
Rahman sudah sampai di rumah sakit. Rahman segera bergegas menuju ruangan tunggu di IGD, Ibu Rahma dan Umaiza tidak nampak disana.
Rahman menunggu dengan setia di ruangan tersebut.
Ibu Rahma dan Umaiza keluar dari lorong sebelah kanan IGD, Rahman segera menghampiri dan memapahnya ke kursi.
"Kakak, sudah pulang?" tanya Umaiza
"Iya, Za dan Ibu dari mana?"
"Dari ruangan dokter, ayah, Kak, ayah," ucap Umaiza
Ibu Rahma hanya menangis.
"Apa yang terjadi dengan Pak Baskoro?"
"Ayah, kritis. Ada pendarahan di kepala akibat benturan. Mau ambil tindakan operasi, tidak memungkinkan karena kondisi ayah yang masih drop," jelas Umaiza sambil menangis dan merangkul Ibu.
Ibu menangis di bahu Umaiza.
"Innalillahi wa inna illaihi roji'un, sekarang untuk sementara penanganan apa yang dilakukan oleh dokter?"
"Sekarang sedang fokus untuk kesadaran dan kondisi membaik dari sekarang."
"Semoga Pak Baskoro segera sadar dan kondisinya membaik,"
"Aamiin, Kak." Umaiza dan Ibu Rahma secara bersama mengaminkan ucapan Rahman.
"Kak, Pak Sobur meninggal. Sekarang masih ada di ruang jenazah,"
"Apakah sudah di kasih tahu keluarganya?"
"Ibu tidak sampai hati menghubungi keluarganya," ucap Umaiza sambil mengusap air mata yang melintasi pipinya.
"Kalau begitu kakak lihat dulu Pak Sobur di kamar jenazah, kalau sudah pasti, kakak yang hubungi keluarganya,"
"Terima kasih, Kak,"
"Za, tidak usah sungkan seperti ini,"
"Iya, Kak,"
Rahman mengecek ke ruang jenazah,
"Ada yang bisa di bantu?" tanya petugas ruang jenazah
"Saya mau melihat korban kecelakaan di jalan Cempaka tadi sore,"
"Baik, ayo ikuti dengan saya," penjaga ruangan jenazah tersebut membuka pintu.
Rahman mengikuti dari belakang.
"Apakah ini yang Bapak maksud?" tanya penjaga dengan membuka kain kafan
Rahman mengedipkan matanya karena masih belum siap jika yang akan di lihat itu Pak Sobur, sopir yang sangat loyal terhadap Pak Baskoro. Jarang pulang meski hanya sekedar menengok keluarganya di kampung.
Izin pulang kampung 1 bulan sekali terkadang bisa sampai 2 atau 3 bulan sekali. Dan tidak pernah lama, kecuali hari raya.
Pak Sobur memiliki 3 anak, yang benar-benar sedang membutuhkan banyak uang. Anak yang pertama laki-laki masih kuliah tingkat III, anak kedua perempuan SMA kelas XI, anak ketiga perempuan lagi baru kelas VIII.
Entah bagaimana nasib mereka nanti, sedangkan istrinya hanya Ibu Rumah tangga. Akankah apa yang terjadi pada dirinya saat itu, kembali di rasakan oleh keluarga Pak Sobur?.
Rahman mencoba membuka matanya sedikit demi sedikit, setelah matanya terbuka semua dan memastikan kembali. Ternyata apa yang Rahman lihat, jenazah Pak Sobur adanya,"
"Iya, Pak, jenazah ini keluarga kami," ucap Rahman mencoba tenang.
"Kalau begitu silahkan urus semua administrasinya,"
"Baik, Pak,"
Rahman keluar dari ruangan jenazah.
Segera kembali ke ruangan dimana Ibu Rahma dan Umaiza berada.
"Bagaimana, Kak?"
"Iya, benar. Pak Sobur meninggal,"
"Ya Allah,"
"Sabar ya, Za, kakak akan telepon keluarganya dulu. Takutnya mereka kaget jika langsung jenazahnya di antar kesana,"
"Iya, Kak,"
Rahman sudah dekat dengan Pak Sobur, sehingga kontak keluarganya pun sudah dimiliki Rahman.
