
Umaiza dan Rahman saling tatap. Umaiza meletakkan tangannya di wajah Rahman. Di sentuhnya dengan perlahan. Rahman pun menikmati sentuhan Umaiza sambil mata terpejam.
Umaiza melakukan hal yang berulang-ulang sehingga Rahman tertidur. Saat dilihat Rahman tidur dengan pulas, Umaiza mencium kening dan kedua pipinya.
Umaiza meninggalkan Rahman tidur. Umaiza pergi ke dapur untuk marinasi Ikan dan memotong sayuran. Supaya nanti sepulang dari Rumah Sakit Umaiza tinggal memasak.
Ibu baru pulang dari rumah Bunda.
"Baru, pulang Bu?"
"Iya, Nak, asyik mengobrol jadi lupa waktu,"
"Iya, gak apa-apa Bu, daripada suntuk di rumah. Bunda juga jadi ada teman mengobrol kan?"
"Iya, Nak, Rahman kemana?"
"Tidur, Bu,"
"Kalau sudah ada cucu sepertinya Ibu akan ada kegiatan," keluh Ibu sambil duduk di hadapan Umaiza.
"Aamiin, In Syaa Allah, do'anya ya Bu,"
"Pastinya Nak, nanti kalau Umaiza kerja Ibu jadi ada teman,"
"Iya, Bu,"
"Sekarang Umaiza lagi apa itu?"
"Umaiza lagi mempersiapkan untuk makan malam, nanti sore Umaiza pergi dulu dengan Kak Rahman,"
"Oh, iya,"
"Ibu, kapan kita akan pindah ke rumah baru?"
" Disini dulu saja, karena Ibu masih bingung rumah yang disana mau di gunakan untuk apa,"
"Iya, Bu, Umaiza mengerti. Karena semua ini begitu mendadak,"
"Iya, Nak, Umaiza sudah ada ide?"
"Untuk saat ini belum, Bu. Tidak tahu nanti,"
"Cita-cita Umaiza waktu itu apa?"
"Ingin menjadi akuntan publik, makanya Umaiza ingin mengambil S2 bahkan S3,"
"Kenapa tidak di realisasikan saja cita-cita Umaiza sekarang. Rumah itu Umaiza jadikan kantor,"
"Iya-ya, Bu, kenapa gak Umaiza pikirkan itu, namun tidak akan dulu sekarang. Sekarang Umaiza akan fokus dulu dengan perusahaan yang Ayah tinggalkan. Rencana pembukaan kantor cabang,"
"Iya, Nak, Ibu sangat mendukung itu. Tapi tidak lupa memberikan cucu kepada Ibu, supaya Ibu tidak kesepian,"
"In Syaa Allah, Bu," ucap Umaiza sambil tersenyum.
Marinasi ikan dan memotong sayuran sudah selesai, Umaiza memasukkan ke kulkas.
"Sudah selesai Nak?"
"Sudah, Bu,"
Mereka melangkahkan kakinya ke Ruang keluarga dan melanjutkan perbincangannya disana.
"Oh, iya Nak, apakah tidak ada keinginan merayakan pernikahan?"
"Mungkin nanti saja setelah wisuda, Bu,"
"Kapan di wisuda?"
"Tiga minggu lagi, Bu,"
"Iya, Ibu setuju. Masih ingin merayakannya di panti?"
"Iya, Bu, kita syukuran saja sama anak-anak panti, anak-anak jalanan, saudara dekat saja dan beberapa kolega,"
"Saudara dekat?"
"Iya, saudara Ibu, saudara Ayah dan saudara Kak Rahman, Ibu mau kan kita menyambungkan tali silaturahim yang pernah terputus dengan mereka,"
Ibu terdiam.
"Ya, masih ada waktu tiga minggu lagi untuk Ibu menyiapkan hati,"
"Iya, semoga Ibu sanggup bertemu dengan mereka,"
"Aamiin, Ibu pasti bisa. Sekarang kan Umaiza nya sudah ketemu jadi tidak ada alasan lagi keluarga Ayah membenci Ibu,"
Ibu hanya mengangguk.
