Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Kasih Sayang Orangtua


__ADS_3

Umaiza pergi ke dalam rumah untuk menemui Ibu Rahma yang sudah mencarinya.


"Iya, Bu," kata Umaiza sambil duduk di ruang tamu.


"Ayah mencari katanya mau bicara."


"Oh, Iya, Bu. Ayah sudah pulang?"


"Sudah, lagi bersih-bersih dulu,"


"Bu, kira-kira ayah mau bicara apa ya?"


"Ibu, juga tidak tahu, Nak,"


"Apakah ada hal penting mengenai hubungan Umaiza dan Kak Rahman?"


"Mungkin, semoga tidak ada hal yang serius,"


Pak Baskoro keluar, wajah Umaiza menjadi tegang seketika. Karena terakhir kami berpisah di kampus, Pak Baskoro di telepon sama Alifa mengenai Pak Bima.


"Umaiza ayah mau bicara,"


"Iya, yah,"


"Pak Bima mengundurkan diri katanya mau membawa Roni keluar kota. Begitu pun dengan Dewa. Ayah membutuhkan pengganti Pak Bima dengan segera. Apakah Umaiza mau menggantikannya?"


"Jadi Umaiza bekerja satu divisi dengan Kak Rahman?"


"Iya, mau kan?"


"Umaiza pasti mau, Yah, tapi apakah tidak ada larangan di kantor suami istri bekerja dibawah satu divisi, bagaimana pandangan karyawan lain?"


"Selama Umaiza bisa profesional kenapa tidak dan lagi kalian kan akan menikah pasti Rahman akan keteteran,"


"Baik, demi Ayah, Umaiza mau bantu. Coba satu bulan ini, kalau satu bulan ini terdengar bising Umaiza mundur,"


"Tenang saja, bulan depan kantor cabang yang baru sudah selesai, Rahman di pindahkan kesana dan Umaiza akan menggantikan Rahman dan sekarang sambil menunggu karyawan yang baru, Umaiza dulu yang menggantikan Pak Bima," jelas ayah.


"Baik, Yah,"


"Besok, Umaiza sudah bisa ke kantor,"


"Baik, Yah,"


Ada perasaan lega dalam hati Umaiza. Setelah mendengar penjelasan dari Pak Baskoro.


"Sekarang bagaimana ada perkembangan hari pernikahanmu?"


"KK dan KTP sudah selesai, Kak Rahman ingin satu minggu lagi,"


"Persiapan sudah sampai mana?"


"Tinggal WO dan datang ke Panti,"


"Baik, ayah setuju. Lama-lama dekat dengan yang bukan mahramnya nanti khilaf lalu menimbulkan fitnah,"


"Iya, Yah, Terimakasih,"


Adzan maghrib berkumandang.


"Bu, Umaiza, kita shalat berjama'ah di mushola ya," ajak Pak Baskoro setelah adzan selesai.


"Ayo, Ayah," Jawab Umaiza.


Ibu Rahma mengangguk.


Ayah wudhu di kamar, Umaiza wudhu di tempat wudhu yang berada di taman begitu pun dengan Ibu Rahma.


Umaiza dan Ibu Rahma masuk ke dalam mushola, diikuti dengan Pak Baskoro dari belakang.


Pak Baskoro menjadi Imam.


Suara ayah terdengar sangat merdu. Murrotalnya ala-ala ustadz ternama. Menambah kekhusyukan kami.


"Assalamu'alaikum," nengok ke kanan di ikuti oleh Umaiza dan Ibu Rahma


"Assalamu'alaikum," nengok ke kiri di ikuti juga oleh Umaiza dan Ibu Rahma.


Kami dzikir dan berdo'a dulu. Lalu Pak Baskoro menghadap ke arah kami dan memberikan tangannya yang di sambut oleh Ibu Rahma lalu Pak Baskoro mencium kening Ibu Rahma. Begitu pun dengan Umaiza. Dan sekarang Umaiza yang mencium tangan Ibu Rahma. Dan Ibu Rahma mencium kening lalu kedua pipinya.


