
Umaiza balik ke ruangannya untuk beres-beres, begitu juga dengan Rahman.
Rahman membawa semua hp bekas Pak Baskoro dan buku harian ke dalam shopping bag di satukan dengan rompi yang terdapat bercak darah.
Umaiza sudah kembali lagi ke ruangan Rahman dengan membawa iphone milik Pak Baskoro.
"Kak, kirim voice notes saja ke Farid kalau kita sudah pulang,"
"Iya, baik," Rahman mengambil hp nya.
"Kakak dan Kak Umaiza pulang duluan ya," ucap Rahman ketika voice notes.
Farid belum membalasnya.
Umaiza membantu Rahman membereskan file yang berisikan berkas.
"Sudah beres, Za, ayo!"
Umaiza mengangguk pelan sambil tersenyum.
Rahman menggenggam tangan Umaiza, karyawan yang melihatnya berdecak kagum. Saat di lift pun tangan Umaiza tidak dilepaskannya.
"Kak, ini malu," ucap Umaiza sambil melihat ke tangannya.
"Biarkan saja, nanti kalau tidak di genggam, Za, terjatuh lagi. Apalagi hati Za, lagi tidak karuan,"
Rahman orang yang baru di kenal beberapa minggu ini sudah berani mengucap janji seiya sekata di depan Pak Baskoro dan semuanya dan kini sudah sangat faham keadaan Umaiza.
"Terima kasih ya, Kak,"
"Untuk apa?"
"Untuk setiap moment yang selalu ada buat Za,"
"Iya, Kakak, kan selalu ada untuk Za, apalagi sekarang Za sudah menjadi istri Kakak,"
"Jangan pernah berubah,"
"In Syaa Allah, Kakak sayang Za sampai kapan pun," sambil mengusap kepala Za dengan tangan yang satunya.
Lift terbuka.
Tangan Umaiza masih di genggamnya.
Rahman sangat menjaga Umaiza.
"Bu Umaiza sakit?" tanya Rara ketika mereka lewat ke mejanya.
"Tidak, Ra, hanya kelelahan saja. Kami pulang duluan," jawab Umaiza.
Rara mengangguk pelan, "Hati-hati di jalan,"
"In Syaa Allah, Aamiin Ra,"
Umaiza dan Rahman melanjutkan langkahnya.
Karyawan yang lain hanya mengangguk dan tersenyum.
Umaiza menunggu di lift dan Rahman mengambil mobil dari parkiran.
"Za, ayo!" ajak Rahman ketika mobil sudah lewat ke depan Umaiza.
"Oh, iya, Kak," jawab Umaiza kaget.
Umaiza naik ke dalam mobil.
Pasang seat belt dan menyandarkan kepalanya ke mobil.
Rahman yang menyadari Umaiza ingin tiduran segera menurunkan kursinya sedikit.
"Kak, Za, ingin tidur sebentar!"
"Iya, Za, tidur saja dulu!"
Umaiza terlelap tidur.
Rahman menjalankan mobilnya dengan kecepatan rendah.
Jalan pun mulai padat dengan kendaraan roda tiga dan roda empat karena saatnya waktu jam pulang, jalanan pun menjadi macet.
Umaiza masih tertidur.
Ketika jalanan terasa lengah, Rahman segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang supaya segera sampai di rumah.
"Kak, sudah sampai?" tanya Umaiza sambil mata terpejam.
"Sebentar lagi, Za," jawab Rahman dengan pandangan lurus ke depan.
__ADS_1
"Hmmm,"
Umaiza meneruskan kembali tidurnya.
Mobil sampai di halaman rumah Bunda.
"Za," ucap Rahman membangunkan Umaiza, "Sudah sampai, ayo bangun!" ucap Rahman lagi sambil menggoyang-goyangkan lengannya.
"Hmmm, sudah sampai Kak?"
"Sudah, ayo mau turun atau lanjut tidur di mobil?" tanya Rahman
Umaiza mencoba membuka matanya.
