
POV Umaiza
Umaiza pergi ke kampus dengan ayah. Umaiza sudah sampai kampus, ayah segera pergi ke kantor di antar oleh sopir.
"Umaiza tidak lupa ya, nanti setelah istirahat pulang bareng Rahman ke kantor ayah,"
"Baik, Ayah. Umaiza turun dulu, do'akan skripsi Umaiza lancar semua tanpa ada yang di revisi supaya Umaiza bisa segera sidang, wisuda dan membantu ayah mengelola perusahaan,"
"Aamiin, do'a ayah senantiasa mengiringi setiap langkah Umaiza,"
Umaiza salam dan cium tangan ayah dan turun dari mobil.
Umaiza naik tangga dan mobil ayah melaju meninggalkan kampus.
"Idih, wajah saja alim. Mau dijadikan pacar, bilangnya tidak mau pacaran. Ternyata sama laki-laki yang bisa di katakan ayahnya mau. Perempuan apa seperti, itu," Ucap Roni saat melihat Umaiza turun dari mobil ayahnya.
Umaiza yang mendengar tidak menghiraukan ucapan Roni, karena Umaiza akan fokus memikirkan skripsinya.
Roni yang merasa di acuhkan malah menjadi.
"Woy, perempuan yang sok alim. Aku tahu kau pura-pura tidak mendengar,"
Umaiza masuk ke ruang dosen untuk menemui dosen pembimbing.
"Umaiza, sudah beres?" tanya dosen pembimbing yang melihat Umaiza masuk ke ruangan.
"Alhamdulillah, sudah, Pak," Ucap Umaiza dan mendekati kursi dosen pembimbing.
"Silahkan, duduk,".
"Terima kasih, Pak," Umaiza pun duduk di hadapan dosen pembimbing yang terhalang oleh meja. Umaiza membuka tas dan mengambil berkas Skripsi, "Ini, Pak," sambil menyerahkan berkas.
Dosen pembimbing membuka berkasnya. Dan di periksa dari kata perkata nya, kalimat per kalimatnya, paragraf per paragraf, halaman per halaman, bab per babnya. Hampir 3 Jam lebih dosen Pembimbing memeriksa berkas skripsinya.
"Sudah, sempurna tidak ada yang harus di revisi. Kapan akan sidang?"
"Senin depan, bagaimana, Pak?' tanya Umaiza balik.
"Sepertinya kalau kamis, Umaiza juga sudah siap,"
Umaiza langsung melihat ke dosen pembimbing dengan tatapan penuh heran.
"Umaiza sepertinya sudah sangat menguasai materi, jadi bisa kalau hari kamis,"
"In Syaa Allah, Pak. Umaiza usahakan."
"Lagian kalau hari senin penuh, kalau kamis baru 3 orang yang mengajukan,"
"Baik, Pak. Kalau begitu kamis saja,"
"Baik, nanti bapak ajukan kepada kepala jurusan,"
"Iya, Pak. Terima Kasih atas bimbingan dan waktunya."
"Sama-sama, Bapak senang membimbing Umaiza. Semoga nanti dapat beasiswa kembali untuk S2."
"Aamiin, Pak, Umaiza izin undur diri, Pak"
"Iya, Kamis siap ya,"
"In Syaa Allah, Siap, Pak," ucap Umaiza sambil tersenyum dan berdiri keluar dari ruangan dosen.
Roni sudah tidak nampak di luar. Umaiza menunggu Rara di kursi di depan kelas Rara. Tiba-tiba Roni datang.
"Heh, Wanita sok alim, siapa laki-laki tua bangka itu?"
Umaiza tidak menjawab.
"Mau sampai kapan aku Kau acuhkan, Hah?"
Masih diam tidak menjawab.
__ADS_1
"Hey, Cewek berkerudung yang sok alim gua ngomong sama lo," Sambil mendorong Umaiza sampai Umaiza terjatuh ke belakang dan kepala kena tembok.
"Aduh," teriak Umaiza sambil memegang kepala dan melihat ke arah Roni.
"Sudah jangan drama, kalau butuh uang gua juga masih mampu bayar lo,"
"Maksudnya apa ya?" tanya Umaiza sambil berdiri dan menatap Roni dengan tatapan tajam.
"Lo kalau butuh uang sama gua aja, gua juga mampu bayar lo dengan bayaran mahal, kenapa lo harus dengan laki-laki tua bangka itu,"
"Laki-laki tua bangka, laki-laki tua bangka. Bisa di jaga gak ucapannya." ucap Umaiza sambil menatap wajah Roni dengan pandangan sedikit kesal.
"Terus gua harus bilang apa?" balik menatap Umaiza dengan tersenyum nyinyir.
"Mau tahu laki-laki tua bangka itu siapa, dia itu ayahku. Puas kamu, hah?"
"Jangan ngarang deh, ayahmu. Bukannya kamu diam di panti kenapa sekarang kok punya ayah," jawab Roni ketus tidak percaya
"Sekarang aku sudah punya ayah, Ibu bahkan calon suami. Daripada aku harus tidur denganmu demi uang, lebih baik aku jualan bunga keliling Jakarta," ucap Umaiza lagi sambil menangis.
Tanpa di sadari kelas Rara sudah bubar, dan Rara mendengar semua perkataan Umaiza yang sudah punya ayah, Ibu bahkan calon suami.
Rara segera memeluk Umaiza dan Umaiza menangis di bahu Rara. Dan Roni pergi tidak tahu kemana tanpa meminta maaf.
