
Rahman menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Tidak ada firasat apapun, Rahman sangat tenang. Jalanan pun terasa sangat lancar. Tidak membuat Rahman penat oleh bisingnya knalpot.
Rahman menyalakan murrotal untuk menemani selama perjalanan dan terkadang mengikutinya di dalam hati. Rahman sudah sampai di kantor.
Seperti biasa Rahman menyapa karyawan-karyawan dengan ramah begitu pun dengan karyawan-karyawan lainnya.
Rahman masuk ke lift dan setelah sampai di lantai 7, lift terbuka Rahman segera keluar dan menuju ruangannya.
Rahman berniat akan membereskan pekerjaan karena besok, Rahman akan menemani Umaiza sidang.
Tok...Tok...Tok...
"Masuk," perintah Rahman
Lalu masuklah yang tadi mengetuk pintu. Lalu menepuk pundak Rahman, seketika Rahman kaget. Dan duduk di hadapannya yang terhalang oleh meja kerja.
"Pak, sekarang Bapak ada tugas luar kota selama tiga hari. Karena ada urusan yang harus di selesaikan oleh Bapak." dengan menatap mata Rahman tajam.
"Baiklah," Jawab Rahman dengan tatapan kosong.
"Saya pamit keluar dulu, Pak. Kalau bisa jam 12, Bapak harus sudah pergi"
"Baik,"
Laki-laki itu keluar dengan wajah tersenyum bahagia. Karena rencananya akan berhasil.
Rahman mengambil hp lalu memijit nama Umaiza dan meneleponnya. Tidak berapa lama Umaiza menerimanya.
"Assalamu'alaikum," suara Umaiza mengucapkan salam.
"Saya besok tidak bisa menemanimu sidang karena saya harus pergi keluar kota selama tiga hari," jelas Rahman
Umaiza merasa aneh mendengar ucapan Rahman, salamnya tidak dijawab, suaranya datar seperti tidak ada ekspresi. Umaiza merasakan khawatir.
"Kak, kakak baik-baik saja kan?"
Rahman tidak menjawab ternyata sambungan teleponnya sudah terputus.
Umaiza berlari ke bawah, untuk menemui ayah.
"Bu, Ayah dimana?"
"Ayah, barusan saja pergi ke kantor,"
"Umaiza, juga mau ke kantor ayah, Bu. Antar Umaiza, ya?"
"Baiklah, memang ada apa, sepertinya kamu khawatir sekali?"
"Nanti di mobil Umaiza jelaskan kepada Ibu, Umaiza mau siap-siap dulu,"
"Baiklah, Ibu tinggal mengambil tas."
Umaiza naik ke atas menuju kamarnya, Umaiza mengganti jilbab dan membawa tas. Umaiza kembali lagi ke lantai bawah dan segera menemui Ibu.
"Bu, Ayo. Sebelum terlambat,"
"Iya, Ayo."
"Umaiza kita minta sopir mengantarkan kita,"
"Iya, Ibu,"
"Pak, antar kami ke perusahaan suami saya?"
"Baik, Bu,"
Sopir segera mengambil mobil dari garasi dan membawa ke hadapan kami. Tak pikir panjang lagi, kami segera naik ke mobil. Sopir menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang dan kini kami sudah melintasi jalan raya.
"Ada apa Umaiza?"
"Kak Rahman menelepon katanya, Kak Rahman di suruh keluar kota selama tiga hari. Namun dari suaranya, Kak Rahman seperti tidak ada nyawanya."
"Coba, Ibu telepon ayah,"
"Iya, Bu."
Bu Rahma mencari no suaminya lalu meneleponnya.
__ADS_1
"Ayah, apakah sudah sampai di kantor?"
"Belum, sebentar lagi. Memang kenapa?"
"Umaiza khawatir sama Rahman, tadi menelepon katanya Rahman meminta izin untuk pergi keluar kota karena ada tugas dari kantor,"
"Kok, bisa. Ayah kan belum sampai, Rahman itu menerima tugas langsung dari ayah, siapa yang menyuruh Rahman keluar kota?" tanya Pak Baskoro marah.
