
Rahman sudah sampai di pelataran parkir, Umaiza baru keluar dari lift. Seperti biasanya Umaiza berjalan dengan menunduk.
"Siapa dia, anggun sekali?" tanya salah satu laki-laki kepada teman kerjanya.
"Kalau tidak salah beliau itu anaknya Pak Baskoro,"
"Pantesan cantik dan ayu, namun sepertinya tidak sombong ya?"
"Tidak, sepertinya. Karena waktu itu sempat lihat beliau sedang menyapa Ibu Alifa dan Bu Sari,"
"Sari kenal?"
"Bilangin salam gitu ya, dari Rama,"
"Ngomong ajah sendiri!"
Umaiza tetap melangkah tanpa menghiraukan apa yang mereka ucapkan. Ucapan seperti itu sering terjadi, di kampus atau di stopan lampu merah.
"Siang, Bu," Sapa Sari
"Siang Sari, mau ke kantin?"
"Iya, Bu. Mari bareng," Ajak Sari
"Terima kasih, saya sudah ada janji dengan Pak Rahman,"
"Baik kalau begitu, saya duluan ke kantin ya,"
Umaiza mengangguk dan keluar dari pintu lobbi.
Rahman dengan segera membawa mobilnya dan berhenti tepat d hadapan Umaiza.
"Ayo, naik!" perintah Rahman yang tetap di balik kemudi
"Baik, Kak,"
Umaiza memang tipe perempuan mandiri, tidak pernah suka di manja. Hanya dengan sekedar membukakan pintu mobil saja, Umaiza marah.
Umaiza masuk ke dalam mobil Rahman.
Rahman segera melajukan mobilnya ke tempat yang akan kami tuju.
"Kakak, mau sholat jum'at dimana?" tanya Umaiza
"Di masjid dekat rumah makan yang akan kita tuju,"
"Mau makan dimana kita, Kak?" Tanya Umaiza lagi
"Ke suatu tempat, pasti Za suka,"
"Jauh dari kantor?"
"Tidak, 10 menit juga sampai,"
"Baik kalau begitu,"
"Tadi ada yang menggoda Za, tidak?"
"Tidak ada,"
"Kok lama?",
"Za, kan perempuan Kak. Langkahnya pendek tidak seperti laki-laki, cepat,"
Rahman mengangguk-anggukan kepalanya.
"Rama itu karyawan di bagian apa, Kak?"
"Ada apa ini, tiba-tiba nanyain Rama?"
"Tidak apa-apa, Kak. Ingin tahu saja,"
"Aduh, hati-hati ya, Za, dengan Rama. Dia playboy abis melebihi Roni,"
"Astagfirullah,"
"Lain kali tidak akan Kakak biarkan, Za, jalan sendirian di Kantor,"
"Gak segitunya juga kali, Kak," sambil tersenyum
"Rama itu berbahaya, Za, seperti serigala berbulu domba,"
"Emang dia akan berani macam-macam sama, Za, anak bosnya di kantor dan calon istrinya Khairul Rahman,"
"Anak pejabat saja dia berani tidurin, Za,"
"Yang benar, Kak?"
__ADS_1
"Iya, klo gak percaya tanya Sari atau Alifa deh,"
"Kenapa Ayah tidak pecat dia?"
"Pak Baskoro belum ada wewenang untuk melakukan itu, karena Rama melakukannya di luar jam kantor,"
"Karyawan Ayah belum ada yang tertipu sama dia?"
"Ada, namanya Sandra. Dia sangat tergila-gila sama Rama, akhirnya dia menyerahkan tubuhnya kepada Rama supaya bisa di nikahkan dengan Rama. Namun Rama tidak mau, karena alasannya melakukan itu semua bukan dibawah tekanannya melainkan keinginan bersama,"
"Sandra nya sekarang masih kerja?"
