Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Dani sang penolong


__ADS_3

Rahman sudah kembali dari minimarket, Ibu Rahma masih setia duduk di ruang tunggu. Umaiza masih di ambil darah bersama orang yang menolong Pak Baskoro.


Rahman memberikan air mineral dan roti untuk mengganjal perut Ibu Rahma.


Rahman duduk di sebelah Ibu Rahma.


Setengah jam berlalu, Umaiza baru keluar dari ruangan bersama orang yang menolong Pak Baskoro.


"Terima kasih, ya, Pak. Sudah menolong ayah dan sekarang mendonorkan darahnya juga," ucap Umaiza sambil berjalan menuju ruang tunggu dimana Rahman dan Ibu Rahma berada.


"Sama-sama, Nak. Ini yang bisa saya bantu, demi kemanusiaan juga,"


"Kalau boleh tahu, nama Bapak siapa?"


"Panggil saya, Pak Dani saja,"


"Baik, Pak. Saya dengan Umaiza,"


"Baik, kalau sudah ada kabar tentang Pak Baskoro saya akan pamit pulang. Saya takut keluarga khawatir menunggu saya pulang,"


"Baik, Pak. Namun takutnya bapak lemas di jalan, bagaimana kalau kita makan dulu. Sudah malam juga dan Bapak kan baru di ambil darah,"


"Nanti saja, Nak. Tadi sudah minum air manis juga di kasih sama perawat,"


Rahman segera menghampiri Umaiza ketika sudah melihat Umaiza berjalan ke arahnya.


"Bagaimana sudah?"


"Sudah, Kak," jawab Umaiza


"Berapa banyak darah yang di ambil?"


"2 labu, Pak Dani juga sama. Jadi totalnya 4 labu, semoga cukup,"


"Aamiin,"


Umaiza berjalan mendekat ke arah dimana Ibu duduk.


Rahman dan Pak Dani mengikuti dari belakang.


Terlihat dari wajahnya, Pak Dani itu masih muda. Dengan Rahman hanya berbeda beberapa tahun saja, namun sebagai bentuk penghormatan tidak ada yang salah.


Ibu Rahma sangat terlihat lelah, namun masih tetap setia menunggu kabar dari dokter yang menangani Pak Baskoro.


"Ibu, Pak Dani, mau pamit pulang," ucap Umaiza kepada Ibu Rahma setelah duduk di sampingnya.


"Bapak kalau boleh tahu, bapak kesini naik ambulance bersama Pak Baskoro atau kendaraan pribadi?" tanya Ibu dengan nada yang pelan


"Saya ikut ke ambulance, saya waktu melewati tempat kejadian dimana Pak Baskoro kecelakaan baru pulang dagang. Kebetulan saya dagang di dekat jalan Cempaka, untuk roda nya saya tinggal di tempat saya jualan," Jelas Pak Dani.


"Aman tidak roda di simpan disana?" tanya Umaiza


"In Syaa Allah, aman,"


"Sekarang Bapak mau mampir dulu ke tempat jualan atau langsung pulang?" Selidik Umaiza


"Sepertinya langsung pulang saja," Jawab Pak Dani.


"Boleh saya antar?" tawar Rahman seketika.


"Saya pakai Ojol saja!"


"Izinkan saya antarkan bapak ya?" ucap Rahman sedikit memaksa.


"Baik kalau memang tidak merepotkan, Bapak," jawab Pak Dani.


"Ibu Rahma dan Umaiza saya antarkan Pak Dani dulu, nanti kembali lagi kesini,"


"Baik, kak, jangan lupa kabari bunda juga. Takutnya bunda khawatir kakak tidak pulang."


"Pasti, Kakak akan hubungi Bunda. Za, jangan lupa makan. Itu di sana ada roti dan minuman susu kurma ya, harus di makan,"


"Baik, Kak, hati-hati di jalan,"


"In Syaa Allah, assalamu'alaikum," ucap Rahman


"Nak Dani, terima kasih banyak atas pertolongannya. In Syaa Allah nanti saya dan Pak Baskoro akan mampir ke rumah Nak Dani,"


"Sama-sama, Bu. Semoga Pak Baskoro segera sadar dan tidak ada yang serius,"


"Aamiin ya robbal alaamiin," ucap kami secara bersamaan.


