
Setelah selesai makan, Umaiza mengantar ibu itu ke pelataran parkir. Umaiza mencium tangan Ibu itu dan Ibu itu mencium kening Umaiza sambil mengusap kepala. Ada perasaan, terharu, bahagia, dan senang. "Mungkin begini rasanya mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu," batin Umaiza.
Ibu itu pamit. Dan Umaiza pergi ke toko langganannya.
Umaiza membeli beberapa warna kertas krep, tangkai dan lem. Lalu pulang.
Waktu ashar telah tiba, Umaiza shalat di mesjid terdekat, dhuhur pun sama sebelum pergi ke sini.
Setelah shalat, Umaiza langsung pulang. Namun sebelum pulang Umaiza ingin mampir dulu ke rumah Ibu yang sudah di tolongnya tadi pagi. Ingin tahu kabarnya.
Selama di perjalanan Umaiza merenungi apa yang sudah terjadi barusan. Meski ibunya sudah ada di depan mata, Umaiza belum bisa memeluknya.
Air matanya tidak terasa melintas kembali dari matanya.
***
Ibu itu pun melamun apa yang sudah terjadi. Kalau tidak ada janji dengan suaminya mungkin akan ikut dengan gadis itu, yang bernama Umaiza.
Ada rasa penasaran dalam dirinya, ada perasaan yang beda saat mencium keningnya. Dan wajahnya itu selintas mirip dengannya. Ooooh, Umaiza semoga besok bisa ketemu lagi.
Dan sampailah di kantor suaminya. keluar dari mobil dan masuk ke kantor suaminya, naik lift dan masuk ke ruangannya. Sebelumnya menyapa dahulu beberapa karyawan yang ada di kantor suaminya.
"Assalamu'alaikum,"
"Waalaikummussalaam, apa yang membawamu ke kantor," tanya suaminya lembut.
"Iya, ada yang ingin Ibu ceritakan," duduk di sofa.
Suaminya pun berdiri dan mendekat. Duduk di samping Rahma.
"Apa yang ingin Ibu ceritakan?" tanya suaminya.
Rahma menceritakan semua kejadian yang tadi terjadi di pusat pembelanjaan pernak-pernik hiasan.
"Maukah Ayah kita main ke panti asuhan gadis itu?" tanya Rahma.
"Boleh, kapan?"
"Besok?"
"Boleh, mana lihat alamat panti asuhannya,"
Rahma memperlihatkan alamat panti asuhan Umaiza kepada suaminya, yang di ketik oleh Umaiza.
"Ini alamat panti asuhan tidak jauh dari rumah Rahman, coba ayah tanyakan,"
"Boleh, Yah,"
Suaminya menelepon Rahman dan tidak lama Rahman datang ke ruangannya.
"Permisi,"
"Silahkan duduk Rahman," ucap Rahma.
"Terima kasih, Bu,"
"Apakah Rahman tahu alamat panti asuhan ini?" tanya suaminya.
"Panti asuhan Umaiza," gumam Rahman pelan namun terdengar oleh Rahma.
"Iya, itu panti asuhan Umaiza. Apakah Nak Rahman mengenalnya?"
Rahman mengangguk dan tidak mengerti, kenapa Bos nya menanyakan Umaiza.
"Bolehkah besok mengantar kami ke panti asuhan Umaiza?"
"Dengan senang hati, Pak,"
"Terima kasih, Nak,"
"Sama-sama, Bu,?
Rahman undur diri untuk kembali ke ruangannya.
__ADS_1
Rahma menunggu sebentar suaminya membereskan file-filenya, lalu mereka pulang bersama.
Rahma hanya memiliki satu anak, itu pun yang di culik oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Namun suaminya senantiasa berada di sampingnya dan tidak pernah meninggalkannya.
*****
Umaiza kembali mengerjakan shalat maghrib di mesjid terdekat yang di lalui oleh sepedanya. Daripada telat melaksanakan shalat lebih baik telat pulang ke panti.
3 rakaat sudah di dirikan, Umaiza segera naik sepeda dan melanjutkan perjalanan. Sampai di depan gerbang Ibu yang di tolongnya itu, Umaiza belok berhenti dan meminta izin kepada satpam untuk masuk ke dalam.
Dan Satpam membuka pintu gerbang mempersilahkan Umaiza masuk.
Tok...tok...
Seorang laki-laki membuka pintu.
" Mau bertemu siapa?" melihat Umaiza merasa heran ada seorang wanita cantik bertamu ke rumahnya.
"Saya ingin melihat Ibu,"
Mendengar suara Umaiza Ibu langsung keluar,
"Nak Umaiza masuk,"
"Assalamu'alaikum,"
"Waalaikummussalaam," jawab laki-laki itu tanpa mengedipkan matanya.
"Silahkan duduk,"
"Terima kasih, Bu." Umaiza pun duduk di kursi untuk satu orang.
"Baru pulang?"
"Iya, Bu. Bagaimana kabarnya sekarang, apakah sudah baikan?"
Laki-laki itu masih mematung berdiri sambil memeluk daun pintu.
Ibu menoleh ke putranya.
"Apakah akan tetap berdiri terus di sana?"
