
Umaiza, Rahman dan Farid sampai di rumah.
Ibu dan Bunda sedang mengobrol membahas walimatul urs Rahman dan Umaiza, setelah tadi di berikan gambaran oleh Ibu Windi.
"Kalian sudah datang?" tanya Ibu Rahma.
"Ya, Bu, Ibu dan Bunda apakah baru datang juga?"
"Tidak, tadi kami pulang sebelum ashar, sekarang kami sedang membahas konsep walimatul urs kalian," jawab Ibu.
"Oh, baik, boleh kita bahas sekarang,"
Ibu memberikan gambaran sesuai masukan dari Ibu Windi kalau indoor seperti ini, outdoor seperti ini.
Umaiza dan Rahman saling pandang.
"Bagaimana menurut Za?" tanya Rahman setelah mendengarkan penjelasan dari Ibu Rahma.
"Kalau Za, enaknya outdoor, Kak, secara anak panti dan anak jalanan bisa bebas bergerak kesana kemari tanpa ada tekanan,"
"Iya, Kakak pun sependapat, seperti itu,"
"Baik nantk sabtu atau minggu kalian bisa ke panti sekalian bertemu dengan Ibu Windi,"
"Ya, In Syaa Allah kami bisa, Bu,"
"Kalau urusan kalian bagaimana?"
"Semua sesuai dengan dugaan kita, Bu, sekarang tinggal menunggu Alifa bisa kooperatif atau tidak dengan masalah ini. Jika dia terbuka dan mengakui semuanya, Umaiza berniat mencabut tuntutan terhadapnya, karena yang Umaiza pikirkan adalah masa depannya,"
"Maa Syaa Allah, niatmu begitu mulia, Ibu setuju. Ayah pasti tersenyum melihatnya dari sana,"
"Aamiin, semoga, Bu,"
Bunda memeluk Umaiza, "Bunda bersyukur memiliki putri yang memiliki hati seluas samudra. Rahman sungguh tidak salah memilihmu,"
"Terima kasih, Bunda, semoga Umaiza bisa tetap memiliki hati ikhlas,"
"Do'a Bunda dan Ibu akan selalu menyertai setiap langkah kalian,"
"Kalau Farid gimana, Bun?" tanya Farid polos memecahkan suasana haru.
"Ya, pastinya dong, Farid kan anak kesayangan Bunda," goda Rahman sambil tersenyum.
Bunda, Ibu dan Umaiza ikut tesenyum.
Farid memonyongkan mulutnya.
"Mobil kemana Farid?" tanya Bunda kaget.
"Di kantor, Bun, tadi Farid ikut ke Kak Rahman,"
"Betul itu Rahman?"
Rahman mengangguk.
"Bunda, Umaiza pamit pulang ya, ingin bersih-bersih dan shalat maghrib,"
"Iya, Nak,"
"Saya juga pamit, ya, Bun, sekarang sudah ada teman," kata Ibu Rahma.
Bunda menganggukkan kepalanya.
Umaiza dan Ibu pulang ke rumah.
"Nak, kapan kita menengok rumah baru?"
"Umaiza bagaimana Ibu,"
"Itu kan rumahmu, Nak,"
"Hmmm, rumah kita. Nanti kita lihat jika semuanya sudah tenang. Karena butuh waktu, untuk membersihkannya,"
Sampai di rumah, Umaiza segera masuk kamar begitu juga dengan Ibu.
__ADS_1
Bersih-bersih lalu shalat maghrib.
"Nak, apakah sudah makan?" tanya Ibu kepada Umaiza yang berada di dalam kamar.
"Ibu, maaf, Umaiza dan Kak Rahman sudah makan tadi di jalan," jawab dari dalam
"Oiya, gak apa-apa. Ibu makan ya?"
Umaiza keluar kamar.
Ibu pergi ke dapur
"Ibu, Umaiza lupa, Ibu di belikan pecel lele, tunggu sebentar ya?"
Rahman datang dengan membawakan pecel lele bagian Ibu.
"Bagian Bunda sudah di berikan?"
"Sudah, ini bagian Ibu," memberikannya ke tangan Umaiza.
"Terima kasih," menerimanya dari tangan Rahman.
Umaiza memberikan pecel lele tersebut kepada Ibu.
Ibu makan dengan pecel lele yang di berikan Umaiza.
Untuk menemani Ibu makan, Umaiza mengambil jus jambu yang ada di dalam lemari es.
Rahman pergi bersih-bersih dan shalat maghrib.
Ibu selesai makan.
Umaiza membereskannya dan segera mencucinya.
