Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Rencana Alifa


__ADS_3

Rahman tiba di kantor.


Umaiza masih berkutat dengan berkasnya.


Rahman langsung ke ruangannya.


Setelah selesai Umaiza segera pergi ke ruangan Rahman untuk menyimpan berkas.


"Sudah pulang, Kak?"


"Iya, barusan,"


"Kenapa tidak memberikan kabar?"


"Iya, maaf, tadinya Kakak ingin kasih kejutan ke Za,"


"Wow, sungguh Za, sangat terkejut," canda Umaiza.


"Sudah istirahat?"


Umaiza menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Gak ada Kakak, jadi Za tidak semangat untuk istirahat," sambil tersenyum lebar.


"Ah, Za, ini, sungguh lebay,"


"Beneran, Za, gak bohong,"


"Mau Kakak temani sekarang untuk mencari makan?"


"Tidak usah, Za, sudah pesan makanan kok, via ojol"


"Oh, ya, syukur kalau begitu,"


"Kakak sudah makan?"


Rahman mengangguk.


"Siap kalau begitu, Umaiza mau ke mushola dulu. Mau sholat dzuhur,"


"Iya,"


Umaiza pergi ke mushola.


Rahman mulai membuka leptop dan bekerja.


Umaiza kembali dari mushola.


Makanan sudah datang.


"Kak, ini punya Za, ya?"


"Ya, Za, barusan OB yang mengantarkan."


"Alhamdulillaah, Iya, Kak, buktinya sudah di temukan. Karena Alifa begitu angkuh, bagaimana kalau kita menemui Rama. Siapa tahu dia mau berkata jujur,"


"Iya, boleh, Kakak, setuju,"


"Za, ingin sekarang sebelum pulang ke kantot polisi,"


"Boleh, Kakak, selesaikan dulu kerjaan Kakak,"


"Iya, Kak, hasil ketemu klien tadi bagaimana?"


"Gagal, karena harganya tidak masuk,"


"Iya, sudah, mungkin belum rezeki kita. Kalau proyek cabang baru bagaimana?"


"In Syaa Allah, seminggu ke depan sudah bisa operasional,"


"Alhamdulillaah, berarti kita sudah harus merekrut karyawan ya, Kak,"


"Iya, benar, Za, apakah kita akan mampu melakukan semuanya secara bersamaan,"


"In Syaa Allah, bisa. La tahzan Innallaha ma'ana, Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita,"


Rahman tersenyum renyah mendengar ucapan Umaiza.


"Nah, gitu dong senyum jangan cemberut, gantengnya ilang lho,"

__ADS_1


"Masa?" nada menggoda Umaiza.


"Iya, kenapa tadi tidak bergairah begitu?"


"Tidak apa-apa, bismillah, lahawla kita bisa ya?" ucap Rahman.


"Pasti bisa dan harus bisa. Walimatul urs sudah ada yang handle oleh Bunda dan Ibu, Alifa sudah ada yang menangani, polisi, rekrut karyawan ada bagiannya HRD,"


"Kita?"


"Perencanaannya,"


"Pantas saja Pak Baskoro sangat yakin menyerahkan perusahaan ini kepada putrinya, ternyata memang begitu pintar,"


"Maa Syaa Allah, Ah, Kakak, bisa saja. Kapan Za makannya kalau mengobrol terus, ini cacing dalam perut sudah pada demo,"


"Ya, sudah makan dulu, nanti pingsan lagi, Kakak yang kena marah Ibu,"


Umaiza mencuci tangan dan mulai makan.


Rahman fokus di balik leptop.


"Alhamdulillah,"


"Sudah makannya Za?"


"Alhamdulillaah, Kak,"


"Sudah kenyang?"


"Alhamdulillaah, sudah, Kak,"


"Alhamdulillaah, Kakak, bereskan dulu ini ya?"


"Iya, Kak, Za, mau ke ruangan dulu ya,"


"Iya, Za, sekalian beres-beres ya. Kakak sebentar lagi beres,"


"Iya, Kak,"


Rahman kembali ke leptopnya.


Umaiza pergi meninggalkan Rahman dan kembali ke ruangan.


1 jam sudah, pekerjaannya sudah selesai dan Umaiza segera beres-beres.


Semuanya sudah beres Umaiza menyerahkan pekerjaannya kepada Rahman dan sekalian untuk pergi ke kantor polisi.


"Sudah beres?"


"Sudah, Kak,"


"Ya, sudah, ini Kakak kerjakan besok saja. Mari kita pulang,"


"Iya, Kak,"


Rahman dan Umaiza pulang bersama.


"Za, flash disk nya dibawa kan?"


"Iya, Kak, Ini," ucap Umaiza sambil menunjukkannya kepada Rahman.


