Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Curiga


__ADS_3

Umaiza dan Rahman saling bertatapan ketika sampai di rumah duka. Dengan melihat banyak tamu yang datang. Di temukan beberapa orang kolega yang hadir.


"Kak, kok ada orang kantor juga?" tanya Umaiza heran


"Iya, Alifa juga ada," sama herannya


"Iya, Kak, coba saya tanya kepada Ibu,"


Umaiza masuk ke dalam rumah untuk menemui Ibu.


Rahman membantu perawat untuk menurunkan keranda ke dalam rumah.


Di sambut dengan Farid.


Rara membantu Bi Marni memasang kursi untuk para pelayat.


Rudi Antara mengawasi dari luar, siapa tahu ada sesuatu yang tidak diinginkan.


Ibu Rara dan Bunda menemani Ibu Rahma di dalam.


Pengacara mengurus semua keperluan pemakaman.


"Mbak, saya ikut berbela sungkawa atas kepergian Pak Baskoro," ucap Alifa ketika Umaiza lewat di hadapannya.


"Terima kasih, Mbak, namun kalau boleh tahu, Mbak, tahu darimana?"


"Mbak atau Pak Rahman belum cek grup kantor?" tanya balik Alifa


"Kebetulan saya belum masuk grup, sepertinya Kak Rahman juga belum buka-buka hp,"


"Kami tahu dari Rama, Mbak,"


"Rama?" tanya Umaiza kaget dan menghernyitkan dahinya.


"Iya, Mbak, bahkan kecelakaannya pun di share,"


"Apa?" Umaiza tambah kaget, "Kok bisa?" tanya Umaiza lesu hampir terjatuh namun ditahan oleh Alifa.


"Mbak, kenapa?" tanya Alifa khawatir dan membantu Umaiza duduk di kursi.


"Mbak," ucap Umaiza dengan suara pelan


"Iya, Mbak,"


"Siapa saja yang datang kesini?" masih dengan suara lemah.


"Banyak sih, Mbak,"


"Rama datang kesini?"


"Saya belum lihat, Mbak,"


Rara masuk ke dalam dan melihat Umaiza duduk dengan wajah yang pucat.


"Umaiza kenapa?"


"Bisa bantu Umaiza masuk ke dapur?" pinta Umaiza kepada Rara


"Ayo, Rara bantu," sambil dipapah ke dapur.


Umaiza masuk ke dapur dengan di bantu Rara. Rahman melihat Umaiza dan Rara ke arah dapur, Rahman segera ikut masuk ke dalam.


"Umaiza barusan waktu datang masih terlihat segar, sekarang kenapa?


"Rama," ucap Umaiza


"Kenapa dengan Rama?"


Kata 'Rama' terdengar oleh Rahman.


"Kenapa dengan Rama?" tanya Rahman mengagetkan Rara dan Umaiza.


Umaiza segera menghampiri Rahman dan memeluknya sambil menangis. "Kak, Rama, Kak,"


"Apa yang dilakukan Rama?" sambil memeluk balik Umaiza.


"Rama yang memberitahukan atas berita ini, coba kakak cek d grup kantor?"

__ADS_1


Rahman kaget mendengarnya, "Benar-benar tidak punya empati," sedikit emosi.


"Bahkan kecelakaan kemarin pun, dia share d grup," sambung Umaiza.


"Astagfirullah, sepertinya memang benar kecurigaan kita," tambah emosi


Rara hanya bengong dengan pandangan bingung, atas apa yang dia lihat.


"Nanti kalau sudah selesai mengurus pemakaman ayah, kita cek bersama secara teliti apa saja yang di bahas di grup,"


"Iya, Kak,"


"Rara nanti juga pasti akan kami libatkan, sekarang waktunya menshalatkan jenazah sebelum kita bawa ke Garut,"


"Iya, Kak, Rara siap membantu. Untuk besti apa sih yang nggak," mencairkan suasana.


Namun dalam pikiran Rara, nama Rama itu sudah tidak asing lagi. Jangan-jangan Rama yang psikopat itu, apa yang dia mau harus dia dapatkan.