Umaiza baru menyadari kalau pria itu masih ada di sana.
Pria itu berjalan ke kamarnya sambil menggaruk-garuk kepalanya dan tersenyum. Entah apa sesungguhnya yang dia rasakan.
"Boleh, Umaiza lihat, Bu?"
"Boleh, Nak." Sambil membuka lengan bajunya sebelah.
"Innalillahi, Ibu. Ini tambah bengkak dan biru. Pasti ini akan sangat terasa pegal,"
"Memang Nak, sangat pegal sampai sini." Unjuk Ibunya.
Ada mobil yang masuk ke halaman rumah Ibu. Umaiza spontan menoleh ke belakang. Mobil yang sudah Umaiza kenal. Begitupun yang berada di dalam mobil, sangat mengenal sepeda dan beberapa tangkai bunga yang ada di halamannya.
Rahman segera turun dan Umaiza kembali lagi melihat tangan Ibu.
"Umaiza," panggil Rahman.
"Assalamu'alaikum," ucap Umaiza tanpa menoleh ke arah Rahman.
Ibu heran kenapa Umaiza dan Rahman sudah saling kenal dan sepertinya sudah dekat. Rahman yang dikenalnya sangat dingin terhadap perempuan.
"Waalaikummussalaam," jawab Rahman.
"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Ibu.
Umaiza mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Ibu lalu menoleh ke Kak Rahman.
"Sudah, Bun." jawab Rahman.
"Bun...Bunda?" kata Umaiza heran. Dipikirnya Rahman mengikuti Umaiza sampai ke ibu yang di tolongnya. "Astagfirullah," mengusap dada sendiri sudah suudzon kepada Rahman.
__ADS_1
"Iya, Nak Umaiza. Ini Rahman putra sulung Ibu, kalau yang tadi Farid adik nya Rahman,"
Dan Farid pun seketika keluar menyodorkan tangannya untuk kenalan.
"Maaf, Umaiza," kata Umaiza sambil menangkupkan tangannya di depan dada.
Rahman tersenyum dan wajah Farid berubah menjadi merah. Malu untuk yang kedua kalinya.
"Kenapa Umaiza ada di sini?" tanya Rahman.
"Menunggu Kakak," goda Umaiza sambil tersenyum. Padahal sebelumnya Umaiza tidak tahu kalau Rahman anak Ibu yang di tolongnya.
"Bunda tadi keserempet motor, di depan sana. Nak Umaiza yang menolong Bunda,"
"Terima kasih," ucap Rahman.
Umaiza menoleh dengan anggukan.
"Apa Ibu mau ke rumah sakit?" Tanya Rahman.
Ibu menggelengkan kepalanya.
"Dari tadi juga Umaiza ajak, tidak mau," kata Umaiza melihat lagi tangan Ibu.
"Bunda memang seperti ini, tidak mau di ajak ke rumah sakit kalau sakit,"
"Bisa pinjam hp nya, Kak?"
"Buat apa?"
"Umaiza mau browsing siapa tahu ada obat herbal yang bisa menyembuhkan bengkaknya Ibu."
"Ini," kata Rahman sambil memberikan hpnya.
Umaiza mencarinya, "Alhamdulillah, ada," ucap Umaiza pelan, "Ibu punya kencur?" tanya Umaiza.
"Ada, Nak,"
"Boleh Umaiza ke dapur, untuk membuat obatnya. Biar Umaiza yang mencarinya,"
"Boleh, silahkan Nak,"
Umaiza pergi ke dapur, karena tadi pagi Umaiza sudah membuatkan sarapan untuk Ibu jadi Umaiza sedikitnya sudah tahu dimana tempat bumbu yang Ibu simpan begitu juga dengan berasnya.
Umaiza begitu lihainya mengulek beras dan kencur, Rahman memperhatikannya dari belakang.
"Ini takdir kami, tanpa harus aku mepertemukannya dengan Bunda, sudah Allah pertemukan mereka. Semuanya sangat terasa penuh misteri. Dan kini aku tambah mencintaimu," lirih hati Rahman.
"Kakak dari tadi di sini?" tanya Umaiza kaget melihat Rahman ada di belakangnya.
Rahman tersenyum.
Umaiza memindahkan hasil ulekannya ke mangkuk kecil, dan segera mencuci ulekan dan cobeknya. Di simpan di tempat semula.
Lagi-lagi Rahman tersenyum, "Istri idaman," lirihnya lagi.
Umaiza kembali lagi ke tempat dimana Ibu berada. Rahman mengekornya dari belakang.
Dilihat jam sudah jam 7.30 malam, pasti semuanya belum makan. Rahman memesan 4 paket makanan dan tidak lupa minumnya juga.
Umaiza dengan telaten mengoles beras kencur di lengan luka Bunda. Ah, sungguh pemandangan yang membuat hati Rahman bahagia. Sedangkan Farid berada di kamarnya.
Umaiza mengoles dan sesekali meniup lengan Bunda penuh perhatian.
Cantik rupamu
cantik hatimu
siapa yang tidak jatuh cinta terhadapmu
Bolehkah jika aku meminta kepada Allah
Tuk menjadikan dirimu pendamping hidupku.
__ADS_1