Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa

Cinta Rahman Bukan Hanya Sekedar Rasa
Goda Dengan Gemulai


__ADS_3

Makanan yang di pesan Rahman sudah datang. Umaiza dan Rahman seperti biasa saat makan tanpa suara. Banyak karyawan laki-laki yang mengarah pandangan kepada kursi Rahman dan Umaiza.


Banyak suara disana, "Saya kira Pak Rahman tidak suka perempuan," bisik salah satu karyawan laki-laki di meja sebelah, "sama saya juga, mengiranya begitu. Tapi itu perempuannya pun cantik," ucap yang lain.


"Kakak, gak panas telinga banyak yang gosipin tu?"


"Biarkan saja, nanti juga mereka tahu sendiri,"


"Ih, memang kakak dulu dingin ya, kenapa sama Umaiza jahil banget," sambil tersenyum.


"Karena Za, beda dengan perempuan lain. Ada sesuatu yang spesial dari diri Za yang membuat kakak penasaran,"


"Memangnya perempuan disini bagaimana?"


"Nanti Za akan bisa menilai sendiri,"


Umaiza mengangguk secara berulang-ulang.


"Kak, Za, ingin mencari makanan yang lain ya?" ucap Umaiza sambil berdiri.


"Masih belum kenyang apa, nanti waktu nikah gemuk. Baju pengantinnya bagaimana?" goda Rahman.


"Za, habis haid butuh asupan gizi. Tambah lagi tadi sudah syok sama Pak Bima," ucap Umaiza sambil tersenyum dan berdiri.


"Iya kakak tunggu di sini, Ya,"


"Iya, Kak,"


Umaiza mencari makanan yang bisa dibawa ke ruangan. Umaiza beli batagor.


"Non, calonnya Pak Rahman?" tanya Ibu Kantin.


"In Syaa Allah, do'akan saja ya,"


Umaiza menunggu. Dan hp Umaiza bersuara, tanda telepon masuk.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikummussalaam, Nak. Ibu pulang duluan ya?"


"Iya, Bu. Za, nanti pulang bersama Kak Rahman dan ayah ya,"


"Iya, Nak. Hati-hati di kantor ya,"


"Iya, Bu. Ibu juga hati-hati di jalan,"


sambungan telepon terputus.


Ibu Kantin memberikan makanannya kepada Umaiza dan Umaiza memberikan uangnya kepada Ibu kantin.


"Non, ayah non bekerja disini juga?" tanya Ibu kantin menyelidik.


"Iya, Bu. Saya anaknya Pak Baskoro, panggil saja saya, Umaiza,"


"Ya Allah, maaf non. Ibu sudah lancang bertanya kepada, Non." ucap Ibu Kantin


"Gak apa-apa, Bu. Tidak perlu sungkan. Terimakasih Bu, batagornya," sambil tersenyum dan kembali lagi ke meja.


"Sama-sama, Non,"


Karyawan-karyawan yang mendengar percakapan Umaiza dengan Ibu Kantin. Semuanya menjadi mengangguk ketika Umaiza lewat.


Pak Bima dan Dewa yang melihat Umaiza ada di kantin, langsung menghindar karena malu. Namun Umaiza menyapanya dengan lembut.


"Siang, Pak. Lagi istirahat juga?"


"Iya, Umaiza," jawab Dewa.


"Selamat menikmati, Kak. Oh, iya Kak. Kalau siang gini Roni di rumah sama siapa?"


"Sama bibi, Umaiza,"


"Semoga Roni cepat baikan ya, Umaiza tinggal dulu. Mau kembali ke ruangan ayah dan Kak Rahman,"


"Terimakasih atas do'anya,"


"Sama-sama, Kak," ucap Umaiza sambil tersenyum dan kembali ke Kak Rahman.


Rahman dan Umaiza pergi keluar dari kantin. Semua karyawan mengangguk ketika Umaiza dan Rahman lewat di hadapan mereka. Umaiza membalasnya dengan tersenyum. Rahman seperti biasanya, hanya lurus ke depan.


"Pak Rahman siapa gadis itu, boleh dong dikenalin," ucap salah satu karyawan laki-laki dengan wajah kocaknya.


Umaiza hanya tersenyum melihat laki-laki itu, dengan gaya sedikit lenggak lenggok.


"Hemmm," Rahman menjawab dengan gumaman.


Umaiza tambah tersenyum mendengar jawaban yang di berikan Rahman.


"Sssst, kamu jangan godain Mbak Umaiza. Nanti di bilangin ke bos kamu di pecat, mau?" ucap Sari dengan menyenggol bahu laki-laki itu.

__ADS_1


Umaiza tersenyum ramah kepada Sari.


"Kamu sudah kenal?"


