
Umaiza naik Lift setelah Ibu Rahma berada di dekatnya.
"Tenang ya, Nak,"
"Iya, Bu. Ayah meeting sampai jam berapa?"
" Sebentar lagi, meeting ayah selesai,"
"Alhamdulillah, Ibu. Umaiza tenang mendengarnya,"
Pintu Lift terbuka.
Umaiza dan Ibu Rahma segera keluar.
"Mbak, bagaimana apakah ke ruangan Pak Rahman ada yang masuk?" tanya Umaiza dengan lembut, kepanikannya sedikit berkurang.
"Tidak ada, Mbak," jawab sekretaris Pak Baskoro dengan tersenyum.
"Makasih Mbak, saya ke ruangan Pak Rahman dulu,"
"Baik, Mbak," jawabnya.
"Ternyata ramah dan baik juga," gumam sekretaris Pak Baskoro.
Ibu Rahma tersenyum mendengar gumaman sekretarisnya itu. Dan kembali ke ruangan suaminya.
"Assalamu'alaikum," ucap Umaiza ketika membuka pintu ruangan Rahman.
"Waalaikummussalaam, Za, sini masuk," ucap Rahman bahagia.
"Apakah Pak Bima sudah kesini lagi?" tanya Umaiza sambil duduk di sofa.
"Belum, memang kenapa?"
"Oh, belum ya. Tidak apa-apa Kak,"
"Kakak lanjutkan kerja dulu ya,"
"Ya, Kak santai saja. Jangan merasa terganggu dengan keberadaan Za," ucap Umaiza sambil tersenyum dengan memperlihatkan lesung pipinya.
Rahman kembali fokus bekerja.
Umaiza mengambil gelas lalu mengisi air dari dispenser. Dan kembali lagi duduk dengan membuka majalah yang berada di samping kursi.
Tok...tok...tok...
suara pintu di ketuk.
"Masuk," ucap Rahman yang masih fokus bekerja.
Pintu di buka lalu masuklah pak Bima dan Dewa. Betapa terkejutnya mereka melihat Umaiza sedang duduk di sofa.
Umaiza pura-pura melihat majalah namun terkadang matanys melirik dan telinga fokus kepada Rahman dan Pak Bima.
"Apakah Pak Rahman sudah siap untuk pergi keluar kota?" tanya Pak Bima.
Rahman tidak menjawab terus bekerja.
"Kalau Pak Rahman tidak pergi, urusan di luar kota akan terbengkalai," lanjut Pak Bima.
"Maaf, ya, Pak Bima. Atasan saya adalah Pak Baskoro." Jawab Rahman santai.
"Iya, tapi Pak Baskoro menyuruh saya untuk memerintahkan Pak Rahman keluar kota," Ucap Pak Bima sedikit kesal.
"Astagfirullah, kok sampai bawa-bawa ayah sih?" lirih Umaiza dalam hati.
Rahman memanggil sekretaris Pak Baskoro dan tak lama kemudian sekretaris tersebut datang.
"Ada yang bisa di bantu?" tanya sekretaris Pak Baskoro setelah ada di ruangan Rahman.
"Apakah ada jadwal pertemuan di luar kota dengan klien dalam waktu tiga hari ini?"
"Tidak ada, Pak."
"Silahkan bisa kembali lagi ke tempat," Ucap Rahman kepada sekretaris Pak Baskoro.
"Sudah jelaskan, Pak?" tanya Rahman kepada Pak Bima tanpa basa-basi.
Pak Bima dan Dewa mencoba meyakinkan Rahman supaya Rahman pergi.
"Sudahlah Pak, bagaimanapun Bapak memaksa kepada calon suamiku untuk pergi. Aku tidak akan pernah mengizinkannya," ucap Umaiza sambil berdiri dan mendekat ke arah Rahman.
__ADS_1
"Ini urusan kantor,"
"Barusan sekretaris ayah, bilang tidak ada urusan kantor,"
Pak Bima dan Dewa terdiam.
"Kak, ceritakan semalam ada musibah apa?"
"Kakak di jegal di jalan, sama teman-teman Roni. Hampir terbunuh, namun polisi patroli datang. Alhamdulillah, Kakak masih selamat," cerita Rahman, sengaja Umaiza ingin mendengarnya di depan Pak Bima dan Dewa.
"Astagfirullah, semalam tidak berhasil, sekarang di lanjutkan lagi?" tanya Umaiza.
Rahman tidak mengerti.