"Rahman langsung menutup teleponnya, Yah,"
"Baik, nanti kalau sudah sampai kantor. Ayah langsung ke ruangan Rahman."
"Terimakasih Yah, kami di jalan menuju perusahaan ayah,"
"Baik, hati-hati di jalan,"
Umaiza terus membaca do'a untuk memohon perlindungan dari Allah untuk Rahman.
"Kemarin malam pun, Kak Rahman sampai rumahnya malam, Bu." Celetuk Umaiza sambil meneteskan air matanya.
"Kan pulang dari rumah kita masih siang, Nak. Kemana dulu, Rahmannya?"
"Kemarin Umaiza telepon jam 11 malam, baru sampai rumahnya. Terdengar suara yang cape, Bu. Saat Umaiza tanya katanya ada musibah di jalan,"
"Musibah apa itu, Nak?"
"Umaiza belum tahu, Kak Rahman belum cerita, Bu,"
"Ya Allah,"
Kami pun sampai ke kantor. Sopir menunggu di pelataran parkir.
Ibu Rahma mengajak Umaiza langsung ke arah lift dengan terus memegang tangannya. Umaiza dengan anggunnya masuk melewati karyawan-karyawan yang berada dekat lift.
Pandangan mata mereka terlihat sangat heran, melihat Ibu Rahma menggandeng perempuan berjilbab dan masih muda. Dalam hati mereka bertanya-tanya siapa gadis tersebut.
Ibu Rahma dan Umaiza masuk ke dalam lift menuju lantai 7, lift terbuka dan keduanya keluar.
"Pagi, Bu," sapa sekretaris Pak Baskoro.
"Pagi," jawab Ibu Rahma dengan tersenyum.
Ibu Rahma segera membawa Umaiza ke ruangan Rahman.
Dan benar ternyata apa yang dikatakan Umaiza, Rahman tanpa ekspresi, pandangannya kosong.
"Astagfirullah, sebenarnya apa yang terjadi sama kakak?"
Rahman tidak merespon. Pekerjaan yang ada dihadapannya pun di biarkan saja.
"Ayah, mana, Bu?" tanya Umaiza.
"Coba Ibu ke ruangan ayah dahulu,"
"Baik, Bu,"
Umaiza menatap wajah Rahman dengan sayu, terlihat pandangan Rahman kosong. Umaiza mencoba menggenggam tangan Rahman. "Ya Allah, maafkan Umaiza." Lirih Umaiza sebelum menggenggam tangannya.
"Bismillah," ucap Umaiza dengan menempelkan telapak tangannya di atas punggung tangan Umaiza.
Umaiza berdo'a sebanyak yang dia bisa dan terus menatap mata Rahman. Sedikit demi sedikit Rahman bisa membalas tatapan Umaiza.
Genggaman tangan Umaiza sangat keras.
"Kak,"
Matanya menoleh ke arah sumber suara.
"Ini Umaiza, Umaiza khawatir sama kakak, Kakak kenapa?"
Rahman melihat mata Umaiza, pandangan mereka saling beradu.
"Kita wudhu, yuk. Biar kakak segar"
Rahman tetap memandang Umaiza.
Umaiza mengajak Rahman untuk berdiri dan memapahnya ke kamar mandi dan mencoba membantu Rahman untuk Wudhu. Lalu Umaiza membawa Rahman kembali ke ruangannya.
__ADS_1
Sekretaris Pak Baskoro merasa heran melihat kedekatan Rahman dengan Umaiza.
"Kakak, shalat dhuha ya, kakak tahu kan caranya sholat?"
Rahman mengangguk.
Lalu di sujud terakhir Rahman menangis sesenggukkan, di dalam hati Umaiza ada perasaan lega melihat Rahman sudah kembali lagi sadar.
Rahman salam dan kaget melihat Umaiza ada di dekatnya.
"Za, ada disini?" sambil melipat sejadah.
"Iya, Kak. Umaiza ingin main kesini dan ingin ketemu sama kakak. Kakak baik-baik saja?"
"Iya, Za. Kakak baik-baik saja," duduk ke tempat kerjanya. Dilihat pekerjaannya masih belum ada yang dikerjakan. "Astagfirullah, selama dua jam kakak ngapain saja?" tanya pada dirinya sendiri.
