Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Rompi


__ADS_3

Umaiza membuka halaman berikutnya, di sana tertulis:


Mei 2018


Aku gelisah, teringat akan korban yang ku tolong pada bulan Maret. Saat lewat ke rumah sakit dimana korban itu dirawat, aku memutuskan untuk bertanya kepada bagian administrasi, tentang alamat korban tersebut.


Sesampainya disana alangkah terkejutnya aku mendengar kalau korban tersebut meninggal dua hari setelah beliau di rawat. Aku pun bertanya tentang alamatnya, alhamdulillaahnya kelurga korban meninggalkan alamat.


Aku catat dan aku kembali lagi ke kantor.


Umaiza buka lagi halamannya.


Juni, 2023


Pagi-pagi sudah bangun dan meminta izin pada istriku untuk pergi ke keluarga korban, aku ingin tahu keadaan mereka sekarang.


Aku telusuri jalan untuk menuju alamat merekanya, sungguh keadaan yang memilukan. Korban tersebut meninggalkan istri dan dua anaknya. Anak yang pertama masih kuliah tingkat dua, anak kedua masih SD.


Apakah aku berani menemui mereka? Jawabannya tidak, karena sebelum sampai di depan rumahnya aku mendengar mereka sedang berbincang-bincang membicarakanku.


Akhirnya aku memutuskan untuk pulang, jika menemui mereka tidak akan baik.


Sepanjang jalan aku berpikir bagaimana caranya untuk menolong mereka tanpa harus mengetahui identitas aku.


Juni, 2023


Aku menemui ketua RT setempat korban, setelah panjang lebar aku menjelaskan dan niat baik aku untuk membantu keluarga korban, akhirnya ketua RT tersebut mau membantuku. Untuk menyampaikan santunan kepada mereka.


Ini pun hasil diskusi dengan istriku, alhamdulillaah memiliki pendamping yang setia dan bijaksana. Terima kasih ya sayang, selalu mendukungku dimana dan bagaimana pun situasinya.


"Ayah so sweet," ucap Umaiza pelan


Rahman tersenyum ke arah Umaiza.


Desember, 2018


Komunitas motorku, menghubungiku, mereka meminta maaf dan menginginkanku untuk kembali bergabung dengan mereka.


Aku sudah memaafkan mereka, namun kalau untuk kembali sepertinya tidak. Karena aku lebih baik fokus membantu mereka keluarga korban.


Dan rompi seragam komunitas sudah penuh dengan bercakan darah, saksi kejadian tersebut.


"Iya, Kak, ini bukunya," ucap Umaiza kepada Rahman.


"Iya, Za, sekarang kita cari alamat rumah korban dan ketua RT nya. Supaya mereka tidak salah faham lagi,"


"Za, setuju, Kak, sekarang kita pulang saja?"


"Alamat korbannya tidak ditulis ya?"


"Tidak, Kak,"


"Oke, tugas baru lagi nih,"


"Kak, kan kita pernah print alamat Alifa, kenapa tidak coba cek saja kesana?"


"Iya, benar, Za, Kakak setuju. Istri siapa sih nih?"


"Istrinya Khairul Rahman," jawab Umaiza sambil tersenyum dan memeluk Rahman.


"Hus, disini ada orang lho," teriak Farid yang sedang melihat-lihat ke sekeliling gudang.


"Hufth," Umaiza menutup mulut,"Maaf, sengaja," sambil tersenyum.


Rahman tersenyum


Farid menghernyitkan dahi.


"Sekarang kita shalat maghrib dulu, dah itu kita makan. Bi Marni sudah masak buat kita," ucap Umaiza


"Bagaimana kalau Ibu masak?"


"Tidak, tadi Za, sudah menghubungi Ibu,"


"Oooo, ya sudah. Kita sholat dulu,"


Farid, Umaiza, keluar dari gudang, Rahman mengunci pintunya sambil membawa buku harian Pak Baskoro.


Mereka menuruni anak tangga, langsung mengambil wudhu dan menuju mushola.


Rahman menjadi Imam.


Shalat maghrib selesai di dirikan, Umaiza langsung membantu Bi Marni menyiapkan makanan dan menyimpannya di atas meja.


Rahman dan Farid pergi ke ruang makan dan duduk.


"Silahkan Nak Rahman, seada-ada. Bibi tidak masak yang spesial,"

__ADS_1


"Terima kasih, Bi, maaf sudah merepotkan,"


"Tidak, Nak. Non, kapan akan kembali lagi kesini?"


"Tidak, tahu, Bi, kemungkinan besar Bibi yang harus pindah," jawab Umaiza.


"Pindah?"


"Iya, Bi,"


"Pindah kerja, Non?" jawab Bi Marni kaget


"Pindah rumah, Bi, ternyata sebelum meninggal Ayah sudah membeli rumah dekat Kak Rahman,"


"Oalah, Non, Bibi kira harus pindah kerja. Bibi sudah kerasan kerja sama Ibu Rahma," jelas Bi Marni.


"Sama, Bi, Ibu juga akan kesulitan mendapatkan orang yang seperti Bi Marni. Untuk sementara Bibi disini dulu saja, kalau kelurga Bibi ada yang mau main ya silahkan. Bisa menggunakan kamar tamu juga kan, supaya Bibi tidak kesepian juga,"


"Seriusan Non?"


