Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Print Skripsi.


__ADS_3

Ibu Rahma dan Pak Baskoro pulang ke rumahnya, begitu pun dengan Rahman. Kedua mobil itu terpisah saat di depan gerbang rumah Rahman. Rahman masuk ke pelataran rumahnya. Ibu Rahma dan Pak Baskoro pergi melanjutkan perjalanannya.


Rahman turun dari mobil dan masuk ke rumah bunda.


"Bunda bagaimana bengkaknya apakah sudah sembuh?"


"Sudah, Nak. Ini perbannya sudah bunda buka," dengan memperlihatkan lengannya kepada Rahman.


"Alhamdulillah, syukurlah. Rahman ke rumah dulu ya, gerah ingin bersih-bersih dan istirahat." ucap Rahman berlalu dari hadapan bunda menuju rumah.


Bunda hanya termangu melihat Rahman pergi.


Rahman segera menuju kamar mandi lalu bersih-bersih dan mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana pendek di bawah lutut.


Rahman merebahkan badannya untuk istirahat dan tertidur.


Bangun oleh suara telepon, saat di lihat no yang baru.


"Halo," Jawab Rahman dengan suara khas bangun tidur.


"Assalamu'alaikum," Suara dari seberang yang terdengar suara perempuan.


"Wa'alaikummussalaam, maaf, siapa ya?" tanya Rahman masih dengan mata menyipit.


"Idih, galak amat. Takut ketahuan pacarnya ya kalau ada yang menelepon perempuan," goda Umaiza.


"Gak, lucu. Saya tidak punya pacar, ada juga calon istri," jawab Rahman ketus yang masih belum menyadari bahwa yang menelepon Umaiza.


"Baru calon istri belum jadi istri, masih ada kesempatan," dengan nada manja Umaiza.


"Maaf, anda siapa?"


"Saya yang ingin minta tolong untuk print skripsi," jawab Umaiza sambil tersenyum.


"Umaiza?" dengan membuka matanya secara penuh.


"Iya, Kakak. Sudah bangun, shalat ashar sana!,"


"Iya-iya. Kakak ke kamar mandi dulu. Ngetiknya sudah selesai?"


"Alhamdulillah, sudah Kak."


"Ya, sudah. Setelah shalat ashar kakak jemput kamu ke panti. Tunggu ya,"


"Baik, Kak. Terima Kasih,"


"Kamu tahu nomor kakak darimana?"


"Nomor Kakak, sudah d save sama ayah dan Ibu. lucu lagi ngesavenya di kasih nama calon suami, hehehe." sambil terkekeh


Rahman pun ikutan terkekeh.


Umaiza menutup teleponnya.


Rahman ke kamar mandi untuk cuci muka dan wudhu lalu shalat ashar.


Rahman membuka kulkas berniat untuk minum jus yang sudah bunda buatkan tadi pagi.


Lalu melangkah keluar untuk menjemput Umaiza. Menggunakan motor. Supaya cepat sampai.


Sebelum pergi masuk dulu ke rumah bunda. Dilihatnya bunda sedang masak.


"Bun, Rahman pergi dulu,"


"Mau kemana?"


"Mau jemput Umaiza,"


"Sudah kangen lagi apa, baru juga tadi pulang."


"Iya, nih, bun. Rahman mau bantu Umaiza untuk print skripsinya."


"Udah ingin cepet-cepet melamar ya?"


"Ah, Bunda tau saja. Umaiza sudah ketemu dengan orangtuanya,"


"Alhamdulillah, Bagaimana kalau orangtuanya tidak setuju?" Bunda yang mengkhawatirkan Rahman.


"In Syaa Allah, sangat mendukung, Bun,"


"Rahman sudah ketemu?"


"Kalau Rahman sudah sering, Bun. Tiap hari malah," membuat Bundanya tambah penasaran.


"Ceritain dong ke Bunda, siapa?"


