Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Perhatian


__ADS_3

Umaiza dan Rara meneruskan kembali makannya. Rara tiidak lupa memberikan leptopnya kepada Umaiza.


"Umaiza, sepertinya Kak Rahman itu suka sama kamu," Celetuk Rara sambil menyedot minuman yang ada di tangannya.


"Apa?" Umaiza kaget mendengarnya.


"Kak Rahman sepertinya suka sama Umaiza," ulang Rara.


"Tahu dari mana?" dengan nada becanda dan tidak percaya.


"Dari tatapannya, dari nada suaranya yang mengkhawatirkan kamu, saat tadi tidak bisa melihat kamu di stopan," jelas Rara panjang lebar.


Umaiza mendengarkan perkataan Rara, "Apakah benar apa yang dikatakan Rara?" tanya dalam hatinya.


"Sudahlah, Ra. Kalau pun benar, Umaiza akan mengikuti arus air ini kemana akan bermuara. Dan lagian Umaiza ingin mencari dulu orangtua Umaiza," jawab Umaiza.


"Iya, deh. Sebelum mencari orangtua, bereskan dulu skripsinya. Nanti kalau tidak selesai, barengan sama Rara. Leptopnya rebutan. hehehe," kata Rara sambil tersenyum dan mengangkat kedua alisnya.


Umaiza mengkerutkan dahinya.


"Udah, ah. Dah kenal Kak Rahman kok jadi lola alias loading lama," ledek Rara lagi melihat ekspresi wajah Umaiza.


"Kok bawa-bawa Kak Rahman, awas ya,"


"Makasih, Mbak." teriak Rara dan berlari ke arah mobilnya.


Umaiza berlari mengejar Rara, sebelumnya memasukkan leptop milik Rara ke dalam tasnya.


Rara sudah masuk ke dalam mobilnya dengan mengeluarkan lidahnya sedikit dan di apit oleh bibirnya, tanda meledek Umaiza.


Umaiza tidak menjawab lagi Rara, hanya tersenyum dan berlalu menuju sepedanya.


"Bismillah," Umaiza mencoba mengayuh sepedanya kembali membelah jalan dan tetap di pinggir jalan supaya tidak menggangu pengguna lainnya. Umaiza akan membeli alat-alat untuk membuat bunga, kebetulan bahannya sudah habis.


Pov Rahman


Rahman pagi-pagi sekali sudah pergi ke kantor. Demi melihat pujaan hatinya di stopan lampu merah. Namun ternyata apa yang di harapkan tidak ada.


"Apa mungkin Umaiza sakit?" tanya Rahman dalam hati mengkhawatirkan Umaiza.


"Kenapa tidak ada," Sambungnya lagi.


Rahman melambaikan tangan kepada salah seorang yang ada disana.


"Kak Umaiza belum datang?"


"Belum Kak, ada perlu apa ke Kak Umaiza, nanti saya sampaikan,"


"Tidak ada apa-apa, bilang saja kak Rahman mencarinya,"


"Baik, Kak. Nanti saya sampaikan,"


"Terima kasih, Dek,"


"Sama-sama, Kak,"


Lampu sudah hijau, Rahman segera menjalankan kembali mobilnya.


Sesampainya di kantor perasaan Rahman terasa hampa, seperti ada yang kurang. Rahman menyibukkan dirinya dengan bekerja, supaya tidak terasa ingin segera istirahat. Ingin segera bertemu dengan Umaiza.


"Sepertinya Umaiza akan ke kampus, dia kan sudah janjian dengan Rara untuk meminjam leptop milik Rara," bisik hati Rahman


Semangat Rahman kembali lagi.


Dan benar waktu istirahat sudah tiba, Rahman segera turun ke lobbi dan melangkahkan kakinya ke parkiran mobil. Lalu menjalankan mobil menuju kafe dekat kampusnya dulu.


Dan benar Rahman sudah melihat Umaiza sedang mengobrol dengan teman laki-lakinya. Sepertinya yang sedang membeli bunga milik Umaiza. Ada perasaan panas dalam hati Rahman.