"Iya, Umaiza anaknya Pak Baskoro dan calon istrinya Pak Rahman,"


"Hufth, pantesan Pak Rahman tidak menjawab. Matilah aku," ucap laki-laki itu.


Umaiza yang mendengarnya tambah tersenyum lebar.


Lift terbuka dan dilihat Umaiza masih jauh.


"Za, ayo cepat," dengan menarik tangan Umaiza untuk masuk ke dalam lift.


"Ih, kakak pegang-pegang, belum mahrom tau,"


"Biarin kan gak nyentuh tangan Za, kakak memegang tangan terhalang oleh baju Za,"


"Iya-iya, deh." Umaiza kembali tersenyum.


"Senyum terus, nanti giginya kering lho," ucap Rahman kesal.


"Biarin nanti rontok, terus kakak ilfill sama Za, cari yang lain deh," ucap Umaiza balik menggoda Rahman.


"Oh, mau nya gitu. Biar Za bisa sama laki-laki yang gemulai itu?"


"Idih, Kakak. Za, masih normal kali." sambil mengangkat-mengangkat bahu.


"Habis, biar Za, sama Roni gitu?"


"Ih, Kakak. Gak ada yang bagusan lagi gitu, kalau gitu Za mendingan terus cemberut biar gigi ini gak kering. Jadi Khairul Rahman akan tetap disisi, Za"


Rahman tersenyum mendengar ucapan Umaiza lalu secara spontan mengelus kepala Umaiza dengan penuh kasih sayang.


"Za, Kakak boleh meminta sesuatu,"


"Apaan?"


"Sesuatu," Sambil mendekat ke wajah Umaiza sehingga Umaiza merasa sesak.


"Astagfirullah, Kakak." Mengusap muka wajah Rahman dengan lembut untuk menyadarkannya.


Seketika membuat Rahman mundur.


"Itu, yang kakak suka. Za, imannya kuat, makasih ya, Za, sudah bisa menjaga diri. "


"Iya, Kak. Barusan Za, kaget,"


"Kak, Za, ke ruangan ayah ya,"


"Ya, Za, kalau mau istirahat, istirahat dulu saja,"


"Gak, nanti Za, mau ganggu Mbak Alifa," Sambil menoleh ke arah Alifa dan tersenyum.


"Ayah, sudah istirahatnya?"


"Sudah, Nak. Gimana di kantin tadi?"


"Aman ayah, Umaiza senang dengan karyawan-karyawan ayah. Ya, melihat Umaiza dekat dengan Kak Rahman. Pandangannya aneh-aneh,"


"Aneh, bagaimana?" melihat ke arah Umaiza yang sudah duduk di sofa.


"Iya, mereka merasa kaget melihat Kak Rahman bisa dekat dengan perempuan." jelas Umaiza.


"Rahman itu laki-laki dingin, dalam dirinya itu kerja, kerja dan kerja."


"Oh, gitu. Banyak ya karyawan perempuan yang suka ke Kak Rahman,"


"Suka, sepertinya. Rahman kan ganteng, karir menjanjikan, pintar lagi, dan yang terpenting sudah mapan," jelas Pak Baskoro.


"Oooo, Umaiza berarti perempuan pertama yang dekat dengan Kak Rahman,"


"Yang selama ayah tahu, iya. Makanya ayah sempat kaget juga, Rahman bisa sangat begitu dekat dengan Umaiza,"


"Ya, ini juga kan do'a ayah dan Ibu juga. Yang berniat untuk menjodohkan Umaiza dengan Kak Rahman," sambil tersenyum lebar, "Makasih ya, Yah," Umaiza memeluk Pak Baskoro


"Sama-sama sayang," ucap Pak Baskoro yang menerima pelukan dari putrinya, "Umaiza gak cape?" tanya Pak Baskoro sambil melepaskan pelukan.


"Gak, Yah, Umaiza gak biasa tidur siang,"


"Umaiza saat di panti berjuang keras ya?"


"Hehehe, iya, Yah. Makanya sekarang pembalasannya banyak makan, ingin di manja ayah, Ibu dan Kak ..." ucap Umaiza terpotong karena malu, "Kak Rahman, heheheh," dengan menutup mata.


"Ayah juga sama, ingin rasanya mengganti waktu yang sudah terlewati. Beres wisuda kita travelling main ke luar negeri ya?"


"Yah, jangan dulu jauh-jauh ke luar negeri, di dalam negeri pun Umaiza belum pernah main, ke ancol, dufan, anyer, yogya, Bali," Ucap Umaiza


Pak Baskoro mendengarnya sangat terharu dan sedih. "Baik, selama satu bulan ayah dan Kak Rahman akan ambil cuti nanti kita keliling Indonesia,"

__ADS_1


"Benar ayah, asyik," ucap Umaiza seperti anak kecil yang senang di kasih permen.


