Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Tepati Janji


__ADS_3

Umaiza sudah tertidur ketika Rahman masuk ke dalam kamar. Rahman berjalan pelan karena takut Umaiza terbangun.


Menyimpan hp lalu pergi ke kamar mandi untuk wudhu dan bersih-bersih.


Mendirikan shalat


Mengganti pakaian dengan baju tidur.


Rahman mengambil buku dari dekapan Umaiza dan mencium kening Umaiza.


Rahman berbaring di samping Umaiza dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Umaiza.


Rahman memandang wajah Umaiza yang begitu tenang dan terpancar kecantikan dari dalam hatinya.


"Terima kasih ya Robb, telah memberikan jodoh yang begitu mendekati sempurna untukku," ucap Rahman.


Rahman mengusap kepala Umaiza.


Rahman terus menatap wajah istrinya yang cantik. Lama tidak memejamkan matanya.


Umaiza bergerak dengan spontan Rahman kaget.


"Kak, belum tidur?" tanya Umaiza sambil berbalik ke arah Rahman.


"Belum, kenapa Za bangun?"


"Kakak suka memandang Za secara diam-diam," ucap Umaiza sambil membuka matanya.


"Habis Za, dalam tidur saja menggoda Kakak apalagi kalau lagi bangun,"


"Tambah menggoda ya?" goda Umaiza mengambil posisi duduk dan mengikat rambutnya.


"Kenapa di ikat, Za itu cantiknya kalau rambut di urai," sambil membuka ikatan rambut Umaiza.


"Jadi kalau lagi pakai kerudung Umaiza tidak cantik ya?" sambung Umaiza.


"Kalau itu sangat cantik,"


"Alhamdulillah,"


Rahman mendekati tubuh Umaiza dan duduk di sampingnya. Umaiza menjatuhkan kepalanya di bahu Rahman.


Kepala Rahman mendekat ke wajah Umaiza, lalu mencium kening dan kedua pipinya. Serta mengecup bibir mungil Umaiza.


"Siap?" tanya Rahman


Umaiza mengangguk pelan.


"Bismillah, Lahawla ya," ucap Rahman


"Iya, Kak, Umaiza ambil susu dulu ya?"


"Iya, Kakak tunggu disini,"


Umaiza ke dapur untuk mengambil dua gelas susu.


Kembali ke kamar lalu memberikan satu gelas susu kepada Rahman dan satu lagi untuk dirinya.


Sekarang giliran Rahman untuk menyimpan gelas bekas susu.


Umaiza siap-siap.


Rahman datang langsung memeluk Umaiza dari belakang dan mencium pundak serta tengkuknya.


Rahman membisikkan do'a ke telinga Umaiza. "Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa. Yang artinya: Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami"


Mendengar itu hati Umaiza berdebar. Lalu membalikkan badannya untuk mengahadap Rahman.


Rahman mencium bibir Umaiza dan lalu membawanya ke atas tempat tidur. Selanjutnya....


(Layar di tutup, karena author gak berani mengintip takut matanya author bintitan🤭🤭🤭 dan lagi author takut dosa kalau harus menceritakan adegan ranjang, xixixi)


"Terima kasih," ucap Rahman sambil mengecup kening Umaiza setelah mendapatkan hak dan kewajibannya.


"Sama-sama, Kak," dengan tersenyum bahagia karena dapat menepati janji.


Rahman bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dan wudhu. Setelah itu Umaiza melakukan hal yang sama.


Mereka langsung tidur untuk istirahat, menyiapkan tubuh supaya besok fresh kembali dan siap untuk bekerja.


Mereka tidur dengan lelap dan sambil berpelukan.


Alarm berbunyi seperti biasanya pukul 03.30.


Umaiza bangun duluan dam mematikan alarm hp nya.


"Astagfirullah, kok terasa ngilu ya di bagian ************?" tanya Umaiza dalam hati saat melangkahkan kakinya.


Umaiza mencoba untuk jalan, selangkah, dua langkah masih merasa ngilu dan sakit. Umaiza menangis tanpa suara.


Rahman terbangun dan mencari Umaiza, di ambilnya hp di dekat lampu tidur. Waktu menunjukkan pukul 03.45.