Rahman menghubungi keluarga Pak Sobur
__ADS_1
Telepon tersambung
"Assalamu'alaikum," ketika telepon sudah terhubung
"Wa'alaikummussalaam, Nak Rahman bagaimana kabarnya?" jawaban dari seberang
"Alhamdulillah, baik bu,"
"Alhamdulillah, Ibu disini senang dengarnya," suara istri Pak Sobur terdengar ramah dan baik.
"Ibu, disana kabarnya bagaimana?"
"Disini juga alhamdulillah, baik-baik saja. Namun dari sore tadi hati Ibu merasa tidak enak hati. Menghubungi Bapak tidak aktif, apakah Bapak baik-baik saja?" tanya Istri Pak Sobur seperti mendapatkan firasat.
"Maafkan saya, Bu, saya mau memberikan kabar tidak baik. Mengenai Bapak dan Pak Baskoro,"
"Apa yang terjadi dengan beliau dan Bapak?" tanyanya lagi dengan suara cemas.
"Bapak kecelakaan saat akan pulang ke rumah, Bapak meninggal di tempat sedangkan Pak Baskoro sedang kritis," jelas Rahman
Rahman termasuk orang yang terus terang.
"Innalillahi wa inna illaihi roji'un," ucap dari seberang setelah mendengar kabar duka namun nampak tegar tidak terdengar jeritan atau tangisan histeris.
"Ibu dan anak-anak yang sabar ya, In Syaa Allah jenazah malam ini akan saya antarkan ke kampung,"
Pak Sobur tinggal di Garut, kalau perjalanan lancar dari Jakarta ke Garut membutuhkan waktu 4-6 jam.
"In Syaa Allah, kami akan ikhlas, baik Nak Rahman, Ibu dan anak-anak tunggu. Semoga perjalanannya lancar sehingga jenazah Bapak bisa segera di kebumikan," tetap berbicara dengan tenang
"Aamiin, Bu,"
Sambungan telepon pun terputus.
"Kakak kesana mau sama siapa?"
"Za, mau ikut?"
"Kalau Za, ikut, bagaimana dengan Ibu?"
"Kakak akan minta bantuan Bunda dan Farid untuk menemani Ibu,"
Umaiza mencoba berbicara dengan Ibu.
Ibu mengizinkannya untuk pergi, sebagai perwakilan keluarga.
"Iya, Nak,"
"Kalau ada tindakan yang harus dilakukan mendesak untuk kebaikan ayah, Ibu tidak ragu untuk mengambil keputusan,"
"Iya, Nak."
Rahman menghubungi Bunda,
Bunda pun menyetujui dan akan segera pergi ke rumah sakit bersama Farid.
Umaiza menunggu Bunda dan Farid
Rahman mengurus administrasi Pak Sobur dan sekalian menyewa Ambulance bersama 2 perawat untuk menemaninya di ambulance.
Pak Sobur di mandikan di rumah sakit, jenazahnya sudah rapi di kain kafan, supaya saat nanti sampai di kampung segera di sholatkan dan di makamkan.
Butuh waktu setengah jam Bunda dan Farid untuk sampai di rumah sakit. Rahman tidak lupa memesankan makanan untuk mereka terutama Ibu Rahma dan Umaiza.
"Bunda, maaf Umaiza merepotkan,"
"Tidak apa-apa, Nak, kita memang sudah menjadi keluarga, Umaiza jangan pernah sungkan,"
"Iya, Bunda. Umaiza titip Ibu ya," Ucap Umaiza, "Farid, kakak titip Bunda dan Ibu,"
"Siap, Kak,"
"Semua sudah siap, Rahman dan Umaiza pamit dulu mau mengantarkan jenazah Pak Sobur,"
"Iya, hati-hati di jalan," ucap Bunda
Ibu Rahma hanya mengangguk dengan pandangan kosong.
"Ibu, makan ya, Umaiza mohon, demi kesehatan Ibu. Nanti ayah sadar Ibu malahan sakit. Nanti ayah sedih jika mendengarnya," pinta Umaiza sebelum pulang.
Ibu Rahma mengangguk.
"Susu kurma dulu ya, supaya ibu tidak lemas," kata Umaiza sambil memberikan botol kaleng yang isinya susu kurma.
Ibu meminumnya, hati Umaiza sedikit lega dan tenang untuk meninggalkan Ibu.
Umaiza mencium tangan Ibu lalu Bunda.
__ADS_1
Rahman mengikuti hal yang sama.
Mereka berdua pergi meninggalkan ruangan dan menuju ambulance.
Jenazah dan perawat sudah ada di dalam.