"Iya, Sayang,"


"Oh, ya, Ayah. Uang tabungan Umaiza bebas mau digunakan apa saja?"


"Iya, Nak, bebas asal itu bermanfaat,"


"Umaiza ingin memberangkatkan umroh Ibu panti, boleh?"


"Boleh, Sayang. Ayah akan mendukungnya. Berapa orang?"


"Ibu panti saja,"


"Memang Ibu Panti tidak punya keluarga?"


"Ada anak dan suaminya ayah, anaknya baru berusia 12 tahun,"


"Ya, sudah. Ibu panti dari Umaiza, suaminya dari ayah. Selama umroh anaknya tinggal di rumah kita,"


"Serius, Yah,"


"Iya, Nak."


"Makasih, Ayah."


"Tidak cape apa Nak, terimakasih terus,"


"Ih, Ayah. Umaiza bahagia memiliki ayah yang baik,"


"Ayah lebih bangga mempunyai putri yang cantik, hatinya baik dan tutur katanya sangat lembut. Pak Bima saja langsung menunduk mendengar ucapan Umaiza,"


"Aaaah, Ayah. Umaiza jadi terharu ini,"


"Umaiza sepertinya sudah sanggup menjadi pemimpin perusahaan ini, Ayah sudah ingin istirahat,"


"Ayah, untuk memimpin perusahaan ayah, tunggu Umaiza selesaikan S2 dulu ya. In Syaa Allah, sekarang Umaiza hanya membantu ayah dan belajar mengelola perusahaan ini." Ucap Umaiza sambil tersenyum supaya Pak Baskoro tidak kecewa.


Umaiza keluar dari ruangan Pak Baskoro, melihat Alifa sedang santai. Umaiza duduk di hadapan Alifa sambil membawa batagor lalu mengambil piring ke Pantry.


"Mbak, bantuin Umaiza makan ini ya,"


"Boleh, kenapa tidak sama Pak Rahman?"


"Kak Rahman lagi sibuk, susah di ganggu," ucapnya polos.


"Ya, sudah boleh. Di bantu sama Mbak, untuk menghabiskan batagor ini,"


"Mbak, kuliah dimana saat itu?"


"Mbak kuliah di kampus yang ada di jalan A, ambil jurusan sekretaris, Umaiza kulian dimana?"


"Bekas kampus Kak Rahman, ambil jurusan yang sama juga. Dapat beasiswa juga, xixixi."


"Wah, sepertinya memang jodoh,"


"In Syaa Allah, do'akan yang terbaik ya, Mbak. Besok Umaiza akan sidang, semoga bisa lolos dan segera di wisuda,"


"Aamiin, semangat Umaiza,"


"Terimakasih, mudah-mudahan dapat beasiswa S2 juga,"


"Tidak dapat beasiswa juga, Umaiza bisa meneruskan S2,"


"Tidak, Umaiza inginnya beasiswa. Sedikitnya beda rasanya kalau beasiswa, ada rasa tanggung jawab lebih. In Syaa Allah, S1 Umaiza selesai dalam 3,5 tahun"


"Ma Syaa Allah, sepertinya sudah siap mengelola perusahaan Pak Baskoro,"


"Untuk itu Umaiza harus banyak belajar, Mbak," Umaiza nyengir.


"Berapa lama kenal dengan Pak Rahman?"


"Hampir 2 minggu, memangnya kenapa?"


"Tidak, seperti sudah kenal lama saja,"


"Oooo, Mbak sudah menikah?"


"Belum, Mbak masih single,"


"Jangan-jangan Mbak pernah naksir sama Kak Rahman ya?" Goda Umaiza sambil menunjuk hidung Alifa yang merah.


"Suka, Iya, Mbak suka. Namun sebatas suka karena kagum saja,"


"Oooo, suka karena cinta pun, Umaiza gak akan marah. Itu kan perasaan yang di berikan oleh pencipta-Nya untuk insan manusia. Namun kalau Mbak cinta nya itu buta yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, itu salah." jelas Umaiza.


"Ya-iyalah. Mbak, langsung hilang perasaan itu setelah tahu Umaiza adalah calon istrinya Pak Rahman. Makanya tadi Mbak bilang, hanya rasa kagum saja,"


"Hehehe, syukur deh. Umaiza tenang mendengarnya," Umaiza menyeringai dengan lucunya.

__ADS_1


Batagor yang berada di piring sudah habis, sekarang piring dan mangkoknya sudah bersih. Mengobrol panjang lebar dan bibir tidak berhenti mengunyah. Umaiza bertemu dengan Alifa seperti bertemu dengan teman baru atau bahkan bisa di jadikan sahabat dan kakak.


__ADS_2