Umaiza dan Rara pun datang. Rara menggunakan mobil dan Umaiza menggunakan sepeda.


"Kenapa Umaiza naik sepeda, apakah menghindariku," pikir Rahman.


"Setelah kemarin Rahman sudah bilang akan menjemputnya ke kampus setelah pulang kerja," Sambung Rahman lagi dal hati.


Umaiza sudah sampai duluan dan Rara datang kemudian.


Umaiza menunggu Rara, dan berjalan secara bersamaan.


Rahman tetap fokus dalam hatinya, karena merasa kecewa melihat Umaiza membawa sepeda.

__ADS_1


"Kak Rahman sudah duluan?" tanya Umaiza.


"Iya," fokus makan dan tidak menoleh ke arahnya.


"Kak tadi mencari Umaiza di stopan?"


"Iya, kakak takut Umaiza sakit,"


"Tidak, Umaiza tadi menolong seorang Ibu yang terserempet motor." jelas Umaiza.


Ada perasaan lega mendengar jawaban Umaiza.


"Jadi terlambat ke stopan,"


"Umaiza mau makan atau ngobrol saja nih?" tanya Rara


"Makan, dong,"


"Sudah kakak pesan, sebentar lagi datang," ucap kak Rahman.


"Kakak, keseringan traktir kami. Jadi Umaiza merasa tidak enak."


"Tidak, apa-apa selagi ada,"


"Rezeki tidak boleh di tolak," jawab Rara.


"Benar, itu," kata Rahman


Umaiza diam.


"Pulang dari sini, mau kemana?" menatap Umaiza


"Mau membeli alat-alat membuat bunga," jawab Umaiza pelan.


"Ya, sudah hati-hati di jalan,"


"Iya, Kak. Terima Kasih,"


Rahman pamit kepada mereka, ups terutama kepada Umaiza. Pandangannya tidak lepas dari Umaiza.


"Maafkan telah, Suudzon. Umaiza membawa sepeda karena banyak keperluan,"


Andai saja kau tahu,


hati ini sangatlah cinta kepadamu.


Namun tak berani ku mengungkapkannya.


Karena ada dinding penghalang di antara kita yaitu prinsip yang kita miliki,


tanpa ingin pacaran.


Semoga kelak Kau menjadi kekasih halalku.


Rahman pun menjalankan mobilnya untuk kembali ke kantor.


***


POV Umaiza


Umaiza sampai di toko alat-alat untuk membuat bunga. Umaiza memarkirkan sepedanya di tempat yang telah di sediakan dan tidak lupa menguncinya.


Umaiza berjalan menuju toko langganannya.


Namun tidak sengaja ada seorang laki-laki menabrak seorang Ibu-Ibu. Dompetnya terjatuh, Umaiza membantu untuk mengambilnya.


Posisi dompet itu terbuka dan Umaiza melihat ada photo seorang bayi memakai topi dan di selimut warna pink. Kira-kira usianya 3 bulan. "Photo bayi," gumam hati Umaiza.


"Seperti pernah melihat photo itu," kata Umaiza pelan


Ibu itu menghampiri Umaiza.


"Nak," ucap Ibu itu yang terdengar lembut dan hati ini bergetar.


"Ucapkan sekali lagi, Bu," kata Umaiza pelan menatap wajah Ibu itu. Wajah yang cantik, anggun dengan hijabnya. Dan tak terasa mata Umaiza berkaca-kaca.


Ibu yang di hadapannya merasa heran.


"Nak, itu dompet Ibu," sambil memegang pundak Umaiza.

__ADS_1


Umaiza tersadar, "Astagfirullah," sambil meneteskan air mata.


"Kenapa menangis?"


"Tidak, apa-apa, Bu. Ini dompet milik Ibu," ucap Umaiza sambil memberikan dompet kepada Ibu itu.


"Siapa namamu Nak?"


"Umaiza, Bu,"


Padahal hari ini Umaiza di panggi 'Nak' oleh dua orang Ibu yang baru di temuinya.


