Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Rahman sangat cool


__ADS_3

Rara dan Umaiza melangkah keluar untuk menuju kafe biasa. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan.


Rara dan Umaiza melewati jembatan penyebrangan seperti biasanya. Ketika akan turun Roni datang dan memberhentikan langkah kami. Kami awalnya tetap sopan "mungkin akan minta maaf," pikir Umaiza.


Ternyata Roni menarik tangan Umaiza dan membawa Umaiza menjauh dari Rara dan teman-temannya. Umaiza di seret lalu pipinya di pegang oleh satu tangan, Roni penuh dengan nafsu. Ketika akan mencium mulut Umaiza, seketika itu Umaiza menendang kaki Roni, sehingga Roni melepaskan cengkraman lalu memegang kaki yang di tendang oleh Umaiza, "Aaaaauuu, sialan," teriak Roni.


"Bukan aku yang sialan tapi kamu," ucap Umaiza dan berlari meninggalkan Roni. Namun seketika itu Roni menarik kaki Umaiza, sehingga Umaiza terjatuh.


Roni melangkah mendekat Umaiza yang masih tersungkur, ketika sudah dekat dengan Umaiza Roni jongkok dan menarik kepala Umaiza ke belakang, Umaiza langsung memukul wajah Roni.


Rahman datang, Rara memanggilnya.


"Kak Rahman, tolong, Kak tolong," Teriak Rara.


Umaiza mencoba bangun.


Mulut Rara di bekam oleh salah satu teman Roni.


Rahman mencari sumber suara, saat melihat ke jembatan penyebrangan melihat Rara. Lalu Rahman berlari naik tangga, di lihatnya Umaiza sedang tertatih-tatih saat berjalan.


Semua teman-teman Roni, membantu Roni untuk berdiri.


"Astagfirullah, Innalillahi, Umaiza," berlari mendekat ke Umaiza begitupun Rara.


"Kakak," Peluk Umaiza kepada Rahman.


"Kamu tidak apa-apa?" ketika melihat baju dan kerudung Umaiza acak-acakan tidak karuan.


"Tidak Kak," membenamkan kepalanya di dada bidang Rahman.


"Tunggu," ucap Rahman ketika melihat Roni mau pergi dengan teman-temannya.


Roni dan teman-temannya berhenti.


Rahman melepaskan pelukan Umaiza, "Umaiza tunggu disini ya, nitip Umaiza ya, Ra,"


"Iya, Kak," kata Rara


Umaiza tetap menangis dan sekarang beralih memeluk Rara.


Rahman berjalan ke arah Roni dan teman-temannya.


"Oh, mahasiswa abadi rupanya," ucap Rahman tetap tenang


"Bukan urusan lo,"


"Semua yang menyangkut urusan Umaiza akan menjadi urusan gua, karena Umaiza adalah calon istri gua," jelas Rahman sambil memegang pundak Roni dan berdiri disisinya.


"Silahkan sekarang gua sudah gak minat, lo harus tahu dia itu piaraan om-om,"


"Jaga mulut lo, kalau lo gak tau apa-apa tentang Umaiza jangan asal ngomong," Mencekram pundak Roni dengan keras


"Gua ngomong karena gua tau, tadi ja kuliah di antar sama Om-om," sedikit meringis


"Hahaha, jangan asal jeplak lo kalo ngomong. Su'udzon di piara, harusnya bertabayun dulu sebelum lo ngomong. Sini gua kasih tahu, yang nganter Umaiza tadi itu Pak Baskoro, bokapnya Umaiza."


"Apa?"


"Iya, mau lo kalo bokap Umaiza pecat bokap dan kakak lo, hah, bisa-bisa lo jadi gembel," tunjuk Rahman ke muka Roni


Roni langsung menundukkan kepalanya.


"Kalau lo gak mau itu terjadi, lo harus minta maaf sama Umaiza sekarang,"


Roni masih menundukkan kepalanya.


Rahman meninggalkan mereka dan pergi menemui Umaiza dan Rara.


Umaiza berjalan dengan Rara ke kafe dan Rahman mengikuti dari belakang.


Rara dan Umaiza duduk.

__ADS_1


Rahman memesan makanan.


Setelah selesai pesan makanan, Rahman duduk di hadapan Umaiza.


"Kakak kenal sama Roni?"


"Iya, dia mahasiswa abadi. Ayah dan kakaknya bekerja di perusahaan ayahmu."


"Jangan bilang kepada ayah, atas kejadian ini ya, kak?"


"Kakak ga janji ya,"


"Ih, kakak jahat,"


"Senyum dulu, biar tidak kelihatan sudah terjadi sesuatu,"


Semuanya tersenyum.


"Tapi kakak merasa aneh, kenapa dia seperti itu ke Umaiza?"


"Kak, Roni itu suka sama Umaiza. Sudah berapa kali menembak, tapi Umaiza selalu menolak, namun saat tadi melihat Umaiza di antar ayahnya dia merasa kesal. Disangkanya Umaiza perempuan gak benar," jelas Rara.


Pesanan datang dan kami makan.


Semua, makan tanpa suara.


Umaiza sekali-sekali meringis memegang perut yang terasa sakit dan mulas, sepertinya bekas jatuh tadi.


Rahman mengajak pulang Umaiza mengangguk. Umaiza tidak biasanya memegang tangan Rara seperti tanda ingin minta di antar ke mobil Rahman.


Jalan yang sangat pelan dan wajah berubah pucat, Rara tidak menyadari kalau Umaiza merasakan sakit.


Umaiza masuk ke dalam mobil yang disusul oleh Rahman. Tangan Umaiza tidak lepas dari perutnya.


