
Bapak Pengacara pulang. Umaiza, Rahman dan Ibu Rahma. Membaca kembali laporan keuangan Pak Baskoro dan surat - suratnya dengan teliti takutnya ada kesalahan dalam menulis nama dan lain-lainnya.
"Bu, apakah Ayah kalau membeli apa-apa tidak berdiskusi dulu dengan Ibu?"
"Tidak semua, Nak, ini saja sebagian besar Ibu tidak tahu,"
"Coba Kak, periksa dalam surat-surat dan sertifikatnya atas nama siapa?" pinta Umaiza.
Rahman baca dengan teliti bahkan sampai beberapa kali di ulang.
" Iya, Za, semuanya asli. Ini juga ada tanah, rumah, vila dan mobil atas nama Za,"
"Maa Syaa Allah,"
"Maa Syaa Allah, tanggal beli nya ternyata saat Umaiza di temukan,"
"Yang benar, Kak,"
"Iya,"
"Ayah, jika harus memilih. Umaiza lebih baik memilih tuk terus bersama Ayah, daripada ini semua," Umaiza merasa terharu.
"Itu tanda Ayah sangat sayang sama Umaiza. Apalagi saat bertemu pertama kali, Umaiza tumbuh menjadi gadis yang cantik, sederhana dan sholehah,"
"Ibu, ini semua atas do'a Ayah dan Ibu juga," ucap Umaiza sambil memeluk Ibu.
"Untuk tabungan deposito, saham dan giro bisa di cek di masing-masing Bank. Ini ada buku dan surat kuasanya sudah Pak Baskoro siapkan," jelas Rahman
"Iya, Kak, Ayah sudah mempersiapkan semuanya dengan baik,"
"Nak, gunakan harta ini dengan sebaik-baiknya. Jangan lupa untuk bersedekah supaya berkah," nasihat Ibu.
"Iya, Bu, In Syaa Allah. Untuk sementara Umaiza simpan saja ya, surat-surat ini. Nanti kita bahas kembali, jujur Umaiza belum siap dan berfikir akan di apakan semua ini. Semoga bisa menggunakan untuk hal-hal yang bermanfaat,"
"Aamiin, sekarang Ibu mau istirahat dulu,"
"Iya, Bu. Umaiza juga sama,"
"Kakak mau ke rumah Bunda dulu ya, Za sama Ibu istirahat saja. Nanti waktunya dzuhur Kakak, bangunkan Za,"
"Iya, Kak,"
Ibu masuk ke kamar.
Umaiza juga sama sambil membawa berkas-berkas yang Pak Baskoro amanahkan kepada Umaiza dan Rahman.
Umaiza menyimpannya di dalam koper yang kata sandi hanya dirinya saja yang tahu.
Umaiza mencoba membaringkan tubuhnya di atas kasur, tidak lama kemudian Umaiza sudah terlelap tidur.
"Umaiza," panggil Ayah
"Iya, Ayah," jawab Umaiza.
"Ayah percaya Umaiza dan Rahman akan bisa menggunakan harta yang Allah titipkan kepada kalian dengan sebaik mungkin,"
"Aamiin, In syaa Allah, Ayah,"
"Alhamdulillah, kalau begitu Ayah sudah tenang sekarang. Ayah akan pergi jauh, titip Ibu dan jaga diri baik-baik,"
"Ayah mau pergi kemana?"
"Ayah akan pergi ke tempat semestinya, tidak lupa do'akan Ayah dan kelak kita dikumpulkan kembali di surganya Allah,"
"Apa Umaiza bisa ikut sekarang dengan Ayah?"
"Umaiza belum waktunya kembali,"
"Umaiza ikut Ayaaaahhh," teriak Umaiza ketika Ayah pergi menjauh.
"Ayah harap Umaiza mengerti, jangan memberatkan langkah Ayah, Ayah sudah tidak banyak waktu lagi," akhirnya menghilang
"Ayaaah," Umaiza terjatuh dan menangis sejadi-jadinya.
Rahman pulang dari rumah Bunda dengan seketika pergi ke dalam kamar, saat mendengar Umaiza berteriak.
"Za, bangun, Za," pinta Rahman
"Ayah," Umaiza masih memanggil Ayah dengan isak tangis.
"Za, bangun," pinta Rahman kembali dengan menggerak-gerakan badan Umaiza saat di pegang keningnya, basah dengan keringat.