"Ayo, ngebayangin Za ya?" goda Umaiza.
Rahman mengingat-ngingat kejadian tadi saat sampai di kantor. "Ini pasti kerjaan Pak Bima, dia mencoba hipnotis kakak," gerutu Rahman.
"Jadi yang menyuruh kakak keluar kota selama tiga hari itu pak Bima, kok bisa. Dia kan bagiannya di bawah kakak?"
"Entahlah, kakak tidak mengerti,"
"Ruangan monitor cctv dimana?" tanya Umaiza segera setelah mendengar ucapan Rahman.
"Di bawah lantai 1, apa yang akan Za lakukan?"
"Sudah kakak disini saja selesaikan pekerjaannya, nanti za, mau minta Sekretaris ayah untuk mencegahnya dia masuk kembali ke ruangan kakak,"
"Oke, Kakak menurut saja apa yang di katakan oleh calon istri kakak,"
Umaiza keluar lalu menemui ayah dan Ibu. Ternyata ayah sedang meeting dan Ibu sedang menunggu di ruang kerja ayah.
"Bagaimana keadaan Rahman sekarang?"
"Alhamdulillah, baik, Bu. Ternyata yang menyuruh Kak Rahman ke luar kota itu Pak Bima, Bu. Kak Rahman di hipnotis. Sekarang Umaiza mau ke ruang monitor cctv ingin mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi,"
"Baiklah, Ibu ikut,"
"Baik, Bu, ayo,"
Umaiza dan Ibu Rahma keluar dari ruangan ayah.
Sebelum naik lift, Umaiza menitip pesan kepada sekretarisnya untuk menjaga Rahman. Jika Pak Bima datang cegah dia jangan masuk. Sekretaris ayah menyanggupi namun tetap bingung tidak mengerti sesungguhnya gadis itu siapa.
"Dia putri saya," ucap Ibu Rahma ketika melihat sekretaris suaminya menghernyitkan dahinya.
"Oh, Maafkan saya Bu," ucap sekretaris Pak Baskoro.
"Tidak apa-apa,"
Umaiza dan Ibu Rahma segera masuk ke lift setelah pintu lift terbuka. Dan turun di lantai 1.
Pak Bima dan Dewa nampak di hadapan Umaiza dan Ibu Rahma, baru masuk. Entah darimana. Dengan wajah tanpa dosanya mereka tetap tersenyum lembut dan ramah kepada Umaiza dan Ibu Rahma.
Umaiza dan Rahma menjawab seperlunya. Pak Bima dan Dewa masuk ke lift, Umaiza dan Ibu Rahma segera masuk ke ruang monitor.
Umaiza melihat rekaman cctv itu dengan sangat serius. Dilihatnya Pak Bima dan Dewa sedang merencanakan sesuatu, lalu masuk ke ruangan Rahman dan di parkiran mobil Rahman sedang di rusak, Rem nya di buat blong. Supaya perjalanan keluar kota membuat Rahman kecelakaan. "Sungguh-sungguh, licik," gumam Umaiza.
Barusan baru masuk itu habis memberikan uang kepada suruhannya yang mengerjakan perusakan kepada mobil Rahman.
Umaiza minta bukti cctv itu langsung dimasukkan ke dalam flashdisk untuk bukti kepada Rahman, Pak Baskoro, Pak Bima dan Dewa.
Bagian CCTV sangat cepat mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Umaiza.
Umaiza kembali lagi ke ruangan Rahman, khawatir Pak Bima ke ruangannya lagi dan Rahman kena pengaruhnya lagi. Ibu Rahma mengikuti dari belakang. Ke khawatiran yang Umaiza rasakan memang sangatlah normal, secara kejahatan yang sudah di siapkan oleh Pak Bima terlihat jelas.
Akan aku lakukan
meski nyawa kan menjadi taruhannya
Untukmu calon imamku.
Kau tak perlu lemah
Allah kan senantiasa bersamamu.
__ADS_1
Jika kejahatan itu menimpamu kembali
jangan pernah kau berpaling dari-Nya.