
Saat sampai rumah, Ibu masih berada di kamar.
Rahman pun masuk ke kamar.
Umaiza pergi ke dapur untuk mengambil minum.
Saat kamar di buka, Rahman sedang baringan di atas tempat tidur.
"Kok, malah baringan, bukannya mau ke panti?"
"Hari libur, santai sejenak tak apalah,"
"Ya, tidak apa-apa, namun istirahatnya nanti saja kalau pulang dari panti,"
"Iya, deh, istri Kakak yang satu ini sungguh bawel,"
"Hmmm, memang ada berapa istri kak?" goda Umaiza
"Rencana 4," sambil menutup mulut
"Ya, Za, sih, silahkan saja, asal mampu adil tidak?"
Rahman memeluk Umaiza dari belakang, "Satu saja ini, Kakak anggurin apalagi kalau empat," sambil mengecup pipi Umaiza.
"Idih, genit," ucap Umaiza.
"Katanya mau kasih cucu ke Ibu sama Bunda, tapi kok bikinnya malas-malasan," goda Rahman
Umaiza cemberut
"Kalau wajah Za, sudah kayak gini, Kakak ingin gigit hidung mancungnya,"
"Dasar kanibal," Umaiza berdiri.
Rahman menarik tangan Umaiza lalu mengecup bibirnya yang sedang manyun.
"Terimakasih," bisik Rahman tepat di telinga Umaiza.
"Curi-curi kesempatan ya," sambil tersenyum.
Rahman pun tersenyum.
"Kak, Za, akan panggil Ibu ya, kita pergi sekarang. Biar tenang,"
"Iya, boleh,"
"Sudah selesai semuanya kita pergi umroh bersama sekalian liburan ya,"
"Iya, ayo, sekalian buat ya?"
"Buat apa?"
"Honeymoon,"
Umaiza tersenyum lebar sambil mengangguk.
Rahman rapi-rapi.
Umaiza keluar untuk memanggil Ibu.
Ibu pun keluar kamar.
"Sudah lama pulang?"
"Sudah, Bu, Kak Rahman sempat tiduran dulu,"
"Astagfirullah, kenapa tidak panggil Ibu,"
"Umaiza takut Ibu sedang tidur,"
"Ibu lagi baca di dalam,"
"Ibu sudah siap untuk pergi?"
"Sudah, Ayo, Ibu Windi pasti sudah menunggu,"
"Iya, bismillah, jarak dari sini dekat kok, Bu,"
"Iya,"
Rahman keluar dari kamar.
Umaiza, Ibu keluar secara bersamaan.
Rahman dari belakang untuk mengunci pintu terlebih dahulu.
Bunda sudah menunggu di depan teras.
__ADS_1
"Maafkan saya, Bun, saya keenakan baca," ucap Ibu
"Tidak apa-apa, Bu, bunda juga baru selesai,"
"Bu, kapan kita akan menengok rumah di depan?"
"Nanti ya, jika semuanya sudah selesai,"
"Baik, Bu,"
Semuanya masuk ke dalam mobil.
Rahman berada di balik kemudi.
Tidak membutuhkan waktu lama kami sudah sampai di panti, benar saja Ibu Windi sudah datang.
"Kenalkan, Win, ini putri saya Umaiza dan ini suaminya Rahman,"
"Putrimu cantik sekali, cocok suaminya pun tampan. Pasangan yang serasi,"
"Alhamdulillah, terimakasih Tante," ucap Umaiza.
"Bagaimana mau indoor atau outdoor?"
"Saya ingin pernikahan yang santai, karena disini kita hanya syukuran saja, akad nikahnya sudah. Orang-orang yang akan di undang pun, anak-anak panti dan anak-anak jalanan,"
"Anak-anak jalanan?"
"Iya, anak-anak didik saya,"
"Oke, tante mengerti. Kita ambil indoor untuk keluarga inti, aoutdoor untuk anak-anak. Jadi nanti yang menemui tamu pengantinnya, bagaimana?"
"Iya, saya setuju," ucap Umaiza
Rahman hanya mengikuti saja
"Baju pengantinnya mau gaya apa?"
"In Syaa Allah, gaunnya akan memakai model melayu supaya benar-benar santai terlihatnya,"
"Untuk menu cateringnya?"
"Kalau untuk itu biar Ibu dan Bunda saja, Tante,"
"Oke, siap, ada permintaan khusus dari kedua mempelai ingin menu apa?"
"Stand paling, ingin ada stand batagor, zupa-zupa, mie kocok, bakso, salad dan rujak juga boleh,"
"Iya, Tante,"
Ibu Aisyah menghampiri Umaiza.
"Ibu, kangen, bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah, Umaiza bagaimana?"
"Alhamdulillah, baik, Bu,"
"Kenapa sedikit kurus?"
