
Umaiza menjemput Ibu ke rumah Bunda, Ibu sedang asyik mengobrol dengan Bunda. Entah apa yang di bicarakan dari semalam tidak habis-habis bahan pembicaraannya.
"Umaiza duluan saja, nanti Ibu menyusul," ucap Ibu
"Baik, kalau begitu Umaiza ke rumah dulu ya,"
"Iya, Nak. Ibu masih asyik ngobrol dengan Bunda,"
Farid keluar dari kamar.
"Aduh anak bujang baru bangun," goda Umaiza.
"Iya, nih, Kak, malam gak bisa tidur,"
"Curiga telepon Rara sampai subuh nih?"
"Kakak tahu saja," sambil terkekeh.
"Farid lupa ya, Rara kan teman Kakak. Jadi Kakak tahu kalau Rara itu insomnia,"
"Wah, sepertinya banyak yang harus d korek dari Kakak tentang Rara,"
"Siaaap, Kakak, bantu comblangin deh,"
Bunda dan Ibu tersenyum melihat Umaiza dan Farid yang akrab. Seperti Kakak adik kandung meski usianya seumuran.
"Alhamdulillah, dapat dukungan penuh nih," semangat Farid.
"Asal mau bantu Kakak saja di perusahaan," jawab Umaiza mendadak serius, "Iya, Bu," sambungnya lagi.
"Iya, Nak Farid, untuk saat ini sangat rawan kalau mencari karyawan dari luar," Ibu menyetujui ucapan Umaiza.
"Iya, butuh waktu juga untuk interview dan psikotest karyawan baru. Sedangkan Kakak apalagi Kak Rahman pasti sibuk memantau kantor cabang baru,"
"Iya, Farid akan bantu semampunya,"
"Makasih ya, Farid. In Syaa Allah Rara juga akan ikut gabung bantu Kakak,"
"Yang benar Kak?" tersenyum girang
"Iya, benar,"
"Nah, ini baru oke," lanjut Farid dengan penuh ceria.
"Nanti kita bicarakan lagi dengan Kak Rahman ya, kalau Bapak pengacara Ayah sudah datang."
"Iya, Kak,"
"Bunda, Ibu, Umaiza pamit pulang dulu ya, mau beres-beres dan mandi,"
"Astagfirullah, Kakak belum mandi?" goda balik Farid
"Hehehe, Iya, Kakak baru pulang dari pasar,"
"Kak Rahman kok mau ya dekat-dekat," dengan tangan ada di pelipis tanda sedang mikir.
" Belum mandi juga, Kakak sudah wangi dan tetap cantik. Gak kayak Farid bau kecut," jawab Umaiza sambil menutup hidung.
"Enak saja,"
Umaiza pergi pulang, Rahman sedang membereskan belanjaan ke tempatnya. Beras ke rice box, telur ada tempatnya begitu juga dengan minyak, terigu dan lain-lain. Meski laki-laki, peralatan dapurnya sangatlah lengkap.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'akaikummussalaam,"
"Sudah rapi saja, nih, Kak," saat melihat Rahman sedang beres-beres
"Iya, Kakak bantu membereskan. Takutnya nanti Za, bingung untuk membereskannya," jawab Rahman sambil membereskan sayuran ke dalam tempatnya supaya tetap segar.
"Untuk ke depannya, Kakak, kasih tahu Za, saja ya," membantu Rahman membersihkan ikan, daging dan ayam sebelum di masukkan ke dalam freezer.
"Gak apa-apa dong, Kakak bantu istrinya,"
"Ya, takut saja ke depannya Kakak sibuk, hari minggu inginnya istirahat,"
"In Syaa Allah, Kakak akan selalu ada untuk Za,"
"Alhamdulillah, Za, senang mendengarnya. Za, tambah sayang sama Kakak," sambil memeluk Rahman dari belakang setelah rapi mencuci ikan, daging dan ayam tadi.
"Duh, ini dah mulai agresif nih," canda Rahman saat di peluk Umaiza.
Umaiza segera melepaskan pelukannya.
Rahman membalikkan badannya menghadap ke arah Umaiza.
Umaiza menutup wajahnya, takut kejadian yang di mobil terulang kembali. Dan mencoba berjalan mundur namun pinggang Umaiza segera di rangkul dan di tarik mendekat ke arah Rahman.
Umaiza segera membenamkan wajahnya di dada bidang milik Rahman. Terdengar suara jantung Rahman yang tak beraturan.
__ADS_1
"Ada suara gendang tuh di hati Kakak," sambil mendorong badan Rahman.
Rahman segera memegang dadanya dan tersenyum.
"Udah, Ach, Kak,"
"Apa yang udah, Kan belum apa-apa?" goda Rahman.
"Umaiza mau mandi dulu,"
"Bareng yuk,"
"Kakak," sambil mendelik dengan mulut cemberut.
"Marah atau malu?" goda Rahman lagi.
"Tau ah," sambil berlalu meninggalkan Rahman.
Rahman hanya tersenyum melihat kepolosan Umaiza dan menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
Umaiza masuk ke kamar dan membuka bergo, setelah itu menyiapkan baju ganti untuk di pakai dan mandi.
Umaiza mandi butuh waktu yang lama, apalagi tiga hari ini, Umaiza tidak mandi dengan benar. Rahman menunggu di kamar.
Umaiza selesai mandi hanya menggunakan handuk kimono dengan Rambut yang di balut oleh handuk kecil.
Rahman memandang Umaiza tanpa berkedip.