Rahman membuka seat belt dirinya dan Umaiza lalu keluar dari mobil dan membuka pintu mobil bagian Umaiza. Rahman menggendong Umaiza yang masih enggan turun.
"Kak, Za, bisa turun sendiri," Umaiza dengan membelalakan matanya.
"Sudah, gak apa-apa. Za, sepertinya benar-benar kelelahan," menggendong Umaiza ke rumah Rahman dan mendudukannya di atas kursi yang ada di ruang tamu.
Ibu dan Bunda yang melihatnya khawatir kepada Umaiza yang kebetulan mereka sedang mengobrol di ruang tamu
"Umaiza kenapa?" tanya Ibu
"Iya, Nak, apakah sakit?" tanya Bunda.
"Tidak Bu, Bun, Umaiza hanya kelelahan saja. Kak Rahman saja yang berlebihan sampai gendong-gendong Umaiza," keluh Umaiza.
Rahman langsung perginke dapur setelah mendudukkan Umaiza di kursi.
"Alhamdulillah, kalau tidak apa-apa, Ibu khawatir takutnya Umaiza sakit,"
"Tidak, Bu, oh, iya, Bu, kalau hp Ayah ada?" dengan membenarkan posisi duduknya.
"Ada, Umaiza mau pinjam?"
"Iya, Bu, kalau boleh, Umaiza ingin pinjam hp Ayah,"
"Tunggu ya, Ayah ambilkan dulu hp nya," Ucap Ibu lalu pergi ke kamar untuk mengambil hp.
"Baik, Bu,"
Rahman datanh dengan membawakan teh manis untuk Umaiza.
"Terima kasih, Kak,"
"Aamiin,"
"Umaiza mau makan?"
"Tidak Bun, nanti saja tanggung sebentar lagi maghrib,"
"Baik, kalau begitu Bunda pulang dulu ya,"
"Baik, Bun,"
Umaiza meminum teh manis buatan Rahman. Rahman pergi ke kamar untuk bersih-bersih di kamar mandi yang ada di kamarnya.
"Ini, Nak," dengan memberikan hp milik Pak Baskoro kepada Umaiza.
"Oh, Iya, Bu, terima kasih,"
"Iya, Nak, kalau itu hp siapa?" tunjuk Ibu kepada hp iphone.
"Ini milik Ayah, Bu, Umaiza temukan di dalam laci meja kerja Ayah," dengan memperlihatkan hp iphone kepada Ibu.
"Iya, ternyata masih ada," ucap Ibu sambil melihat dan memegang hp iphone.
"Maksud Ibu?"
"Tidak apa-apa, ibu hanya mengira hp ini sudah rusak,"
"Masih bagus, Kok, Bu,"
Umaiza menyalakan hp Pak Baskoro yang di berikan oleh Ibu.
Dibukanya aplikasi satu demi satu, namun tidak ada satu pun bukti di hp Pak Baskoro yang ini.
Wa, SMS ataupun telepon.
Ada satu nomor terakhir pada hari kejadian Beliau kecelakaan. Nomor yang pernah di lihat sebelumnya, Umaiza mencoba mengingat-ngingat kembali.
"Bu, bisa pinjam dulu iphone nya?"
"Oh, iya, Ini,"
Umaiza mengambil iphone dari tangan Ibu dan segera membuka aplikasi wa. Ternyata benar nomor yang sama dengan yang meneror Pak Baskoro.
__ADS_1
"Astagfirullah, sebenarnya ada dendam apa terhadap Ayah?" tanya Umaiza dengan nada pelan namun terdengar di telinga Ibu, "Semoga Engkau segera membuka kebenaran atas kejadian ini," sambung Umaiza.
"Kenapa Nak?" tanya Ibu khawatir
"Bu, apakah Ibu tahu Ayah mempunyai masalah apa lima tahun yang lalu?"
Ibu terdiam seperti sedang berfikir, "lima tahun yang lalu?" mencoba mengingat-ingat, "Ibu lupa Nak,"
"Oh, iya, gak apa-apa, Bu, kalau barang-barang Ayah yang sudah tidak terpakai disimpan dimana, Bu?"