"Roni sekarang seperti itu bukan kesalahan kami, Pak. Tapi kesalahan dirinya sendiri, sekarang teman-temannya jadi korban masuk penjara, apakah Bapak dan Kak Dewa juga mau masuk penjara juga, bagaimana nasib Roni berikutnya?"
"Karena semua ini kesalahan kamu?"
"Pak, cinta tidak bisa dipaksakan. Apakah demi kebahagiaan Roni, Bapak ingin mengorbankan nasib anak gadis, egois sekali,"
"Sekarang kami harus berbuat apa, kami tidak tega melihat Roni seperti itu?"
"Apakah dengan membunuh Rahman, Roni akan bahagia dan kembali sadar atau aku mau menerima cinta Roni?"
"Sedikitnya kami puas, kamu atau Rahman akan sangat menderita,"
"Astagfirullah, Pak, Kak, iman kami tidak sedangkal itu. Cinta kami bukan karena nafsu tapi karena Allah. Sekarang dari pada Bapak dan Kakak dendam atau benci kepada kami, lebih baik carikan Roni seorang psikiater supaya ada yang mengarahkan ke arah yang lebih baik,"
Mendengar ucapan dari Umaiza lagi-lagi seperti terkena tamparan keras, Pak Bima menunduk dan menangis. Kak Dewa memandang wajah Umaiza lekat-lekat.
"Rahman, bahagialah Kamu memiliki Umaiza yang begitu tulus mencintaimu. Sekarang saya mengerti mengapa Roni sangat mencintainya. Namun Roni mengartikan cinta itu dalam artian yang salah," Ucap Kak Dewa sambil menitikkan air mata.
Pak Baskoro datang dengan sedikit amarah
"Bima, kamu sudah bekerja lama disini. Kenapa kamu tega ingin menghabisi calon suami putriku, hah?" ucap Pak Baskoro yang hendak memukul Pak Bima. Umaiza segera menahan Pak Baskoro.
"Saya sebenarnya dari kemarin ingin menghajar putra kamu, namun masih menghargai kamu, sekarang yang kamu perbuat sungguh keterlaluan,"
"Ayah, tenang," ucap Umaiza sambil mengusap punggung Pak Baskoro.
"Maafkan, kami Pak, kami khilaf," ucap Dewa.
"Ayah, punya kenalan psikiater?" tanya Umaiza mencoba mengalihkan pembicaraan dan untuk menutupi kesedihan mendengar kata-kata dari Pak Baskoro.
"Ada, Sayang, untuk siapa?"
"Untuk Roni, Yah, untuk membantu kesembuhannya,"
"Lihat, bagaimana tulusnya putriku. Kamu malah ingin membunuh calon suaminya,"
"Iya, Pak. Maafkan saya, saya khilaf,"
"Ada, nanti sore saya akan menyuruh dokter itu datang ke rumahmu, Bim," ucap Pak Baskoro.
"Terimakasih, Pak." ucap Pak Bima.
"Saya melakukan ini demi Umaiza."
"Terimakasih, ayah." sambil memeluk ayah.
"Kalau kalian mau tahu, sebenarnya saya ingin menjodohkan Umaiza dengan Rahman ketika Rahman bergabung di perusahaan ini. Namun karena Umaiza belum ketemu akhirnya saya menyimpan keinginan itu. Saat kemarin kami menemukan Umaiza dan Rahman yang mengantarnya, terlihat mereka sudah sangat akrab dan saling mengenal. Bahkan Rahman dulu yang bertemu dengan Umaiza. Ini cara Allah, pertolongan Allah terhadap keinginan saya. Allah permudahkan semua urusannya." jelas Pak Baskoro.
Pak Bima dan Dewa mengangguk pelan.
"Ternyata ada campur tangan ayah pada hubungan kami," ucap Umaiza sambil tersenyum.
"Jadi apapun rintangannya, In Syaa Allah kalian tidak akan terpisahkan. Karena ada do'a ayah dan Ibu," sambil memeluk Umaiza dan mencium puncak kepala Umaiza.
"Terimakasih, Pak. Sudah mempercayakan Umaiza menjadi makmum Rahman," ucap Rahman terharu mendengar perkataan Pak Baskoro.
"Saya minta maaf dan terimakasih atas bantuannya," ucap Pak Bima.
Pak Bima dan Dewa keluar dari ruangan Rahman.