Betis dan tangan terlihat dengan jelas, sangat putih dan halus begitu juga dengan leher dan tengkuk.
Siapapun yang melihatnya akan tergoda.
"Astagfirullahal adzim," ucap Rahman sambil mengusap wajahnya.
"Ada apa, Kak?" tanya Umaiza dengan wajah polosnya.
"Gak ada apa-apa, Kakak, mandi dulu ya?"
"Ada apa dengan Kak Rahman?" tanya Umaiza dalam hati.
"Dekat-dekat dengan Umaiza penuh godaannya," bisik Rahman sambil membisikkan kepada Umaiza.
Umaiza kaget mendengar ucapan Rahman, "Kak Rahman sebegitu tersiksanya menahan hasratnya?" sambung Umaiza dalam hatinya
Rahman masuk ke dalam kamar mandi.
"Meski Kakak, ridho untuk menunggu Umaiza sampai siap, tapi dalam hatinya Kak Rahman pun punya keinginan untuk itu," merasa bersalah.
"Iya, Za, ada apa?"
"Maafkan Za,"
"Maaf, untuk apa?"
"Za, belum siap,"
"Kakak mengerti, Kakak gak apa-apa,"
"Syukurlah Kalau Kakak gak apa-apa,"
Sambil menunggu kering Umaiza mencoba membuka medsosnya.
Di beranda ada status dari ustadz ternama membahas tentang hak dan kewajiban suami istri.
Kewajiban suami
◇ memberikan mahar
◇ memberikan nafkah, tempat tinggal dan pakaian.
◇ Menggauli istri dengan jalan yang baik
Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak,"
◇ Menjaga istri dari dosa
◇ memberikan cinta dan kasih sayang kepada istri
"Maa Syaa Allah, Alhamdulillah, Kak Rahman sudah melakukan ini semua," ucap Syukur Umaiza.
Umaiza terus scroll lagi ke bawah, ada seseorang yang membuat status 'Wanita yang menolak bersetubuh mendapat laknat malaikat di sepanjang malam nya, sehingga begitu besar dosa istri menolak ajakan suami berhubungan intim'.
Umaiza bagaikan mendapat tamparan keras, "Astagfirullahal adziim," ucap Umaiza dalam hati.
Rahman keluar dari kamar mandi.
"Kak,"
"Iya, Za,"
__ADS_1
"Kakak benar ridho kan?"
"Untuk apa?"
"Za, belum bisa melayani Kakak secara batin,"
"Iya, Za, sambil tersenyum,"
"Alhamdulillah,"
Umaiza membuka handuk kecilnya yang digunakan untuk menutup rambut.
Rambut basahnya di gerai. Umaiza mengambil pengering rambut supaya rambutnya bisa segera kering.
Rahman memperhatikan gerak-gerik Umaiza dari belakang.
Umaiza mengeringkan rambutnya, rambut Umaiza bergerak-gerak kesana kemari.
Tidak menunggu lama Rambutnya sudah kering, Rambut Umaiza yang panjang dan hitam di tambah dengan kulit Umaiza yang putih.
Lagi-lagi Rahman hanya bisa menelan ludah dan sabar melihat kecantikan istrinya tanpa menyentuhnya.
Umaiza melihat ke belakang.
Menyimpan alat pengering rambut
Lalu mendekat ke arah Rahman.
"Kak, apakah tersiksa melihat Umaiza seperti ini?" tanya Umaiza serius.
"Jawab jujur nih?"
"Iya,"
"Iya, jujur Kakak tersiksa. Siapapun laki-lakinya, kalau melihat Umaiza pasti akan tergoda. Contohnya Roni, Rama ingin memiliki Za, meski mereka melihat Za, di balut dengan hijab. Termasuk Kakak, apalagi sekarang Za, sudah menjadi istrinya Kakak. Seperti sekarang ini, tangan, betis, rambut terurai," jelas Rahman dengan tegas.
"Bismillah, malam ya," bisik Umaiza.
"Ikhlas?"
Umaiza mengangguk.
"Iya, Kakak, cuma khawatir sama rahim Za saja,"
"In Syaa Allah, Za, sehat. Tidak ada keluhan juga Kak,"
"Alhamdulillah, Kalau Za, merasa begitu,"
"Iya, Kak,"
"Untuk memastikan nanti sore kita ke bidan ya, coba di USG,"
"Iya, Kak, Za, setuju,"
Hp Rahman berbunyi
Saat di lihat di layar ternyata telepon dari Bapak Pengacara.
"Siapa Kak?"
"Pengacara Za," lalu menerima panggilannya.
Rahman pergi keluar untuk memberikan ruang juga kepada Umaiza untuk mengganti pakaiannya.
Sambungan telepon terputus.
Rahman kembali lagi ke kamar dan Umaiza sudah selesai mengganti pakaian.
"Ada apa, Kak?" tanya Umaiza sambil memakai kerudung.
"Bapak pengacara sudah ada di jalan, sebentar lagi sampai,"
"Oh, Iya,"
Rahman dan Umaiza keluar kamar.
Ibu baru pulang dari rumah Bunda.
"Ibu, Bapak pengacara sebentar lagi datang," ucap Umaiza.
"Oh, Iya," jawab Ibu sambil duduk.
"Ibu, lapar lagi tidak?"
"Belum, Nak,"
"Kalau lapar minta saja ke Umaiza nanti Umaiza yang siapkan,"
"Iya, Sayang,"
__ADS_1
Rahman dan Umaiza pun ikut duduk.