"Umaiza apakah tadi Rara tidak salah dengar?"
"Tidak, Ra. Semuanya benar," jawab Umaiza dengan melepaskan pelukan Rara dan mengusap air mata yang ada di pipi.
"Kita ke kantin ya, Umaiza ceritakan semuanya kepada Rara,"
"Iya, Ra,"
Rara dan Umaiza ke kantin. Dan ternyata Roni dan teman-teman gank nya sudah ada disana.
"Kalau kalian ganggu lagi Umaiza awas ya, akan jadi urusanku." Ucap Rara sambil menggebrak meja, "hanya cinta di tolak Umaiza menjadi manusia yang tidak berotak. Percuma kalian kuliah kalau hanya tuk jadi manusia bodoh, Pulang saja sana, kasihan sama orangtua kalian," Sambung Rara.
Roni dan Gank nya, semua diam.
"Kapan kamu ketemu ayah dan ibumu Umaiza?"
"Kemarin sabtu," Dan Umaiza menceritakan semuanya kepada Rara tidak ada yang kurang suatu apapun bahkan perihal yang dilakukan ayahnya Rara kepada keluarganya.
"Astagfirullah, Umaiza Rara tidak menyangka. Yang memisahkanmu dengan orangtuamu itu ayah Rara?"
"Iya, Ra. Ini suratnya," dengan memberikan surat yang di simpan ayahnya Rara dibawah keranjang tempat Umaiza kecil.
"Iya, benar. Ini tulisan ayah, dengan inisial yang sama kalau menulis pesan."
"Iya, itu yang dikatakan ayah dan Ibu."
"Maafkan ayah Rara, Umaiza,"
"Umaiza dan orangtua Umaiza tidak benci sama ayahmu, Ra. Kami yakin ini semua takdir, tugas kita adalah menyambungkan kembali tali persahabatan ayah umaiza dan ayahnya Rara,"
"Iya, betul. Tapi bagaimana caranya?"
"Nanti kita pikirkan lagi,"
"Kalau calon suamimu siapa?"
"Umaiza mau tanya dulu, Rara apakah punya perasaan dengan Kak Rahman?"
"Rara, Kak Rahman?" tertawa lebar.
"Iya, takutnya Rara suka sama kak Rahman,"
"Ya, tidak lah, Umaiza. Rara cukup tahu, perhatian Kak Rahman itu untuk kamu, Umaiza,"
"Syukurlah kalau, begitu. Kak Rahman akan segera melamar Umaiza setelah Umaiza beres sidang,"
"Gak takut apa, kan baru satu minggu kenal, sudah berani melangkah kesana?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, ayah dan Ibu sudah lama kenal dengan Kak Rahman, Kak Rahman bekerja di perusahaan ayah sudah lama,"
"Ya, kalau begitu Rara mengerti, Selamat ya,"
"Rara bisa datang kan dengan membawa ayah dan Ibu Rara ke rumah kami?"
"In Syaa Allah, Rara, akan usahakan,"
"Harus itu, kalau gak datang awas aja. Oh, Iya nih, sampai lupa. Umaiza kan tunggu Rara untuk kembalikan leptop, makasih ya,"
"Sama-sama, bagaimana tadi bimbingannya?"
"Alhamdulillah, kamis Umaiza sidang,"
"Kayaknya itu mah sudah ngebet ingin merried,"
"Do'ain ya, saat wisuda, Umaiza sudah jadi istri Kak Rahman,"
"Aamiin,"
Rara membeli minum untuknya dan Umaiza.
"Ini, buat Umaiza," menyimpan minuman di atas meja.
"Terimakasih," mengambil dan menyedot minumannya. Dan suara hp berbunyi terlihat pesan dari kak Rahman
π© Kakak menuju kampus ya, di tunggu di tempat biasa.
π¨ Iya, Kak.
"Punya hp, sohibnya gak di kasih tahu nih?" ucap Umaiza saat membuka pesan.
"Oh, iya, maaf, Umaiza baru mau minta no kamu, Ra, Berapa?"
Rara menyebutkan nomor hpnya dan Umaiza menyimpannya. Dan tak lupa missed call, Rara. "Itu nomor Umaiza."
"Siap,"
"Mau pulang atau masih ada kelas?"
"Mau pulang, kelas sudah selesai."
"Ya, sudah keluar yuk. Kita ke tempat biasa," ajak Umaiza.
"Ayo, Rara kangen masakan di kafe itu,"
"Iya, Umaiza juga sama" sambil menghabiskan minuman dan berdiri lalu meninggalkan kampus.
"Rara akan jarang ketemu kamu, Umaiza," sambil berjalan bergandengan.
"Setelah ini kan Umaiza mau langsung ambil S2, pasti nanti kita akan sering ketemu,"
"Benar ya?"
"Iya, masa Umaiza bohong,"
"Umaiza, Rara ingin hijrah,"
"Ma Syaa Allah, Umaiza dukung,"
"Pertamanya harus apa ya?"
"Shalat lima waktu dulu, sempurnakan,"
"Oh, begitu lalu?"
"Untuk perempuan harus di iringi dengan pakaian tertutup. Akan sulit kalau berubah 100%, bertahap saja. Namun syukur-syukur langsung syar'i"
"Do'akan dan dukung Rara ya, Umaiza?"
"Pasti, Umaiza akan mendukung dan mendo'akanmu, Ra, semangat," ucap Umaiza sambil mengepal tangan dan menekuk sikutnya.
__ADS_1