Kasih sayang yang diberikan orangtuanya mengalir ke dalam tubuh Umaiza ada rasa haru dan bahagia karena suasana seperti ini yang selalu Umaiza dambakan.


POV Rahman

__ADS_1


Rahman mendapat chat dari Umaiza bahwa KTP dan KK nya sudah beres. Rahman segera VC dan meminta Umaiza untuk menikah dalam waktu 1 minggu lagi, Umaiza mengiyakannya.


Perasaan Rahman sangat bahagia mendengar jawaban dari Umaiza dan bergegas telepon di tutup dan pergi ke rumah Bunda.


"Assalamu'alaikum," ucap Rahman sambil membuka pintu dan duduk di kursi.


"Wa'alakummussalaam, Rahman. Ada apa nampaknya sangat bahagia?" Jawab Bunda keluar dari kamar dan duduk di samping Rahman.


"Bunda, nanti tolong urus-urus k RT/RW untuk pernikahan Rahman ya,"


"Ya, pasti Rahman. Memangnya kapan?"


"Minggu depan,"


"Alhamdulillah, semoga Allah ridhoi dan di berikan kemudahan sampai hari H,"


"Aamiin yaa Robbal alamiin," peluk Rahman kepada Bunda.


"Selama ini ada rasa cemas dalam hati, Bunda,"


"Cemas kenapa, Bunda?"


"Bunda, takut Rahman tidak pernah memikirkan masalah pernikahan. Karena bunda melihat, Rahman begitu senang bekerja,"


"Bunda, Rahman juga normal. Makanya Rahman membangun rumah, membuat mahar, membeli perhiasan jauh-jauh hari, semua itu persiapan untuk calon istriku,"


"Ya, mungkin memang waktunya baru mau sekarang,"


"Iya, Bunda,"


"Umaiza bagaimana?"


"Umaiza calon istri yang baik, Bunda. Dia selalu manut apa yang Rahman bilang,"


"Alhamdulillah, sepertinya meski anak yang lahir dari keluarga kaya, tidak bertemu sekian lama. Tidak menjadikan Umaiza menjadi anak yang sombong, boros,"


"Iya, Bunda. Di bawa ke butik saja, tidak mau. Ingin mencari yang murah,"


"Maa Sya Allah, semoga tetap menjadi gadis yang sederhana dan sholehah."


"Aamiin, Bunda,"


Bunda ke meja makan membawakan kue kesukaan Rahman.


"Rahman ini kue, Bunda tadi pagi membuat kue ini,"


"Iya, Bunda tadi lagi kepingin saja," jawab Bunda dan piringnya di simpan di atas meja. Bunda kembali duduk di samping Rahman.


"Rasanya tidak pernah berubah, Bun," saat makan kue buatan bunda.


"Alhamdulillah, yang buatnya kan tetap Bunda,"


"Farid kemana, Bun?"


"Belum pulang, biasanya maghrib pulang,"


Rahman terus makan kue buatan Bunda, saat dilihat ternyata diatas piring sudah habis.


"Bunda, kurang,"


"Iya, In Syaa Allah, besok Bunda buat lagi,"


"Janji ya, Bunda?"


"Iya, Nak, kalau lauknya masak apa?"


"Bunda masak ayam bakar, capcay dan sambal,"


"Rahman kalau minta, masih ada buat Bunda dan Farid?"


"Ambil saja, Bunda sengaja masak banyak."


"Alhamdulillah, Bunda, Rahman mungkin harus sudah di pingit ya?"


"Ya, terserah Rahman saja. Tidak juga, tidak apa-apa."


"Rahman kalau sering ketemu Umaiza takut khilaf, Bun,"


"Ya, makanya jalan satu-satunya harus segera menikah,"


Rahman tersenyum geli mendengar jawaban Bunda.


"Ya, urusannya tinggal ke WO dan minta izin ke panti, Bun,"

__ADS_1


"Alhamdulillah, ternyata begitu sangat Allah mudahkan,"


"Iya, Bun. Semoga tidak ada halangan dan rintangan."


"Aamiin,"


"Nanti sabtu pagi ya, Bun, ke rumah Pak Baskoro nya. Supaya kita bisa ke Panti bersama-sama."