Rahman mencoba mengetuk pintu, karena Umaiza sama sekali terdengar di dalam kamar mandi.


"Za," panggil Rahman sambil mengetuk pintu.

__ADS_1


Dari dalam tidak ada suara.


"Za," panggil Rahman lagi sambil mencoba membuka pintu.


Umaiza sedang meringis kesakitan di dekat shower.


Rahman mendekat dengan perasaan khawatir.


"Za, kenapa?"


"Za, merasakan kesakitan Kak, ketika jalan dan kena air,"


"Apa efek dari semalam?"


"Sepertinya, Kak,"


"Apa Kakak keterlaluan ya, semalam?"


"Tidak, Kak, sepertinya di sebabkan karena Za, masih dara,"


"Kakak minta maaf ya, tidak hati-hati, apakah sudah selesai mandi wajibnya?"


"Sudah, Kak,"


Rahman mengambil handuk untuk membalut tubuh Umaiza, lalu menggendongnya ke kamar.


"Kakak, janji. Kedepannya akan hati-hati,"


Umaiza hanya terdenyum mendengar ucapan Rahman.


Rahman membantu Umaiza untuk menyiapkan pakaian dan membantu memakaikannya kecuali dalaman.


Setelah selesai membantu Umaiza, Rahman pergi ke kamar mandi.


Adzan berkumandang Rahman dan Umaiza melaksanakan sholat berjama'ah.


Dzikir dan tadarusan sebentar.


"Za, masih sakit?"


"Sekarang tidak terlalu Kak,"


"Kalau begitu, Za, istirahat saja dulu supaya waktunya bekerja nanti sudah benar-benar fit. untuk sarapan biar Kakak saja yang menyiapkannya,"


"Terima Kasih ya, Kak,"


"Iya, Za, siap-siap saja dulu,"


Umaiza siap-siap untuk pergi ke kantor, Rahman ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


"Kak, sudah beres?" tanya Umaiza kepada Rahman.


"Tinggal sedikit lagi,"


"Sini sama Umaiza saja, Kakak siap-siap sana,"


"Benar, Za, udah enakan?"


"Udah, Kak,"


"Ya, sudah. Ini tinggal menggoreng nasi saja, bumbunya sudah Kakak siapkan,"


"Baik, Kak, siap,"


Umaiza membereskan masak nasi goreng dan mencuci piring bekas masak.


Ibu datang.


"Harum sekali Nak, masak apa?"


"Nasi goreng, Bu,"


"Sudah siap untuk bekerja mengemban amanah dari Ayah?"


"In Syaa Allah, Bu, meski terasa mimpi,"


"Semangat ya,"


"Iya, In Syaa Allah, dulu memang bermimpi ingin menjadi wanita karier bekerja di perusahaan besar. Tapi tidak menyangka bisa langsung menduduki posisi wakil direktur dan pemiliknya orangtua Umaiza,"


"Takdir Allah, Nak,"


Nasi goreng sudah siap di sajikan dan di simpan di meja makan. Beserta telor ceplok, mentimun dan tomat yang di iris.


Rahman sudah rapi dan siap untuk sarapan.


Umaiza menyiapkan air putih hangat dan jus jeruk.


Mereka sarapan bersama.


Setelah selesai sarapan, Umaiza akan membereskan piring namun di larang oleh Ibu.


"Umaiza biar sama Ibu saja, Umaiza siap-siap saja ke kantor. Rapihkan kembali,"


"Tidak apa-apa, Bu?"

__ADS_1


"Tidak, Sayang, Umaiza sekarang atasan mereka harus lebih rapi dan cantik di bandingkan karyawan. Dan takutnya kesiangan sampai kantor,"


"Iya, Bu, terima kasih," ucap Ibu sambil ke kamar dan merapihkan pakaian, make up serta kerudungnya. Ketika semua di rasa sudah oke, Umaiza keluar kamar.


"Umaiza kapan akan belajar mobil?"


"Nanti ya, Bu, kalau semuanya sudah selesai,"


"Iya, saran Ibu, Umaiza harus bisa naik mobil supaya kalau ada urusan kerjaan tidak mengganggu Rahman,"


"Iya, Bu, Umaiza mengerti."


