Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Kamar Umaiza


__ADS_3

Kami telah sampai di panti asuhan, dengan melalui perjalanan yang sangat macet. Karena mereka kebanyakan pulang liburan dari luar kota. Selama perjalanan Umaiza tidur di bahu ibunya.


Terlihat oleh Rahman dari kaca atas mobil, wajah Umaiza sangat tenang, lembut dan nampak lebih cantik.


Pak Baskoro sekali-kali melihat ke belakang. Ibu Rahma membelai pipi putrinya.


Umaiza bangun dengan mengucek-ngucek kedua matanya dengan satu tangan.


"Ibu, Sudah sampai?" tanya Umaiza, matanya belum terbuka penuh.


"Sudah, Nak. ayo, bangun," ucap Ibu Rahma sambil mengelus kepalanya.


Rahman dan Pak Baskoro turun yang di ikuti oleh Bu Rahma dan Umaiza.


"Umaiza beres-beres apa perlu Ibu bantu?"


"Tidak usah, Bu. Barang-barang Umaiza sedikit kok. Tapi Umaiza akan shalat dzuhur dulu ya,"


"Iya, Nak. Ibu akan menemui Ibu Aisyah bersama ayah,"


"Baik, Bu,"


Umaiza masuk ke kamarnya, Ibu Rahma dan Pak Baskoro masuk ke ruangan Ibu Aisyah dan Rahman diam menunggu menemani anak-anak panti bermain.


Umaiza ke kamar mandi untuk wudhu dan shalat dzuhur. Lalu beres-beres. Rahman pergi ke mushola panti untuk melaksanakan shalat dzuhur.


Setelah selesai beres-beres, Umaiza melihat sekeliling kamar. "Kamar yang pasti kan Umaiza rindukan," ucap Umaiza pelan. Yang selama 23 tahun menjadi tempatnya beristirahat.


Lalu Umaiza setelah puas melihat setiap sudut kamarnya, Umaiza pamit sama Ibu bagian dapur dan anak-anak panti. Umaiza janji sebulan sekali akan datang ke panti bertemu mereka.


Umaiza lalu ke Ibu Aisyah, semua berkas tentang Umaiza sudah di serahkan kepada ayah dan Ibunya.


"Bu, apakah saat Umaiza di temukan Ibu. Tidak menemukan apa-apa di keranjang?" tanya Umaiza memastikan.


"Sepertinya ada, Ibu lupa," Ibu Aisyah mencari-cari keranjang bekas Umaiza pertama kali di temukan di depan teras. "Ini," di bawah selimut sepucuk surat di serahkan kepada Ibu Rahma.


Ibu Rahma menerima lalu membuka surat tersebut. Saat di buka, Ibu Rahma kaget. Tulisan yang sangat dikenalnya.


Maafkan Om, Nak.


Nak, sebenarnya kamu tidak bersalah. Namun Om minta maaf, Jika Om telah mengambilmu dan menitipkanmu ke Panti asuhan yang sangat terpencil jaraknya jauh dari kota.


Karena Om sengaja supaya orangtuamu tidak bisa menemukanmu. Om sangat membenci ayahmu karena ayahmu sudah merebut perempuan yang sangat om cintai yaitu Ibumu. Om ingin melihat mereka menderita dengan memisahkan mereka denganmu. Semoga jika kamu sudah dewasa nanti bisa mengerti om.


R.A


Ibu menangis deras dan ayah yang ikut membaca terlihat marah. Lalu ayah memeluk Ibu, tangisan Ibu semakin deras. "Rudi Antara, Yah, yang melakukan ini kepada kita," Ayah mengangguk.


Umaiza mengambil surat itu dari tangan Ibu. Dan membacanya. Lalu menatap ayah dan Ibu.


"Ibu, sudah tidak boleh sedih. Umaiza kan sudah ketemu. Tidak boleh kebencian di balas kebencian ayah. Nanti tidak akan selesai-selesai," ucap Umaiza memeluk Ibu dari belakang.


"Iya, Nak."


"Tapi Ibu tadi mengucapkan nama siapa?"

__ADS_1


"Rudi Antara, Nak," ucap Ibu berbalik ke hadapan Umaiza.


"Rudi Antara, seperti tidak asing di telinga Umaiza, tunggu sebentar, Bu"


Umaiza duduk yang di ikuti oleh ayah dan Ibu, Ibu Aisyah tetap berdiri. Umaiza membuka tas untuk mengambil leptop punya Rara. Wallpaper leptop Umaiza memang dipasang photo keluarganya.


"Yang Ini bukan, Bu?" Tanya Umaiza setelah leptopnya menyala.


Ibu memperhatikan dengan seksama begitupun dengan ayah.


"Benar, Nak. Itu Rudi Antara. Kenapa photonya ada di leptop. Leptop milik siapa ini?" tanya Ibu melihat Umaiza dengan mata sayu.


"Itu leptop milik sahabat Umaiza, Bu. Namanya Rara. Dan Rara itu anaknya Pak Rudi Antara, Biar Umaiza simpan ya suratnya,"


"Hati-hati ya, Nak. Dulu juga ayahmu dan ayah Rara itu sahabat dekat." kata Ibu memperingatkan.