"Kalau di rumah di simpannya di gudang, kalau di kantor di simpannya di kamar khusus. Ayah simpan di lemari,"
"Baik kalau begitu nanti Umaiza cari,"
"Memang untuk apa Nak?"
Umaiza menceritakan kepada Ibu atas penemuan buku agenda dan notes, dan memperlihatkan chat ancaman dan gambar melalui wa.
"Astagfirullah," ucap Ibu kaget saat melihat chat yang berisi ancaman
"Apakah Ibu mengetahui sesuatu tentang gambar itu?"
Ibu langsung terdiam karena syok
"Ibu tidak apa-apa?" ketika melihat Ibu dengan pandangan kosong
Ibu masih terdiam
"Ibu," panggil Umaiza sambil menepuk paha Ibu
"Sekarang Ibu ingat, iya benar lima tahun yang lalu, ..." Ibu menceritakan semuanya secara jelas dengan pandangan masih kosong.
"Ibu baik-baik saja kan?" tanya Umaiza lagi yang merasa khawatir, "Kalau Ibu tidak kuat tidak usah di teruskan pembahasan ini,"
"Ibu baik-baik, saja,"
"Syukurlah," menarik nafas lega
"Apa masih ada yang mau di tanyakan?"
"Apa mungkin anaknya itu Alifa?"
"Ibu, tidak tahu, sepertinya iya,"
"Apakah Ayah tidak sampai berurusan dengan polisi?"
"Tidak, karena dari pihak sana memang tidak melaporkan kepada polisi dan Ayah memang dirinya tidak merasa bersalah jadi tidak menyerahkan diri,"
"Umaiza juga menemukan ini," dengan memperlihatkan rompi yang ada darahnya.
"Iya, benar itu. Ayah saat itu pulang dari proyek darah itu adalah darah korban yang ditolong oleh Ayah,"
"Jadi ini semua karena salah faham?"
"Sepertinya iya, karena dendam, padahal Ayah merasa tidak tega terhadap keluarganya jadi Ayah membantu mereka secara finansial sampai sekarang. Salahnya Ayah tidak ingin di ketahui kalau dirinya lah yang sudah membantunya,"
"Maa Syaa Allah, namun karena kebaikan Ayah itu menjadi semuanya salah faham,"
"Iya, betul Nak, padahal Ibu sudah mengingatkan namun Ayah tidak mau mengikuti saran Ibu,"
"Ayah adalah seorang laki-laki yang tiap moment mengabadikan dalam setiap tulisan, apakah mungkin kejadian itu Ayah tuangkan dalam buku hariannya?" tanya Umaiza penasaran.
"Sepertinya Iya, karena Ibu juga banyak tahu tentang kejadian itu secara jelas saat baca buku harian Ayah,"
"Alhamdulillah, kalau ada bukti. Coba nanti Umaiza cari di kamar khusus,"
"Apakah Ibu bantu mencarinya?"
"Tidak apa-apa, biar Umaiza dan Kak Rahman saja yang mencarinya,"
Adzan maghrib berkumandang. Rahman keluar dari kamar.
"Bu, Umaiza ingin bersih-bersih dulu ya," Umaiza pamit ketika melihat Rahman keluar kamar, sebelumnya Umaiza membereskan barang-barang Ayah yang bisa di jadikan alat bukti.
"Iya, Nak, Ibu akan mempersiapkan makanan untuk makan malam,"
"Nanti saja sama Umaiza, Bu,"
"Tidak apa-apa sama Ibu saja,"
"Baik kalau itu Ibu mau, maafkan Umaiza merepotkan Ibu,"
"Tidak apa-apa, Umaiza, mandi saja dulu!"
"Baik, Bu, terima kasih,"
Umaiza masuk ke kamar, Ibu pun sama ke kamar untuk melaksanakan sholat maghrib.
__ADS_1