Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Pengeroyokan


__ADS_3

Makan bersama sudah selesai, Semuanya kembali lagi ke rumah Pak Baskoro. Setelah sampai di rumah, Rahman segera pamit pulang kepada Umaiza, Pak Baskoro dan Ibu Rahma.


"Rahman salam ke bunda, kami tunggu kedatangan bunda disini,"


"Iya, Pak. In Syaa Allah, nanti saya kesini dengan Bunda dan adik saya sekalian silaturahim,"


"Kak, hati-hati di jalan ya," ucap Umaiza.


"In Syaa Allah, Za. Do'akan kakak selamat sampai di rumah," jawab Rahman dengan lembut dan tersenyum.


"Pasti, Kak,"


Rahman balik kanan lalu menuju mobilnya. Membuka pintu masuk dan menyalakan mobilnya dan menjalankannya keluar gerbang dan masuk ke jalan raya.


Sebelumnya melambaikan tangan ke Umaiza.


Rahman menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Rahman mengendarai mobil dengan tenang sampai tidak menyadari kalau ada mobil yang sedang mengikutinya.


Rahman meyadari ketika sudah masuk ke jalanan yang sepi. Dan mobil itu segera menyalip mobil Rahman. Mobil di depan berhenti dan orang-orangnya segera keluar.


Dilihat dari dalam mobil itu adalah teman-temannya Roni. Rahman membuka pintu dan turun dari mobilnya. Rahman masih dalam keadaan tenang. Teman-teman Roni sudah mulai menghajar Rahman namun dengan sigap Rahman bisa mengelaknya.


Rahman mencoba mempertahankan diri dengan membalas pukulan demi pukulan dari teman-teman Roni. Mereka semua terjatuh, namun ada salah satu orang menodongkan pisau ke arah Rahman.


Rahman mencoba untuk fokus, teman-teman Roni berdiri dan memegang lengan Rahman. "Silahkan kalau kalian akan membunuh saya, jika kalian memang ingin puas. Namun apakah dengan kalian membunuh saya Umaiza akan mau menikah dengan Roni?"


"Jangan banyak ngomong kamu, yang harus kamu tahu Roni menderita gara-gara kalian. Roni sekarang depresi," jelas salah satu teman Roni.


"Depresi?"


"Iya, Depresi. Sepulang dari rumah Umaiza. Roni langsung Depresi,"


"Maaf, tadi sepulang dari rumah Umaiza Roni terlihat sangat tenang kenapa bisa jadi depresi?"


" Sudah, sekarang kamu jangan banyak omong," Saat pisau akan di tusuk ke perut Rahman. Datang mobil patroli.


"Ada apa ini?" tanya polisi dalam mobil.


"Tidak apa-apa, Pak,"


Polisi turun dari mobil.


Pisau yang akan di gunakan untuk membunuh Rahman di sembunyikan ke belakang, membuat polisi jadi curiga.


"Apa itu yang dibelakang tangan kamu," tunjuk polisi ke teman Roni yang memegang pisau.


Rahman mencoba berlari ke dekat polisi.


Polisi menggeledah tangan orang tersebut.


"Pisau, untuk apa pisau ini?"


"Ayo, ikut. Jelaskan semuanya nanti di kantor polisi," ucap polisi yang 1 nya.


"Kamu juga ikut," Ucap polisi yang lain.


"Baik, Pak."


Teman-teman Roni di bawa oleh polisi menggunakan mobil Patroli. Mobil teman-teman Roni di bawa polisi lainnya. Rahman ikut dari belakang mengendarai sendiri.


Kami di bawa ke polsek terdekat dan laporan di proses di sana. Sekitar satu jam setengah, Rahman dimintai keterangan. Setelah semuanya jelas, Rahman diperbolehkan pulang. Sedangkan teman-teman Roni di tahan karena sudah di rencanakan. Semuanya ada 3 orang.


Rahman mengendarai mobil menuju rumahnya. Gerbang di buka oleh satpam dan Bunda seperti biasa menunggu di depan pintu.

__ADS_1


"Kenapa baru pulang, Nak?"


"Iya, Bun. Ada musibah sedikit barusan."


"Apa, Nak?"


"Besok ya, Bun. Sekarang Rahman cape ingin istirahat."


"Iya, Nak. Besok janji, cerita ya?"


"Iya, Bun. Bunda juga masuk, istirahat. Farid sudah pulang?"


"Sudah, Farid sudah tidur,"


"Kalau gitu Bun, Rahman juga pulang ya,"


Rahman berjalan menuju rumah. Membuka kunci dan menyimpan tas serta menjatuhkan dirinya ke sofa di ruang tamunya.


πŸ“² Dari Umaiza.


"Assalamu'alaikum, Za,"


"Waalaikummussalaam, Kak. Kok kusut sekali?"


"Iya, Za."


"Kakak baru sampai rumah, Kok lama banget. Biasanya setengah jam sudah sampai?"


"Iya, Za. Tadi kakak ada musibah di jalan,"


"Musibah, apa?"


"Kakak, besok ceritakan semuanya ke Za ya. Kakak sekarang mau bersih-bersih lalu shalat,"


"Iya, calon istrinya Kakak, sudah mulai perhatian. Za, gak usah mikir yang berat-berat. Pikirkan untuk sidang Za, lusa. Sudah siap?"