"Kalau Rahman ceritain ke Bunda sekarang, Kasihan Umaiza nanti di sana jamuran,"

__ADS_1


"Baik, janji nanti ceritain ke Bunda,"


"Siap Bun, Rahman pamit ya. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikummussalaam,"


Rahman pergi. Dan tidak lama kemudian sampai di panti asuhan. Umaiza sedang merapikan berkas-berkas skripsinya.


"Kak, Kak Rahman sudah sampai," ucap Rani memberitahu Umaiza ke kamarnya.


Rahman menunggu di kursi panjang.


"Iya, Rani. Makasih ya, ini coklat untukmu," Umaiza sambil memberikan coklat kepada Rani.


Umaiza keluar dengan membawa tas. Melihat Kak Rahman menggunakan celana di bawah lutut, membuat Umaiza terpana, "Keren juga," jawab Umaiza dalam hati.


"Sudah?" tanya Rahman.


"Sudah, ayo," jawab Umaiza sambil tersenyum dengan khasnya.


Umaiza dan Rahman pergi.


"Naik motor gpp ya?" tanya Rahman.


Umaiza mengangguk.


Rahman naik dan di ikuti dengan Umaiza, posisi duduknya Umaiza menyamping. Umaiza kebingungan untuk mencari pegangan.


"Kakak, cari kesempatan dalam kesempitan ya?"


"Maksud Umaiza?,"


"Pakai motor supaya bisa dekatan dengan Umaiza,"


"Kakak tidak ada niatan, Umaiza. Maaf, niat kakak hanya ingin bisa cepat sampai kesini"


"Motornya gede lagi, tidak ada pegangan, Umaiza megang kemana?"


"Kakak, janji nanti pulangnya naik mobil saja."


"Baik, Umaiza coba tidak pegangan. Kakak pelan-pelan ya, jalannya?"


"Iya, Umaiza,"


Umaiza berusaha duduk dengan santai dan Rahman mencoba menjalankan dengan sangat pelan. Karena khawatir Umaiza jatuh.


"Hati-hati, Kak,"


"Iya, Umaiza," sambil melihat tangan Umaiza yang memegang pinggangnya.


Setelah sadar, Umaiza melepaskan pegangan dari pinggang Rahman dengan cepat.


Rahman hanya tersenyum dengan memandang ke depan. Kini Umaiza dan dirinya begitu dekat bahkan sangat dekat. Namun Rahman tidak ingin menodai rasa yang dimiliki olehnya untuk Umaiza.


Perempuanku,


Aku sangat beruntung jika kelak Kau jadi milikku.


Aku kan sangat bahagia, jika kau kelak berada disampingku.


Kau begitu menjaga dirimu sebaik mungkin


kau begitu menjaga kesucianmu.


Tak seperti perempuan lain yang tak malu mengejar-ngejarku.


Menampakkan kecantikan dan keseksiannya terhadapku.


Sampailah di rumah Rahman. Bunda mendengar suara motor Rahman segera keluar dan mendekat ke arah Rahman.


Tidak segan-segan menjewer telinga Rahman.


"Aduh, Bunda sakit,"


"Kamu ya, sudah mulai nakal. Berani-beraninya menjemput Umaiza naik motor. Belum mahrom, tidak boleh dekat-dekat."


"Iya, maaf, Bun. Rahman tidak mengingat ke arah sana. Pikiran Rahman ingin segera sampai ke panti."


Umaiza tersenyum dan salam kepada bunda dan memeluknya.


"Iya, Bunda. Kak Rahman nakal, ada lobang saja sengaja di lewatin. Otomatis tangan Umaiza megang ke pinggangnya," Adu Umaiza kepada bunda dengan nada manjanya.


"Tuh, Kan." Kata bunda.


Rahman hanya meringis melihat Umaiza mengadu kepada Bundanya.


"Iya, deh. Maaf," dengan menangkupkan kedua tangannya sebagai permohonan maaf.

