
Umaiza berjalan di samping Ibu Rahma. Seketika menoleh ke arah langkah kaki yang tepat di hadapan Umaiza dan Ibu Rahma.
Seorang laki-laki, yang dari perawakannya masih belum sangat Umaiza kenal. Yang lainnya sedang berbincang-bincang satua sama yang lainnya sehingga tidak ada yanh melihatnya.
"Ramaaaa," teriak Umaiza karena ketakutan asal memanggil orang.
Orang tersebut menoleh
Dan ternyata benar itu adalah Rama.
"Berhenti kamu," teriak Umaiza lagi.
Yang lain pun ikut melihat ke arah depan.
Rahman segera mendekat ke arah Umaiza.
Rama berhenti dan membalikkan badannya ke arah Umaiza.
Rama bertepuk tangan
"Ternyata dugaanku benar, Rama yang dimaksud oleh Umaiza sama dengan Rama sang psikopat," Batin Rara
"Secinta itu kah kamu kepadaku, sehingga kamu bisa mengenaliku," ucap Rama penuh dengan kepercayaan dirinya.
"Aku tahu kamu mengetahui semua kejadian yang terjadi pada kami, bahkan saat ayah kecelakaan pun kamu ada di tempat kejadian kan, kemarin di rumah duka kamu terus mengawasi kami,"
Rama semakin bertepuk tangan penuh kemenangan.
Rahman kaget, Umaiza mengetahui semuanya.
"Aku tidak mau basa basi, sekarang mau kamu apa?" ucap Umaiza ketus
"Sabar, Za," sambil mengggandeng tangan Umaiza dan mengelus punggungnya.
"Hai Rahman jauh-jauh Kau, dari gadis pujaanku!" tunjuk Rama kepada Umaiza tanpa ada rasa takut atau malu.
"Jawab pertanyaanku, cepat! Aku tidak punya banyak waktu," teriak Umaiza
"Simple saja, aku hanya ingin dirimu," jawab Rama sambil senyum meledek.
Hati Rahman langsung panas dan ingin melangkah ke arah Rama.
Umaiza menarik tangan Rahman, "Sabar, ya, suaminya Za, "
Rahman berhenti dan menoleh ke arah Umaiza.
Umaiza tersenyum berjalan melangkah ke arah Rahman.
Bunda dan Ibunya Rara kini mengapit Ibu Rahma.
"Suami?"
"Iya, memang kenapa?" jawab Umaiza dengan tegas
"Kalian tidak boleh menikah,"
"Kata siapa?" tanya Umaiza sambil meledek, "Kata kamu," sambung Umaiza, "Aku gak butuh, yang aku butuhkan hanya restu orangtua dan Allah,"
"Kamu itu milik aku,"
"Itu keinginanmu, namun Allah berkehendak lain. Jodohku adalah Kak Rahman," sambil mencium pipi Rahman.
"Aku sudah melakukan banyak cara untuk mendapatkanmu, Umaiza," keluh Rama
"Caramu yang salah, Kamu melakukannya dengan cara yang bathil, kamu tidak punya hati maupun iman. Kamu tega melakukannya termasuk mencelakakan Ayah sampai meninggal, puas kamu?, dengan nada sedikit melemah
"Aku lakukan ini karena cinta," dengan nada keras dan mengangkat wajahnya untuk melihat Umaiza dengan tatapan tajam
"Cinta yang kamu miliki itu salah, Cinta mu karena nafsu bukan karena Allah,"
Rahman masih tetap mencoba sabar dan membiarkan Umaiza untuk bicara kepada Rama yang lain pun ikut diam.
"Sekarang kamu harus mempertanggung jawabkan semuanya atas apa yang telah kamu lakukan kepada ayah dan Pak Sobur," ucap Umaiza.
Semua yang ada disana kaget mendengar pernyataan Umaiza terutama Ibu Rahma dan Rara.
"Dasar psikopat," teriak Rara
__ADS_1
Rama menoleh ke arah Rara.