Di perjalanan masih lancar, karena Rahman dan Umaiza pulang lebih awal sebelum jam kerja pulang.


Sampai di kantor polisi, Umaiza dan Rahman segera menemui penyidik dan memberikan flash disknya.


"Apa ini?"


"Ini bukti lain tentang Alifa,"


"Oh, oke, sebenarnya bukti sudah cukup. Dan berkas Alifa sudah di serahkan ke pengadilan. Diperkirakan minggu depan sudah mulai sidang,"


"Alhamdulillaah, lebih cepat lebih baik, kalau Rama bagaimana?"


"Sejauh ini saya masih mengumpulkan bukti tentang Rama,"


"Apakah kami bisa bertemu dengan Rama?"


"Boleh, silahkan,"


Umaiza dan Rahman menunggu Rama di ruang kunjungan. Tidak lama dari itu, Rama datang.

__ADS_1


"Ada apa kalian ingin menemui saya?" tanya Rama.


"Saya ada penawaran untukmu,"


"Apa itu?"


"Jujur atas semuanya dan kami akan membebaskan anda dari sini,"


"Kalau tidak bersedia?"


"Ya, tua disini," jawab Rahman sambil tersenyum.


"Baik, imbalan yang sangat pantas. Dan saya ingin bertaubat dan hijrah menjadi lebih baik lagi. Kalau disini akan terasa berat, apalagi jika teman-teman sekamar yang pada sok " keluh Rama


"Bagus itu, pilihan yang sangat tepat,"


Umaiza mengangguk, setuju dengan apa yang di ucapkan Rama.


"Kakak ke ruangan penyidik dulu ya," dengan suara pelan


Umaiza mengangguk lagi.


Rahman pergi ke ruangan penyidik.


Rama memandang Umaiza.


Umaiza menunduk.


"Maafkan saya ya, Umaiza?" ucap Rama pelan.


Umaiza mengangguk dengan arti sudah memaafkan Rama sepenuhnya.


Rahman datang


"Urusan semuanya biar penyidik yang menyelidikinya," bisik Rahman kepada Umaiza


"Baik, Kak,"


"Urusan saya sudah selesai, selanjutnya dengan bagian penyidik,"


"Kenapa harus dengan penyidik?" tanya Rama heran


"Karena mereka yang lebih berwenang,"


"Baik, saya akan tunggu panggilan penyidik,"


"Namun saya begitu penasaran dengan kejadian yang sebenarnya, karena semuanya mengarah kepada Alifa," ungkap Umaiza


"Saya tidak mau mendengar nama perempuan itu, perempuan ******. Dia semuanya yang merencanakan pembunuhan terhadap Pak Baskoro, dia meminta bantuan dengan imbalannya akan memberikanmu kepada saya. Tapi ternyata yang datang dirinya," cerita Rama


"Sempat tidur?"


"Iya, sebelum melaksanakan rencananya. Alifa sepulang kerja membawa saya ke sebuah tempat dan memberikan minuman kepada saya. Setelah saya mabuk dia bebas melakukan apa yang dia mau,"


"Astagfirullah, Innalillahi,"


"Dia meminta bantuan untuk mencarikan pembunuh bayaran, namun karena saya juga sanggup melakukannya sendiri, ya akhirnya saya melakukan itu, apalagi saya mendengar kamu Umaiza ingin memberikan pelajaran kepada saya,"


"Apakah dia memberikan alasan kenapa melakukan ini semua?"


"Karena dendam, ayahnya di tabrak oleh Pak Baskoro, sebelumnya dia pun pernah mencoba menggoda Pak Baskoro untuk menghancurkannya namun tidak berhasil. Akhirnya memutuskan untuk membunuhnya,"


Umaiza mengusap dada dan menggelengkan kepalanya.


"Baik, terima kasih atas cerita kejujurannya. Sekarang semakin jelas apa yang terjadi. Setelah dipanggil oleh penyidik anda akan segera di bebaskan," ucap Rahman.


"Baik, Pak, Bu, terima kasih. Saya berhutang budi kepada kalian,"


Rahman dan Umaiza mengangguk.


Rama kembali ke tahanan.


Rahman dan Umaiza pulang ke rumah.


Semuanya sesuai dengan yang di perkirakan oleh Umaiza dan Rahman jadi mereka sangat tenang mendengar cerita dari Rama. Hanya menyebutkan asma Allah, Innalillahi dan Astagfirullah.


"Alhamdulillah, masalah satu sudah selesai," ucap Umaiza.


"Apakah ini keputusan yang tepat untuk membebaskan Rama?"


"Kita lihat hasil dari penyidik saja, kalau memang dia hanya membantu dalam kejahatan yang dilakukan mereka ya sudah kita bebaskan,"

__ADS_1


Rahman mengangguk tanda setuju atas ucapan Umaiza.


__ADS_2