
Umaiza menunggu Rahman shalat ashar di ayunan taman belakang. Dengan mengayunkan kaki sendiri, Umaiza seperti layaknya anak kecil.
Rahman memgucapkan salam ke kanan dan ke kiri lalu mengucapkan dzikir dan berdo'a. Umaiza tersenyum melihat Rahman sudah selesai shalat.
Rahman pun berdiri dan melihat ke segala arah, di dapatkan Umaiza sedang bermain ayunan.
"Menunggu kakak?"
"Iya, Kak. Ini cincinnya," sambil akan melepaskan dari jari manisnya.
"Itu sudah milik Za, kan tadi kakak sudah melamar Za di hadapan Ibu. Kalau Za kembalikan jadi Za membatalkan lamaran kakak," ucap Rahman sambil melihat ke arah Umaiza, Rahman duduk di Gazebo.
Umaiza mendekat ke arah Rahman dan menatapnya dengan tatapan tajam.
"Za, kenapa melihat kakak seperti itu?"
"Jadi kakak tadi melamar Umaiza serius?"
"Iya, serius Za. Buat apa main-main,"
Umaiza terharu mendengar ucapan Rahman.
"Apakah Za, ingin di ulangi lagi dan di buatkan pesta yang mewah untuk lamarannya?"
"Tidak, Kak. Tidak perlu, Umaiza hanya sedih saja, Bunda tidak menyaksikannya,"
"In Syaa Allah, Bunda mendukung atas apa yang sudah kakak lakukan ke Za,"
"Terima kasih ya, Kak. Kakak datang dan melamar Za di waktu yang tepat," sambil meneteskan air mata.
Ingin rasanya Rahman memeluk tubuk Umaiza namun Rahman menyadari kalau Umaiza belum jadi mahromnya. Ini tidak madhorot seperti kemarin. Saat di jembatan penyebrangan karena Umaiza merasa takut memeluk Rahman dengan spontanitas begitu pun Rahman menggendong Umaiza saat membawanya ke rumah sakit dan saat pulang dari rumah sakit.
"Kak, kita juga menikah tidak usah rame-rame ya. Keluarga saja,"
"Memangnya kenapa?"
"Za, takut ada orang yang akan menggagalkan pernikahan kita,"
"Baik, kakak mengerti,"
"Kakak, mau pulang kapan?"
"Ba'da maghrib ya, besok sepulang kerja kakak kesini lagi. Kalau Za ada apa-apa langsung hubungi kakak,"
"Iya, Kak."
"Ke dalam yuk, angin sore tidak baik untuk kesehatan Za, apalagi Za baru sembuh,"
Umaiza ke dalam yang di ikuti oleh Rahman.
Pak Baskoro sedang mempelajari berkas yang tadi di bawa Rahman, Ibu Rahma sedang membaca buku. Umaiza dan Rahman duduk di kursi dekat mereka.
"Pak, Bu, maaf Rahman izin sebentar mau berbicara," ucap Rahman.
Pak Baskoro melepaskan pekerjaannya, Ibu Rahma pun menutup bukunya dan menyimpan di atas meja.
"Silahkan, Rahman mau bicara apa?"
"Saya sudah melamar Umaiza dan Umaiza pun menerima lamaran saya, tadi saya sempat bertanya apakah lamarannya perlu di ulang, kata Umaiza tidak perlu, benarkan, Za?"
"Iya, Kak,"
"Iya, Ibu rasa juga tidak perlu. Tadi Rahman melamar Umaiza ada saksi Ibu," Ucap Ibu Rahma tersenyum.
__ADS_1
Rahman lega mendengar ucapan Ibu Rahma.
"Baik, kalau Umaiza putri saya sudah berkata seperti itu. Saya juga setuju, kapan kamu mau menikah?"
"Mungkin nanti setelah Za selesai Sidang, Sabtu atau minggu saya bawa bunda untuk menentukan hari pernikahannya,"
"Iya, lebih cepat lebih baik. Sedikitnya kalau Umaiza sudah menikah tidak akan ada lagi seperti Roni kesini," kata Pak Baskoro.
"Iya, Yah, Za juga menikahnya di rumah saja. Yang sederhana undang-undang keluarga dekat saja." Umaiza mencoba memberikan pendapat.
"Ayah dan ibu mengerti, yang penting khidmatnya iya kan?" tanya Ibu Rahma memastikan.
"Iya, Bu."
"Bagaimana kalau menikahnya di panti saja, sedikitnya kalau disana akan sulit di jangkau oleh media. Kalau disini sama saja akan terendus media, bagaimana Umaiza, Rahman?" tanya Ibu Rahma
"Iya, Bu. Umaiza setuju, kenapa tidak kepikiran kesana ya?" sambil tersenyum dengan senyuman khasnya.
"Iya, Bu. Rahman setuju, supaya bisa merayakan hari bahagia Za dengan anak-anak panti dan anak-anak didik Za yang di stopan itu,"
"Iya, Kak. Yang penting berkahnya ya, bagaimana Yah?" ucap Umaiza dan tanya kepada ayahnya.
"Demi kebahagiaan Umaiza ayah akan dukung,"
"Alhamdulillah," Rahman sangat lega setelah mengungkapkan semuanya dan keputusan sudah di tentukan. Sekarang tinggal menentukan tanggal yang tepat.
"Kita rayakan hal ini dengan makan keluar yuk," ajak Pak Baskoro.
"Ayo, ayah. Umaiza bosen di rumah terus apalagi tadi sudah panik,"
"Ayo, Rahman. Kamu harus ikut," ajak Ibu Rahma.