"Bismillahitawakaltu lahawla walla kuwwata illa billah," do'a Umaiza saat akan masuk kedalam ambulance.
Begitu pun dengan Rahman.
Umaiza duduk di samping Rahman.
Perjalanan begitu lancar, ambulance pun di kendarai dengan kecepatan sedang. Malam telah larut, Jalan sudah semakin gelap.
Umaiza sudah mulai mengantuk
"Sudah ngantuk, Za?" tanya Rahman ketika melihat Umaiza menyandarkan kepalanya ke belakang
"Iya, Kak," dengan suara sangat pelan
"Pasti cape ya, sini sandaran di bahu kakak, biar nyaman,"
Umaiza tidak berdebat dan segera menyandarkan kepalanya di bahu Rahman.
Sepanjang perjalanan Rahman terjaga untuk menjaga Umaiza sang calon istri dan jenazah Pak Sobur.
Ambulance sudah melewati tol Cileunyi sekarang sedang menyusuri jalan Rancaekek dan Cicalengka. Sebentar lagi akan memasuki Nagreg dan Kadungora. Letak kampung Pak Sobur di jalan Leles dekat Situ Bagendit.
Tidak terasa Ambulance sudah sampai ke halaman rumah Pak Sobur. Rumahnya banyak sanak keluarga untuk menunggu kedatangan jenazah Pak Sobur.
Umaiza sudah terbangun saat ambulance menyusuri jalan Kadungora.
Umaiza dan Rahman turun dari mobil yang di ikuti oleh 2 orang perawat dan sopir. Mereka menyambut kedatangan kami. Mereka berebut ingin menggotong keranda ke rumah.
Umaiza dan Rahman termangu melihat perlakuan mereka.
"Ada kebaikan apa pada diri Pak Sobur sehingga mereka begitu ingin membawa jenazahnya?" tanya dalam hati Rahman.
Istri Pak Sobur segera menghampiri kami begitupun dengan ketiga anaknya.
Rahman memang sangat mengenalnya karena sering di bawa Pak Sobur ke kampung halamannya untuk sekedar berlibur.
"Nak Rahman, terima kasih sudah mengantarkan jenazah Bapak kesini," ucap istri Pak Sobur tidak ada kesedihan sedikitpun terlihat di wajahnya
"Sudah sebuah keharusan, Bu," ucap Rahman sambil mencium tangan istri Pak Sobur.
Istri Pak Sobur melihat ke arah Umaiza.
Umaiza segera mencium tangan istri Pak Sobur
"Nak Rahman sudah menikah?"
"In Syaa Allah, bentar lagi, Bu, do'ain saja. Ini Umaiza calon istri saya dan anak dari Pak Baskoro,"
"Maa Syaa Allah, geulis pisan." celetuk istri Pak Sobur
Umaiza tersenyum
"Kami ikut bela sungkawa. Semoga Ibu dan anak-anak Pak Sobur sabar menerima ini semua," ucap Umaiza, "Maaf, Ibu, belum bisa menemui Ibu di sini,"
"In Syaa Allah, ini semua takdir. Kami akan ikhlas menerimanya,"
"Maa Syaa Allah, begitu besar hati Ibu dan keluarga,"
"Semua ini didikan dari almarhum, kita d ajarkan arti ikhlas, sabar dan tawakal,"
"Maa Syaa Allah,"
Umaiza dan Rahman berdecak kagum mendengar penuturan Istri Pak Sobur.
"Mari kita lanjut mengobrol di dalam, sepertinya kalian lelah sudah menempuh perjalanan jauh,"
Kami pun masuk ke dalam. Semua orang silih bergantian untuk mensholatkan jenazah.
Begitu pun Umaiza dan Rahman ikut antrian.
Setelah mensholatkan jenazah, Umaiza dan Rahman izin untuk ikut shalat isya.
"Sobur jelema sholeh, unggal balik ti kota teh sok babagi." celetuk salah satu keluarganya.
"Nya," timpal yang lainnya.
Rahman karena sering kesini sedikit mengerti apa yang di ucapkan orang itu.
Umaiza hanya diam.
Liang lahat sudah di siapkan, di kampung kalau semuanya sudah siap pemakaman selalu disegerakan jam berapa pun itu.
__ADS_1
Setelah selesai semua, Rahman dan Umaiza pamit untuk pulang. Mereka kembali naik ambulance beserta dua orang perawat dan sopir.