Umaiza membuka mata dan seketika langsung memeluk Rahman.
"Za, mimpi apa?"
"Ayah, Kak,"
"Ikhlaskan Ayah sudah tenang,"
"Tapi terasa nyata,"
"Ayah itu lagi menunggu do'a dari Umaiza,"
"Astagfirullah, iya Kak,"
"Ya udah kita shalat dzuhur!"
"Sudah adzan?"
"Sudah dua puluh menit yang lalu,"
"Iya, sudah ayo, kak,"
Umaiza pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan sekalian berwudhu.
Rahman keluar kamar untuk berwudhu di tempat dan pergi ke mushola.
Umaiza mengambil mukena dan mengikuti Rahman ke mushola yang berada di lantai dua.
Mereka shalat berjama'ah.
__ADS_1
Berdzikir
"Allahumagfirlahu warhamhu waafihi wa fu anhu," do'a Rahman dan Umaiza.
Umaiza salaman dan mencium tangan Rahman lalu Rahman mencium kening Umaiza.
"Kak, kita mau makan apa?"
"Oh, Iya, hampir lupa. Bunda mengajak kita makan di rumahnya,"
"Oh, begitu?"
"Iya, tolong bangunkan Ibu. Takutnya Bunda menunggu lama,"
"Iya, baik, Kak,"
Umaiza membereskan mukena dan sajadahnya, di simpan sesuai tempatnya.
Umaiza turun duluan, Rahman mengikuti dari belakang.
"Bu," panggil Umaiza sambil mengetuk pintu.
"Iya," jawab dari dalam.
"Bu, Umaiza masuk ya,"
"Iya, Nak,"
Ibu baru beres mendirikan shalat.
"Bunda mengajak kita makan di rumahnya,"
"Iya, Baik, sebentar lagi Ibu menyusul,"
"Umaiza tunggu ya, Bu,"
"Iya, Nak,"
Umaiza meninggalkan kamar Ibu dan menunggunya di ruang tamu.
Rahman sedang makan cemilan yang di suguhkan kepada Bapak Pengacara, belum Umaiza bereskan.
Cangkir-cangkirnya masih berada di atas meja dengan kue basahnya.
Umaiza meminum air miliknya.
"Kak, kue basahnya kita bawa ke rumah Bunda saja ya. Takut tidak termakan,"
"Iya, Za,"
Ibu keluar kamar dengan rapi.
Mereka pergi bersama ke rumah Bunda dan tidak lupa untuk menutup pintu.
Umaiza yang paling teliti.
Rahman membawa dua piring kue basah.
"Iya, Pak, ada yang bisa saya bantu,"
"Ini untuk Bapak," dengan memberikan satu piring kue basah,"
Isinya ada bugis, nagasari dan kue lapis.
"Oh, Iya, Pak, terima kasih,"
"Sama-sama,"
Satpam kembali ke pos jaga.
Rahman dan yang lainnya melanjutkan langkahnya ke rumah Bunda.
"Assalamu'alaikum," ucap Umaiza
"Wa'alaikummussalaam," jawab Bunda sambil menyambut mereka.
"Maaf, Bunda telat datang tadi kita shalat dulu," ucap Rahman merasa bersalah.
"Iya, gak apa-apa, mari masuk.
Umaiza dan Ibu masuk di ikuti Rahman
"Mari duduk, Bu"
"Terima kasih," sambil duduk.
"Bunda, ada yang bisa Umaiza bantu?"
"Tidak ada Nak, semua sudah beres, mau makan sekarang atau bagaimana?"
"Sekarang saja, Bun, kebetulan sudah lapar," jawab Rahman spontan.
" Kalau begitu ayo, mari ke sini. Ke meja makan," Ajak Bunda.
Farid pun keluar kamar
Rahman duduk di sebelah Umaiza, Ibu di sebelah Bunda dan Farid.
Umaiza mengalaskan nasi untuk Bunda, Ibu, Kak Rahman dan dirinya.
"Kakak, sensi kok Farid gak sih," canda Farid
"Apa kamu manja sama Kakak Ipar, biasa juga mengalas sendiri," celetuk Rahman.
"Sini, sama Kakak alasin," ucap Umaiza sambil menaruh nasi di piring Farid.
"Makasih Kakakku yang cantik," puji Farid tanpa menghiraukan Rahman.