"Baik, Bu."
"Tunggu ya, Kak, Za, siap-siap dulu,"
Umaiza pun mengikuti Rahman memanggil dirinya dengan sebutan 'Za'.
Ibu Rahma dan Pak Baskoro juga ikutan siap-siap. Rahman membuka jas nya dan sedikit membuka lengan bajunya dan menggulungnya sampai ke sikut.
Adzan maghrib berkumandang, Rahman pergi ke toilet yang ada di taman belakang untuk cuci muka dan wudhu, lalu ke mushola untuk shalat. Jasnya di gantung di atas paku.
Rahman shalat dengan khusyuk, lagi-lagi Umaiza sudah menunggunya di dekat pintu.
"Non, setia banget calon suaminya lagi shalat sampai di tungguin begitu," goda bi Marni.
"Iya, takut di godain sama bibi. Karena calon suaminya Umaiza itu limited edition," sambil tersenyum menyeringai.
Rahman yang baru keluar dari mushola tersenyum melihat keberadaan Umaiza yang sedang menungguinya.
"Lagi ngobrol apa nih, asyik banget?" tanya Rahman.
"Ini, Pak. Kata non Umaiza...," kata-kata bi Marni terpotong setelah melihat Umaiza menyimpan telunjuknya di depan bibir mungilnya.
"Rahasia kita berdua," bisik Umaiza ke telinga bi Marni.
"Oh, iya Non. Maaf, bibi ke belakang dulu,"
"Gitu ya, sudah mulai rahasia-rahasiaan sama calon suaminya. Kalau sudah nikah, bakalan kakak pencet hidungnya sampai merah,"
"Ih, kakak jahat."
"Hmmm, suruh siapa main rahasia-rahasiaan,"
__ADS_1
"Tenang saja, Za, gak ngomongin jelek kok."
"Iya, deh. Kakak percaya, kalau kakak calon suami limited edition, hehehe," ucap Rahman sambil terkekeh.
"Kok, kakak tahu, nguping ya?"
"Bagaimana mau nguping, suara Za itu kencang jadi terdengar sama kakak,"
"Ih, Za, jadi malu," menutup mukanya.
Rahman tertawa melihat tingkah Umaiza.
Umaiza berjalan ke dalam yang di ikuti oleh Rahman. Tak lama kemudian Pak Baskoro dan Ibu Rahma keluar dari kamarnya.
"Sudah beres, Umaiza?"
"Sudah, Bu."
"Ayo, berangkat," ucap Pak Baskoro.
Semuanya keluar dari rumah dan menuju mobil. Sekarang memakai mobil Pak Baskoro yang agak besar yaitu mobil 'Alphard' supaya sedikit relax.
Mobilnya dibawa oleh Rahman, Umaiza duduk di samping Rahman dan Pak Baskoro duduk di belakang dengan Ibu Rahma.
"Bismillah," ucap Rahman saat akan menyalakan mobilnya. Lalu melajukan mobilnya keluar gerbang dan masuk ke jalan raya.
Rahman yang sudah tahu restoran favorit Pak Baskoro dan Ibu Rahma, langsung membawa mobil itu ke tempat tujuan.
Tidak lama mereka sudah sampai di restoran yang Pak Baskoro maksud.
Umaiza turun dari mobil, begitu pun dengan Pak Baskoro dan Ibu Rahma. Rahman memarkirkan ke tempat parkir yang sudah disediakan oleh restoran tersebut.
Pelayan yang biasa melayaninya segera membawa Pak Baskoro, Umaiza dan Ibu Rahma masuk ke ruangan vip yang di ikuti oleh Rahman.
Mereka sudah masuk ke ruangan vip dan pelayan datang.
"Kami pesan menu spesial disini makanan, minuman dan tidak lupa dessertnya," ucap Pak baskoro.
"Baik, tuan. Tunggu sebentar pesanan akan kami siapkan," jawab pelayan dengan ramah lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan pesanan dari Pak Baskoro.
"Umaiza, tadi kalau Ibu tidak salah. Rahman bilang Umaiza mengajar anak-anak jalanan?"
"Iya, Bu, sejak dulu,"
"Yah, punya lahan atau rumah kosong. Bagaimana kalau membuka ruang belajar untuk mereka?" ucap Ibu Rahma.
"Ada, nanti kita lihat tempatnya."
"Makasih, ayah, Ibu,"
"Iya, supaya Umaiza tidak mengajar di jalanan,"
"Tapi kalau bisa tidak jauh dari stopan lampu merah itu, karena mereka belajar sambil mencari uang di stopan tersebut," lirih Umaiza. Ingat saat dirinya jualan bunga di stopan itu.
"Iya, Nak. Ibu mengerti. Nanti kita bisa arahkan mereka untuk membuat karya-karya baru. Supaya tidak mengamen atau mengemis,"
"Iya, Ibu. Tapi tantangan terbesar disana adalah dari orangtua mereka dan juga kepala pengamen dan pengemis, Bu,"
"Oh, begitu. Nanti kita pikirkan bersama," kata ayah menenangkan Umaiza.
"Kakak, siap bantu. In Syaa Allah niat baik akan Allah berikan kemudahan," timpal Rahman.
"Aamiin,"
__ADS_1
Pesanan datang dan kami segera menyantapnya. Tidak ada suara sampai makanan habis. Apalagi Umaiza tidak terdengar sedikitpun suara. Dalam makan pun Umaiza nampak terlihat anggun.