__ADS_1


Umaiza pun tersenyum.


"Ayo mau print sekarang atau kangen-kangenan sama bunda dulu?" tanya Rahman.


"Sekarang saja, nanti kalau sudah beres print baru ke bunda. Ya, Bun?"


"Tentu sayang,"


Umaiza mulai membiasakan memanggil bunda kepada ibunya Rahman, supaya tidak kikuk.


Rahman pun mengajak Umaiza masuk ke rumahnya dan membawa ke ruang kerjanya.


"Mau minum apa?" tanya Rahman.


"Sudah nanti saja, Kak. Kalau haus Umaiza ambil sendiri, gak apa-apa kan?"


"Iya, gak apa-apa. Kakak senang malahan, ini juga nanti kan menjadi rumah kamu juga, Sa..."


"Sa... apa? ayo terusin," Tanya Umaiza sambil mendelik


"Gak jadi, itu panggilan nanti kalau kita sudah sah," jawab Rahman menyeringai.


Rahman mulai menyalakan komputernya. Setelah semuanya sudah siap, Rahman memasukkan flashdisk ke tempat yang sudah di sediakan di CPU.


File pun di buka.


"Bagus juga judulnya sangat menarik," kata Rahman dalam hati. lalu di baca dari atas sampai bawah. Semuanya rapi, dari kata per katanya, dari kalimat perkalimat, dari paragraf ke paragraf dan dari bab ke bab. Berkesinambungan, "Pantas saja tidak ada revisi, semuanya rapi," ucap Rahman kembali dalam hati.


Umaiza memperhatikan kembali tulisannya dengan teliti.


"Ini di print semuanya?" tanya Rahman.


"Boleh, Kak. Kalau kertasnya cukup," ucap Umaiza.


"Memang berapa lembar, stoknya banyak tuh di atas." tunjuk Kak Rahman.


"Ma Syaa Allah, Umaiza bisa minta buat bikin pesawat-pesawatan untuk anak-anak panti?" ucap umaiza sambil mengangkat-ngangkat alisnya


"Tidak boleh, nanti nyampah " jawab Rahman ketus.


Umaiza tersenyum, "Kalau buat soal untuk anak jalanan, boleh?"


"Boleh, kapan saja Umaiza mau bikin soal. Silahkan ke rumah kakak saja. Kakak akan mendukungnya,"


"Terima kasih, Kak. Kak, Umaiza mau ambil minum ya. Di kulkas ada apa?"


"Coba lihat sendiri saja,"


"Baik,"


Kak Rahman print sebanyak 2 setiap lembarnya.


Umaiza datang dengan membawa minuman teh manis rasa madu dalam kemasan botol.


"Umaiza minta ini, ya, Kak,"


Kak Rahman menoleh lalu mengangguk.


"Kakak tidak takut di rumah sebesar ini sendirian?"


"Tidak, kan, bentar lagi ada temannya?"


"Kakak mau mengambil ART untuk bantu-bantu kakak bersihin rumah?"


"Kok ART sih, ya Umaiza yang akan menemani kakak disini."


"Iiiih, siapa bilang,"


"Kakak barusan. Emang Umaiza gak mau menjadi istri kakak?"


Umaiza diam tidak menjawab, Rahman kesal atas sikap Umaiza.


"Umaiza?"


"Kakak, siapa yang tidak mau. Siapa sih perempuan yang mau menolak kakak," Jawab Umaiza sambil menunduk.


"Jadi?"


"Umaiza mau, Ibu dan ayah saja setuju, masa Umaiza tidak," jawab Umaiza malu-malu.


Rahman langsung sujud syukur. Lalu berdiri akan memeluk Umaiza namun berhenti, "Belum mahrom masih harus bersabar," ucap Rahman sambil tersenyum.


Umaiza tersenyum melihat tingkah, Rahman.


"Terima kasih ya,"


"Iya, Kak. Sama-sama."

__ADS_1


__ADS_2