Dani dan Rahman pun pergi meninggalkan Ibu Rahma dan Umaiza.


"Ibu, sudah makan?"


Ibu Rahma menggelengkan kepala


"Makan ya, meski hanya sedikit. Nanti Ibu sakit lagi kalau tidak mau makan. Mau Umaiza belikan ke kantin?"


"Ibu tidak nafsu makan, Nak,"


"atau pesan via ojol saja?"


"Nanti saja, Nak. Kalau sudah dapat kabar tentang ayah,"


"Baik, Bu, namun kalau ibu sudah mulai terasa lapar bilang ke Umaiza, biar Umaiza yang belikan untuk Ibu,"


"Iya, Nak,"


Umaiza meminum susu kurma, karena badannya sudah mulai terasa lemas.


"Bu, kalau sopir gimana keadaannya?" tanya Umaiza pelan


Ibu tidak mendengar


"Sopir yang mengantar ayah, apakah sudah ada kabar juga?" tanya Umaiza sambil jongkok di hadapan Ibu.


"Astagfirullah, Nak, Ibu lupa dengan Pak Sobur,"


Pak Sobur adalah sopir Pak Baskoro, beliau sudah lama kerja menjadi sopir Pak Baskoro. Kurang lebih 20 tahun.

__ADS_1


Ada perawat yang hendak masuk ke ruangan IGD.


Umaiza seketika berlari ke arah perawat tersebut.


"Maaf, Sus,"


"Iya, ada yang bisa di bantu?"


"Saya mau menanyakan apakah ada pasien lain selain Pak Baskoro di kecelakaan tadi?"


"Sepertinya ada, namun yang 1 lagi meninggal di tempat. Sekarang sedang ada di ruangan jenazah, menunggu keluarganya datang," jelas perawat tersebut


"Innalillahi wa inna illaihi roji'un" ucap Umaiza kaget dan selangkah mundur.


"Yang sabar ya, Mbak,"


Umaiza mengangguk


"Masih ada yang bisa di bantu?" tanya perawat tersebut


Umaiza menggelengkan kepala


"Baik kalau begitu saya ke ruangan dulu, mau periksa pasien lain,"


Umaiza mengangguk dan menyandarkan tubuhnya ke tembok.


Ibu Rahma yang melihat keadaan Umaiza segera menghampirinya.


"Bu, Pak Sobur sudah tiada," sambil memeluk Ibu.


"Innalillahi wa inna illaihi roji'un, sekarang Pak Sobur dimana?"


"Dikamar jenazah, Ibu mau lihat?"


"Nanti saja kalau Rahman sudah datang,"


Umaiza dan ibu Rahma kembali duduk di tempat semula.


Pak Sobur ada sopir yang loyal, keluarganya tinggal di kampung. Izin pulang hanya sebulan sekali atau lebih. Memiliki 3 anak. Anak yang pertama seorang laki-laki sudah kuliah tingkat 2, anak kedua perempuan sekolah kelas IX dan anak ketiga perempuan lagi baru kelas 2 SD.


"Ibu, pihak rumah sakit sedang menunggu kedatangan keluarga Pak Sobur,"


"Apakah pihak rumah sakit sudah menghubunginya?"


"Tidak tahu, Bu, coba saja Ibu telepon, ya sebagai permohonan maaf,"


Ibu Rahma mengangguk.


Ibu Rahma mencoba menghubungi keluarga Pak Sobur, untuk memberitahukan sekaligus meminta maaf. Dan ternyata mereka belum tahu kejadian kecelakaan ini, sehingga Ibu berjanji akan mengantarkan jenazah Pak Sobur ke kampung halamannya. Dengan mengutus Umaiza dan Rahman.


Umaiza menyanggupinya.


Perawat keluar dari ruangan IGD


"Keluarga Pak Baskoro,"


"Iya, Sus, kami," teriak Umaiza lalu menggandeng Ibu ke tempat perawat berdiri.


Deg, hati Umaiza merasa tidak enak, pasti ada masalah yang serius terhadap Pak Baskoro.


Umaiza dan Ibu Rahma mengikuti perawat untuk menuju ruangan dokter yang menangani Pak Baskoro dengan perasaan yang tidak karuan.


" Semoga tidak terjadi apa-apa kepada ayah," bisik hati Umaiza


"Semoga perasaan ini bukan tanda tidak baik terhadap ayah" Sambunh Umaiza dalam hati.


