Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Rumah Sakit


__ADS_3

Umaiza dan Rahman pulang ke Jakarta menggunakan ambulance bersama 2 perawat dan sopir.


Mereka sampai pukul 5 pagi.


Mereka segera menuju ruangan dimana Ibu Rahma, Bunda dan Farid menunggu Pak Baskoro.


Terlihat lelah di wajah Bunda dan Ibu Rahma. Kalau Farid karena anak muda, dia masih nampak terlihat segar.


Umaiza segera menghampiri Bunda dan Ibu Rahma.


"Bunda dan Ibu lebih baik pulang ya, wajah Ibu dan Bunda terlihat begitu lelah. Istirahat dulu sejenak, biar Umaiza dan Kak Rahman yang menunggu," rayu Umaiza kepada Bunda dan Ibu, terutama Ibu.


"Iya, Ibu Rahma lebih baik istirahat dulu supaya lebih segar," lanjut bunda


"Masih belum ada kabar tentang ayah?" tanya Umaiza karena terlihat enggan meninggalkan Pak Baskoro.


"Belum, Nak, ayah masih belum sadar,"


"Apakah bisa di jenguk?"


"Belum, Nak,"


"Atau Ibu mau istirahat di mushola?"


"Iya, Ibu lebih baik istirahat di mushola saja,"


"Iya, kalau itu yang Ibu mau. Tapi Ibu harus mau makan ya?" karena melihat makanan yang Rahman berikan sebelum mengantarkan jenazah ke garut masih ada.


"Iya, Ibu mau,"


"Kalau Ibu gak mau makan, nanti Umaiza pulangkan ke rumah," goda Umaiza.


Semua tersenyum.


"Rahman bunda izin pulang dulu ya, In Syaa Allah nanti sore Bunda balik lagi sambil bawakan pakaian Rahman sama lauknya."


"Iya, Bun. Makasih ya, Bun. Farid nitip Bunda ya, hati-hati di jalan,"


Bunda dan Farid pamit kepada Ibu Rahma dan Umaiza.


Rahman mengantarkan Bunda dan Farid ke halaman rumah sakit.


Umaiza menemui perawat yang ada di meja tepat di depan ruang IGD.


"Sus, ada kabar terbaru dari Pak Baskoro?"


"Untuk saat ini masih di pantau oleh dokter,"


"Masih belum bisa di jenguk?"


"Saat ini masih belum bisa?"


"Meski hanya melihat saja, bentar kok, Sus,"


"Coba saya tanyakan kepada dokter,"


"Baik, Sus, kami tunggu disana ya?"


"Boleh, nanti kalau sudah dapat izin saya beritahukan mbak,"


"Terima kasih ya,"


Umaiza kembali lagi ke tempat Ibu Rahma.


"Ibu sudah shalat subuh?"


"Sudah,"


"Kalau begitu Umaiza pamit dulu ke mushola, nanti kita melihat ayah secara bergantian. Tapi Umaiza harap Ibu tidak menangis ya,"


"Kita bisa melihat?" penuh antusias, wajahnya sedikit ada rona bahagia.


"Semoga dokter memberikan izin ya, Bu,"


"Aamiin, Ibu ingin segera menggenggam tangan Ayah, siapa tau genggaman Ibu, Ayah akan segera sadar,"


"Aamiin yaa robb, dengan kekuatan cinta ya, Bu," sambil tersenyum.


Umaiza meninggalkan Ibu berjalan menuju mushola.


Begitu pun dengan Rahman


Mereka selesai dan keluar dari mushola secara bersamaan.


"Za, kakak mau cari sarapan dulu ya,"


"Kata Bunda, Ibu semalam tidak makan sama sekali, begitu juga dengan Za,"


"Kakak saja duluan yang cari sarapan, nanti Umaiza dan Ibu pergi ke kantin. Kalau makan di ruangan takutnya Ibu juga kurang selera,"


"Begitu lebih baik, nanti kita secara bergantian menunggu Pak Baskoro,"


"Iya, Kak,"


Rahman pergi ke kantin, Umaiza kembali lagi ke ruangan tunggu yang ada di IGD.


"Suster apakah sudah kesini?"

__ADS_1


"Iya, barusan kesini. Alhamdulillah kita di beri izin masuk, namun harus satu orang satu orang,"


"Ibu saja duluan, nanti sudah Ibu baru Umaiza,"


Umaiza menggandeng tangan Ibu untuk menemaninya sampai pintu IGD.