"Iya, Rahman. Bunda Ikut saja,"


"Bun, biasanya kan seserahan dibawa saat lamaran, sedangkan Rahman kan lamarannya dadakan. Apakah hari sabtu saja kita bawa?"


"Tidak, usah, nanti saja pas hari pernikahan,"


"Keluarga Ayah dan Bunda apakah akan di undang?"


"Undang saja, Nak, sudah di kasih tahu datang Alhamdulillah, tidak juga ya kita tidak boleh sakit hati,"


"Iya, Bun,"


"Nanti coba Bunda, hubungi,"


"Baik, Bun, mudah-mudahan ini bisa mempererat tali silaturahim,"


"Aamiin,"


"Bunda, Rahman ke rumah dulu ya, mau shalat,"


"Ini lauknya,"


"Nanti saja kita makan bersama kalau Farid sudah datang,"


"Baik, Nak,"


Rahman berdiri lalu keluar dari rumah Bunda dan berjalan menuju rumahnya. Sebenarnya ada perasaan takut ketika mendengar Bunda ingin mengundang saudara Ayah. Rahman takut mereka datang dan mengacaukan acara pernikahannya, "Astagfirullah, astagfirullah," ucap Rahman sambil mengusap dadanya.


Rahman pun ke kamar mandi untuk wudhu dan keluar berjalan menuju mushola dan shalat maghrib. Rahman rebahan di atas sajadah dan mencoba memejamkan matanya. Dan Rahman pun tertidur.


Dalam tidurnya, Rahman bermimpi bertemu dengan Ayahnya.


"Rahman," Panggil Ayah.


"Iya, Yah,"


"Tidak perlu cemas,"


"Iya, Yah,"


"Saudara Ayah, akan datang dengan restu. Pernikahanmu yang tinggal beberapa hari lagi, akan menyatukan keluarga Ayah dengan Bunda,"


"Benarkah Ayah?"


"Benar, Nak, akan ada banyak hikmah dibalik pernikahanmu,"


"Alhamdulillah, Ayah, Ayah akan datang juga?"


"Maafkan Ayah tidak bisa datang, Ayah hanya bisa memberikan restu. Jadilah suami yang sholeh, yang bisa menjaga dan melindungi istrimu,"


"Kenapa Ayah tidak akan datang?"


Ayah menjauh.


"Ayah," teriak Rahman sampai terbawa ke alam sadarnya.


Mimpi yang sangat nyata, Rahman sampai keluar keringat dingin, kata-kata yang ayah lontarkan begitu jelas. Seperti ayah di atas sana mengetahui apa yang Rahman cemaskan dan memberi tahu untuk menenangkannya melalui mimpi.


"Ayah, Rahman rindu,"


Rahman menyembunyikan kepalanya di balik lutut dan menangis sampai terisak-isak.


Ayah menjadi sosok panutan, kepada anak-anaknya tidak pernah marah apalagi memukul. Sosok yang sangat bijaksana. Kepada Bunda sangat menyayangi dan mencintainya. Untuk mengurus kami, ayah sangat kerja keras.


Rahman turun dari mushola ke bawah.


Ada suara yang mengetuk pintu, ternyata Farid yang datang untuk mengajaknya makan.


Rahman pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan keluar lagi, Farid sudah pulang. Rahman segera menyusul pergi ke rumah bunda.


Bunda sudah menyiapkan makanan di atas meja. Rahman langsung duduk. Begitu pun dengan Farid.


Rahman mengambil nasi dan lauknya. Di susul oleh Farid dan terakhir Bunda.


Rahman menatap wajah Bunda, yang sudah tidak muda lagi, keriput sudah berada dimana-mana. Mata Rahman berkaca-kaca.

__ADS_1


Rahman segera melahap makanan yang ada di hadapannya supaya air mata tidak sampai terjatuh. Rasa masakan Bunda yang tidak pernah berubah, selalu saja enak dan lezat.


"Aaaahhh, kenapa dengan hati ini?" lirih hati Rahman, "Kok menjadi mellow seperti ini," sambung Rahman, "Baru kemarin Rahman makan masakan Bunda,"


__ADS_2