Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Mall Besar


__ADS_3

Setelah sampai ke Mall, Rahman memasukkan mobilnya ke basemant untuk parkir. Rahman memilih yang dekat menuju jalan masuk ke Mall tersebut. Rahman, Ibu Rahma dan Umaiza masuk melalui jalan belakang.


Ibu Rahma menggandeng Umaiza dan masuk ke lift yang di ikuti oleh Rahman.


Ibu Rahma membawa ke butik langganannya. Semua style pakaian lengkap. Umaiza segera melihat-lihat gamis yang model sederhana dan tetap modis yang sama dengan warna jilbabnya.


"Za, ada yang cocok?"


"Tidak ada, harganya selangit semua,"


"Iya-iya, Za, ini kan butik,"


"Hufth, hehehe, iya, Za lupa,"


Rahman hanya tersenyum mendengar ucapan Umaiza. Gadis impiannya terkadang terlihat sangat dewasa, sangat lugu, sangat lucu, sangat pintar dan pendiam.


"Mana yang Za, suka?"


"Cari di tempat yang lain saja,"


"Sayang, Ibu suka beli disini. Umaiza tidak akan kecewa dengan model dan bahannya. Disini modelnya limited edition," jelas Ibu.


Umaiza tidak menghiraukan dan melenggang ke dalam melihat model lain.


Rahman segera mengambil 1 pcs yang tadi Umaiza lihat dan di berikan kepada karyawan butik untuk di pisah.


Umaiza melihat lagi model lain dengan Ibu Rahma. Yang dilakukan sama dengan yang sebelumnya. Rahman pun melakukan yang sama.


Ibu Rahma membeli baju yang di sukai dan 1 pcs untuk Umaiza.


Umaiza melihat beberapa bergo yang panjang dan kerudung segi empat panjang lalu mengambilnya ke dalam keranjang.


"Sudah yuk, Bu,"


"Iya, tunggu Ibu bayar dulu,"


"Baik, Bu,"


"Za, gak beli bajunya?" tanya Rahman.


"Tidak, Kak, coba di butik lain,"


"Disini cuma ini saja?"


"Iya, Kak,"


"Sini berikan kepada, Kakak,"


Ibu Rahma sudah selesai. Umaiza dan Ibu Rahma sudah keluar, sekarang giliran Rahman yang membayar.


"Umaiza sekalian saja ke butik baju pengantin,"


"Iya, Bu, tapi Umaiza lapar," sambil memegang perutnya.


"Ah, Umaiza. Iya, ayo, kita makan dulu. Kita tunggu dulu Rahman keluar,"


"Makasih, Ibuku sayang," sambil memeluk dan mencium Ibu Rahma.


"Umaiza ini, gak malu mencium Ibu di depan umum?"


"Kenapa harus malu, sama Ibu ini, kalau mencium Kak Rahman baru malu, hehehe," Umaiza terkekeh


"Eheeem, nama kakak di bawa-bawa,"


"Gak, Kak, bukan Za, tapi Ibu," Umaiza mengelak


"Kenapa jadi menyalahkan Ibu?" mencoba membela diri.


"Iya-ya, deh. Za, yang salah, tapi Za tidak membicarakan kakak yang jelek kok,"


"Iya, kakak percaya kok, Za, masa calon istri yang sholehah ini mau menjelekkan calon suaminya," ucap Rahman.


"Yes, calon suami Za, ini sangat baik dan percaya.


" Ayo, mau makan atau mau mengobrol terus?" tanya Ibu Rahma yang merasa menjadi nyamuk diantara mereka berdua.


"Makan, Bu. Ini cacing sudah pada demo,"


Ibu Rahma jalan duluan menuju foodcourt, Umaiza dan Rahman mengikuti dari belakang.


"Lapar, Za?"


"Iya, Kak, lapar banget,"


"Tadi tidak sarapan?"


"Tidak, Kak. Tadi sarapan roti saja dan susu," dengan gaya manjanya.


Rahman mengusap kepala Umaiza.


Ibu Rahma dan Umaiza duduk di pojokan, Rahman memesan makanan. Untuk semuanya dan minumannya juga.


Rahman duduk di samping Umaiza.


"Rahman ini rencananya belanja buat seserahan?" tanya Ibu Rahma


"Iya, Bu,"


"Tinggal apa saja?"