"Iya, Bu,"


Setelah beres semua kami pun pamit kepada Ibu Aisyah. Umaiza menangis di pelukan Ibu Aisyah. Yang selama 23 tahun mengajarkan dan mendidik Umaiza sampai seperti sekarang. Dan kami keluar secara bersama-sama. Barang-barang Umaiza sudah dimasukkan oleh Rahman kepada bagasi.


"Yah, Umaiza izin duduk di depan ya. Siapa tahu Ibu mau istirahat di dekat ayah," Senyum Umaiza menyeringai.


"Sudah bilang saja mau dekat-dekat dengan Rahman, kok menjual Ibu," goda Ibu yang sudah bisa kembali lagi seperti sebelumnya. Perempuan ceria dan hangat.


"Aaah, Ibu. Bisa saja," ucap Umaiza dengan pipi yang memerah.


Ayah duduk di belakang bersama Ibu.


Umaiza di samping Rahman.


Umaiza mencoba membuka suara.


"Kak, kini kami tahu siapa yang telah mengambil Umaiza dan membuang ke panti,"


"Siapa memang?" masih fokus melihat ke depan.


"Ayahnya Rara,"


"Apa?" dengan nada sedikit tinggi dan menoleh ke arah Umaiza.


"Iya, Kak, Ibu panti menemukan surat, Ibu dan ayah sangat mengenal tulisannya. Dulu ayah dan ayahnya Rara bersahabat dekat. Mereka sama-sama jatuh cinta sama Ibu, namun Ibu lebih memilih ayah. Jadi ayah Rara sangat membenci ayah dan Ibu," jelas Umaiza.


"Kalau begitu kakak mengerti, namun tetap saja salah."


"Kalau itu terulang lagi bagaimana?"


"Maksud Umaiza bagaimana?"


"Rara sepertinya suka sama Kakak,"


"Kakak tidak peduli, Kakak kan sudah mau melamar Umaiza. Restu orangtua juga sudah di dapat," ucap Rahman.


"Tapi kejadian dimasa lalu ayah dan ayahnya tidak ingin terulang lagi,"


"Semoga saja, tidak akan terjadi. Kita kan punya Allah,"

__ADS_1


"Iya, Kak. Sama-sama berdo'a ya."


"Pasti, kakak akan selalu ada di samping Umaiza percayalah,"


"Terima kasih,"


Sekarang Umaiza ada perasaan lega. Mudah-mudahan apa yang di khawatirkan tidak terjadi.


Kami semua sudah sampai di rumah Pak Baskoro. Ayah dan Ibu Umaiza sudah terbangun.


Pak Baskoro jalan duluan.


Umaiza dan Ibu Rahma jalan bergandengan.


Kak Rahman di bantu ART untuk menurunkan barang-barang milik Umaiza.


Umaiza melihat rumah ayah dan ibunya sangat kagum, besar. Rumahnya modern klasik, benda-benda di ruangannya sangat artistik.


Ibu menunjukkan kamar Umaiza, yang di ikuti Rahman dan ART. Besar, rapi, bersih sangat terawat.


"Ibu, yakin suatu saat kamu akan kembali Nak, makanya kamar ini selalu di bersihkan oleh bibi."


Umaiza melihat ke dalam, di sana terlihat ada lemari khusus. Banyak kertas ucapan-ucapan di pintu itu, seperti ucapan-ucapan bertambah usianya Umaiza. Tak terasa air mata Umaiza jatuh ke pipi. Karena terharu. Meski jauh namun kasih sayang yang Ibu berikan sangat terasa.


Umaiza segera memeluk Ibu.


Rahman dan ART turun kembali ke bawah.


Barang-barang Umaiza simpan di sudut ruangan, Umaiza dan Ibu ikut turun ke bawah.


Ayah sudah ganti pakaian menggunakan pakaian santai.


"Apakah Umaiza senang melihat kamarnya?" tanya ayah Umaiza


"Iya, ayah. Umaiza senang. Terima Kasih,"


"Kalau ada yang kurang, Umaiza bilang. Apalagi Umaiza ada di lantai atas, supaya tidak bolak-balik ke bawah,"


"Iya, Ayah. Umaiza nanti bilang kepada ayah,"


"Rahman jangan dulu pulang kita makan dulu, pasti sudah lapar. Tadi siang kita lupa untuk makan,"


"Iya, Pak. Tidak apa-apa,"


"Bu, Apa di sini ada mushola?"


"Ada, di belakang,"


"Kak, ayo kita sholat dulu." ajak Umaiza pada Rahman.


Rahman mengangguk.


Kita mengambil wudhu, lalu shalat. Umaiza melihat Rahman yang tersiram air wudhu wajahnya nampak bercahaya, begitu pun dengan Umaiza.


Rahman menjadi Imam dan Umaiza menjadi makmumnya. Ketika shalat berjama'ah seperti ini menimbulkan rasa khusyuk dan ketenangan dalam hati keduanya. Apalagi jika kelak kami sudah menjadi pasangan suami-istri.

__ADS_1


__ADS_2