
Kami sampai di kantor.
Umaiza dan Rahman jalan bersamaan. Di ikuti oleh Rara dan Farid di belakang.
"Duh, lama-lama ini perusahaan akan menjadi perusahaan keluarga," sindir Sari ketika mereka lewat ke hadapannya.
Rara duduk di meja kerja nya tanpa menghiraukan ucapan Sari. Begitu pun dengan Rahman, Umaiza dan Farid.
Sari mendelik dan pergi ke tempat Rara.
"Kamu siapanya Bos?" tanya Sari
Rara tidak menjawab
"Mentang-mentang dekat dengan bos, lu berani tidak menjawab pertanyaan gue, hah!" dengan memukul meja
Semua orang melihat ke arah meja Rara
"Emang penting ya?" ucap Rara dengan tenang
Farid, Rahman dan Umaiza berhenti dengan seketika.
"Apa susahnya sih lo, tinggal jawab saja," pukul meja lagi.
"Astagfirullah, saya itu saudara, teman dekat Umaiza. Ada yang mau di tanyakan lagi?" ucap Rara dengan sorot mata yang sedikit tajam.
"Pantas saja bisa begitu mudahnya masuk ke perusahaan ini," Ucap Sari ketus
"Tidak juga, saya sama saja dengan kalian harus membuat lamaran, psikotes dan interview dulu, kalau tidak percaya silahkan tanyakan kepada bagian HRD,"
"Itu hanya Formalitas," masih belum menyerah
"Ya terserah mau percaya atau tidak, saya sudah menjawab sesuai dengan yang anda minta. Maaf, saya sekarang mau kerja," dengan membuka berkas dan tidak menghiraukan lagi Sari
"Awas gue akan buat perhitungan dengan lu,"
Rara fokus ke kerjaannya.
Sari kembali ke tempat kerjanya.
Umaiza, Rahman dan Farid melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam lift.
"Kak, Sari sepertinya tidak tahu apa-apa,"
"Sepertinya, nanti kita lihat saja dulu. Apa yang akan di lakukannya. Rara harus hati-hati!"
"Kita semua harus hati-hati dan mudah-mudahan semua urusan tentang Alifa dan Rama segera selesai, supaya tidak ada kebencian dan dendam baru lagi,".
"Aamiin,"
Setelah sampai di lantai 7, Rahman, Umaiza dan Farid masuk ke dalam ruangannya masing-masing.
"Astagfirullah, dunia kerja tuh seperti ini. Urusan dia sesungguhnya apa, sampai tidak setuju dengan keputusan yang sudah kami ambil," batin Umaiza.
Rara mengirim chat kepada Umaiza.
"Umaiza, Sari berulah, semua sampah di tumpahkan ke atas meja,"
"Innalillahi, sesungguhnya ada masalah apa dia dengan kita," balas umaiza
"Rara tidak tahu, bisa kesini bentar, dia ngamuk-ngamuk juga,"
"Baik, Umaiza dan Kak Rahman akan turun,"
Umaiza segera ke ruangan Rahman.
"Kak, Rara kena amuk Sari,"
"Yang benar, Za?"
"Iya, Kak, kita harus segera turun,"
"Ya, ayo!" ajak Rahman.
Rahman dan Umaiza turun naik lift ke lantai 1.
"Sari, apa-apaan kamu?" teriak Rahman
Umaiza segera menarik Rara dan memeluknya, yang saat kerudungnya Rara sedang di tarik oleh Sari.
Sedangkan karyawan lain hanya menjadi penonton tidak ada yang melerai.
__ADS_1
"Kamu gak apa-apa, Ra?"
"Tidak Umaiza,"
"Ayo ikut ke ruangan saya," ucap Rahman kepada Sari, "Kamu juga, Ra,"
Rahman naik lift bersama dengan Umaiza, Rara dan Sari.
Pintu lift terbuka semuanya langsung masuk ke ruangan pimpinan perusahaan yaitu Rahman.
"Sari ada masalah apa kamu?"
Sari menunduk
"Apa salah Rara kepadamu, hah?" tanya Rahman lagi
Sari masih tidak berani mengangkat wajahnya.
"Rara bekerja disini itu rekomendasi kami termasuk Ibu Rahma, istri mendiang Pak Baskoro,"
"Ya, seharusnya Mbak Sari bisa memeberikan contoh yang baik kepada Rara, selaku senior disini. Bukan malah memusuhinya," sambung Umaiza.
Sari masih diam
Rara sibuk membenarkan kerudungnya yang di tarik oleh Sari.
"Saya anggap selesai masalah ini, tidak ingin mendengar kejadian ini terulang kembali, kalau kamu tidak berkenan dengan keputusan yang kami ambil untuk memperkerjakan Rara disini. Silahkan kamu membuat surat pengunduran diri," jelas Rahman.
"Bapak memilih dia di banding saya?"
"Iya, kenapa?"
"Maafkan saya, Pak. Sebenarnya saya kecewa karena Alifa dan Rama di pecat lalu di masukkan ke dalam penjara,"
"Iya karena mereka bersalah, mereka adalah dalang dari kecelakaan Pak Baskoro,"
"Apa?" Sari tidak percaya
"Iya, awalnya kami pun tidak percaya,"
"Pak Baskoro adalah seorang pemimpin yang bijaksana kenapa mereka tega melakukan ini?" tanya Sari tidak percaya.