"Lagian ada Umaiza yang akan selalu di samping Ibu, jika mereka menghina Ibu, Umaiza tidak akan tinggal diam," ucap Umaiza sambil tersenyum lebar.
Ibu ikut tersenyum.
__ADS_1
"Bu, Umaiza tinggal ke kamar ya,"
"Iya, Ibu juga akan ke kamar,"
Umaiza dan Ibu pergi ke kamar masing-masing.
Rahman masih terlelap tidur.
Umaiza berbaring di samping Rahman.
Mencoba memejamkan mata dan akhirnya terlelap juga.
Suara Adzan dari masjid membangunkan Rahman. Seketika Rahman membuka mata dan duduk.
Umaiza masih terlelap, Rahman memandang wajah Umaiza.
"Maa Syaa Allah, ternyata benar cantiknya perempuan lebih terpancar ketika tidur. Begitu pun dengan Umaiza, kecantikannya terlihat lebih,"
Rahman mencium kening Umaiza, seketika itu Umaiza pun terbangun.
"Kakak, dah lama bangun?"
"Barusan,"
"Umaiza ketiduran,"
"Iya, gak apa-apa kan. Sekarang kan memang mau nya istirahat, mempersiapkan untuk besok,"
"Iya, Kak, ke rumah sakit jadi kan?"
"Iya, ayo!"
"Umaiza ke air dulu,"
"Iya,"
Umaiza ke kamar mandi
Rahman mengambil air yang sudah di sediakan Umaiza sebelum tidur.
Umaiza keluar kamar mandi, sekarang giliran Rahman yang ke kamar mandi.
Umaiza menunggu Rahman sambil siap-siap untuk pergi ke rumah sakit.
Rahman keluar dari kamar mandi, lalu mereka mendirikan shalat secara berjama'ah.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Rahman sambil menoleh ke kanan lalu ke kiri.
Umaiza mengikuti apa yang di lakukan oleh Rahman selaku imam.
"Iya, Kak," sambil merapikan mukena
"Ayo kita pergi sekarang, Ibu sudah tahu kita mau pergi?"
"Iya, Kak, nanti bilang lagi sekalian pamit,"
"Iya,"
Umaiza pamit kepada Ibu, Rahman menunggu di depan.
Umaiza menuju ke depan dimana Rahman berada lalu berjalan bersama untuk pamit ke Bunda juga.
Mereka memang dua sejoli yang sangat cocok, hanya beberapa ketemu bisa langsung jatuh cinta dan dapat restu dari kedua belah pihak, bahkan Pak Baskoro dan Ibu Rahma sudah menginginkan Rahman menjadi suami dari anaknya yang hilang.
Dan sekarang ternyata Allah mengabulkannya mereka berjodoh saling cinta dan saling sayang.
Mereka sama-sama masuk ke dalam mobil.
"Za, harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi,"
"In Syaa Allah, Kak, apapun hasilnya nanti Za, akan siap menerimanya. Namun Za tidak tahu dengan Kakak,"
"Maksudnya Za?"
"Jika rahim Za memang kenapa-kenapa bagaimana?"
"Ya tidak apa-apa, Za, akan tetap Kakak sayang,"
"Kalau Za, gak bisa hamil. Apakah Kakak tidak ada niatan untuk menikah lagi?"
" Teknologi sudah canggih, In Syaa Allah pasti akan jalan keluar yang lebih baik di banding dengan menikah lagi,"
"Alhamdulillah, terima kasih, Kakak yang selalu berfikiran positif,"
"Tidak terpikirkan sama sekali oleh Kakak untuk menduakan Umaiza. Untuk menemukan Umaiza saja harus melalui penantian panjang,"
Umaiza tersenyum bahagia mendengar Rahman berkata seperti itu, seakan-akan ingin melayang.
"Kita berdo'a mudah-mudahan Za, tidak apa-apa. Bisa segera memenuhi harapan Ibu dan Ayah. Yang menginginkan cucu supaya Ibu tidak kesepian,"
"Kok Kakak bisa tahu?" Umaiza kaget
__ADS_1
"Ya, tahu saja. Karena Ayah pernah bilang sama Kakak kalau ingin menikmati masa tua dengan bermain bersama cucu-cucu,"
"Iya, ke Za, juga sama. Saat terakhir mengobrol di kantor ternyata itu permintaan terakhir Ayah," Umaiza merasa sedih.