"Umaiza pecel lele nya enak, beli di restoran mana?" Ibu berdiri dari tempat duduknya
"Umaiza beli di warung tenda pinggir jalan dekat dengan rumah Rara," Umaiza beres mencuci piring
"Wah, diluar ekspektasi kirain dari restoran. Kapan-kapan ajak Ibu makan disana ya?" jalan menuju kamar
"Umaiza, Ibu langsung masuk kamar ya, Ibu ingin istirahat," sambil membuka pintu kamar.
"Iya, Bu, Umaiza juga mau ke kamar,"
"Selamat tidur," ucap Ibu sambil mengecup kening Umaiza.
"Selamat tidur juga Ibu," sambil mencium pipi kanan dan pipi kiri Ibu.
Ibu menutup pintu kamar
Umaiza membuka pintu kamar dan menutupnya kembali.
Rahman sedang terbaring di tempat tidur.
"Kak, mau Umaiza bikinkan apa?"
"Sudah gampang, nanti kalau mau, Kakak buat sendiri, sudah sini Umaiza, tidur di samping Kakak,"
Umaiza menuruti perintah Rahman.
"Hari ini sungguh butuh perjuangan dan keberanian yang besar,"
"Iya, Kak, Umaiza juga merasa lelah, apalagi setelah menghadapi Ibunya Alifa,"
Umaiza mencoba menutup matanya dan tidak membutuhkan waktu lama, sudah terlelap lagi.
Rahman masih asyik melihat hp nya.
Rahman selain pekerja keras, dia pun seorang gamer.
Adzan isya berkumandang.
Rahman segera keluar dari aplikasi lalu ke kamar mandi untuk wudhu.
Menggelar sejadah dan mendirikan shalat isya.
__ADS_1
Umaiza masih terlelap tidur.
Selesai shalat Rahman keluar untuk mengunci pintu dan mengambil air ke dapur untuk di bawa ke kamar.
Rahman membaringkan kembali tubuhnya ke sebelah kanan, sesuai dengan yang di anjurkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.
"Jika engkau hendak tidur, maka berwudhulah terlebih dahulu sebagaimana kamu wudhu akan salat, kemudian berbaringlah pada rusuk yang sebelah kanan." (HR Bukhari & Muslim)
Dan
Tidur Lebih Awal
Nabi Muhammad SAW menganjurkan kita untuk tidur lebih awal dan bangun awal. Hal ini akan membantu kita untuk memiliki waktu yang cukup untuk beribadah dan menjalani kegiatan sehari-hari dengan baik.
Umaiza terbangun dan segera melihat jam.
Jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Umaiza segera bangun dan dilihatnya Rahman sudah tertidur.
Umaiza wudhu dan segera mendirikan shalat isya.
Meminum air putih yang dibawakan oleh Rahman, dan ke dapur untuk mengisinya kembali.
Umaiza segera membaringkan kembali tubuhnya di samping Rahman dan mencoba untuk tidur kembali.
Rahman dan Umaiza tidur dengan lelapnya.
Adzan awal berkumandang dari masjid terdekat. Membuat Rahman dan Umaiza terbangun.
"Pagi, Za," sapa Rahman.
"Pagi, Kak," dengan membuka matanya
"Bangun yuk, kita shalat tahajud,"
Umaiza mengangguk.
Mereka mendirikan shalat tahajud 11 rakaat dan tadarusan.
"Kak, kapan kita akan ke kantor polisi,"
"Sekarang sebelum ke kantor, bagaimana?"
"Baik, boleh, Kak, supaya tenang,"
"Iya, setelah itu Kakak akan melihat proyek cabang baru sudah sampai mana persiapannya,"
"Di kantor?"
"Handle saja dulu sama Umaiza, Kakak percaya, Umaiza sanggup,"
"Bismillah, Umaiza coba,"
Adzan subuh berkumandang.
Rahman dan Umaiza segera mendirikan shalat subuh secara berjama'ah.
"Assalamu'alaikum," menoleh ke kanan, "Assalamu'alaikum," menoleh ke kiri.
Yang di ikuti gerakan dan ucapannya oleh Umaiza selaku makmum.
Selesai shalat Umaiza ke dapur untuk membuatkan sarapan, Ibu masih di kamar.
Semua menu sudah tersaji, Rahman sudah siap untuk pergi ke kantor. Ibu juga sudah rapi.
"Ada yang bisa Ibu bantu, Nak?"
"Alhamdulillaah, sudah beres, Bu, sekarang Umaiza mau siap-siap ke kantor,"
"Iya, Nak,"
"Do'akan ya, Bu, Alifa untuk jujur dan terbuka pada kami, supaya masalahnya cepat selesai,"
"Iya, Nak, pasti,"
Umaiza pergi ke kamar.
__ADS_1
Ibu membantu membuatkan air teh dan Susu.