"Boleh Umaiza bertanya, Bu?"


"Boleh, mari kita mengobrol di kafe yang ada di sana. Supaya santai, tidak enak kalau di sini. Di jalan,"


"Baik, Ibu."


Ibu itu menggenggam tangan Umaiza, Umaiza merasa hangat dan nyaman berada di sampingnya.


Umaiza dan Ibu itu sudah duduk, seorang pelayan datang dan Ibu itu memesan makanan dan minumannya juga.


Umaiza menatap wajah Ibu itu, terlihat sangat sejuk. Sepertinya melihat cerminan dirinya dalam diri Ibu itu.


"Ah, ini hanya perasaan Umaiza saja. Yang merindukan sosok Ibu dalam kehidupannya" lirih hati Umaiza.


"Apa yang Ingin Nak Umaiza tanyakan?"


"Siapa photo anak bayi yang ada di dompet, Ibu. Maaf jika Umaiza lancang, tadi dompetnya terbuka jadi tidak sengaja Umaiza melihatnya," Jelas Umaiza.


"Tidak apa-apa, Sayang," sambil mengusap kepala Umaiza.


Hati Umaiza terasa sangat sejuk.


"Dia itu anak Ibu, dia di culik saat usia tiga bulan. Saat itu sedang Ibu jemur di halaman rumah. Ibu dan ayahnya sudah mencari-cari, namun sampai sekarang tidak menemukannya. Kalau sekarang seusia Nak Umaiza."


Umaiza meneteskan air matanya. Mendengar Umaiza di culik, jadi bukan karena di buang oleh orangtuanya.


"Kenapa Nak Umaiza menangis?"


"Ibu kehilangan anak, sedangkan Umaiza tidak memiliki orang tua. Umaiza tinggal di panti asuhan kata Ibu panti saat itu Umaiza berusia 3 bulan." jelas Umaiza.


Ibu itu mendengarkan ucapan Umaiza dengan terharu tanpa menyadari usia yang Umaiza ucapkan.


"Maukah Ibu ikut Umaiza ke panti asuhan?" tanya Umaiza penuh harap. Karena Umaiza merasa yakin kalau yang ada di dompet photo Ibu itu adalah dirinya.


"Dengan senang hati, Ibu juga ingin mengenalmu lebih dekat," ucap Ibu itu dengan senyuman.


Ingin rasanya Umaiza memeluk Ibu itu dengan erat.


"Apakah Ibu bisa meminta no hp?"


"Umaiza tidak memiliki hp,"


"Kalau begitu, Umaiza sebutkan nama panti asuhannya. Ibu akan ke sana dengan suami Ibu,"


"Tidak bisakah Ibu ikut hari ini dengan Umaiza?" karena Umaiza sudah tidak sabar untuk memastikan kebenarannya.


"Maaf, sayang. Hari ini Ibu sudah ada janji dengan suami Ibu. In Syaa Allah besok atau lusa. Suami Ibu libur jadi banyak waktu luang," ucap ibu itu.


Dua hari, In Syaa Allah Umaiza akan sabar menunggu kebenarannya.


Ibu itu memberikan kartu nama miliknya. Di lihat tertera kantor suaminya juga.


"Baik, Ibu. Umaiza akan menyimpannya. Kalau Umaiza ingin bertemu Ibu, apakah boleh Umaiza datang ke rumah Ibu?"


"Dengan senang hati, pintu rumah Ibu akan selalu terbuka untuk Umaiza."


Ibu itu dan Umaiza makan, makanan yang sudah ada di hadapannya dari tadi. Umaiza melihat dan menatap terus wajah Ibu itu.


Ibu,


Apakah tidak menyadari kalau kita satu


Apakah tidak menyadari kalau kita mirip


Apakah tidak menyadari kalau sifat kita sama


Bahkan gaya makanpun sama.

__ADS_1


Anakmu ada disini Bu,


Seberapa lama lagi kau akan menyadarinya.


__ADS_2