"Sama-sama adik yang manja,"
Untuk minumannya semua memilih air putih
__ADS_1
Lauknya sangat lengkap. Ada ayam bakar, ikan pesmol, tahu, tempe, lalapan dan tidak lupa sambal.
Untuk buah-buahannya Bunda menyediakan pisang, semangka dan jeruk.
Minumannya ada air putih, air teh dan jus strawberry.
Semua sudah mulai makan dan suasana seperti sedang mengheningkan cipta tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka kecuali suara sendok dan piring beradu.
"Alhamdulillah," ucap Rahman yang di ikuti oleh Farid, Umaiza, Ibu dan yang terakhir Bunda.
Di lanjut dengan makan buah-buahan. Hampir semuanya memilih pisang kecuali Umaiza yang lebih memilih jeruk.
"Kakak, ke depan ya,"
"Iya, Kak,"
Farid balik ke kamar tanpa bicara kembali.
Ibu dan Bunda melanjutkan obrolan yang tadi pagi.
"Sudah, ya, Bu, Bun?"
"Iya, sudah, Nak," Jawab Ibu dan Bunda secara bersamaan.
"Umaiza bereskan ya,"
"Sudah, Umaiza duduk saja, nanti sama Bunda,"
"Tidak apa-apa, Bunda,"
"Iya, Bun, gak apa-apa. Umaiza memang begitu, di rumah juga sama. Meski ada Bi Marni," jelas Ibu.
"Oh, iya, kalau begitu. Biar kerasan juga ya, anggap rumah ini rumah sendiri saja."
"Iyaz Bun,"
Umaiza membawa semua piring kotor ke dapur dan langsung mencucinya.
Bunda dan Ibu pindah ke ruang tamu.
Setelah beres mencuci piring, Umaiza membersihkan meja makan dan menyimpan makanan sisa di tempatnya.
Semuanya rapi dan bersih seperti sedia kala.
Umaiza ikut gabung dengan Ibu dan Bunda.
"Umaiza, kalau Rahman nakal. Bilang ke Bunda ya,"
"In Syaa Allah, Kak Rahman baik dan selalu ada untuk Umaiza,"
Rahman masuk ke rumah.
"Za, mau pulang sekarang?"
"Iya, Kak, ayo. Kakak mau istirahat?"
"Iya, Za,"
"Ibu disini dulu ya, Nak,"
"Iya, Ibu, apakah Bunda sudah istirahat?"
"Sudah, tadi selesai masak. Bunda tidur sebentar,"
"Kalau begitu, Umaiza tinggal dulu ya,"
"Iya, Nak," jawab Bunda.
Umaiza melangkah sambil menggenggam tangan Rahman.
Rahman membuka pintu dan masuk ke dalam. Langsung melangkahkan kakinya ke kamar.
Umaiza mengambilkan air putih ke dapur dan membawa ke kamar.
Rahman sudah berbaring di tempat tidur.
Umaiza mengikuti untuk berbaring di samping Rahman.
Rahman menghadap ke Umaiza.
"Mau tidur lagi?"
"Za, mau menemani suami Za, tidur,"
"Terima kasih istrinya Kakak yang sholehah,"
"Muji pasti ada maunya?" tanya Umaiza sambil menghadap ke arah Rahman.
Sekarang Umaiza dan Rahman sudah saling berhadapan.
"Memang Za, sudah siap?"
Umaiza menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Siapnya kapan?"
"Bismillah, Malam," masih tersenyum.
"Jangan di paksakan kalau memang belum siap, karena Cinta Rahman Bukan hanya Sekedar Rasa ingin memiliki tubuhnya Umaiza,"
"Alhamdulillah, jika perjalanan menuju tua nanti Za, sakit. Apakah Kakak tidak akan berpaling?"
"Selama Za, masih berada di jalan Allah, menjadi istri yang sholehah. Kakak akan senantiasa berada di sampingnya Za,"
"Maa Syaa Allah, itu yang membuat Za sayang sama Kakak," sambil mencium kedua pipi Rahman.
"Kalau, Za, bagaimana?"
"Za, hanya minta kepada Allah yang Maha membolak-balikkan hati Manusia. Supaya Kakak senantiasa tulus mencintai Za, kalau Kakak tidak berubah. Za juga tidak akan berubah,"
"Alhamdulillah,"
__ADS_1