiza bisa sendiri."
Umaiza pergi ke kamar mandi dan wudhu.
"Dimana Umaiza shalat, Bu?"
"Dikamar Ibu saja, mukenanya ada di atas lemari,"
"Baik, Ibu." Umaiza masuk ke kamar dan menutup pintunya sedikit. memakai mukena dan menggelar sajadah di lantai Lalu shalat.
"Rahman apakah perempuan ini yang Rahman ceritakan kepada Bunda, kemarin,"
"Iya, Bunda. Cantik, sholehahkan?" tanya Rahman sambil nyengir.
"Iya, paket komplit. Semoga berjodoh ya," dengan suara sangat pelan supaya tidak terdengar oleh Umaiza.
"Iya, Bunda. Aamiin,"
Delivery makanan sudah datang, Rahman pergi ke pagar dan membayar makanannya tidak lupa memberikan uang lebih sebagai tip.
Umaiza sudah selesai shalat lalu kembali lagi, ke kursi. Saat Umaiza akan pamit pulang. Rahman mencegahnya, memintanya untuk makan dulu, karena makanan sudah datang.
Umaiza tidak enak kalau harus menolak, Umaiza pun mengangguk.
Farid keluar dari kamar dan mengambil 1 box dan 1 minumannya, makan di samping Ibu.
Melihat yang sakit adalah tangan kanannya, Umaiza membuka box makanan milik Ibu itu lalu berniat untuk menyuapinya.
"Tidak usah, Nak. Ibu bisa makan sendiri,"
"Tangan Ibu sakit, Ibu tidak boleh banyak gerak. Biarkan Umaiza yang menyuapi Ibu."
"Baiklah kalau begitu, Ibu mau."
Umaiza menyuapi Ibu dengan hati-hati, Rahman dan Farid menganga melihat perhatian dan kasih sayang yang di berikan umaiza kepada bundanya.
"Umaiza kakak juga mau dong di suapin, tangan kakak sakit sudah bekerja seharian," goda Rahman
"Manja, makan sendiri saja." jawab Umaiza ketus
"Apakah kakak harus sakit dulu kayak Bunda biar di suapin Umaiza," ucap Rahman lagi.
"Sssst, ucapan adalah do'a. Gak baik," jawab Umaiza dengan membulatkan matanya.
Ibu hanya tersenyum melihat kelakuan Rahman dan Umaiza.
Farid hanya memperhatikan mereka berdua dengan perasaan yang beda.
"Rahman jangan menggoda Umaiza terus kasihan," bela Bunda
"Mentang-mentang perempuan di belain anaknya sendiri di lupakan," ucap Rahman pura-pura sedih.
"Umaiza apakah sudah punya calon?"
tanya Bunda tiba-tiba mengagetkan Umaiza.
Umaiza mengangkat wajahnya.
"Belum, Bu. Umaiza belum kepikiran ke arah sana, Umaiza ingin menyelesaian skripsi lalu wisuda dan mencari orangtua kandung Umaiza," jelas Umaiza.
__ADS_1
Rahman mendengarkan dengan seksama.
Jika memang masih jauh untuk ke arah sana,
Izinkan aku tetap berteman baik denganmu.
Supaya aku bisa menemanimu dan selalu berada di sampingmu.
Makanan Ibu sudah habis.
"Semoga Allah mudahkan semua urusannya, ya, Nak,"
"Aamiin, Bu. Makasih atas do'anya,"
"Umaiza, makanan Ibu sudah habis. Sekarang giliran Umaiza yang makan. Dan Ibu pamit ke kamar mandi,"
"Iya, Bu. Hati-hati,"
Umaiza pun makan makanan miliknya, Umaiza makan tanpa suara. Rahman masih berada di hadapannya dan Farid sudah masuk kamar. Melihat Umaiza selesai makan.
Rahman mendekati Umaiza.
"Terima Kasih atas perhatian yang Umaiza berikan kepada Bunda,"
"Sama-sama, jika kakak seperti itu pun. Umaiza akan melakukan hal yang sama," kata-kata itu keluar dengan sendirinya.
Rahman tersenyum lebar dengan bahagia.
"Umaiza, pamit pulang ya,"
"Kakak antar ya, sudah malam,"
"Sepeda Umaiza?"
"Nanti di ikat di atas mobil Kakak,"
"Tidak akan apa-apa mobilnya?"
"In Syaa Allah, tidak,"
"Nanti saja, setelah antar Umaiza kakak mandi lalu shalat. Kalau tidak mandi, tubuh kakak sangat lengket,"
"Pantesan bau," ledek Umaiza dengan menutup hidungnya.
Melihat tingkahnya, Rahman rasanya ingin mencubitnya, sangat lucu.
"Bunda, Rahman antar dulu Umaiza ya,"
"Iya, Nak. Hati-hati di jalan,"
Rahman mengambil sepedanya lalu mengikat di atas mobil. Umaiza menunggunya dengan sabar sambil melihat ke rumah yang sebelahnya.
