
Yang ada di ruang meeting tinggal Umaiza, Rahman, HRD.
Umaiza tidak banyak bicara hanya mendengarkan apa yang di katakan oleh Rahman dan HRD tiada lain yang bernama Sania.
"Pak, Mungkin bagian direktur bisa di gantikan dengan Bapak, namun kita pun harus memikirkan siapa yang akan menjadi pimpinan di kantor cabang apakah Ibu Umaiza?" tanya Sania.
"Iya, bagaimana Bu?" tanya balik Rahman kepada Umaiza.
"Kantor cabang In Syaa Allah operasional satu-dua bulan lagi, masih ada waktu untuk saya belajar tentang perusahaan ini. In Syaa Allah saya siap memimpin perusahaan ini, sedangkan Pak Rahman akan memimpin kantor cabang. Sesuai dengan keinginan Pak Baskoro yaitu Ayah saya,"
"Oke, Bagaimana Pak Rahman?"
"Iya, saya setuju. Lagian kantor cabang adalah perusahaan baru, sehingga membutuhkan banyak persiapan dan semuanya dimulai dari nol benarkan Ibu Umaiza?,"
"Ya, betul. Itu yang saya maksud,"
"Apakah saya harus membuka lowongan pekerjaan untuk menggantikan Bu Alifa, Rama dan Pak Bima, Pak Dewa?" tanya Sania.
"Boleh, mungkin untuk saat ini akan saya handle pekerjaan Alifa dan Pak Rahman. Pekerjaan Pak Bima dan Pak Dewa di pegang oleh Farid dan Rama di pegang oleh Rara, dua orang rekan saya tadi,"
"Baik, mungkin lowongan kerja untuk cabang baru?" tanya Sania Lagi.
"Iya atau sebagian bisa di seleksi karyawan dari sini juga untuk manager dan direktur nya, yang sudah ketahuan loyalitas dari mereka terhadap Perusahaan. Kami butuh lowongan untuk staf saja, dan sekretaris untuk ke depannya," jelas Rahman
"Baik, Pak, Bu, saya mengerti,"
"Alhamdulillah, Bu Sania kalau ada ide atau masukan jangan sungkan sampaikan kepada kami,"
"Iya, Pak, Bu, mungkin saya akan merombak beberapa posisi dan posisi yang kosong akan di bukakan lowongan pekerjaan,"
"Oh, Iya, kalau bisa jangan cantumkan nama perusahaan dan interview tidak di lakukan di kantor," pinta Umaiza.
"Kenapa Bu?" tanya Sania heran
"Waspada saja takutnya ada penyusup yang berniat tidak baik terhadap perusahaan, jujur kami masih trauma terhadap apa yang terjadi pada Ayah," ucap Umaiza sedih
"Iya, Baik, Bu, saya mengerti,"
"Alhamdulillah, terima kasih atas pengertian dan kerja samanya,"
"Sama-sama, Bu,"
"Saya anggap pembahasan sudah selesai, sekarang bisa kembali ke tempat kerjanya. Assalamu'alaikum," ucap Rahman menutup meeting kali ini dengan HRD.
"Baik, Pak, Wa'alaikummussalaam,"
Bu Sania pamit dan keluar dari ruangan.
Umaiza dan Rahman ikut keluar dan menemui Farid, Rara yanh menunggu di luar ruangan meeting.
"Farid, Rara, sekarang silahkan ikuti Bu Sania yang barusan keluar, berikan lamaran kalian lalu meminta informasi tentang job desk kalian," pinta Rahman
"Iya, Baik, Pak,"
"Ruangannya ada di lantai 2, direktur HRD," jelas Rahman.
"Baik," jawab Farid
Meski mereka adalah adik dan sahabat Umaiza namun baik Rahman dan Umaiza melakukan pekerjaan dengan profesional.
"Sayang, ayo kita ke ruangan,"
"Iya, baik, suamiku,"
Rahman dan Umaiza berjalan bersama untuk masuk ke ruangan masing-masing.
"Kak, bisa di informasikan job desk nya Umaiza?"
"Tentu sayang, Kakak akan mengajari Za,"
Rahman ikut ke ruangan Umaiza dimana sebelumnya adalah ruangannya.
Rahman mengajarkan Umaiza dengan hati-hati dan tidak butuh waktu banyak, Umaiza sudah mengerti apa yang di sampaikan oleh Rahman.
__ADS_1
"Kakak, yakin, Umaiza akan cepat faham dalam belajar tentang perusahaan ini. Dan akan lebih bijaksana di banding Kakak dan Ayah,"
"Aamiin, Kak, namun Kakak harus semangat membangun perusahaan di kantor cabang,"
"In Syaa Allah, asalkan senyuman itu harus tetap mengembang dari bibir Umaiza,"
Umaiza tersenyum.
"Sudah ya, Kakak ke ruangan dulu,"
"Baik Kak, selamat bekerja,"
"Selamat bekerja juga sayang," sambil mengecup kening Umaiza.
Umaiza bekerja dengan serius, menyelesaikan semua pekerjaan. Dan mencoba mengecek ke meja Alifa siapa tahu ada notes, pekerjaan yang belum diselesaikannya.
Umaiza menemukan buku agenda kegiatan Ayah, nomor hp kolega dan beberapa berkas. Umaiza buka buku halaman, dari tiap lembarnya, di baca dengan seksama.
