
POV Rara dan Farid
Rara merasa penasaran terhadap aktivitas Umaiza dan Rahman. Karena sering hilang secara tiba-tiba di jam kerja dan tidak ada kabar sama sekali.
Biasanya Umaiza suka chat meski hanya 'Say Hello' kepada Rara.
Rasa penasaran Rara semakin memuncak dan tidak sabar jika harus bertanya langsung kepada Umaiza atau Rahman.
Akhirnya Rara menemui Farid saat istirahat.
"Farid, mau bicara sebentar. Ada waktu?" tanya Rara saat melihat Farid keluar dari lift.
"Sekarang?"
"Iya, bagaimana kalau kita cari resto yang dekat-dekat sini?" tanya Rara
"Apa ini, ngajak kencan?" tanya Farid ke-pede-an.
"Bisa di katakan begitu, ayo!" kata Rara kesal dengan menarik tangan Farid.
Farid mengkuti Rara sambil tersenyum.
Rara membawa Farid ke dalam mobilnya.
"Kita mau kemana?" tanya Farid
"Kita makan atau kamu yang ingin aku makan?" dengan nada kesal
"Wah, ini cewek sadis amat, beda jauh dengan Kak Umaiza yang anggun,"
"Ya, beda, lah. Ini Rara bukan Umaiza," tambah kesal
"Siapa yang mau bawa mobilnya?"
"Lo saja Farid, yang bawa mobilnya. Masa iya gua yang bawa,"
"Gak apa-apa, sekarang zamannya kali," jawab Farid meledek.
"Sudah ayo!" dengan melemparkan kunci kepada Farid.
"Iya, sudah-sudah, Ayo!" jawab Farid, "Nanti waktu istitrahatnya habis lagi," sambung Farid sambil masuk ke dalam mobil.
Rara ikut masuk ke dalam mobil.
"Ada apa sih?" tanya Farid tenang sambil menyalakan mobilnya.
"Gua penasaran sama Umaiza,"
"Penasaran kenapa?" jawab Farid dengan menjalankan mobilnya.
"Kenapa suka tiba-tiba menghilang meski masih di jam kerja,"
"Oh, itu. Kak Umaiza kan sedang menyelidiki kasus Pak Baskoro,"
"Masih di lanjut?"
"Iya, sedikit demi sedikit buktinya sudah terungkap,"
"Kok, ke gua gak ada kabar ya?"
"Ya, maklumlah, Kak Umaiza dan Kak Rahman sibuk. Bisa jadi lupa,"
"Iya, sih, sekarang Umaiza jarang komunikasi,"
"Iya, Kak Umaiza dalam semua aspek memasuki kehidupan yang baru. Salut saja masih bisa tetap berdiri tegak. Kak Rahman juga sama,"
"Iya-iya, kehidupan baru menemukan keluarganya yang selama ini terpisah, kehidupan baru menyandang status istri, baru selesai kuliah sudah di berikan amanah perusahaan,"
"Iya, di tambah dengan kematian Pak Baskoro yang di akibatkan oleh dendam hanya karena salah faham,"
"Iya, betul. Meninggalkan masalah yang harus di ungkap,"
"Iya, sekarang sudah tenangkan, kalau Kak Umaiza sedang sibuk, gak boleh su'dzon lagi," sindir Farid sambil tersenyum.
"Iya, maafkan Rara yang sudah Su'udzon. Apa ada yang bisa Rara bantu?"
__ADS_1
"Iya, kalau itu Farid mana tahu, tanyakan langsung sama Kak Umaiza,"
"Kalau sekarang Umaiza kemana?"
"Ada di kantor bareng Kak Rahman, mereka istirahat di kantor. Makananan pun pesan via ojol,"
"Owgh, sangat sibuk ya?"
"Iya, ingin membereskan pekerjaan cepat karena sore mau ke rumah Alifa,"
"Owgh, mau apa?"
"Mau menjelaskan kebenaran yang sesungguhnya,"
"Umaiza, Rara salut sama lo,"
"Farid juga, bangga malah mempunyai Kakak Ipar seperti dia,"
"Iya dan Alhamdulillaahnya memiliki suami yang sayang dan pengertian banget sama Umaiza,"
"In Syaa Allah, Farid juga bisa kayak Kak Rahman, bahkan bisa lebih baik," goda Farid
"Gombal, sekarang bisa bicara gitu. Sudah jadi bisa-bisa acuh tak acuh," ledek Rara.
"Wah, ini mah, mau bukti?"