Sebenarnya Umaiza bisa mengendarai mobil namun masih belum ada keberanian jika harus ke jalan raya yang ramai kendaraan.


"In Syaa Allah, secepatnya ya, Bu,"


"Iya, Nak,"


Umaiza dan Rahman pamit kepada Ibu untuk pergi ke perusahaan.


Begitu juga kepada Bunda, Umaiza dan Rahman pamit. Farid sudah lebih dulu pergi.


"Farid semangat juga ya?" ucap Umaiza kepada Rahman.


"Iya, Seperti Kakak nya," Jawab Rahman sambil tersenyum.


"Ah, bilang saja kalau cemburu Za, memuji Farid,"


"Ya, kalau memuji Farid sih gak apa-apa, tapi kalau memuji laki-laki lain di hadapan Kakak, lihat saja,"


"Gak takut, kalau hanya lihat saja mah,"


Mereka masuk mobil dan Rahman segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Kak, nanti kalau pulangnya, Za yang bawa ya?"


"Bawa apa?"


"Mobil," jawab Umaiza singkat.


"Mau belajar?"


"Iya, Kak, sebenarnya Za sudah bisa. Namun belum berani ke jalan raya,"


"Duh, ternyata istri kakak ini. Penakut juga," ledek Rahman


"Kakak," dengan nada manja


"Iya-iya, nanti sama Kakak di dampingi ya,"


"Makasih, suamiku,"


"Iya sama-sama istriku,"


Mereka sudah sampai di perusahaan.


Rahman dan Umaiza segera menghubungi direktur dari beberapa divisi termasuk HRD dan manajer-manajer serta para pemegang saham.


Pemegang saham terbesar hampir 80% yaitu Pak Baskoro secara otomatis di wariskan kepada Umaiza.


Jadi untuk pengambilan keputusan terbesar berada di tangan Umaiza.


Tidak lama mereka pun tiba di ruang meeting.


Suasana terasa gaduh karena sebagian dari mereka meeting tidak tahu, pertemuan kali ini, akan membahas masalah apa.


Namun saat Umaiza dan Rahman masuk ke dalam ruangan begitu juga dengan Farid dan Rara. Semuanya senyap tanpa suara terasa seperti di kuburan.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi semuanya," Sapa Rahman.


"Wa'alaikummussalaam," jawab mereka


"Pagi," jawab yang lain.


"Maaf, saya mengadakan pertemuan yang mendadak karena ada satu dua hal yang akan kami sampaikan."


Tidak ada suara


"Perkenalkan ini Umaiza istri saya sekaligus putrinya Pak Baskoro. Mungkin sebagian dari kalian ada yang tidak tahu atas musibah yang menimpa kepada pimpinan kita yaitu Pak Baskoro,"


Suasana sedikit gaduh, karena sebagian dari mereka menerka-nerka.


"Pak Baskoro mengalami kecelakaan dan meninggal, jadi perusahaan ini akan di ambil alih oleh Umaiza putri dari Pak Baskoro,"


Semua pandangan tertuju kepada Umaiza.


"Iya, perkenalkan saya Umaiza. Mungkin saya terlalu dini untuk memimpin perusahaan oleh karena itu saya dan Ibu saya, untuk yang menggantikan Ayah yaitu Pak Rahman. Saya akan menduduki posisi Pak Rahman yang sebelumnya. Kami mohon kerja sama nya, supaya bisa mewujudkan cita-cita kita bersama. Yaitu perusahaan bisa lebih maju dengan pesat,"


Semuanya mendengarkan kata-kata Umaiza setelah Umaiza selesai mereka bertepuk tangan tanda setuju dengan keputusan dan ucapan Umaiza.


"Dan Saya sekarang membawa dua orang rekan yang akan menggantikan posisi Pak Bima dan Pak Rama. Mungkin untuk selanjutnya masalah ini akan saya dan Bu Umaiza bahas bersama Direktur HRD," Jelas Rahman


"Siap, Pak," jawab direktur HRD.


"Sekian pertemuan kali ini, saya ucapakan terima kasih, assalamu'alaikum, selamat bekerja kembali,"

__ADS_1


"Wa'alaikummusalaam," Jawab mereka sambil berdiri dan meninggalkan ruangan meeting, kecuali direktur HRD.


__ADS_2