"Ah, nama Rama kan bukan hanya 1," pikir Rara.


Umaiza di buatkan teh manis hangat oleh Rara.


Tubuh Umaiza sedikit segar dan tenang setelah mendengar ucapan suaminya.


Umaiza melangkah ke tempat Ibu Rahma berada dan duduk di dekatnya.


Di ikuti oleh Rara.


Ibu Rahma sudah terlihat lebih ikhlas dan tegar.


Rahman meminta ke Pak Doris untuk melaksanakan shalat jenazah.


Semua yang hadir ikut menshalatkan jenazah pak Baskoro secara bergantian.


Sekarang waktunya Rahman, Rudi Antara dan Farid. Di susul oleh para perempuannya.


Setelah shalat jenazah, Rudi Antara mencolek Rahman.


"Nak Rahman, bisa kesini sebentar," ajak Rudi Antara sambil melangkah menjauh dari para tamu.


Rahman mengikuti Rudi Antara, "Iya, Pak,"


"Kira-kira siapa?"


"Sepertinya laki-laki dan masih muda, ada seumuran dengan Nak Rahman, apakah Nak Rahman mencurigai seseorang?"


Rahman hanya mengangguk.


"Apa Bapak boleh tahu?"


"Boleh, Pak, sepertinya Rahman tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini sendirian,"


"Kalau Nak Rahman membutuhkan bantuan jangan sungkan, In Syaa Allah selama Bapak mampu, Bapak akan bantu,"


"Terima kasih sebelumnya, namun untuk pembahasan lebih lanjut kita bahas nanti saja setelah selesai pemakaman Pak Baskoro,"


"Iya, itu, lebih baik,"


Pembicaraan selesai ketika keduanya melihat seseorang berlari dari arah yang Rudi Antara tunjukkan tadi.


"Apa perlu kita kejar?" tanya Rahman


"Bapak pikir tidak, biarkan saja. Nanti Bapak akan meminta bantuan polisi untuk mengawal keberangkatan kita menuju Bandung,"


"Baik, Pak, terima kasih lagi,"


"Tidak usah sungkan, Pak Baskoro adalah teman dekat Bapak, seperti Umaiza dan Rara sekarang," terang Rudi Antara sambil tersenyum.


Umaiza dan Rara menghampiri Rahman dan Rudi Antara.


"Kak, kata Bapak pengacara semuanya sudah siap. Sekarang kita sudah bisa pergi ke Bandung,"


Rahman menoleh kepada Rudi Antara.


"Tunggu ya, Za, kakak meminta bantuan kepada Pak Rudi, untuk mengirimkan beberapa orang polisi. Supaya ada yang mengawal keberangkatan kita ke Bandung,"


Rudi Antara sedang menelepon kepada temannya yang berprofesi polisi.

__ADS_1


Umaiza mengangguk dan kembali ke dalam.


"Adakah yang akan menghalangi di perjalanan menuju ke Bandung?" terbersit dalam hati Umaiza, "Sejahat itu kah Rama?" lanjut dalam hati Umaiza.


Adzan dzuhur berkumandang, Umaiza memutuskan untuk sholat dahulu. Supaya sedikit tenang, semua yang bergejolak dalam hati Umaiza hilang.


"Ya Allah, hamba tak ingin su'udzon, namun semua kecurigaan mengarah kepadanya. Mohon petunjuk-Mu ya robb, apa yang harus hamba dan suami hamba lakukan untuk menghadapinya," do'a Umaiza di akhir sholatnya.


Sebagian tamu sudah pulang. Sebagian lagi ada yang mau ikut mengantarkan Pak Baskoro ke peristirahatan terakhirnya.


Semua sudah siap.


Umaiza, Rahman dan Ibu Rahma masuk ke ambulance bersama dua orang perawat untuk menjaga jenazah.


Farid dan Bunda ikut bersama Rara dan keluarga.


Bi Marni ikut kepada Pak Doris dan Ibu Aisyah.


Pengacara mengendarai mobil sendiri.


Begitu juga dengan Alifa dan yang lainnya membawa mobilnya sendiri-sendiri.