"Tinggal pakaian, dalaman dan juga mukena,"

__ADS_1


"Oooh, yang lainnya sudah ada?"


"Sudah, Bu,"


"Alhamdulillah, untuk WO nya biar Ibu yang mencari. Sekarang tinggal nyari baju pengantin dan belanja yang belum ada buat seserahan."


"Alhamdulillah, WO nya dari Ibu, Za," Ucap Rahman tersenyum.


Umaiza diam tidak merespon ucapan Rahman.


"Kapan rencana mau ke panti?"


"Kalau hari minggu, bagaimana, Bu?" ucap Rahman.


Umaiza mengangguk.


"Iya, boleh, nanti kita kesana semuanya,"


"Kalau Bunda, menemui Ibu dan Bapak, In Syaa Allah hari sabtu,"


"Baik, kami tunggu di rumah,"


Rahman melihat ke arah Umaiza yang dari tadi tidak berbicara.


"Za, kenapa?"


"Makanannya lama banget datangnya, Za, lapar banget," jawab Umaiza polos dengan suara sangat pelan.


"Sabar, sayang, sebentar lagi selesai," Ucap Ibu Rahma menenangkan.


Rahman melihat Umaiza sudah tidak bertenaga bahkan hanya untuk berbicara menjadi merasa khawatir.


"Umaiza apakah kamu memiliki penyakit maag?"


Umaiza mengangguk.


"Tunggu sebentar,"


"Mau kemana?"


"Ke apotek sebentar,"


"Buat apa?"


"Mau beli obat Maag, sebentar,"


Umaiza mengangguk.


Wajah Umaiza menjadi pucat seketika.


Ibu Rahma membeli sesuatu yang bisa dimakan untuk mengganjal perutnya Umaiza, sebelum pesanan datang.


Ibu Rahma melihat ada bubur sumsum dan segera membayar dan membawa ke meja.


"Iya, Bu," suaranya sangat lemah.


Rahman datang dengan membawa obat maag cair dan air mineral. Rahman memberikannya kepada Umaiza dan segera meminumkannya.


Tidak lama kemudian obat bereaksi. Umaiza kembali lagi ceria.


"Nak, Ibu kaget. Mulai sekarang kalau lapar langsung bilang. Di rumah pun sama, meski belum waktunya kalau sudah lapar makan sendiri saja,"


"Iya, Bu. Makasih ya, Kak,"


"Di rumah harus bikin minimarket, jadi kalau Za lapar, tinggal ambil saja."


"Ide, bagus itu. Di rumah kakak nanti bikin ya," dengan senyuman khasnya.


"Siaaap,"


Makananpun datang. Di simpan di atas meja. "Silahkan menikmati," ucap pelayan.


"Terima kasih," jawab Rahman.


Umaiza minum dulu.


Dan semuanya makan tanpa suara.


"Kak, tidak shalat dulu?" Tanya Umaiza setelah selesai makan.


"Iya, sebentar lagi. Tunggu dulu makanannya turun."


Rahman pergi ke mushola, Umaiza mengajak Ibu ke toko dalaman. Dan membawa barang bawaan yang di beli oleh Rahman.


Ibu Rahma membawa Umaiza ke toko yang menjual dalaman. Umaiza memilih-milih dalaman. Setelah itu Umaiza membawa ke kasir dan membayarnya.


"Sudah, Bu,"


"Sudah, Ayo."


Ibu Rahma dan Umaiza keluar dari toko dalaman. Lalu melihat ada toko mukena dan sajadah. Umaiza mengajak Ibu Rahma untuk pergi melihat-lihat.


Ibu Rahma mengikuti dari belakang. Begitu pun dengan Rahman yang celingak-celinguk mencari keberadaan Umaiza dan Ibu Rahma.


Ketika melihat punggung Ibu Rahma, Rahman mengejarnya dari belakang. Dan ikut masuk ke dalam toko.


"Za, cepat banget langkahnya," keluh Rahman.


"Kakak, sudah selesai shalatnya?"


"Sudah,"

__ADS_1


"Maaf,"


Umaiza melihat-lihat mukena lalu mengambilnya yang menurut Umaiza itu bagus lalu sajadah dan al-Qur'annya.


"Sini, kasihkan kepada kakak,"


"Baik, Kak," Umaiza menyerahkannya kepada Rahman.


Rahman membayar dan keluar dari toko mukena.