Rahman yang melihatnya merasa khawatir, Rahman berniat membawa Umaiza ke Rumah sakit.


Saat di pertengahan jalan, Umaiza tambah pucat dan sudah tidak sadar.


"Umaiza," panggil Rahman


Rahman menghubungi Pak Baskoro untuk memberitahukan keadaan Umaiza sekarang. Pak Baskoro terdengar panik dan segera menutup teleponnya.


Rahman Sudah sampai di rumah sakit, lalu dengan segera menggendong Umaiza masuk ke dalam dan memasukkannya ke ruang IGD.


Dan segera di tangani oleh dokter. Pak Baskoro dan Bu Rahma sudah sampai dan mendekat ke arah Rahman.


"Apa yang terjadi Rahman?"


Mau tak mau Rahman menceritakan kejadian di kampus Umaiza tanpa kurang satu apapun.


"Apakah saya kenal?"


"Kalau anaknya mungkin bapak tidak tahu, tapi kalau ayah dan kakaknya bapak sangat mengenalnya,"


"Siapa mereka itu?"


"Dewa dan Bima,"


"Mereka yang loyalitas ke perusahaannya sangat bagus, dan anaknya?"


"Iya,Pak. Kenapa bisa terjadi seperti ini?"


"Karena cinta yang tidak dibalas sama Umaiza, tadi dia melihat Umaiza di antar sama Bapak. Dikatain kalau Umaiza itu piaraan om-om,"


"Kacau itu anak, antar saya ke kampus,"


"Baik, Pak. Namun tunggu dulu dokter keluar, saya khawatir sama Umaiza,"


"Iya,"


Dokter yang menangani Umaiza keluar.

__ADS_1


Rahman, Pak Baskoro dan Bu Rahma mendekat kepada dokter tersebut.


"Bagaimana anak kami, Dok?" tanya Pak Baskoro.


"Umaiza tidak apa-apa, hanya ada benturan di bagian perutnya namun tidak ada yang serius,"


"Alhamdulillah, sekarang bagaimana keadaannya?" tanya bu Rahma yang sedari tadi menangis.


"Sebentar lagi juga sadar, silahkan kalau mau melihat," ucap dokter.


Semuanya masuk ke dalam ruangan, di sana Umaiza di pasang infus ke tangannya. Ibu Rahma tambah menangis melihat Umaiza terbaring.


"Bu, Ayah ke kampus dulu dengan Rahman," ucap Pak Baskoro.


"Iya, Yah,"


Rahman dan Pak Baskoro segera keluar dari rumah sakit dan masuk ke pelataran parkir untuk naik mobil Rahman menuju kampus.


Rahman mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Hanya waktu 15 menit Rahman dan Pak Baskoro sudah sampai di kampus dan segera menemui rektor.


Rahman dan Pak Baskoro menjadi pusat perhatian para mahasiswa karena mereka mengetahui Pak Baskoro merupakan donatur terbesar kampus tersebut.


Tok...tok...tok...


"Iya, silahkan masuk,"


Rahman dan Pak Baskoro masuk ke ruangan rektor.


"Ada urusan apa yang membuat Bapak kesini,"


"Saya mau melihat cctv kejadian hari ini di kampus,"


Rektor memanggil bagian monitoring kampus. Tidak lama bagian monitoring datang dengan membawa hasil cctv.


Rektor, Pak Baskoro dan Rahman melihat hasil cctv.


"Saya ingin mahasiswa yang melakukan ke Umaiza di hukum secara adil,"


"Baik, Pak, namun kenapa bapak tahu kejadian ini?"


"Saya ayah kandung Umaiza dan Rahman calon suami Umaiza, saya tahu dari Rahman,"


"Ma Syaa Allah, maaf saya tidak tahu."


"Iya, tidak apa-apa. Sekarang Umaiza sedang di rawat di rumah sakit karena ada benturan, oleh karena itu saya ingin laki-laki itu dihukum,"


"Baik, Pak. Semoga Umaiza lekas sembuh, karena kamis mau sidang. Baru tadi pagi Umaiza mengajukannya,"


"Apalagi seperti itu, kalau sampai Umaiza kenapa-kenapa. Saya akan melaporkan anak itu ke polisi,"


"Baik, Pak. Coba saya panggil anak itu sekarang supaya bapak bertemu,"


"Baik, saya akan tunggu,"


Roni datang ke ruangan Rektor. Di dalam sudah ada Rahman dan Pak Baskoro. Roni hanya menunduk dan pasrah.


Rahman dan Pak Baskoro hanya menatap tajam kepada Roni. Rektor yang berbicara.


"Roni tahu kenapa kamu di panggil kesini?"


Roni tidak menjawab.


"Untuk kesalahan kamu hari ini, Bapak ingin orangtua kamu menemui Bapak,"


Roni masih tidak bergeming.


"Kamu itu mahasiswa abadi, harusnya menjadi contoh untuk adik angkatan kamu, bukan seperti ini. Pikirkan bagaimana bisa lulus dari kampus malah bertingkah. Mau berapa lama lagi kamu akan kuliah disini. Apa perlu bapak DO kamu?" jelas Rektor panjang lebar.


Roni tetap diam.


"Besok Bapak tunggu orangtua kamu di kampus, kalau tidak terpaksa bapak DO kamu, silahkan kamu keluar dari sini," ucap Rektor tegas.

__ADS_1


Roni pun keluar dari ruangan tanpa mengeluarkan kata sedikitpun.


Pak Baskoro dan Rahman pamit ketika sudah mendengar semua ucapan Rektor kepada laki-laki itu.


__ADS_2