"Coba Mbak Sari cari tahu sendiri, tanya kepada Alifa dan Rama. Mbak Sari kan teman dekat dari mereka, siapa tahu kepada Mbak Sari bisa terbuka," kata Umaiza
"Astagfirullah, innalillahi, itu adalah dimana Ayah mengalami kecelakaan." ucap Umaiza sedih mendengar cerita dari Sari.
"Kalau begitu apa yang akan di lakukan kamu, jika ada di posisi kami?" tanya Rahman.
"Saya akan melakukan hal yang sama dengan apa yang Bapak, Ibu Rahma dan Ibu Umaiza lakukan," jelas Sari.
"Syukurlah kalau sudah mengerti,"
"Izinkan saya membantu Bapak dan Ibu melakukan penyelidikan dalam kasus ini,"
"Yang benar?" tanya Umaiza tidak percaya.
"Iya, Bu, saya benci dengan kebohongan,"
"Kalau begitu saya ucapkan terima kasih banyak, atas kesediaan Mbak Sari untuk membantu kami,"
"Sama-sama, Bu,"
"Kalau begitu saya titip Rara, tolong bantu bimbing Rara dalam pekerjaannya," ucap Umaiza.
"Baik, Bu, Ra, saya minta maaf atas kejadian tadi" ucap Sari dengan menjulurkan tangannya.
Rara menerima dan saling berpelukan.
"Sudah saya anggap selesai ya, silahkan kembali ke tempat kalian,"
"Baik, Pak, Bu, saya pamit undur diri," kata Sari
Rara pun sama.
Mereka berdua turun naik lift.
Saat mereka berdua keluar dari lift, pandangan karyawan lain berbeda-beda. Ada yang tersenyum, ada yang cemberut. Namun Rara dan Sari tidak menghiraukannya.
Umaiza kembali keruangannya dan akan memeriksa berkas yang dikerjakan oleh Farid. Begitu juga dengan Rahman memeriksa berkas yang di kerjakan oleh Umaiza.
Pekerjaan Rahman dan Umaiza sudah selesai. Umaiza kembali ke ruangan Rahman.
__ADS_1
Mencoba membuka kulkas siapa tahu ada stock makanan. Ternyata benar di dalam kulkas ada minuman dan buah-buahan. Umaiza mengambil apel dan segera mencuci dan memotongnya ke atas piring.
Diserahkan sebagian kepada Rahman dan sebagian lagi untuk dirinya.
"Kak, boleh Umaiza selonjoran bentar di dalam," meminta izin untuk tidur di dalam kamar tersembunyi yang Pak Baskoro buat untuk Umaiza.
"Kenapa lelah?"
"Iya, Kak, sedikit pusing,"
"Iya, boleh, mau di kamar Za atau di kamar tepat di belakang Kakak?"
"Boleh, yang kamar tempat istirahat Ibu dan Ayah saja,"
Rahman menggeserkan kursinya, Umaiza lewat ke belakang Rahman. Namun Rahman menarik tangan Umaiza, sehingga Umaizs jatuh di pangkuannya.
Hati keduanya sangat berdegup kencang. Rahman ******* bibir mungil Umaiza.
"Kakak, iseng. Gimana nanti kalau ada karyawan yang masuk?"
"Tidak apa-apa, supaya Kakak dapat booster lagi untuk bekerja,"
Rahman ******* kembali bibir mungil Umaiza, untuk kali ini Umaiza memberikan perlawanan.
"Sudah bisa ya sekarang?"
"Kan, Kakak, yang mengajarkan Umaiza,"
Tombol Kamar di pijit dan secara otomatis pintu terbuka.
Umaiza berdiri dan di tarik kembali oleh Rahman.
"Kakak, Za, mau masuk,"
"Kakak, ikut, ya?"
"Memang kerjaannya sudah selesai?"
"Sudah, dong," jawab Rahman sambil tersenyum.
Umaiza berdiri dan di ikuti oleh Rahman, mereka masuk ke dalam.
Umaiza di gendong dan di tidurkan di atas kasur.
"Kakak mau apa?"
"Tidak mau apa-apa, tadi kan Za, bilang pusing. Jadi sama Kakak di gendong,"
"Ya, kirain mau apa, kalau mau minta jatah nanti saja di rumah, ada waktunya malam,"
"Iya, benar ya?"
Umaiza tersenyum dan bangun dari tidurnya.
Umaiza melihat-lihat koleksi milik Pak Baskoro.
Laci satu persatu Umaiza buka.
"Apa yang sedang Za, lakukan?"
"Za, sedang mencari sesuatu. Siapa tahu ada barang bukti,"
"Benar juga ya, kenapa Kakak tidak kepikiran,"
"Kakak pikirannya mesum terus," sindir Umaiza sambil tersenyum.
"Siapa suruh Umaiza yang menggoda Kakak terus!,"
"Idih, menggoda apa, karena Umaiza cantik?"
"Idih, Za, kepedean,"
"Xixixi,"
"Memang Umaiza cantik, apalagi kalau tersenyum membuat Kakak ingin terus mencium bibir mungilnya,"
"Dasar mesum,"
"Idih, ngatain terus, minta di cium lagi ya?"
"Nanti malam,"
__ADS_1
Rahman terdiam dan segera mengikuti apa yang dilakukan oleh Umaiza. Ini kali pertama Rahman masuk ke dalam ruangan tersebut.
Dengan melihat-lihat koleksi barang-barang milik Pak Baskoro, tersirat sisi lain dari Pak Baskoro.