
Karena jam masih menunjukkan pukul 14.00, Rahman dan Umaiza kembali ke kantor.
"Bu, Pak, kerjaan saya sudah selesai. Saya izin ke kampus kebetulan ada jam kuliah," ucap Rara saat melihat Umaiza dan Rahman datang.
"Iya, Ra, kalau gitu nanti habis kuliah langsung pulang saja. Pasti pulangnya sore kan?"
"Iya, Bu,"
"Iya, hati-hati di jalan,"
"Terima kasih, Bu, Pak,"
Umaiza dan Rahman melanjutkan langkahnya dan segera masuk lift.
Saat keluar dari lift, Umaiza melihat Farid baru masuk ruangannya.
"Kak, Za, langsung ke ruangan ya?"
"Iya, Za, kakak mau periksa berkas yang tadi Za kerjakan sebelum berangkat meeting,"
"Iya, Kak,"
Umaiza pergi menuju ruangannya, Rahman masuk ke ruangannya.
Umaiza langsung mengerjakan tugas yang Farid simpan di atas meja. Tidak membutuhkan waktu yang lama, Umaiza selesai mengerjakannya.
Umaiza segera memberikannya kepada Rahman dan menyimpan di atas meja.
Rahman sedang mempelajari proposal milik Candra.
"Sudah, selesai Za?" tanya Rahman yang menyadari Umaiza datang
"Sudah dong, ada yang bisa Za bantu?"
"Tidak ada, pekerjaan Kakak juga sudah selesai tinggal memeriksa pekerjaan yang Za barusan,"
"Syukur alhamdulillah, Za, bisa istirahat sejenak sambil menunggu waktu ashar,"
Umaiza duduk di kursi sofa yang ada di ruangan Rahman. Lalu menyandarkan punggungnya ke belakang. Tidak lama kemudian Umaiza tertidur dan Rahman segera membaringkan tubuhnya di atas kursi.
"Lelah, ya, Za?" tanya Rahman sambil mengusap kening Umaiza.
"Pasti semua ini membuatmu kaget, sedang menikmati kebersamaan dengan Ayah dan Ibu setelah sekian lama hilang. Tiba-tiba harus kehilangan Ayah untuk selamanya, lalu di berikan amanat yang begitu besar melalui perusahaan dan masalah, Umaiza pasti kuat," Ucap Rahman dalam hati yang masih mengusap dan memandang wajah cantik istrinya.
"Ingat ya, sayang, Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya, Za, bisa melewati ini semua," sambung Rahman lagi dengan mencium kening Umaiza.
Rahman kembali lagi ke meja kerjanya dan menyelesaikan pekerjaan.
Selesai memeriksa pekerjaan Umaiza, Rahman kembali mempelajari proposal perusahaan Candra.
Setelah semuanya di rasa oke, Rahman segera menanda tangani proposal tersebut.
Rahman pergi ke mushola untuk mendirikan shalat ashar. Umaiza masih tidur.
Sepulangnya dari mushola, Rahman membangunkan Umaiza karena waktu sudah menunjukkan pukul 16.30.
"Za, bangu, shalat ashar lalu kita pulang,"
"Hmmm," Umaiza menggeliat.
"Ayo, bangun sayang,"
"Jam berapa Kak?"
"Jam 16.30, sayang,"
"Astagfirullah," Umaiza terperanjat mendengar sudah sore.
"Pelan-pelan sayang, nanti pusing," Rahman mengambilkan air untuk Umaiza.
Umaiza masih mengumpulkan nyawanya.
"Ini, Sayang minum dulu airnya,"
"Terima kasih, suaminya Za,"
"Sama-sama, sayang,"
Umaiza pergi ke kamar mandi untuk wudhu lalu ke mushola untuk mendirikan sholat.
Rahman menunggu di ruangannya.
Umaiza sudah selesai sholat lalu siap-siap untuk pulang, begitu pula dengan Rahman.
Farid sudah keluar ruangan.
__ADS_1
"Kak, mau langsung pulang?" tanya Farid kepada Rahman
"Tidak, Kakak mau ke rumah kak Umaiza yang dulu,"
"Ya, sudah kalau begitu Farid ikut ya?"
"Boleh, kebetulan kita kesana ada yang mau di cari. Jadi lebih banyak yang mencari lebih cepat ketemunya,"
"Memang Kakak sama Kak Umaiza mau mencari apa?"
"Mencari buku harian Pak Baskoro,"
"Oh, siaaap,"
"Ngomong-ngomong motornya kenapa?"
"Tidak tahu, Kak, sudah beberapa hari ini ngadat terus,"
"Rusak?"
"Mungkin, sekarang sedang di bengkel. Pihak bengkel belum memberikan informasi masalahnya apa,"
"Oooo, ya syukur kalau sudah di bawa ke bengkel,"
Umaiza datang
"Ayo, Kak!" ajak Umaiza dari pintu ruangan Rahman.
"Ayo, ayo Farid kita pulang!"
"Iya, Kak,"
"Farid pulang bareng kita?"
"Iya, motornya sedang di bengkel," jawab Rahman
"Oke, tambah satu orang. Mudah-mudahan cepat ketemu,"
"Aamiin,"
Rahman, Umaiza dan Farid naik lift.
"Farid, mau tidak kalau naik mobil?"
"Mau Kak, kalau ada. Namun Farid mobilnya ingin yang kecil,"
"Wah, boleh banget,"
"Ya, sudah nanti pulangnya bawa saja mobilnya, Farid ada SIM kan?"
