
Pov Rahman
Rahman melakukan kegiatan seperti biasanya
Bangun
Shalat malam
Tadarusan
Shalat subuh
Olahraga di taman
Mandi, siap-siap ke kantor
Sarapan
Pergi Ke kantor.
Sampai di Kantor pukul 07.30. Sebelum melakukan pekerjaan Rahman mengirimkan wa kepada Umaiza.
Saat membaca Umaiza akan ke kantor perasaan Rahman sangat bahagia. Karena hari ini Rahman akan seharian lagi dengan Umaiza. "Alhamdulillah, hari ini akan di temani lagi sama Umaiza." Ucap Rahman, "Pasti tidak akan bosan," sambung Rahman dengan nada penuh semangat. "Makan siang tidak akan sendirian," tambah Rahman masih nada semangat.
Wahai Pujaan hati
Masih lama kah Kau akan tiba
Hati ini sudah tak sabar
Menanti kehadiranmu
Jarum jam sudah di angka 08.05, Umaiza masih belum sampai. Hati Rahman pun sedikit gelisah, pekerjaan pun belum di sentuh sama sekali. Rahman pergi keluar untuk bertanya kepada Alifa.
"Alifa, apakah Pak Baskoro sudah sampai?"
"Sudah, Pak. Sedang mengantar non Umaiza ke ruangannya,"
"Ke ruangannya?" dengan wajah kaget
"Iya, Non Umaiza kan untuk sementara menggantikan Pak Bima dan Pak Dewa,"
"Memangnya Pak Bima dan Pak Dewa kemana?" tanya Rahman heran
"Pak Bima dan Pak Dewa mengundurkan diri?"
Rahman mengingat kejadian kemarin setelah sidang, Pak Baskoro di telp oleh Alifa.
"Terima kasih infonya, Alifa,"
"Sama-sama, Pak,"
Rahman melangkahkan kakinya ke ruangan Umaiza berada.
Terlihat Pak Baskoro baru keluar dari ruangan yang akan Rahman tuju.
"Kebetulan Rahman di sini," Saat Pak Baskoro melihat Rahman.
"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?,"
"Tolong berikan arahan kepada Umaiza, namun saya harap, kalian bisa bekerja secara profesional,"
"Baik, Pak. Sudah pasti saya akan membantu Umaiza dalam pekerjaannya dan saya akan bekerja sesuai dengan Bapak harapkan," jawab Rahman dengan penuh keyakinan
"Itu yang saya suka darimu, Rahman," sambil menepuk bahu Rahman.
Rahman tersenyum dan mengangguk tanda menghormati Pak Baskoro.
Pak Baskoro kembali ke ruangan.
Rahman melanjutkan jalan menuju ruangan Umaiza.
"Assalamu'alaikum," ucap Rahman ketika masuk ruangan Umaiza.
"Waalaikummussalaam," ucap Umaiza sambil menoleh ke arah Rahman. "Maaf, Za, langsung kesini,"
"Gak apa-apa," jawab Rahman sambil tersenyum, "Hanya saja tadi Kakak sempet ke-geer-an,"
"Kenapa?"
"Nanti saja ceritanya saat istirahat, sekarang apakah ada yang bisa Kakak bantu?"
"Pastinya, Pak," jawab Umaiza dengan nada lembut
"Bapak?"
"Ini kan kantor, Za, hanya ingin kita profesional saja. Tidak enak dengan karyawan lain," jelas Umaiza
"Iya-iya, Kakak tambah kagum sama, Za,"
Umaiza hanya senyum
"Kakak yakin, ech, Saya yakin, Za, akan cepat mengerti apa yang harus, Za, kerjakan,"
Umaiza mencoba membuka file-file yang ada di atas meja. Semua berkasnya Umaiza periksa dengan sangat teliti. Setelah merasa yakin, Umaiza langsung menutup.