"Mungkin cape, Bu, bulak balik ke kantor polisi belum lagi kerja,"
"Semoga semuanya cepat beres ya,"
"Aamiin, Bu,"
Adik-adik panti saking berhamburan memeluk Umaiza.
"Kakak kesini lupa tidak bawa oleh-oleh untuk kalian,"
"Kami tidak butuh itu, Kak, bisa ketemu dengan Kakak saja, kami sudah bersyukur," ucap salah satu anak panti
Umaiza tersenyum, "Sudah besar ya, kalian,"
"Iya dong kak," jawab mereka serempak.
Urusan dengan Wo sudah selesai.
Ibu Windi sudah pulang.
Untuk tester makanan Ibu Windi meminta Umaiza, Ibu, Bunda dan Rahman hari rabu ke kantornya.
Tiba-tiba ada ojol membawa makanan banyak sekali.
Umaiza melirik ke arah Rahman.
Rahman menggaruk kepala yang tidak gatal dan tersenyum.
__ADS_1
"Anak-anak, ambil ya," teriak Umaiza.
Semuanya Ada 25 box, pas untuk anak-anak panti.
"Kasih kebahagiaan kecil kepada mereka tidak salahkan?" bisik Rahman ke telinga Umaiza
Umaiza mengangguk dan tersenyum.
"Semua kebagian ya, bagi rata," ucap Rahman
"Iya, Kak,"
Mereka mengambil tanpa rebutan, mengantri sesuai urutan.
Rahman melihat mereka penuh dengan rasa kagum. Meski mereka jarang menemukan makanan seperti itu namun mereka sungguh tertib, sungguh baik Pak Doris dan Ibu Aisyah mendidik mereka.
"Kak, kenapa?"
"Tidak, Kakak kagum saja sama mereka. Meski jarang menemukan makanan seperti itu namun mereka tetap tertib dalam mengambil makanan,"
"Itulah hebatnya didikan di panti, belum dari segi ibadahnya. Pak Doris dan Ibu Aisyah mendidik kami dengan keras,"
"Kakak percaya, karena istri Kakak sangat sholehah, sehingga Kakak tidak butuh untuk mendidik dan membimbingnya,"
"Wah, tuh memuji Za gak tanggung-tanggung, Kak?"
Rahman tersenyum mendengar Umaiza berkata itu.
"Sudah beres?" tanya Bunda
"Sudah, Bun, ayo, Bu Windi juga sudah pulang,"
Rahman, Umaiza, Ibu dan Bunda pamit kepada Ibu Aisyah.
Semuanya masuk ke dalam mobil dan kembali ke rumah.
Sudah sampai di rumah.
Ibu langsung masuk ke kamar, begitu juga dengan Bunda.
Umaiza dan Rahman pun ikut masuk kamar.
"Kak, apakah bulan ini sudah ngasih ke Bunda?"
"Astagfirullah, Kakak, lupa, Za,"
"Sini sama Za, biasa Kakak kasih berapa?"
M-Bangking dan ATM nya di serahkan kepada Umaiza.
"Za, ke Bunda, Kakak biasanya ngasih 3 jt, ke Farid ngasih 1,5 jt,"
"Ya, Baik,"
Umaiza mengirim uang untuk Bunda, 4 jt, untuk Farid 2,5 jt. Lalu hasil pengirimannya di kirimkan kepada Bunda dan Farid.
"Udah ya, Kak,"
"Iya, terimakasih,"
"Sama-sama, Kak,"
Umaiza pergi ke dapur untuk melihat bahan makanan siapa tahu ada yang bisa di masak.
Umaiza memasak untuk makan siang dengan menu seadanya.
Dengan sangat cekatan dan terampil, Umaiza menyelesaikan masaknya dengan cepat.
"Kak, mau makan dulu atau tanggung menunggu dzuhur,"
"Nanti saja ya, setelah shalat dzuhur,"
"Iya, Baik, kalau begitu, Za, tutup dulu makanannya,"
Umaiza pergi lagi ke ruang makan untuk menutup makanannya.
Umaiza kembali lagi ke kamar berniat untuk bersih-bersih dan siap-siap shalat dzuhur.
"Za, kata Bunda, transfer apakah tidak salah?"
"Memang kenapa, Kak?"
"Tidak, hanya kelebihan saja,"
"Tidak, Za, sengaja, ke Farid juga. Takutnya ada kebutuhan diluar sepengatahuan kita, Bunda atau Farid tidak berani bilang kepada Kita,"
"Terima kasih, ya, kalau ke Ibu Za, pernah tanya. Kata Ibu, uang jatah dari ayah saja sudah lebih dari cukup, uang hasil kerja Za, pegang saja buat keperluan Za,"
__ADS_1
"Baik, kalau begitu,"
Umaiza pergi ke kamar mandi dan Rahman menunggu di atas tempat tidur.