"Sekarang tinggal ke baju pengantin,"


"Iya, Bu," Ucap Umaiza.


Ibu Rahma membawa ke butik baju pengantin yang sudah sangat terkenal. Umaiza ragu saat masuk kesana pasti modelnya akan mewah, dan harganya tentu selangit.


"Umaiza ayo, masuk?" ajak Ibu Rahma.


"Iya, Bu," ucap Umaiza ragu.


Rahman menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan Umaiza.


Umaiza pun melangkah ke dalam butik.


"Za, model bajunya mau seperti apa?"


"Za, ingin model gamis sedikit longgar bagian dada dan bawahnya ingin mayung Kak, kerudungnya panjang juga. Model sederhana saja,"


"Baik, kalau modelnya tidak ada di manekin, nanti pesan saja,"


"Iya, Kak."


Umaiza melihat-lihat baju pengantin yang terpasang di manekin dan ternyata benar. Modelnya mewah-mewah dan tidak menggunakan hijab.


Datang seorang pelayan menghampiri Ibu Rahma.


"Siang, Bu. Ada yang bisa di bantu?"


"Putri saya sedang mencari baju pengantin modelnya ingin sederhana namun tetap terlihat mewah dan ada hijabnya juga,"


Pelayan itu melihat ke arah Umaiza.


"Mari ikut saya, nanti saya perlihatkan koleksi baju pengantin yang syar'i."


"Terima kasih," kami semua mengikuti pelayan itu ke dalam.


Dan ternyata yang Umaiza mau sudah ada yang ready, Umaiza pun langsung suka ketika melihat baju tersebut.


"Bagaiman dengan baju ini," tunjuk pelayan kepada Umaiza.


"Iya, Mbak, boleh. Bisa saya coba?"


"Silahkan, di ruang ganti ya, Mbak,"


Umaiza pergi ke ruang ganti dan pakaiannya di bawa oleh pelayan.


Umaiza keluar setelah mengganti pakaiannya dan menunjukkannya kepada Ibu dan Rahman.


Rahman tidak berkedip sama sekali, melihat Umaiza dengan memakai baju pengantin itu.


"Ssssstttt," ucap Ibu Rahma untuk menyadarkan Rahman yang tidak berkedip sama sekali melihat Umaiza.


"Eh, Bu," Rahman malu.


Ibu Rahma mengangguk ke arah Umaiza sebagai memberikan tanda kalau baju nya sangat cantik.


Umaiza kembali lagi ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan yang semula.


"Sudah pas ya, Mbak?"


"Sudah, Mbak. Pas di badan,"


Umaiza kembali lagi ke tempat Ibu Rahma dan Rahman berada.


"Mbak, kalau untuk laki-lakinya, ada?"


"Ada, Bu, kami memang membuat pasangan laki-laki dan perempuan."


"Boleh, sekalian di coba dengan calon suaminya,"


"Tentu, Bu. Tunggu sebentar saya ambil dulu,"


"Baik,"


Ibu Rahma, Umaiza dan Rahman duduk di kursi tunggu. Butik ini pun memberikan layanan yang baik, dimana pelanggannya di berikan jamuan snack dan minuman dingin.


Pelayan datang dan memberikan bajunya kepada Ibu Rahma, Ibu Rahma memberikan kepada Rahman.


Rahman segera menuju ruang ganti dan mengganti pakaiannya dan seketika keluar untuk menunjukkan kepada Umaiza dan Ibu Rahma.


Ibu Rahma mengangguk dan Umaiza mengacungkan jempolnya.


Rahman kembali ke ruang ganti dan mengganti dengan pakaian yang semula.


"Bagaimana, Bu?" tanya pelayan


"Bagaimana Rahman?" balik nanya kepada Rahman.


"Kami ambil, Mbak. Kebetulan bajunya pas di gunakan oleh kami tidak ada kekurangan."


Rahman ke kasir dan membayar menggunakan kartu debit. Dan pakaiannya langsung dibawa oleh Rahman.

__ADS_1


Umaiza, Rahman dan Ibu Rahma langsung memutuskan untuk pulang. Karena sudah merasa lelah. Belanja bulanan bisa di lain hari.


Sekarang tinggal menunggu Bunda, WO dan ke panti. Untuk KK dan KTP Umaiza sudah di urus oleh RT setempat.


__ADS_2