Hampir semua file yang ada di atas meja sudah Pak Bima kerjakan, sepertinya sebelum resign Pak Bima dan Kak Dewa sudah menyelesaikannya.
"Pak, semua berkas sudah selesai di kerjakan, sekarang apa yang harus Umaiza kerjakan?,"
"Mana file nya, biar saya simpan. Sekarang Za minta ke bagian manager keuangan untuk laporan harian, hari kemarin. Sekalian juga ke bagian staf produksi dan pembelanjaan."
"Via telepon atau langsung ke ruangannya?" tanya Umaiza dengan wajah polosnya.
Melihat wajah Umaiza seperti itu, mengingatkan dimana Rahman melihat pertama kali Umaiza di stopan sedang bersenda gurau bersama anak-anak jalanan. Rahman tersenyum sendiri.
"Pak, d tanya kok malah melamun sambil tersenyum?" tanya Umaiza masih dengan wajah yang sama.
"Oh, tidak apa-apa, maaf ya." kata Rahman, "Via telepon saja," sambung Rahman.
__ADS_1
"Baik, Pak, Boleh Za minta nomor-nomor bagian yang harus Za hubungi,"
"Semua ada di buku ini, ya,"
"Baik, Pak. Terimakasih atas bimbingannya,"
"Umaiza dalam bekerja meski di perusahaan Ayahnya sendiri seperti ini, apalagi di perusahaan orang lain," terlintas dalam benak Rahman.
"Jangan terlalu formil dan serius ya, calon makmumnya Kakak," bisik Rahman sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Umaiza. Lalu berbalik tuk kembali ke ruangan.
"Maafkan, Za, lakukan semua ini demi Kakak dan juga Ayah," lirih Umaiza.
Umaiza mengerjakan semua pekerjaannya dengan serius dan teliti
Bagitupun dengan Rahman.
"Assalamu'alaikum," Umaiza mengetuk pintu ruangan Rahman
"Waalaikummussalaam, masuk,"
"Bapak, ini, semuanya sudah di kerjakan. Kalau ada yang kurang kembalikan lagi ke Umaiza ya," ucap Umaiza saat berada tepat di samping meja Rahman.
"Baik, Za, simpan saja dulu di sana. Nanti Kakak periksa," ucap Rahman sambil melihat wajah Umaiza.
"Kalau begitu, Za, izin kembali ke ruangan,"
"Tunggu Za, bentar lagi istirahat. Kita makan siang bareng ya," pinta Rahman.
"Baik, Kak," jawab Umaiza pelan tidak lupa tersenyum sambil melangkah mundur menuju pintu, "Assalamu'alaikum," sambung Umaiza sebelum menutup pintu
"Wa'alaikummussalaam,"
Sebelum kembali ke ruangan Umaiza pergi ke ruangan ayah, tidak lupa menyapa Alifa.
"Mbak, apakah sibuk hari ini?"
"Seperti biasanya, Mbak,"
"Semangat," dengan nada centil dan manja. "Ayah ada?" Sambung Umaiza
"Umaiza tinggal dulu ya,"
"Baik, Mbak,"
"Assalamu'alaikum, Ayah,"
"Wa'alaikummussalaam. Bagaimana hari pertama kerja?"
"Lancar dong, Yah," jawab Umaiza penuh semangat, "Dedikasi Pak Bima sama Kak Dewa ke perusahaan berhak mendapatkan acungan jempol, Yah,"
"Memangnya kenapa?"
"Sebelum resign, semua pekerjaannya sudah selesai," jawab Umaiza,
"Memang iya, mereka berdua sangat loyal kepada perusahaan,"
"Jadi Za, hari ini santai kerjanya,"
"Ya, Alhamdulillah. Kalau langsung kerja banyak, nanti Umaiza akan kaget lagi,"
"Umaiza lebih senang sibuk kerja, Yah. Gak biasa santai, nanti klo santai, Umaiza ganggu ayah atau Kak Rahman lagi,"
Pak Baskoro hanya tersenyum mendengar ucapan Umaiza.