Mereka sampai di Rumah Sakit.
"Umaiza ayo turun, bismillah, lahawla semoga baik-baik saja," ajak Rahman ketika mobil sudah berhenti di parkiran.
"Oh, Iya, Kak, ayo!"
Umaiza dan Rahman turun. Lalu mereka masuk ke dalam Rumah Sakit untuk daftar. Selesai daftar menyusuri lorong untuk menunggu giliran di ruangan kebidanan.
Umaiza mendapat nomor antrian 15, sedangkan yang di panggil baru nomor 2.
"Kak, ke kantin dulu yuk!"
"Za, mau apa?"
"Lapar," sambil mengusap perut
"Iya ayo, lagian Za, masih lama,"
"Iya, Kak,"
Rahman menggenggam tangan Umaiza dan melangkah bersama.
Umaiza kini meski sudah menjadi orang kaya, namun tetap hidup sederhana. Tidak mau ke dokter pribadi selama masih bisa seperti yang lain.
Umaiza memilih jajan mie nyemek yang lumayan pedas, sedangkan Rahman hanya memesan secangkir kopi.
Setelah selesai makan mereka kembali lagi ke ruang kebidanan, nomor antrian sudah nomor 13.
"Alhamdulillah tidak terlewat," Ucap Umaiza.
"Iya, Alhamdulillah,"
Nomor 13 sudah keluar sekarang waktunya nomor 14.
Umaiza sudah mulai tegang, saat melihat Umaiza salah tingkah. Untuk menenangkannya Rahman segera mengenggam tangan Umaiza.
Umaiza tersenyum, "Terima kasih,"
"Iya, cintaku,"
Sekarang waktunya Umaiza yang masuk.
Rahman segera membangunkan Umaiza dan menggenggam tangannya dengan erat untuk masuk ke ruangan bidan.
"Selamat sore, namanya siapa?" tanya Ibu Bidan.
"Sore, namanya Umaiza,"
"Ny. Umaiza apa ada yang bisa di bantu,"
Umaiza menceritakan ke khawatiran Rahman takut adanya cedera di rahim akibat benturan saat kejadian di kampus dengan Roni.
Umaiza di minta baringan di atas kasur.
Umaiza melakukannya dan dokter segera membuka baju bagian perut Umaiza dan mengoleskan gel di perutnya. Dokter menyimpan alat USG lalu di gerak-gerakan di atas perut, di lihat di layar bersih tidak ada apa-apa.
"Alhamdulillah, hasilnya bagus. Tidak ada cedera atau apapun,"
"Alhamdulillah," Ucap Rahman dan Umaiza secara bersamaan.
"Pengantin baru ya?"
"Iya, Dok," Jawab Umaiza malu-malu.
"Dok, kalau langsung program hamil bisa ya?" tanya Rahman.
"Bisa, tidak apa-apa,"
"Alhamdulillah,"
"Ada yang mai di tanyakan?"
"In Syaa Allah saat ini sudah cukup, Dok," Jawab Rahman, " Terima kasih," sambungnya lagi.
"Sama-sama,"
Umaiza dan Rahman berdiri lalu keluar dari ruang bidan.
Rahman terus menggenggam tangan Umaiza tanpa melepaskannya membuat iri yang melihatnya.
Mereka langsung masuk ke dalam mobil lalu Rahman segera menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumah.
Rahman melirik ke arah Umaiza yang sedang menatap ke depan.
Umaiza menyadari kalau Rahman sedang memperhatikannya. Langsung menoleh ke arah Rahman sambil tersenyum.
"Langsung pulangkan?" tanya Rahman
__ADS_1
"Iya, Kak, kasihan Ibu,"
Rahman menambah kecepatan mobilnya karena jalanan juga tidak terlalu ramai. Untuk segera sampai di rumah takut kehabisan waktu maghrib.