Ibu masuk ke ruangan


"Sus, apakah ruangan ICU penuh?"


"Iya, Mbak, penuh. Tadinya Pak Baskoro akan dimasukkan k ruangan ICU supaya berada dalam pengawasan penuh dokter,"


"Begitu ya,"


Umaiza masih setia menunggu Ibu Rahma di depan pintu.


"Sus, Sus, Suuuusss," teriak Ibu di dalam.


Umaiza dan Perawat pun segera masuk ke dalam.


"Iya, Bu, kenapa?" tanya perawat kaget


"Tangan Pak Baskoro bergerak,"


"Baik, saya akan laporkan kepada dokter,"


"Alhamdulillah, ya Allah," Ucap Umaiza.


Benar dengan kekuatan cinta, Syariatnya melalui genggaman tangan Ibu, Ayah bisa keluar dari masa kritisnya.


Dokter segera masuk ke ruangan.


Umaiza dan Ibu di minta untuk keluar


Namun tangan Ayah memegang tangan Ibu dengan kuat.


Ibu menoleh ke belakang, Ayah tersenyum.


"Jangan tinggalkan Ayah," ucap Ayah kepada Ibu.


"Umaiza," lirih ayah dengan terbata-bata.


"Iya, Ayah, Ibu dan Umaiza ada disini menemani ayah,"


"Rahman mana?"


"Kak Rahman ada di kantin,"


"Ayah, izinkan dokter memeriksa Ayah. Kami ada disini menunggu ayah," pinta Ibu kepada Ayah yang merasa khawatir dengan keadaan ayah.


"Ayah ingin bicara kepada Umaiza dan Rahman, Ayah tidak banyak waktu lagi,"


Umaiza dan Ibu memberikan ruang kepada dokter untuk memeriksa Pak Baskoro


Setelah di periksa, Ayah menyebutkan lagi nama kami berdua yaitu Umaiza dan Rahman.


"Saya sarankan, ikuti saja apa yang di inginkan oleh Pak Baskoro," ucap dokter setelah memeriksa Pak Baskoro.


"Apa maksud dokter?" ucap Umaiza yang kaget mendengar pernyataan dokter


"Harapan untuk membaik sangatlah sedikit hanya 30%, selagi ada waktu dan kesempatan maka ikuti saja apa yang di inginkan oleh beliau," jelas dokter


Ibu Rahma menangis histeris.


Umaiza menahan tangisnya untuk memberikan kekuatan untuk ayah dan Ibu.


Umaiza segera menghubungi Rahman.


"Kak, makannya sudah selesai? Bisa segera ke ruangan ayah?" saat telepon sudah di angkat oleh Rahman


"Sudah, Za, bentar lagi, Kakak kesana,"


Umaiza dan Ibu Rahma kembali mendekat kepada Ayah.


Umaiza mencoba menghibur ayah.


"Anakku sayang, bisa kah Ayah meminta sesuatu?" dengan suara yang sangat pelan


"Apa Ayah, selama Umaiza mampu, Umaiza akan memenuhi keinginan ayah,"


"Ayah ingin Umaiza menikah sekarang juga di hadapan ayah, apakah Umaiza mau?"


"In Syaa Allah Umaiza siap, begitu pun dengan Kak Rahman," jawaban Umaiza tanpa ragu.


"Alhamdulillah, Ayah tidak mau sesuatu terjadi pada kalian,"


" Iya, Ayah. Namun siapa yang akan mengganggu Umaiza dan Kak Rahman?" tanya Umaiza penasaran dengan nada yang pelan


"Rama,"


Deg, Umaiza bagai di sambar petir. Ketika Ayah mengucapkan kata Rama yang akan mengganggu hubungan kami.


"Rama ssssudddaaaah, mengancam aaaayyyyaaah,"


"Astagfirullah," ucap Umaiza, "jangan-jangan kecelakaan ayah?" merasa curiga


"Iya, keeemmaaarrriiiin, ketika aaaayyyah seddddang di proooyyyek dia menghubbbbungi ayah. Kalau tidak merestui Umaiza dengannya, dia akan melakukan hal yang tidak terduga,"

__ADS_1


"Lalu ayah?"


"Ayah menolaknya dan ini hasilnya,"


Umaiza tertunduk merasa dosa, telah membuat ayah seperti ini, bahkan Pak Sobur kehilangan nyawanya hanya karena dirinya.