Di sana ada yang di tulis dengan tinta warna merah dan tinta warna hitam.
"Kenapa ada dua tinta ya, kebanyakan yang di tulis oleh tinta merah saat Ayah sedang melakukan pertemuan di luar kantor,"
Umaiza terus membuka halaman berikutnya, betapa kagetnya ketika membuka halaman terakhir.
Hari jum'at, tanggal dan waktu dimana kejadian atas kecelakaan Ayah, tertulis sudah 'waktunya'
"Astagfirullah," teriak Umaiza.
"Siapa sebenarnya Alifa dan apa mau nya dia?" tanya Umaiza dengan suara keras
Rahman yang mendengar Umaiza berteriak segera keluar dan menemuinya.
"Ada apa Za?"
"Coba Kakak baca ini,"
Rahman sama kagetnya dengan Umaiza. Rahmam membuka lagi siapa tahu ada bukti lain.
"Masih ada tulisan lain Kak?"
Umaiza mencoba mencari kembali dan Rahman membuka halaman demi halaman sampai ke halaman terakhir.
"Za, ini ada photo," kata Rahman.
"Mana, Kak?"
"Ini," tunjuk Rahman.
"Itu seperti photo keluarga Alifa,"
"Sepertinya iya, Za,"
"Kak, coba kita ke HRD untuk meminta data pribadi Alifa dan Rama,"
"Iya, Kakak, setuju, mari," ajak Rahman.
Umaiza merapihkan kembali meja Alifa dan menutup pintu ruangan Rahman.
Mereka masuk ke lift untuk ke lantai 1.
Rahman keluar duluan di ikuti oleh Umaiza.
Rahman mengetuk pintu.
"Masuk," ucap Sania
Rahman dan Umaiza masuk.
"Kenapa Bapak dan Ibu kesini, kenapa tidak meminta saya ke ruangan saja,"
"Tidak apa-apa, kebetulan kami ada waktu luang. Maaf akan merepotkan, saya meminta data diri Alifa dan Rama,"
"Baik, kalau begitu sebentar saya cari lalu di print," ucap Sania sambil mencari data Alifa dan Rama di komputer.
__ADS_1
Tidak lama, Sania segera print data diri yang di minta Rahman dan Umaiza.
"Masih ada yang saya bantu?"
"Jika akan wawancara harus lebih hati-hati dan waspada lagi," ucap Rahman mengingatkan Sania.
"Baik, Pak,"
Alifa tidak terlihat memiliki niatan jahat kepada Pak Baskoro karena attitude dan prilakunya sangat baik.
Rahman dan Umaiza meninggalkan ruangan HRD dan kembali lagi ke lantai 7. Rahman mengajak Umaiza untuk membahas masalah ini di ruangannya.
Rahman dan Umaiza tidak menemukan hal yang aneh dengan data diri mereka.
"Za, kita tidak menemukan kejanggalan pada data diri mereka. Tidak tahu kalau Ibu,"
"Iya, Kak, Za, setuju,"
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30.
"Pekerjaan Za, sudah selesai?"
"Sudah, Kak,"
"Mana ada yang perlu Kakak periksa atau tanda tangan?"
"Oh, iya, maaf, Kak, Za, lupa. Tunggu bentar ya, Za bawa dulu,"
"Iya, ayo bareng sama Kakak, sekalian Kakak ingin ke ruangan Farid,"
"Oh, Iya, Kak, ayo. Sekalian ajak istirahat juga, Kak,"
"Iya,"
Umaiza masuk ke ruangan dan Rahman ke ruangan Farid.
Umaiza membawa berkas dan menyimpannya ke ruangan Rahman.
Umaiza mengingat obrolan terakhir dengan Pak Baskoro yang meminta Umaiza untuk menggantikan posisinya.
Tidak terasa air mata Umaiza jatuh, Rahman datang dan membawa berkas milik Farid.
"Za, kenapa?"
"Tidak apa-apa Kak," jawab Umaiza sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi.
"Pasti ingat sama Ayah?"
"Iya, Kak, meski Za, hanya 2 minggu bertemu dan dekat dengan Ayah. Namun menyisakan kenangan yang sangat dalam untuk Za,"
"Kakak mengerti," Rahman memeluk Umaiza untuk menenangkannya.
"Apa yang di tangan Kakak?"
"Berkas yang harus Za cek," ucap Rahman.
"Oh, iya, baik, Za, akan periksa,"
"Periksanya nanti saja, sekarang kita istirahat dulu ya," pinta Rahman.
"Iya, Kak,"
Umaiza kembali ke ruangan dan menyimpan berkas di atas meja dan buku agenda serta data diri Alifa dan Rama ke dalam tas.
Umaiza mengambil hp dan mencari nama Rara di kontak.
Telepon tersambung.
"Ra, dah waktunya istirahat. Kita istirahat bareng, bentar lagi kami ke bawah. Tunggu di lobby ya!"
"Baik, Umaiza, bentar lagi Rara ke lobby,"
Sambungan telepon terputus.
__ADS_1
Umaiza keluar ruangan, Farid pun sama baru keluar. Mereka melangkah bersama.
Rahman segera keluar ketika melihat Farid dan Umaiza berjalan.