"Gak-gak, nanti saja, Rara belum siap kayak Umaiza menikah muda,"
"Idih, siapa juga yang mau ngajak nikah. Perhatian kan bisa di buktian sekarang juga,"
Rara tersenyum sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Hufth, ngomong-ngomong kita sudah jalan jauh ini, mau makan dimana?"
"Oh, Iya, ini sangat jauh dari kantor," jawab Rara kaget sambil melihat jam tangannya.
"Ya, sudah, kali ini istirahatnya di habiskan dengan jalan-jalan saja. Kayaknya Rara sudah kenyang, kenyang ngobrol dan melihat Farid,"
"Idih, PEDE gila," Rara nyengir
Farid tersenyum.
"Ra, untuk mengganjal perut kita ke kantin saja yuk!" Ajak Farid
"Iya, ayo!"
Farid dan Rara turun dari mobil dan berjalan menuju kantin. Mereka berdua membeli mie kocok dan di makan disana tidak lupa pesan minuman air jeruk.
"Tau gini dari tadi kita kesini saja," keluh Rara.
"Tidak suka ya jalan-jalan sama Farid?" Farid merasa sedih, karena Rara bicara seperti itu.
"Suka, suka banget, sering-sering saja ajak Rara main" kembali ceria
"Bagaimana kalau nanti sore kita ikut ke Kak Rahman dan kak Umaiza,"
"Boleh, Rara setuju,"
Pesanan datang.
Rara dan Farid segera menyantap mie kocok dan meminum minumannya.
Dalam hitungan menit mie kocok sudah habis.
"Ra, waktu istirahat sebentar lagi selesai,"
"Iya, betul. Makannya sudah selesai?"
"Sudah, tunggu ya, Farid bayar dulu,"
"Rara yang bayar saja,"
"Sekarang biarkan Farid yang bayar, nanti kalau kita makan lagi, giliran Rara yang bayar,"
"Oke, Rara setuju,"
__ADS_1
Farid membayar makanan.
"Ra, Farid ke mushola dulu mau shalat dzuhur,"
"Iya, Rara, juga sama. Ayo kita bareng,"
Rara dan Farid pergi ke mushola.
Mereka shalat berjama'ah.
Hati Rara begitu sejuk mendengar suara Farid saat menjadi Imam.
Sore Hari
Rara dan Farid ikut ke Rahman dan Umaiza dengan mobil yang berbeda.
Rara dan Farid menunggu di ujung jalan.
"Jadi detektif itu seru juga ya?" ucap Rara
"Seru bagaimana?"
"Di dalam hati terasa campur aduk, ada perasaan takut, cemas,"
"Kita hanya melihat dan menunggu saja, yang campur aduk itu mereka tuh, Kak Umaiza dan Kak Rahman," tunjuk Farid ke arah rumah Pak RT.
"Iya, deh, Farid sekarang selalu benar,"
Farid tersenyum bahagia.
"Kok, lama ya?"
"Iya-ya, sudah hampir satu jam,"
"Kesana yuk!"
"Jangan dulu, belum ada kode dari Kak Rahman ataupun Kak Umaiza untuk kesana,"
Rara merengut
"Do'akan yang terbaik saja untuk Kak Rahman dan Kak Umaiza,"
"Iya, pasti,"
Rahman dan Umaiza masih belum ada kabar.
Melihat dari kejauhan Rahman dan Umaiza masuk ke dalam mobil.
"Kak Umaiza dan Kak Rahman sudah masuk ke dalam mobil,"
"Iya, benar, Alhamdulillaah, berarti masalahnya sudah selesai,"
"Iya, Alhamdulillaah," Farid siap-siap menyalakan mobilnya dan memutar balik.
Rara menerima pesan dari Umaiza
π© Alhamdulillaah, sudah selesai. Mari kita pulang.
π¨ Alhamdulillah, ayo.
Farid mengikuti mobil Rahman.
Rara menerima pesan lagi.
π© Ra, kita makan dulu pecel lele ya.
π¨ siaap 45, kebetulan kita sudah lama juga gak nongki-nongki.
Rara menyimpan hpnya ke dalam tas.
"Umaiza mengajak makan dulu di pecel lele pinggir jalan,"
"Oh, iya, siap. Nanti kalau Kak Rahman berhenti, ikut berhenti,"
"Iya,"
__ADS_1
Mobil Rahman berhenti dan Umaiza turun dari mobil.
Farid berhenti tepat di belakang mobil Rahman, Rara turun dari mobil.