"Serius lah, Bi,"


"Terima kasih ya, Non,"


"Iya, Bi, sama-sama,"


Bi Marni tersenyum bahagia.


"Bi, kita makan bareng yuk!"


"Maaf, Non, Bibi sudah makan tadi sebelum maghrib,"


"Ooo, ya, sudah kalau begitu. Bibi istirahat saja, nanti biar Umaiza yang bereskan,"


"Tidak apa-apa, Non, nanti Bibi yang rapikan, sekalian Bibi menunggu maghrib,"


"Ya, baik, Bi, kita makan dulu ya,"


"Iya, Non, silahkan,"


"Kak, sudah cantik, baik lagi. Maa Syaa Allah," puji Farid


"Rara juga sama,"


"Idih, Kakak, napa lari ke Rara sih,"


"Iya, nanti bisa-bisa jatuh cinta sama Kakak iparmu," jawab Rahman ketus


Farid tersenyum melihat raut wajah Rahman.


Umaiza mengambilkan nasi untuk Rahman beserta lauk pauknya.


Rahman, Umaiza dan Farid makan.


"Alhamdulillaah," ucap Rahman dan Farid secara bersamaan.


Umaiza meneguk air


Rahman dan Farid makan buah-buahan.


"Alhamdulillaah," Umaiza baru selesai makan.


Rahman dan Farid menunggu Umaiza di ruang tamu.


Umaiza membereskan piring kotor dan menyimpan sisa makanan ke lemari.


Meja makan sudah rapi seperti sedia kala, Umaiza mencuci piring bekas makan mereka.


"Non, sudah selesai makannya?"


"Alhamdulillaah, Bi, sudah. Sisa makanannya sudah Umaiza bereskan di lemari sana ya?" tunjuk Umaiza.


"Non, sudah rapi semua," tanya Bi Marni setelah menengok ke meja makan.


"Sudah, Bi,"


"Kenapa Non yang kerjakan, Bibi disini makan gaji buta,"


"Bibi jangan beranggapan begitu, Bibi sekarang kan sedang bertugas menjaga rumah. Nanti jika sudah stabil, kita pindah ke rumah baru. Bibi bisa kerja lagi seperti biasanya,"


"Iya-ya, Non, semoga semuanya segera membaik,"


"Aamiin, Bi,"


Umaiza pergi ke ruang tamu, untuk bergabung dengan Rahman dan Farid.


"Za, sudah selesai?" tanya Rahman

__ADS_1


"Sudah, Kak,"


"Pulang sekarang?, kasihan sama Ibu sendirian di rumah"


"Ayo, Kak,"


"Mana barang Za yang mau di bawa?"


"Di koper Kak, Za, simpan di sana," tunjuk Umaiza ke arah koper yang ada di belakang pintu.


Umaiza menemui Bi Marni untuk pamit.


"Non, sering-sering main kesini!"


"In Syaa Allah, Bi,"


Rahman, Umaiza dan Farid masuk mobil.


Rahman menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.


"Kak, itu jualan apa ya?"


"Tidak tahu, Za, mau?"


"Maaauuu," dengan manjanya.


Rahman memberhentikan mobilnya.


"Kakak, ngidam?" tanya Farid


"Sok tau,"


Rahman turun dari mobil.


Umaiza dan Farid menunggu di mobil.


"Za, yang jualan siomay, mau?"


"Iya, Kak, Za, mau,"


Rahman membeli siomay tiga piring makan di tempat.


Umaiza makan dengan lahap, kali ini Umaiza yang habis duluan.


"Kak, boleh Za, minta yang punya Kakak?"


"Iya, boleh, kalau Za, masih mau,"


"Makasih, Ya, Kak,"


Umaiza ikut makan bagian Rahman. Entah mengapa kali ini Umaiza menjadi celamitan.


Setelah selesai makan semuanya, Rahman melanjutkan kembali perjalanannya menuju rumah.


Ibu sedang mengobrol di rumah Bunda.


"Sudah ketemu Nak?" tanya Ibu.


"Alhamdulillah, sudah, Bu,"


"Alhamdulillah,"


"Bu, Umaiza ke rumah dulu ya?"


"Tunggu, Nak, sini Ibu dan Bunda mau mengobrol dulu sebentar," kata Ibu


"Ada apa, Bu, Bun, nampaknya serius sekali," jawab Umaiza


"Umaiza dan Rahman berencana mau mengadakan syukuran setelah wisuda nanti," tanya Bunda


"Iya, Bun, In Syaa Allah,"


"Bagaimana kalau Umaiza dan Rahman melibatkan kami untuk pelaksanaan acara tersebut," ucap Ibu sambil menoleh kepada Bunda.


Bunda menganggukkan kepalanya.


"Apakah Ibu dan Bunda tidak akan repot?"


"In Syaa Allah, tidak, kami justru bahagia. Lagian kalau kalian yang langsung turun tangan, bagaimana akan mengurusnya. Waktu habis dengan kerja dan masalah Ayah," jawab Ibu panjang lebar.


"Alhamdulillaah, kalau itu mau Ibu dan Bunda. Umaiza dan Kak Rahman malahan senang ada yang mau membantu, namun Ibu dan Bunda jaga kesehatan ya?"


"Iya, sayang, pasti,"


Rahman, Umaiza, Ibu dan Bunda menghela nafas.


Masalah dan urusan akan selesai satu-satu.

__ADS_1


__ADS_2