Rudi Antara dan Istrinya kaget, ternyata Rara juga mengenalinya
Rama terjatuh dan menangis, "Sebenarnya aku sudah lelah dengan keadaan ini. Aku ingin merubah diri ke arah yang lebih baik lagi,"
"Lelah mendapatkan perempuan hanya untuk memuaskan nafsu mu?"sambung Rara
Rama terdiam
"Tidak semua perempuan rela kamu tiduri, kalau benar kamu sudah lelah dengan apa yang sudah kamu jalani selama ini. Taubat kamu," suruh Rara
"Iya, apa yang dikatakan sahabatku benar. Yang harus kamu lakukan adalah taubat nasuha," ucap Umaiza, "Untuk calon sudah ada di dekatmu, yang In Syaa Allah bisa menerimamu apa adanya,"
"Siapa?" ucap Rama bersemangat
"Alifa, saya tahu untuk melakukan semua ini kamu di bantu Alifa,"
Rama kaget mendengar nama itu.
"Alifa membantuku karena dia mencintai Rahman," ucap Rama mengelak
Rahman kaget mendengar jawaban Rama.
"Tidak, Alifa hanya mencintaimu, dari awal ketemu dia sudah jatuh hati denganmu,"
Rama tidak percaya.
"Alifa, saya tau kamu ada di dalam mobil itu. Rama ke Bandung pergi ikut dengan kamu,"
Alifa pun turun dari mobil.
"Siapa sesungguhnya yang kamu cintai?" tanya Umaiza tegas, "Rama atau Kak Rahman?" sambung Umaiza untuk memastikannya.
Alifa tidak menjawab hanya menoleh ke arah Rama.
Rama kaget
Rahman tidak menduga kalau Umaiza sangat cerdik dan cepat menyelidikinya.
"Kalian kaget ya, kenapa aku bisa tahu?" tanya Umaiza kepada Rama dan Alifa.
"Alifa ingat perbincangan kemarin saat kita akan pulang kerja?"
Alifa mengangguk tanpa bicara
"Saat itu aku melihat, kamu merekam semua perbincanganku tentang Rama dan saat kamu menceritakan Rama begitu dengan antusiasnya,"
Alifa kaget Umaiza bisa mengetahuinya.
"Rama kamu bisa mengetahui semua jadwal ayah akan pergi kemana dari siapa?" tanya Umaiza menyelidik, "pasti dari Alifa, iya, Kan?"
Rama tidak menjawab.
"Alifa, saat tadi di rumah duka, kamu memberitahuku tentang Rama yang membagikan kabar duka itu, aku melihat di Wa, kamu memberikan nama di kontaknya dengan nama 'Mylove' itu artinya apa?"
Rama menoleh ke arah Alifa heran.
Alifa hanya menunduk
"Benarkah itu Alifa?" tanya Rama
Alifa tidak menjawab
"Kenapa kamu tidak bilang kepadaku, kamu terlihat begitu benci sama aku, semenjak dari SMA," Ucap Rama
"SMA?" tanya Umaiza, Rara dan Rahman secara bersamaan
"Iya, kami satu SMA. Bahkan kerja pun aku mengikutinya,"
"Jangan-jangan kamu seperti ini karena sudah mencintai Alifa semenjak SMA," tanya Umaiza asal menebak.
"Iya," jawab Rama, "Kenapa kamu tidak menunjukkan rasa cinta kamu kepadaku,"
"Karena Alifa takut Rama menolaknya, Alifa hanya gadis cupu, sedangkan perempuan yang kamu dekati sangat cantik dan ****" jawab Alifa merendah.
"Aku lakukan semua itu hanya untuk menarik perhatianmu,"
__ADS_1
"Sekarang kamu sudah tahu kenyataannya kalau kalian memang sudah saling cinta, kini waktunya kalian mempertanggung jawabkan semuanya. Pak polisi silahkan bawa mereka," perintah Umaiza.
Rama mengambil pistol dari polisi, lalu menodongkan kepada kami, lalu menaruh pistol itu tepat di pelipisnya supaya polisi yang lain tidak datang ke arahnya.
