Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Umaiza Kecewa


__ADS_3

Rahman mengantarkan Umaiza dan Farid ke kantor sedangkan dirinya langsung ke kantor cabang untuk melihat perkembangan pembangunannya.


Farid sudah mendahului Umaiza melangkahkan kakinya masuk kantor.


Rara menghampiri Umaiza, "Gimana Umaiza sudah beres?"


Umaiza menggelengkan kepalanya.


Wajah Rara ikutan sedih.


"Ke ruangan Umaiza yuk, sekalian ajak Sari juga!"


"Baik, sekarang?"


"Iya, di tunggu di ruangan ya," ucap Umaiza kembali sambil menekan lift.


Rara pergi meninggalkan Umaiza untuk memberitahu Sari, jika di dia di minta ke ruangannya.


Umaiza sudah sampai di ruangannya.


Tidak lama dari itu Sari dan Rara pun sudah datang.


"Ibu memanggil saya?" tanya Sari.


"Iya, ayo, masuk,"


"Ada yang bisa Sari bantu?"


"Maaf, Saya hanya ingin tahu tentang Alifa,"


"Tentang apanya, Bu?"


"Kepribadiannya,"


"Yang saya tahu orangnya pendiam, tertutup juga,"


"Kalau masalah laki-laki?"


"Setahu saya dia masih jomblo, Bu,"


"Apakah pernah melihat keluar kantor bersama Pak Baskoro?"


"Saya belum pernah lihat, Pak Baskoro kalau ada meeting atau ketemu klien selalu membawa Pak Rahman, di banding Alifa sekretarisnya," jelas Sari


Umaiza menarik nafas.


"Memang kenapa, Bu?"


"Menurut kamu Pak Baskoro seperti apa?"


"Seorang atasan yang bijaksana, menghormati karyawan-karyawannya apalagi terhadap perempuan,"


Wajah Umaiza menegang


"Ada apa, Bu?"


"Tidak apa-apa, Sari bisa kembali bekerja,"


"Baik, Bu, saya duluan ya?" ucap Sari sambil melihat ke arah Rara.


Rara menghampiri Umaiza.


Umaiza memeluk Rara.


"Kenapa Umaiza?"


"Alifa, bilang alasan dia membunuh Ayah karena Ayah sering mengajaknya tidur, kalau tidak mau Ayah suka menyiksanya,"


"Innalillahi, Umaiza, saya tidak percaya Pak Baskoro bisa melakukan itu," bela Rara


"Apalagi Umaiza anaknya,"


"Ada CCTV tidak?"


"Kata Kak Rahman ada, di ruangan Ayah,"


"Coba lihat, ke bagian monitoring kantor,"


"Ayo!,"


Umaiza dan Rara keluar dari ruangan Umaiza secara bersamaan, Umaiza langsung naik lift dan di ikuti oleh Rara.


Umaiza sudah tahu ruangan monitoring karena pernah masuk kesana, ketika ingin mencari informasi yang ingin merusak mobil Rahman.

__ADS_1


Umaiza masuk ke ruangan itu.


"Pak, apakah CCTV ruangan Pak Baskoro masih aktif?"


"Masih, Bu,"


"Boleh saya minta copyannya untuk satu tahun ke belakang, kalau bisa siang ini serahkan kepada saya," pinta Umaiza.


"Baik, Bu, akan saya usahakan sebelum istirahat sudah selesai,"


"Terimakasih, di tunggu ya,"


Umaiza dan Rara kembali.


"Rara bisa kembali ke meja kerja dulu, nanti jika sudah beres kita lihat sama-sama videonya,"


"Baik, Umaiza,"


Umaiza langsung kembali ke ruangannya.


Namun entah mengapa kaki Umaiza menginginkan belok ke ruangan Rahman.


Umaiza duduk di kursi Rahman dan membuka leptop kerja peninggalan Pak Baskoro. Umaiza mencoba menyalakannya.


Di bukanya file manager.


Umaiza menemukan arsip video, disana sudah terdapat ribuan video.


Umaiza merasa penasaran dan segera membukanya.


Klik, Umaiza membuka video pertama. Yang menggambarkan ketika Ibu Rahma sedang tidur di kamar rahasia.


Video kedua dibuka, masih video Ibu Rahma yang sedang terlelap tidur.


Ternyata itu kumpulan video yang tertangkap oleh CCTV yang dipasang oleh Pak Baskoro di kamar rahasia.


Umaiza membuka video yang bagian tengah.


Disana terlihat saat Pak Baskoro sedang tidur, Umaiza terus melihatnya, "Ayah kalau tidur ganteng juga," gumam Umaiza sambil tersenyum.