Dikawal oleh 6 orang polisi, 2 orang polisi di depan ambulance dengan menggunakan mobil, 2 orang polisi di belakang ambulance menggunakan sepeda motor, 2 orang lagi di belakang rombongan dengan menggunakan mobil patroli.


Selama dari perjalanan, semuanya lancar tidak ada kendala sama sekali.


Kami pun tiba di Bandung, tepatnya di pemakaman keluarga di daerah mahmud. Keluarga Pak Baskoro sebagian sudah menunggu di pemakaman.


Pak Baskoro merupakan keturunan sunda, asli Bandung. Saudara-saudaranya sebagian merantau ke luar kota atau bahkan ada yang keluar provinsi.


Begitu juga dengan Pak Baskoro, setelah selesai SMA, beliau pergi ke Jakarta untuk kuliah disana.


Saat kuliah itulah beliau ketemu dengan Rudi Antara dan Ibu Rahma. Pak Baskoro memang lahir dari keluarga yang berada.


Semua yang mengantarkan Pak Baskoro sudah turun dari mobilnya masing-masing. Termasuk Umaiza dan Ibu Rahma.


Rahman, Farid, 2 orang perawat, Pak Doris dan Pak Rudi Antara membawa jenazah ke pemakaman.


Rara berjalan bersama Ibunya, Ibu Aisyah dan Bi Marni.


Rara tersenyum kepada kerabat Pak Baskoro yang ada di sana, namun Rara sepertinya melihat seseorang yang sudah tidak asing lagi.


"Rama," celetuk Rara yang terdengar oleh Umaiza.


Umaiza segera menoleh, "Rama siapa, Ra?" tanya Umaiza kaget dan takut.


Orang itu berlari setelah melihat Rara.


"Tidak, Umaiza, sepertinya Rara salah melihat orang," elak Rara takut Umaiza khawatir


Umaiza merasa tenang dan kembali meneruskan langkahnya.


"Sepertinya 80%, Rama yang sama," dalam hati Rara, "Ada masalah apa Umaiza dengan Rama," lanjut Rara dalam hati, "Apakah???" masih bergelut dalam hati Rara.


Prosesi pemakaman semua lancar.


"Alhamdulillah, Ayah sudah tenang disana. Ya Allah, semoga Engkau meluaskan dan menerangi alam kubur Ayah," do'a Umaiza.


Semua kembali, rombongan pun sebagian sudah pulang. Kecuali keluarga inti. Yaitu Keluarga Rara, Umaiza, Ibu Aisyah, Rahman dan pengacara masih ada.


Kerabat ayah ada yang mengajak kami untuk istirahat sebentar di rumahnya. Karena memang Ibu Rahma jarang sekali bertemu dengan mereka terlebih setelah Umaiza hilang, banyak dari keluarga Pak Baskoro yang menyalahkan Ibu Rahma.


Tidak bisa menjaga anak lah, bukan ibu yang baik lah, ibu yang ceroboh lah, sehingga malas untuk ketemu. Baiknya Pak Baskoro daripada istrinya mendapatkan luka dari keluarganya lebih baik tidak ketemu sama sekali.


Pak Baskoro begitu menjaga dan mencintai Ibu Rahma.


"Ini siapa, ceu?" tanya salah satu kerabat Pak Baskoro kepada Ibu Rahma sambil menunjuk ke arah Umaiza


"Ini putri kami yang hilang, alhamdulillah Pak Baskoro sempat ketemu dulu dengan putrinya,"


"Cantik sekali," puji kerabat yang lain


"Alhamdulillah," jawab Umaiza.


Ibu Rahma segera pamit dan mohon maaf telah menolak ajakan kerabat Pak Baskoro dengan santun.


Semua kerabat pun mengangguk dan memaklumi.

__ADS_1


Semua kembali kepada mobilnya dan tetap di kawal oleh polisi.


Seharusnya yang belum kembali itu 1 ambulance, 1 mobil Rara, 1 mobil pengacara dan 1 mobil Ibu Aisyah. Namun ini ada 1 mobil lagi entah siapa.


__ADS_2