"Rama," ucap Umaiza dengan nada marah


"Di mobil ayah ada CCTV coba nanti Umaiza cek, apa sebenarnya yang terjadi pada mobil ayah,"


"Baik, Yah,"


Rahman tiba di ruangan Pak Baskoro.


"Rahman nikahi Umaiza sekarang di hadapan saya,"


Rahman mengangguk penuh kepastian.


Karena Rahman tidak ingin berdebat, apalagi keadaan Pak Baskoro sedang lemah.


Rahman menelepon Bunda.


"Assalmu'alaikum, Bunda,"


"Wa'alaikummussalaam, iya Rahman ada apa?"


"Bunda bisa kesini dengan Farid?"


"Sekarang?"


"Iya, Bun. Pak Baskoro menginginkan Rahman untuk menikahi Umaiza sekarang juga. Rahman minta tolong, Bunda bawakan mahar, perhiasan dan baju pengantinnya Rahman,"


"Baik, Nak. Nanti akan Bunda bawakan. Bunda kesana bersama Farid,"


"Iya, Bun, kalau bisa naik taxi online saja,"


"Iya, Bunda siap-siap dulu,"


Begitu juga dengan Umaiza, meminta bantuan kepada Bi Marni untuk mengantarkan baju pengantin dan baju ganti untuk Ibu Rahma ke rumah sakit.


Umaiza pun memberitahu Rara, kalau dirinya akan segera menikah di rumah sakit. Dan menginginkan Rara untuk berada di sampingnya.


Umaiza pun tidak lupa menghubungi Ibu Aisyah dan meminta bantuan kepada suami Ibu Aisyah, yaitu Pak Doris untuk menjadi penghulu di pernikahannya.


Kebetulan Pak Doris itu pegawai KUA yang biasa menikahkan para pengantin.


Pak Baskoro meminta Rahman untuk menghubungi pengacara pribadinya.


Umaiza inisiatif untuk menemui dokter.


"Dok, apakah ayah bisa di pindahkan ruangannya?"


"Bisa, mau ke ruangan VVIP?"


"Iya, dok,"


"Sangat bisa, namun dengan syarat peralatan medisnya harus tetap terpasang ya,"


"Baik, dok, sekalian saya mau minta izin untuk menikah di ruangan ayah,"


"Ayah menginginkan itu?"


"Iya, dok,"


"Boleh, nanti saya bantu izinkan kepada security untuk membantu menjaga ketertiban dan ketenangan selama acara berjalan,"


"Terima kasih dok,"


"Sama-sama, sekarang silahkan Mbak, hubungi bagian administrasinya,"


Umaiza segera mengurus administrasinya.


Ibu Rahma tetap setia berada di samping Pak Baskoro.


Rahman membantu perawat untuk memindahkan Pak Baskoro ke ruangan VVIP.


Bi Marni sudah sampai di rumah sakit, karena jarak yang terhitung dekat dari rumah Pak Baskoro.


Rara pun sudah sampai bersama kedua orang tuanya yaitu Rudi Antara


"Umaiza sini Rara bantu untuk siap-siap,"


"Terima kasih, Ra,"


Umaiza dan Rara mencoba mempersiapkan segala sesuatunya di kamar mandi yang ada di ruangan Pak Baskoro.


Rudi Antara menemui Ibu Rahma dan Pak Baskoro yang di dampingi oleh istrinya.


"Saya baru tahu kalau Umaiza itu anak kalian," ucap Rudi Antara, "Maafkan saya yang pernah tidak berlaku adil kepada kalian. Yang di butakan oleh cinta," Sambung Rudi Antara


"Sudah lupakan semua, mungkin ini sudah takdir kami," sela Pak Baskoro


"Saat bertemu pertama kali dengan Umaiza ada perasaan yang berbeda di banding kepada teman-teman Rara lainnya. Ternyata naluri tidak salah, Umaiza itu anak dari sahabat lama yang telah Rudi khianati," sesal Rudi Antara


Ibu Rahma dan Pak Baskoro tersenyum lebar. Saat mendengar apa yang dirasakan Rudi Antara sama halnya dengan yang mereka rasakan ketika pertama kali bertemu dengan Umaiza.


"Sahabat kita baru ketemu, ayo semangat sehat kita akan habiskan masa tua kita bersama," Rudi Antara memberikan semangat.

__ADS_1


Istrinya hanya terdiam melihat keakraban mereka.


Bunda dan Farid sudah sampai di rumah sakit begitu juga dengan Bu Aisyah dan Pak Doris.


__ADS_2