Namun ditengah lelapnya Ayah sedang tidru tiba-tiba ada yang masuk, tanpa di sangka. Yang masuk ke kamar rahasia itu adalah Alifa, "Astagfirullah, itu Alifa mau ngapain?" tanya Umaiza dalam hati.


Umaiza memperhatikan video nya lebih fokus.


Seketika itu Pak Baskoro langsung terbangun, "Apa-apaan kamu, Alifa?" teriak Pak Baskoro.


"Izinkan saya memberikan sesuatu yang berharga untuk Bapak," ucap Alifa sambil membuka kancing bajunya dengan jarak yang begitu dekat dengan Pak Baskoro.


"Kamu sudah keluar batas," ucap Pak Baskoro sambil mendorong tubuh Alifa ke lantai.


Pak Baskoro langsung bangun dan keluar dari kamar Rahasia.


Alifa ikut keluar.


Umaiza mencoba melihat tanggal kejadian.


Tanggal yang sama dengan Umaiza sidang dan Pak Bima serta Kak Dewa mengundurkan diri.


"Astagfirullah, kejadian baru kemarin, benar-benar sudah hilang akal," ucap Umaiza.


Umaiza mengambil hp dan segera menghubungi Rara.


Sambungan telepon terhubung.


"Ra, bisa ke ruangan Kak Rahman sekarang?, Umaiza tunggu ya,"


"Iya, baik, Rara segera ke atas,"


Umaiza merasa kecewa terhadap Alifa, "maunya apa Alifa ini?" Gerutu Umaiza.


"Ada apa Umaiza?" tanya Rara saat masuk ke ruangan Rahman.


"Coba sini, Ra, lihat sama Rara sendiri,"


Rara melihat video tadi, "Astagfirullah," ucap Rara saat sudah selesai melihat video tersebut.


"Menurut Rara apa yang Alifa mau?"


"Ingin menghancurkan Pak Baskoro,"


"Tapi dia sempat bersedia di visum, Ra, padahal Ayah nggak ngapa-ngapain,"


"Ya, mungkin dia sudah tidur dengan laki-laki lain, misalnya Rama,"

__ADS_1


Umaiza termenung.


"Berarti sekarang kita bisa korek dari Rama," Saran Rara.


"Benar juga, ya, video ini untuk bukti kepada polisi,"


"Iya, Umaiza,"


"Nanti kita ke kantor polisi jika Kak Rahman sudah pulang mengecek kantor cabang,"


"Iya, kalau begitu, Rara bereskan kerjaan dulu,"


Umaiza mengangguk.


Rara keluar ruangan dan masuk ke lift.


Umaiza mengcopy video tersebut ke flashdisk. Setelah itu merapikan meja Pak Baskoro yang sekarang di gunakan oleh Rahman.


Umaiza kembali ke ruangannya dan tidak lupa membawa flashdisk.


Suara hp Umaiza berdering.


Saat dilihat dari layar ternyata dari Rahman.


"Za, sedang apa?" tanya dari seberang


"Za, baru selesai mengcopy video,"


"Sudah ketemu?"


"Alhamdulillah, sudah, Kakak kapan ke kantor?"


"Kunjungannya sudah selesai, namun Kakak akan ketemu klien di luar. Za, istirahat bareng Rara dan Farid ya?"


"Baik, Kak, semoga urusannya Allah mudahkan,"


"Aamiin, terimakasih istriku,"


"Iya, suamiku, Fii amanillah,"


"In Syaa Allah,"


Rahman menutup sambungan telepon


Umaiza pun sama.


Jarum pendek masih berada di angka 11 dan jarum panjangnya tepat di angka 12.


Umaiza pergi ke kamar mandi untuk wudhu dan kembali ke ruangan. Umaiza menggelar sajadah dan segera mendirikan shalat dhuha.


Selesai shalat dhuha.


Umaiza segera mengerjakan berkas-berkas yang di berikan Farid.


Umaiza kalau sudah berada di balik meja selalu fokus dan tidak tahu waktu.


Waktu istirahat tiba, Umaiza masih berkutat dengan berkas-berkas.


"Kak, tidak istirahat?" tanya Farid saat ke ruangan


"Jam berapa ini?"


"Sudah jam 12 lebih,"


"Tanggung kerjaannya bentar lagi beres,"


"Apa mau di pesankan?"


"Tidak usah nanti saja, lagian belum lapar juga,"


"Gak, ah, nanti Kak Rahman marah,"


"Nanti kakak saja yang ke kantin sendiri,"


"Benar ya?, kalau tidak nanti Farid akan di sidang oleh Kak Rahman,"


"Iya, Kakak janji, Kakak tidak akan menyusahkan Farid,"


"Ya, sudah, Farid duluan," Farid langsung balik kanan dan pergi meninggalkan Umaiza.


"Iya,"


Umaiza kembali kerja.

__ADS_1


__ADS_2