"Tidak dia mengundurkan diri, karena saking malunya. Dan tidak lama dari itu, Sandra bunuh diri,"
"Innalillahi wa inna illaihi roji'un"
Rahman menepikan mobilnya di pelataran parkir tepat di depan rumah makan padang.
"Makanya, Za, harus hati-hati ya!"
"Iya, Kak, tenang saja. Sekarang dia yang akan kena batunya, karena langsung akan patah hati. Za, kan, sebentar lagi In Syaa Allah akan jadi istrinya Kakak,"
"Iya, Kakak, percaya. Za, akan bisa menjaga diri dan hati,"
Umaiza tersenyum lebar namun masih bisa menutup barisan gigi putihnya.
Rahman turun dari mobil yang di ikuti oleh Umaiza.
"Za, Kakak ke masjid dulu ya, Za, bisa masuk duluan ke rumah makan,"
"Tidak, Kak, Za, ikut ke dalam saja. Nanti menunggu di belakang masjid,"
"Oh, Iya, kebetulan masjid sini ada bagian bawahnya. Za, nanti bisa tunggu disana,"
"Siap, Kak,"
Rahman masuk ke tempat wudhu laki-laki sedangkan Umaiza ke tempat wudhu perempuan.
Shalat jum'at pun selesai di laksanakan,
Begitu pun dengan Umaiza selesai melaksanakan shalat dzuhur.
Mereka bertemu di halaman masjid dan melanjutkan langkahnya menuju rumah makan.
Mereka masuk ke dalam rumah makan secara bersamaan.
"Ayam saja,"
"Cuma itu saja?"
"Iya, ayam saja,"
"Minumnya?"
"Air jeruk saja,"
Rahman memesan sesuai dengan keinginan Umaiza. Namun di tambah dengan cumi dan kepala kakap. Takutnya Umaiza ingin tambah lagi. Rahman sendiri memilih lauknya dengan rendang.
Umaiza jalan menuju meja yang di ikuti dengan Rahman.
"Za, jujur tadi Kakak, kaget, melihat Za, formil banget dalam bekerja,"
"Ya, Za, mencoba untuk profesional saja, Kak,"
"Ya, kalau cuma kita berdua biasa saja. Begitu pun ketika Za sedang sama Pak Baskoro, kecuali kalau lagi meeting atau ada yang lain barulah profesional. Nanti malah jadi akan terlihat kaku lagi,"
"Iya, sih. Za, juga tadi pegal ingin mengganggu Kakak. Gak enak serius," sambil nyengir
"Tuh, Kan," sambil menunjuk hidung Umaiza.
Pelayan sudah datang untuk mengantarkan makanan. Semua makanan di tata rapi di atas meja.
Umaiza pergi ke wastafel untuk mencuci tangan, karena kalau makan masakan padang enaknya pakai tangan bukan pakai sendok.
"Bismillahirrohmannirrohiim," ucap Umaiza setelah kembali ke meja dan untuk memulai makan.
"Tidak pakai sendok, Za,"
"Kalau makan masakan padang, enaknya pakai tangan, Kak. Coba deh," sambil mengambil nasi di atas piring dan menyuapkannya ke dalam mulut.
"Tidak, Kakak, pakai sendok saja,"
Umaiza makan dengan lahap, seketika nasi yang menumpuk tinggal sisa sedikit lagi. Rahman melihat Umaiza makan dengan lahapnya, jadi ingin mencoba makan menggunakan tangan juga.
Umaiza mencicipi kakap begitu pun dengan cumi nya. Setelah di rasa kenyang, Umaiza menyelesaikan makannya dengan meminum air teh.
Sesuai dengan sunnah Rasul, "Makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang,"
__ADS_1
Umaiza kembali cuci tangan ke wastafel meski pelayan memberikan kobokan di mangkok untuk mencuci tangan setelah makan. Pikirnya supaya tangannya bersih dan tidak bau amis, di wastafel di sediakan sabun pencuci tangan.
