
Rahman tidak banyak bicara, disini Rahman hanya mengantar Umaiza. Biarkan istrinya menjawab semuanya, kecuali kalau ibunya Alifa tidak menerima apa yang di ucapkan Umaiza, Rahman akan meluruskannya.
"Ayah, tidak lepas tangan, Bu, beliau membantu semua kebutuhan Ibu dan anak-anaknya sebagai rasa kemanusiaan. Bahkan Alifa bisa bekerja di perusahaan Ayah karena rekomendasi darinya. Kalau Ibu tidak percaya Pak RT yang jadi saksinya,"
Pak RT mengangguk, "Iya, saya saksinya. Karena saya jadi perantara Pak Baskoro,"
"Kenapa bukan dirinya saja yang datang memberikan langsung kepada kami?" tanya Ibu itu tidak percaya
"Karena Ayah tidak ingin menambah masalah, kebencian ibu dan keluarga yang sudah menutupi kebenaran, jadi Ayah meminta bantuan kepada ketua RT" jawab Umaiza tegas.
"Kalau Ibu tidak percaya, saya memiliki bukti-bukti transfer dari Pak Baskoro," Kata Pak RT menengahi antara ibunya Alifa dan Umaiza.
"Mana buktinya," tantang Ibunya Alifa.
"Ini, Bu," Pak RT memberikan semua bukti transaksi selama lima tahun.
Ibu itu terdiam dan meneteskan air matanya, kini dia percaya akan kebaikan Pak Baskoro.
"Semuanya sudah terlanjur, Alifa pantas di penjara," akhirnya menyadari.
"Saya bisa saja membebaskan Alifa, asal Alifa kooveratif dalam menghadapi masalahnya. Jujur terhadap kami dan polisi, dan mengakui semuanya. Meninggalnya Ayah, kami sudah terima dengan Ikhlas, semua ini adalah takdir Allah. Sedangkan Alifa masa depan masih panjang, saya tidak ingin dia menghabiskan masa mudanya di dalam penjara,"
"Sungguh mulia hatimu Nak, sekarang saya tambah yakin Pak Baskoro orang baik. Karena putrinya pun sangat baik, saya sungguh menyesal atas semuanya,"
"Terima kasih, Bu, sudah percaya. Sekarang silahkan Ibu dan Alifa berdiskusi mau bagaimana. Mau bebas atau ingin terus disana?"
"Baik, nanti saya akan menemui Alifa,"
Rahman dan Umaiza pamit pulang, begitu juga dengan Pak RT dan meninggalkan kediaman Alifa.
"Terima kasih, Pak, sudah mau mengantar kami untuk menjelaskan semuanya kepada Istri Pak Sanusi sekaligus Ibu dari Alifa," ucap Rahman
"Sama-sama, Pak, sudah menjadi kewajiban saya membantu warganya,"
"Kami pamit pulang, Pak,"
Umaiza dan Rahman salaman kepada Pak RT.
Pak RT mengantar sampai mobil.
Umaiza dan Rahman masuk ke dalam mobil. Dan segera melajukan mobilnya.
Rara dan Farid sudah siap siaga menunggu di ujung jalan.
Umaiza menghubungi Rara.
Sambungan terhubung.
__ADS_1
"Rara, langsung jalan ya, semuanya sudah beres. Besok pagi kami mau ke kantor polisi untuk menyerahkan buku harian milik Ayah,"
"Alhamdulillah, siap nanti kami ikut lagi," ucap dari seberang.
Sambungan telepon terputus.
Rahman sudah melewati mobil Rara dan Farid.
Rara dan Farid parkir lalu mengikuti dari belakang.
"Kak, Ibu Alifa menakutkan,"
"Iya, Kakak juga sempat takut. Tapi Kakak kagum sama Umaiza lagi-lagi bisa menjelaskan dengan tenang sehingga bisa meredakan amarah Ibunya Alifa,"
"Padahal Umaiza gemetar loh, Kak, tidak kelihatan ya?"
"Tidak, Kakak melihatnya sangat tenang meski ada beberapa kata yang di tekan saat bicara tadi,"
"Ya, mungkin itu, saat Za sedang gemetar,"
"Bisa jadi," sambil tersenyum.
"Ngomong-ngomong lapar, Kak, barusan sudah bicara panjang lebar," ucap Umaiza sambil mengelus perutnya.
"Mau makan dimana?"
"Dimana saja, Kak, yang penting enak, sehat dan halal," jawab Umaiza sambil nyengir.
"Ayo, Za, dah lama tidak makan di pinggir jalan," jawab Umaiza dengan antusias dan bahagia.
Umaiza ambil hp lagi
π¨ Ra, kita makan pecel lele dulu di pinggir jalan
Tidak butuh lama Rara langsung membalas pesan dari Umaiza
π© Siaap 45, dah lama kita tidak nongki-nongki.
Umaiza tersenyum membaca balasan pesan dari Rara.
"Kenapa Za?"
"Kata Rara siap 45,"
Rahman pun ikut tersenyum.
"Kak pecel lele yang disana saja, enak," tunjuk Umaiza
__ADS_1
"Pernah mencoba?"
"Pernah, ini kan dekat rumah Rara, jadi sering makan disana,"
"Kakak, baru tahu, Rara rumahnya daerah sini,"
Rahman menepikan mobilnya lalu mematikan mesinnya.
Umaiza turun duluan begitu juga dengan Rara. Rahman dan Farid belakangan.
"Umaiza mampir dulu ke rumah yuk, nanti. Ayah dan Ibu kangen katanya,"
"Boleh, sekalian mengantar Rara pulang. Biar Farid nanti ikut pulang bareng kami,"
"Bukan ide buruk,"
Rahman dan Farid sudah bergabung dengan Rara dan Umaiza.
"Kak, nanti kita mengantarkan Rara pulang ya, biar Farid pulang bareng kita,"
"Iya, Za," jawab Rahman.
Mereka masuk ke dalam tenda pecel lele, lalu duduk dan memesan beberapa menu. Tidak membutuhkan waktu yang lama makanan pun sudah siap untuk di santap.
Mereka makan bersama.
Makan malam selesai, Rahman membayar semua makanan.
Rahman masuk ke mobil menyusul Umaiza dan segera membawa mobilnya ke rumah Rara, Farid mengikuti dari belakang.
Sampai di rumah Rara, Rahman berhenti di depan gerbang.
Gerbang di buka, Farid membawa mobilnya ke dalam halaman rumah Rara. Rahman menunggu Farid.
Rara menghampiri Umaiza yang tidak turun dari mobil.
"Ra, kayaknya silaturahim ke rumahnya lain waktu saja. Salam kepada Ibu dan Ayahnya Rara, Sekarang sudah malam, khawatir sama Ibu,"
"Iya, Umaiza, gak apa-apa. Rara mengerti, nanti Rara sampaikan kepada Ibu dan Ayah,"
Farid masuk ke dalam mobil Rahman.
"Terima kasih ya, Kak, sudah mengantarkan Rara pulang. Farid juga ya,"
Rahman mengangguk sambil tersenyum.
"Yuk, Ra, Umaiza pulang dulu,"
__ADS_1
"Iya, Umaiza, hati-hati di jalan," Rara menunggu di depan gerbang sampai mobil Rahman menghilang.
Pintu gerbang di tutup.