Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Menolong sang penolong


__ADS_3

Rahman dan Umaiza mendapatkan kabar dari penyidik tentang Rama melalui sambungan telepon.


"Baik, kami akan kesana," ucap Rahman.


Sambungan telepon terputus.


"Kenapa Kak?"


"Kasih info tentang Rama,"


"Oh, oke, iya, siap, kita kesana sekarang?"


"Iya, sebelum ke panti,"


Umaiza mengangguk.


"Kakak, siap-siap dulu ya,"


"Iya, Kak, Za, membereskan dulu ini semua,"


Rahman mengangguk sambil tersenyum.


"Mau kemana Nak?" tanya Ibu.


"Mau, ke kantor polisi, Bu,"


"Ke pantinya kapan?"


"Sebentar kok, Bu, ini ada info tentang kasus Ayah,"


"Baik, kalau begitu, Ibu dan Bunda tunggu di rumah,"


"Iya, Bu,"


Umaiza membereskan piring bekas makan.


Rahman sudah rapi.


Umaiza segera ke kamar dan kamar mandi.


Rahman menunggu di ruang tamu.


Ibu masuk kamar kembali.


Umaiza sudah rapi.


Rahman dan Umaiza pamit kepada Ibu.


Dan mereka segera masuk mobil dan Rahman langsung melajukan mobilnya ke kantor polisi.


Mereka sampai di kantor polisi.

__ADS_1


Petugas yang sudah mengenal Rahman dan Umaiza langsung mempersilahkan mereka ke ruang penyidik tanpa harus di antar.


"Pagi," ucap Rahman saat masuk ke ruangan penyidik.


"Pagi,"


"Bagaimana, Pak, ada info apa tentang Rama?"


Penyidik itu memutar rekaman suara Rama


"Astagfirullah," ucap Rahman kaget


"Jadi bagaimana keinginan kalian tentang mencabut perkara terhadap Rama apakah jadi?"


Rahman menoleh ke arah Umaiza


Umaiza menggelengkan kepalanya


"Setelah mendengar rekaman itu saya tidak mau, Pak,"


"Baik kalau begitu, Rama di proses ke pengadilan ya,"


"Iya, Pak, lanjut saja," pinta Rahman.


"Baik, Kalau begitu,"


"Kalau boleh tau, siapa yang merekam suara Rama itu?"


"Ada tahanan teman satu sel Rama,"


"Tentu saja boleh,"


Rahman dan Umaiza di minta penyidik untuk menunggu tahanan itu di ruang tunggu.


"Baik, Pak," Rahman beranjak dari kursi dan pamit kepada penyidik begitu juga dengan Umaiza.


Rahman dan Umaiza saling bergandengan tangan menuju ruang tunggu.


Tahanan itu datang


Rahman dan Umaiza berbincang-bincang dengannya.


"Kasus apa tentang apa?" tanya Rahman


"Membela diri dari para pencuri yang hendak mencuri di rumah saya dan memperkosa istri saya,"


"Astagfirullah," Umaiza mengusap dada


Rahman menggenggam tangan Umaiza.


"Pembunuhan atau penganiayaan?"

__ADS_1


"Pembunuhunan, keluarganya tidak terima akhirnya saya dilaporkan kesini,"


"Apakah sudah ada pengacara?"


"Belum, pak, kami tidak mampu untuk itu,"


"Baik, sebagai ucapan terimakasih kami, nanti kami akan membawa pengacara untuk membela kamu,"


"Alhamdulillah, terimakasih Pak, sebelumnya,"


Rahman mengangguk


Umaiza tersenyum.


"Apakah korbannya orang jauh?"


"Tetangga, Pak,"


"Astagfirullah," ucap Umaiza lagi.


"Baik, bisa minta alamat rumah kamu, kami ingin ketemu dengan keluargamu,"


Tahanan itu memberikan alamatnya tanpa ragu.


"Baik, kalau begitu kami pamit untuk pulang dulu. Semoga dalam waktu dekat, kamu bisa bebas,"


Rahman menyebut kamu kepadanya karena terlihat usianya lebih muda darinya.


"Aamiin, Pak, kami tunggu kabar baiknya,"


"Baik, In Syaa Allah," ucap Rahman sebelum meninggalkannya.


Rahman dan Umaiza keluar dari kantor polisi.


Tahanan itu kembali lagi ke sel. Tentu saja diruangan isolasi.


"Ngeri ya, Kak, kejahatan merajalela,"


"Iya, itulah akibatnya bagi mereka yang tak punya iman,"


"Iya, benar dan hukum yang berlaku sungguh lah tidak adil,"


"Ya begitulah, zaman sekarang yang berduit bisa leluasa memainkan hukum,"


"Iya, semoga Pak Pengacara berkenan membantu,"


"Aamiin, kasihan juga sama keluarganya bagimana mereka bertahan hidup,"


"Iya, Kak, itu yang, Za, pikirkan,"


Rahman dan Umaiza naik mobil dan Rahman segera melajukan mobilnya menuju rumah.

__ADS_1


Didalam mobil mereka hanya saling diam, bermain dengan pikiran mereka masing-masing.


Mereka sudah sampai di rumah.


__ADS_2