Umaiza bertepuk tangan sambil tersenyum, "ada yang mau main drama nih," celetuk Umaiza sinis
"Aku tidak drama, daripada masuk penjara lebih baik mati," dengan suara keras
"Silahkan tarik saja pelatuknya, tidak akan rugi bagi kami. Yang rugi itu diri kamu sendiri. Di dunia berzina terus, itu merupakan dosa besar, melakukan pembunuhan berencana, mati bunuh diri, di alam kubur di siksa, di kehidupan akhirat nanti langsung masuk neraka," Ucap Umaiza sedikit ketus dan kata-katanya menusuk ke hati.
Orang lain tidak berani ikut bicara termasuk Pak Doris dan Pak Rudi Antara.
"Kalau kamu di penjara, sedikitnya kamu bisa taubatan nasuha, belajar mengenal agama dengan lebih dalam lagi dan suatu saat bebas, kamu bisa menikah dan hidup bersama dengan Alifa," Sambung Umaiza.
Rama mencerna setiap ucapan yang di keluarkan oleh Umaiza.
Rama dan Alifa menangis sejadi-jadinya, Rama melepaskan pistolnya dan Polisi segera memborgol dan membawa mereka ke mobilnya.
Mobil milik Alifa di bawa oleh polisi yang lain.
Umaiza memeluk Rahman sambil menangis bahagia, masalah ini bisa selesai dengan mudah melalui pertolongan dari Allah SWT.
Tidak menunggu besok, lusa atau berminggu-minggu namun saat iti juga Allah bukakan semuanya.
Ibu Rahma, Bunda, Rara, Ibu Rara dan Ibu Aisyah menghampiri Umaiza untuk memeluk Umaiza.
"Sekarang sudah tenang ya, Nak," ucap Ibu Rahma, "terima kasih sudah menegakkan keadilan untuk ayah," sambung Ibu Rahma.
"Umaiza minta maaf, Bu, gara-gara Umaiza, ayah pergi meninggalkan kita," ucap Umaiza menangis di pelukan Ibu.
"Ibu sudah ikhlas, semua ini sudah takdir kita. Ayah sudah melakukan hal yang benar untuk melindungi putri tercintanya meski harus kehilangan nyawanya,"
"Ibu," tangis Umaiza terisak-isak sambil melepaskan pelukan dari Ibu.
"Bunda kagum memiliki menantu seperti Umaiza,"
"Terima kasih, Bunda,"
Semua masuk ke mobilnya masing-masing.
Ibu Rahma kini ikut ke mobil Ibu Aisyah supaya sedikit istirahat di mobil.
Umaiza dan Rahman kembali naik ambulance.
"Za, kakak, bangga sama kamu, meski marah namun kata-katanya itu masih bisa terkontrol,"
"Makasih, Kak,"
"Tidak semua masalah harus di selesaikan dengan adu fisik, namun dengan kata-kata yang menusuk lebih mudah untuk menyadarkan seseorang,"
"Iya, Kak, tadi Za, kata-katanya sedikit menyakitkan ya?" tanya Umaiza sambil tersenyum.
"Sangat, namun sangat ampuh," ledek Rahman
"Aaaach, Kakak,"
"Tapi Kakak penasaran dari mana, Za tahu kalau Alifa cinta sama Rama?"
"Kan, tadi sudah Umaiza jelaskan,"
"Sepertinya ada yang kurang,"
"Ya, Za, waktu kemarin di kantor mengobrol sempat melihat Alifa saling kirim wa, kirain dengan pacarnya ternyata sama Rama. Di kontaknya itu di kasih nama 'My love'," jelas Umaiza.
"Oooo, kecurigaannya tepat sasaran,"
"Iya, siapa yang tidak curiga, d kantor menjelekkan Rama, di wa begitu lembutnya," terang Umaiza.
Rahman mengangguk.
"Rehat sejenak ya, Kak, baru nanti kita bahas tentang perusahaan,"
"Iya, Za,"
Umaiza tertidur di pundak Rahman.
Rahman balik merangkul, perawat duduk di depan bersama sopir.
__ADS_1
Sesekali Rahman mencium kening Umaiza.
"Za, kamu gadis yang begitu kuat, tegar dan sabar. Kakak bangga sudah memilikimu,"