Kembali ke meja, Umaiza menyedot air jeruk dan menghabiskannya. Rahman selesai makan dan mengikuti apa yang Umaiza lakukan untuk mencuci tangan.
Rahman langsung ke kasir untuk membayar makanan, Umaiza mengambil tas dan mengikuti Rahman untuk kembali ke dalam mobil.
"Bagaimana enak ya, Kak, makan pakai tangan?" tanya Umaiza ketika sudah berada di dalam mobil.
"Iya, enak. Beda rasanya dengan makan pakai sendok,"
"Makan pakai tangan itu salah satu Sunnah Rasulullah, Kak. Nabi kita, nabi Muhammad SAW,"
"Iya-Iya, Kakak lupa," sambil tersenyum
"Kak, Za, kalau sampai kantor boleh istirahat sebentar, boleh?"
"Iya, nanti, Kakak tunjukkan kamar rahasia untuk tempat Za, istirahat,"
"Maksudnya tempat Ibu kemarin istirahat di Kantor,"
"Ada ruangan lain, Pak Baskoro siapkan untuk Za,"
"Banyak yang Za, belum tahu, nih,"
"Banyak banget, kalau kado-kado yang di simpan di dalam lemari di rumah apakah sudah Za, buka?"
"Baru sebagian, Kak,"
"Banyak, Ya?"
"Iya, Kak,"
"Itulah kasih sayang Ibu Rahma dan Pak Baskoro yang begitu besar untuk Za," fokus di balik kemudi
"Kalau Kakak, bagaimana?" tanya Umaiza sambil tersenyum
"Sama tidak terukurnya, Za," masih fokus
"Gombal," ledek Umaiza
"Ah, ini mah ingin bukti," goda Rahman sambil menepi dan menghentikan mobilnya.
"Ampun, kak, Za, janji gak akan mancing-mancing,"
"Syetan lewat nanti baru tahu rasa ya,"
"Iya-iya, maaf," sambil menjewer telinga Umaiza sendiri.
Mobil Rahman sudah sampai di Kantor. Umaiza diturunkan Rahman tepat di depan pintu lobi. Rahman melajukan mobilnya ke tempat parkir yang telah di sediakan.
Umaiza menunggu Rahman, dengan jalan tergesa-gesa Rahman untuk bisa segera menghampiri Umaiza.
"Sudah, yuk!" ajak Rahman
Umaiza mengangguk
Rahman dan Umaiza jalan bersamaan. Rahman sangat menjaga dan melindungi Umaiza. Karena takut bertemu lagi dengan Rama.
Dan ternyata benar, Rama ada di meja Sari.
"Pak, kenalin dong perempuan yang ada di samping Bapak," celetuk Rama ketika melihat Umaiza jalan bareng Rahman
Umaiza segera menggandeng tangan Rahman.
Rahman dengan gagahnya melewati Rama dan Sari tidak menghiraukan ucapan Rama.
"Gila lu, Ram. Berani-beraninya ngomong gitu ke Pak Rahman. Perempuan itu kan Umaiza anaknya Pak Baskoro dan calon istrinya Pak Rahman,"
"Yang benar?"
"Iya, klo lo gak percaya tanya saja sama Ibu Alifa,"
"Mati gua,"
"Kena batunya lho,"
"Tapi bukan Rama namanya klo segitu saja langsung nyerah, istri pejabat saja bisa gua tidurin. Apalagi ini baru calon istri,"
"Jangan cari masalah lho, kecuali klo lo emang ingin di pecat,"
"Lihat saja nanti,"
"Pak Bima dan Pak Dewa saja keluar gara-gara anaknya bermasalah dengan Umaiza,"
"Gak takut," sambil meninggalkan Sari kembali ke meja Rama.
Rahman menunjukkan ruangan rahasia kepada Umaiza dan segera kembali ke ruangannya.
__ADS_1