"Ada, Kak, yang benar?"
"Iya, bawa saja. Daripada rusak,"
"Iya, Kak, makasih ya,"
"Sama-sama," sambil tersenyum.
Rahman dan Farid tersenyum bahagia.
"Terima kasih, ya, sudah menyayangi Farid seperti adik sendiri,"
"Za, menganggap Farid sebagai teman, Kak, bukan adik. Kita kan seumuran ya?"
Farid mengangguk mengiyakan pernyataan dari Umaiza.
Selama di perjalanan mereka asyik mengobrol, apalagi Umaiza dan Farid. Rahman hanya mendengarkan di balik kemudi.
Sampailah di rumah Pak Baskoro.
Security yang menjaga gerbang segera membuka pintu gerbang setelah mobil Rahman berada tepat di luar gerbang.
"Assalamu'alaikum," ucap Rahman.
"Wa'alaikummussalaam," jawab security
Umaiza, Rahman dan Farid keluar dari mobil setelah mobilnya berhenti.
Umaiza masuk ke rumah terlebih dahulu.
"Assalamu'alaikum, Bi Marni," sapa Umaiza.
"Wa'alaikummussalaam,"
"Bagaimana kabarnya, Bi?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, baik-baik saja, non dan Ibu bagaimana?"
"Alhamdulillah, Baik, Bi. Ibu juga sehat,"
"Non, sama siapa kesini?"
"Sama Kak Rahman dan adiknya, Bi, minta tolong di buatkan air minum ya, Bi!"
"Baik, Non, mau Bibi masakin sekalian?"
"Boleh, Bi, takutnya lama di sini nya. Oh, Iya, Bi. Kalau barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi di simpan dimana?"
"Di simpan di gudang, Non,"
"Oh, iya, Baik, kalau gitu nanti kami cari di gudang, gudangnya dimana, Bi?"
"Di atas Non, di kamar paling ujung,"
"Umaiza mau mencari buku, Bi,"
"Oh, Iya, kalau tidak di gudang di perpustakaan, Non."
"Terima kasih ya, Bi," setelah Bi Marni memberikan tiga gelas air minum
Rahman dan Farid menunggu di ruang tamu.
Umaiza membawakan air minum yang di buatkan oleh Bi Marni dan cemilan.
"Kak, mau mencari sekarang atau tanggung maghrib?"
"Sekarang saja, lumayan masih ada waktu satu jam lagi,"
Rahman dan Farid meminum air.
"Baik, kalau begitu. Kita ke gudang, gudangnya ada di atas,"
"Ayo!" ajak Rahman kepada Farid.
Umaiza naik ke atas di ikuti oleh Farid dan Rahman.
"Kak, kamarnya ada di ujung sana. Ini kuncinya, Kakak duluan saja, Umaiza mau ke kamar dulu sebentar,"
"Oh, Iya, baik,"
Rahman dan Farid pergi menuju gudang, Umaiza masuk ke kamar.
Umaiza mau mengambil beberapa pakaian setelah semua keperluannya sudah di rapikan, Umaiza segera menyusul Rahman.
Rahman dan Farid sudah mulai mencari-mencari, Umaiza segera bergabung dengan mereka.
Semua mencari tanpa bersuara. Kalau sedang melakukan apa-apa lebih banyak kerja di banding bicara. Jodoh adalah cerminan diri kita, begitu juga dengan Rahman dam Umaiza.
Sedikit banyak sifat antara Rahman dan Umaiza banyak kesamaan.
Rahman fokus kepada satu buku, di baca tanggal awal dan akhir. Ternyata itu buku harian enam tahun ke belakang. Rahman mencari lagi, di buka nya buku harian lagi. Masih belum menemukannya begitu pun dengan Umaiza dan Farid.
Namun dus yang di buka oleh Rahman tersebut, isinya 80% buku harian semua.
"Za, sepertinya dus yang Kakak buka isinya buku harian semua,"
"Oh, Iya, Kak," Umaiza segera menghampiri Rahman.
Di bukanya buku harian milik Pak Baskoro satu-satu.
Semuanya kembali fokus mencari.
"Kak, sepertinya ini yang di pegang Za,"
"Alhamdulillah, jika benar,"
Rahman dan Umaiza membuka halaman demi halaman buku harian tersebut.
Maret 2018.
Saat melakukan tour motor gede bersama komunitas di saat itu, di jalanan ada terjadi kecelakaan. Kami menepi dan mencoba menolongnya.
Namun mereka semua salah faham kepada kami, semuanya menyalahkan kami terhadap kecelakaan tersebut. Teman-teman di komunitas tidak terima hal itu, sedangkan aku yang tidak tega melihat korban terkapar di pinggir jalan akhirnya mengakui tuduhan mereka.
Yang terpikirkan saat itu, hanya dengan cara itu bisa menolong korban.
Teman-teman komunitas pergi meninggalkan aku sendiri dengan mereka yang bisanya menuduh tanpa mau membantu.
Aku menghubungi rumah sakit untuk meminta mengirimkan ambulance ke tempat kecelakaan.
Disana tertulis namaku yang menjadi penanggung jawab, Keluarganya ku kasih kabar tentang kecelakaan yang menimpa suami sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Namun apa yang terjadi, semuanya menyudutkanku.
__ADS_1
Aku tak terima akhirnya, ku meninggalkan mereka semua di rumah sakit.