Umaiza terus dzikir supaya hatinya tenang.




POV Rahman



Rahman dan Pak Dani sudah berada di dalam mobil. Rahman melajukan mobilnya sesuai dengan petunjuk Pak Dani.



"Bapak tadi saat di tempat kejadian hanya menemukan Pak Baskoro?"



"Tidak, Pak, ada satu lagi, mungkin sopir Pak Baskoro, Namun yang 1 lagi saya tidak menemukan hp nya jadi tidak bisa menghubungi keluarganya"



"Iya, beliau sopir Pak Baskoro. Mungkin Pak Dani tahu keadaannya juga,"



"Sopirnya itu meninggal di tempat kejadian, namun tetap di bawa ke rumah sakit untuk di otopsi,"



"Innalillahi wa inna lillahi roji'un," Jawab Rahman kaget.



"Kecelakaan tunggal, sepertinya memang keadaan mobil atau sopirnya sedang tidak baik-baik saja," celetuk Pak Dani



"Maksudnya Pak?" tanya Rahman heran atas pernyataan Pak Dani.



"Ya, untuk menghindari kendaraan dari lawan arah, sopir membanting setir (kemudi), ini ada 2 kemungkinan rem blong atau sopirnya memang sedang sakit," jelas Pak Dani


__ADS_1


"Mobil Pak Baskoronya sekarang dimana?"



"Saya sudah menyerahkannya kepada polisi supaya di periksa, apakah human error atau ada yang mau mencelakakan Pak Baskoro," Sambung Pak Dani.



"Terima kasih banyak, Bapak sudah banyak membantu kami hari ini,"



"Bapak jangan sungkan, sudah sepantasnya kita saling membantu," jawab Pak Dani sambil tersenyum.



"Boleh saya bertanya kepada Bapak hal yang sangat pribadi,"



"Silahkan saya akan senang menjawabnya,"



"Bapak begitu bijaksana dan pintar kenapa berdagang bukan bekerja?"



"Apalah daya saya, Pak, inginnya bekerja di perusahaan besar namun kesempatan belum berpihak sama saya,"



"Sudah berkeluarga?"



"Sudah, sudah memiliki 2 anak,"



"Alhamdulillah, Bapak tinggal di rumah sendiri?"



"Saya perantau dari kampung, disini mengontrak,"



Selama perjalanan di isi dengan berbincang-bincang, sehingga tidak terasa sudah sampai lagi di rumah Pak Dani.



"Bapak maaf saya tidak bisa turun dulu, saya khawatir kepada Ibu Rahma dan Umaiza," ucap Rahman.



"Tidak apa-apa, Pak. Saya ucapkan terima kasih sudah mau mengantarkan saya,"



"Sama-sama, Pak, In Syaa Allah ini awal tali silaturahim kita terjalin,"



"In Syaa Allah, Pak,"



"Pak, saya tidak punya apa-apa. Hanya ini saja untuk anak-anak dan sedikit uang jajan untuk mereka," Saat Pak Dani akan turun dari mobil, Rahman memberikan 1 kantong plastik besar dan 10 lembar uang ratusan.



"Bapak, saya ikhlas membantu Pak Baskoro," enggan menerima pemberian dari Rahman



"Saya juga ikhlas memberikan ini untuk anak-anak, Bapak," Rahman sedikit memaksa.



"Terima kasih ya, Pak. Saya terima," ucap Pak Dani lalu turun dari mobil



"Sama-sama, Pak. Salam untuk mereka, saya pamit, Assalamu'alaikum,"



"Wa'alaikummussalam,"



Rahman langsung menjalankan kembali mobilnya menuju Rumah Sakit.



Rahman pun tidak lupa memberikan kabar kepada Bunda, kalau saat ini dirinya tidak akan pulang. Mau menemani Ibu Rahma dan Umaiza di rumah sakit karena Pak Baskoro mengalami kecelakaan tadi sore.



¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤



**Apakah dugaan Dani itu benar**?



**Kecelakaan yang terjadi kepada Pak Baskoro itu faktor kesengajaan atau sopir yang sedang tidak enak badan**?


__ADS_1


**Jawabannya akan ada di part berikutnya, ikuti terus ceritanya**.


__ADS_2