"Kak, itu rumah siapa?"
"Rumah kakak," jawabnya singkat.
"Kok, Ibu kecil kakak besar,"
"Rumah Bunda peninggalan ayah, mau Kakak renov tidak di izinkan. kenang-kenangan kata Bunda,"
"Oo,"
"Ayo, masuk."
"Umaiza pun masuk,"
Rahman membuka jasnya dan berniat mau di lempar ke kursi belakang. Namun di tahan oleh Umaiza. Umaiza lipat dan di simpan di pangkuannya.
"Kok di pangku?"
"Tidak apa-apa," sambil tersenyum.
Rahman tersenyum ke arah Umaiza. Duduk di balik kemudi. menghidupkan mobil dan menjalankannya dengan kecepatan sedang. Inginnya pelan namun karena takut tambah malam.
"Besok ada acara?" tanya Rahman.
__ADS_1
"Tidak, Umaiza akan ngetik skripsi. Inginnya selesai dua hari ini. Supaya di periksa sama dosen pembimbing dan sidang."
"Semangat," Ucap Rahman.
"Makasih," dengan senyum khasnya lesung pipi nya sangat jelas terlihat.
"Boleh Kakak tanya sesuatu,"
"Boleh, Silahkan,"
"Jika seandainya wisuda sudah dan orangtua kandung sudah bertemu. Apakah Umaiza siap kalau ada yang melamar," tanya Rahman serius.
"In Syaa Allah, Siap. Asal Suami Umaiza kelak memperbolehkan Umaiza untuk berbakti kepada orangtua Umaiza,"
"Kalau Kakak yang melamarnya?"
Umaiza menoleh ke arah Rahman, matanya memandang dengan tatapan tidak percaya.
"Kakak silahkan nanti minta kepada orang tua Umaiza," jawab Umaiza pelan.
Hati Rahman sangat bahagia mendengar ucapan Umaiza, sedikitnya sudah ada lampu kuning.
"Baik, nanti kalau Umaiza sudah selesai wisuda. Kakak akan langsung melamar Umaiza," ucapan Rahman terdengar sangat mantap.
"Kakak, serius?, Kirain Umaiza Kakak sedang goda Umaiza," jawabnya polos.
"Kakak serius Umaiza, masa tidak merasa perhatian, ucapan Kakak kepada Umaiza."
"Tidak," dengan wajah datar.
Kami pun sampai di panti asuhan yang menjadi tempat tinggal Umaiza. Saat Umaiza mau membuka pintu mobil seketika itu Rahman mengunci kembali pintu mobilnya.
"Jaga hati, jaga pikiran Umaiza ya, untuk Kakak."
Umaiza terdiam masih tidak percaya, laki-laki yang baru di kenalnya sudah ingin melamarnya.
"Janji ya, tapi Kakak mohon. Untuk saat ini izinkan Kakak tetap menjadi teman baikmu. Supaya Kakak bisa menemani Umaiza memenuhi mimpi dan keinginan Umaiza,"
Umaiza mengangguk. Kata-kata yang keluar dari mulut Rahman sangatlah tulus, membuat Umaiza pun terpaku.
"Terima Kasih, jika Kakak mau menunggu. Namun jika di depan sana ada perempuan lain yang lebih baik dari Umaiza. Dan kakak ingin memilih mundur dari penantian, Umaiza ikhlas,"
Rahman sedikit berkaca-kaca, karena ucapan Umaiza terkesan menolaknya.
"Kakak,"
"Iya," memalingkan muka dan mengusap air mata yang melintas dari matanya tanpa permisi.
"Kakak jangan putus harapan, kita sama-sama minta kepada Allah di sepertiga malamnya. Jika Umaiza jodoh kakak, pasti akan Allah dekatkan. Yakinlah terhadap kasih sayang-Nya,"
Rahman tersenyum mendengar ucapannya.
"Sudah bolehkan Umaiza turun?" tanya Umaiza dengan tersenyum.
"Oo, Iya. Maaf, Iya,"
Rahman turun dan di ikuti Umaiza untuk menurunkan sepeda milik Umaiza.
"Terima kasih, jangan lupa shalat isya dan shalat di sepertiga malam,"
"In Syaa Allah, Assalamu'alaikum." kata Rahman dan kembali ke dalam mobil.
"Waalaikummussalaam," melambaikan tangan ke arah Rahman.
Sungguh hati ini berdetak kencang
ketika mendengar ucapan tentang keinginan melamarku.
Siapa yang menolak jika laki-laki sepertimu.
Rasa ini sudah ada.
Maafkan jika Aku mencoba menutupi dengan kepolosanku.
Aku hanya ingin menyelesaikan impianku.
__ADS_1
Baru akan merangkai Impian kita berdua, bersamamu 'Khairul Rahman'.