"Za, terimakasih sudah membantu kakak hari ini,"
"Iya, Kak. Sama-sama. Kakak calon suami Za, kalau ada apa-apa pada kakak, Za juga akan ikut menyesal,"
Pak Baskoro tersenyum dan mengusap kepala Umaiza yang cepat tanggap dan bijaksana.
Pak Baskoro ke ruangan dan menemui kembali Ibu Rahma.
__ADS_1
"Kak, Ruangannya bersih, rapi. Dan di pojokkan itu, sepertinya Za mengenal bunga itu? sambil berjalan menuju vas yang berisi bunga-bunga.
"Itu kan Bunga yang kakak beli dari Za," sambil tersenyum.
"Kok di simpan di ruang kerja?" menoleh ke arah Rahman.
"Biar kakak selalu semangat bekerja, di temani bunga-bunga yang di buat oleh tangan Za yang halus,"
"Ih, kok kakak tahu, tangan Za halus atau kasarnya?" tanya Umaiza heran.
"Tadi kan, Za, pegang tangan kakak,"
"Tapi kan kakak tidak sadar?" sambil berjalan mendekat ke arah Rahman.
"Kakak sadar karena sentuhan tangan Za, lalu Za membacakan do'a-do'a yang membuat hati kakak teduh, Za membantu kakak untuk wudhu, Dan shalat dhuha. Itu semua membuat kakak merasa terharu,"
"Ih, jahat. Kalau tahu sudah sadar kan Za gak kan memapah dan membantu wudhu kakak," Umaiza cemberut.
"Kakak sadar penuh ketika sudah shalat dhuha, sebelum-sebelumnya kakak belum sadar penuh. Pak Bima belajar darimana ya, ilmu hipnotis itu?" tanya Rahman tersenyum geli mengingat kejadian tadi.
"Tau, ach," Umaiza marah.
"Jangan marah, kalau marah kelihatan lebih cantik. Nanti ada syetan lewat, Kakak cium, mau?"
"Ih, amit-amit. Belum halah," sambil mengangkat kedua bahunya dan tersenyum.
"Nah, begitu senyum. Cantiknya natural,"
"Kak, Za mau pulang boleh?"
"Nanti saja sore bareng kakak, bosen ya?"
"Tidak, kasihan Ibu takut mau istirahat."
"Ibu Rahma tidur di ruangan khusus," ucap Rahman.
"Maksudnya?"
"Iya, di ruangan Pak Baskoro ada ruangan khusus tempat Istirahat Pak Baskoro atau Ibu Rahma kalau kesini,"
"Ooo,"
"Za, mau istirahat?"
"Za, ingin makan sih sebenarnya. Coba Za ke ruangan ayah siapa tau ada buah-buahan atau minuman gitu,"
"Di kulkas kakak juga ada, coba saja Za buka. Untuk makannya nanti saat istirahat ya, kakak pesan di kantin,"
"Gak usah pesan, makan di kantin saja. Sekalian Za ingin tahu bagaimana karyawan-karyawan ayah,"
"Boleh, Kakak bereskan dulu kerjaannya,"
Umaiza keluar dari ruangan Rahman hendak ke ruangan Pak Baskoro, sebelumnya mengobrol dulu dengan sekretaris Pak Baskoro.
"Mbak, maafkan Umaiza ya, kalau tadi Umaiza tidak sopan,"
"Tidak apa-apa, saya mengerti, Mbak, tadi terlihat sangat panik,"
"Panggil saja saya Umaiza, supaya lebih akrab. Saya anaknya Pak Baskoro dan Ibu Rahma yang sudah lama hilang." jelas Umaiza.
"Saya Alifa," sambil memberikan tangannya.
Umaiza menyambut tangan Alifa sambil tersenyum, "Senang bisa bertemu dengan Alifa,"
"Sama-sama, Umaiza,"
Umaiza masuk ke ruangan Pak Baskoro.
"Yah, Ibu, mana?"
"Ibu lagi istirahat, Nak, mau istirahat juga?"
"Tidak, Yah, Umaiza mau menjarah makanan yang ada di kulkas ayah," Sambil tersenyum.
"Yang Umaiza mau, tinggal ambil saja. untuk cemilannya ada di lemari bawah,"
"Baik, Yah,"
Umaiza mengambil minuman dan beberapa buah-buahan, di ambil pisau dan piring. Umaiza mengupas mangga agak banyak, untuk di berikan kepada ayah dan Rahman. Karena pasti mereka berdua hari ini banyak pekerjaan.
Besok keduanya akan mengantar Umaiza ke kampus untuk sidang.
__ADS_1