"Ayah istirahat mau makan apa?"
"Sepertinya ayah akan makan diluar saja, sekalian mau survei sejauh mana kesiapan kantor cabang," jelas Pak Baskoro
"Sama Kak Rahman?"
"Tidak, Ayah sendiri saja. Rahman biar menemani Umaiza dulu istirahat," jawab Pak Baskoro
"Kalau mau sama Kak Rahman, gak apa-apa Ayah. Umaiza bisa istirahat bareng mbak Alifa."
"Rahman nanti saja kalau kantor cabang sudah benar-benar siap untuk operasional,"
__ADS_1
"Oke deh kalau begitu, Ayah, hati-hati di jalan."
"Iya, sayang. Kerjaannya sudah selesai?"
"Sudah Yah, sedang diperiksa Kak Rahman,"
"Alhamdulillah, berarti mampu ya, menggantikan posisi Ayah,"
"Ach, Ayah. Ayah masih muda, Umaiza juga masih harus banyak belajar dulu,"
"Ayah kasih waktu 2-3 tahun lagi, ya,"
"In Syaa Allah ya, Yah,"
"Ayah ingin istirahat dan bermain sama cucu-cucu,"
"Ayah, Umaiza kan belum menikah sudah membahas masalah cucu,"
"Iya, itu, keinginan dan mimpi Ayah, semoga setelah menikah nanti. Umaiza dan Rahman langsung Allah amanahkan putra putri yang lucu dan sholeh-sholehah,"
"Aamiin, Yah," Umaiza berdiri langsung pamit untuk kembali lagi ke ruangan.
"Ayah, hati-hati di jalan," sambung Umaiza sebelum meninggalkan ruangan Pak Baskoro.
Umaiza melenggang ke ruangannya dengan menunduk.
"Siapa itu?" tanya salah satu OB kepada OB yang lainnya saat Umaiza melewati mereka
"Tidak tahu, saya juga baru lihat," jawab temannya.
"Sepertinya karyawan baru,"
"Sepertinya begitu,"
"Cantik banget ya, sepertinya sholehah lagi,"
"Iya-ya, tapi sayang sepertinya salah satu dari kita tidak akan ada yang mendapatkannya,"
"Iya, cukup sadar diri saja, apalah daya diri kita, hanya seorang OB,"
"Ehem," Rahman berdehem saat keluar dari ruangan dan mendengar percakapan mereka.
"Eh, Bapak,"
"Sedang apa kalian?" tanya Rahman basa-basi.
"Tidak ada, Pak. Kita baru selesai mengepel lantai di sini."
"Sudah selesai pekerjaannya?"
"Sudah, Pak," jawab mereka bersamaan
"Baik, kalau begitu. Kalian sudah bisa meninggalkan lantai ini, kembali ke lantai bawah. Siapa tahu supervisor sedang membutuhkan bantuan kalian,"
"Baik, Pak. Kami izin permisi untuk kembali ke lantai 1,"
" Silahkan,"
Mereka berjalan menuju lift, Rahman melanjutkan langkahnya menuju ruangan Umaiza.
"Umaiza sudah selesai, ayo kita pergi mencari makan,"
"Bapak tunggu di parkiran saja, nanti Umaiza menyusul dari belakang. Umaiza tidak enak dengan yang lain."
"Tidak mau, nanti Umaiza diganggu sama laki-laki lain lagi,"
"Astagfirullah, Kakak. Umaiza bisa jaga diri kok,"
"Benar, janji, ya,"
"Benar, Kak, kita saling jaga kepercayaan kita masing-masing ya,"
"Iya, calon makmumnya Kakak," dengan nada pelan.
Rahman pergi duluan, Umaiza mengikuti dari belakang. Ayah sudah tidak ada di ruangan begitupun dengan Alifa.
__ADS_1