"In Syaa Allah, Za, Siap,"


"Alhamdulillah, Iya sekarang calon istrinya kakak istirahat. Biar besok bangun segar,"


"Iya, Kakak juga. Sudah bersih-bersih, shalat langsung istirahat ya,"


"Iya, calon istrinya kakak." sambil tersenyum lebar badan yang lelah kembali segar lagi.


"Assalamu'alaikum,"


"Waalaikummussalam,"


Sambungan telepon terputus


Rahman ke kamar lalu mengambil salin baju dan masuk ke kamar mandi. Mandi pakai air hangat, pakai baju, wudhu, keluar kamar mandi, Shalat isya, lalu merebahkan tidur di kasur.


Pikiran Rahman melayang ke kejadian yang terjadi hari ini, hingga saat di keroyok. "Alhamdulillah, masih di tolong dengan polisi. Polisi yang datang tepat pada waktunya seperti yang dikirim Allah, untuk menyelamatkannya,"


Beberapa kali, Rahman mengucap syukur kepada Allah. Rahman pun terus istigfar dalam hatinya. Yang mengantarkan Rahman ke alam mimpinya.


Ketika lelah mendera


Demi melindungi kau


Yang sangat disayangi


Ketika nyawa di pertaruhkan

__ADS_1


Dan hampir melayang


Ku rela demi kau yang ku cintai.


Alarm hp yang di setting oleh Rahman berbunyi.


Dengan rasa kantuk yang berat, Rahman bangun dan pergi ke kamar mandi. Untuk wudhu, lalu shalat malam. 11 rakaat telah didirikan Rahman kembali lagi ke kasur dan tertidur kembali.


Rahman bangun setelah jam 05.00. Rahman mengucek-ngucek matanya dan mencoba membuka matanya lebar-lebar. Rahman turun dari kasur. Dan berjalan ke kamar mandi lalu wudhu dan shalat subuh.


Karena lelahnya hari kemarin, Rahman belum sempat tadarusan. Setelah shalat subuh Rahman kembali ke kamar mandi untuk mandi dan siap-siap ke kantor.


Rahman sengaja tidak membuat sarapan karena hari ini ingin sarapan di rumah bunda, untuk menceritakan kejadian kemarin.


Rahman sudah siap dan rapi. Rahman ke rumah bunda.


"Bunda, sudah buat sarapan?"


"Sudah, Nak. Ayo, bunda kangen sarapan bareng kamu,"


"Iya, Bun. Rahman sengaja tidak masak, mau sarapan sama Bunda."


"Iya, Bagaimana keadaan Umaiza sekarang?" tanya bunda sambil menaruh lauknya di atas meja makan.


"Alhamdulillah, Bun," Jawab Rahman duduk di kursi meja makan.


Farid datang


Rahman menceritakan Roni datang ke rumah Pak Baskoro untuk melamar Umaiza, namun Umaiza tidak mau. Untuk mereda niatan Roni, akhirnya Rahman melamar Umaiza di depan Ibu Rahma. Umaiza menerimanya.


Lalu teman-teman Roni mengeroyok Rahman dan patroli polisi datang. Rahman yang datang ke kantor polisi untuk dimintai keterangan karena salah satu dari mereka ada yang membawa pisau. Jadi mereka sudah merencanakan untuk membunuh Rahman. Mereka semua di tahan.


"Keadaan Roni bagaimana sekarang, Kak?" Tanya Farid penasaran sambil duduk di meja makan.


"Depresi, makanya mereka mau membalas dendam kepada kakak,"


"Gak punya iman, gara-gara cinta jadi gila, parah," ucap Farid dengan nada yang rendah.


"Iya, padahal saat turun dari rumah Umaiza baik-baik saja," Jawab Rahman heran.


"Kamu tidak ada yang luka?" tanya bunda cemas.


"Tidak, Bunda. Rahman baik-baik saja,"


"Syukur Alhamdulillah,"


"Bunda, Sabtu kita ke rumah Pak Baskoro ya, untuk menentukan tanggal pernikahan Rahman dan silaturahim juga. Farid harus ikut,"


"Siap, Kak,"


"Baik, Rahman. Bunda kapanpun siap,"


"Makasih, Bunda."


Rahman, Farid dan Bunda sarapan. Rahman segera pamit kepada Bunda, begitupun dengan Farid.


Rahman naik mobil, sedangkan Farid menggunakan motor gedenya.


"Hati-hati, Farid ya," Saat Farid sudah berada di atas motornya.


"Iya, Kak. Kakak juga sama, hati-hati di jalan," Saat Rahman sudah berada di balik kemudi. Keduanya saling melambaikan tangan.


Bunda tersenyum lega melihat mereka memberikan kasih sayang dan perhatian satu sama lain. Rahman adalah tulang punggung di keluarga kecilnya, Rahman seorang kakak sekaligus ayah bagi Farid. Tidak pernah mendengar Farid melawan atau bertengkar dengan Rahman.

__ADS_1


Farid menjalankan motor gedenya keluar dari pekarangan rumahnya dan menuju jalan besar. Begitupun dengan Rahman. Bunda masuk ke dalam rumah.


__ADS_2